
***
Sesampainya di kamar pribadinya, Barata menatap Alina dengan sangat intens, Alina berjalan mundur dan geleng-geleng kepala,
“Aku lelah, nanti saja ya,” ucap Alina mencoba menolak Barata, tetapi senyuman mengerikan Barata itu semakin intens.
“Sayang, kau harus mendapat hukuman, kau kira sudah berapa kali kau melakukan kesalahan padaku? Mulai hari ini kau harus menghitungnya dan memberikan laporan padaku,”
“Kali ini aku tidak akan melepaskanmu,”
Geram Barata seperti sedang dalam mode buas nya, senyuman menyeringai itu, tatapan tajam yang menusuk.
Alina geleng-geleng dan mencoba mempertahankan bajunya, tangannya menutupi tubuhnya bagian atas dan wajahnya seperti mangsa yang memohon untuk tidak di mangsa predatornya.
Alina sungguh tidak bisa lepas dari jeratan monster hidup seperti Barata,
“Kenapa kau menutupi tubuhmu? Sayang, jangan bilang kau ….” Barata menyeringai lucu, dia melihat gelagat aneh istrinya ini sedari tadi, sungguh mengerjai orang seperti Alina sangat menghibur.
Mendengar itu Alina menjadi bingung, “Loh bukannya hukuman untuk itu ya?” gumamnya dengan tanda tanya besar.
__ADS_1
Setelah beberapa saat ….
Hukuman Alina sedang berlangsung, Barata dengan intens mengawasi Alina yang sudah celingak celinguk sedari tadi, hukuman Alina sangat jauh dari bayangannya, “Mungkin yang mesum disini bukan dia tapi aku, ais, aku malu sekali, siapapun tolong sembunyikan akuuuu!”
Alina berteriak dalam hatinya, dia ingin menenggelamkan dirinya saja.
Tentu saja, sedari tadi Barata melihatnya sembari senyam senyum tidak jelas, karena pemikiran kotor Alina, padahal hukuman yang disebut Barata adalah agar Alina membaca semua buku dan pedoman bertahan hidup, lalu setelah itu nanti Barata akan memberikan pelatihan pada Alina, baik itu pelatihan fisik maupun kepintaran agar Alina bisa kuat dan bertahan hidup di dunia yang keras.
Bagi Barata, Alina ini terlalu lemah dan mudah sekali ditindas dan dibodohi.
Setelah membaca dalam keadaan malu dan wajah merah padam, alarm yang di setting Barata akhirnya berbunyi, waktu membaca bagi Alina telah usai, “Baiklah, istriku yang pikirannya sangat mesum sudah selesai membaca, ayo kita tidur,” seru Barata segera menggendong Alina lalu merebahkannya di kasur.
Alina tidak bisa mengelak ucapan suaminya itu, dia hanya menutupi wajahnya yang malu dan memerah.
Barata masih tersenyum tidak jelas seolah meledek istrinya, untuk kesekian kalinya dia nyaman sekali, hatinya tenang dan dunia seolah menjadi tempat teraman saat berada di sisi Alina, dia segera memeluk Alina dengan erat.
“Sayang, besok ikut aku ke kantor ya, ada seorang wanita yang terus menerus mendekatiku, dan aku tidak bisa melemparnya ke bawah gedung karena aku harus berhubungan secara bisnis dengannya, aku ingin menunjukkan keromantisan kita,” seru Barata dengan wajahnya yang sudah ia sandarkan di pundak istrinya.
“Tidak mau, aku tidak akan memiliki wajah lagi jika aku ikut ke perusahaanmu, saat lalu sudah cukup memalukan untukku!” ketus Alina menolak dengan tegas, namun ia sepertinya sudah tahu siapa gadis itu.
__ADS_1
“Memangnya kau bisa menolak? hehe, kau salah sayang, kau harus ikut, aku akan menunjukkan betapa jauhnya level istriku darinya, istriku jauh lebih cantik, dia kira dia siapa, jika bukan karena bisnis aku sudah melemparnya ke luar gedung!” ketus Barata benar-benar tanpa hati.
“Apakah kau sedang merencanakan pembunuhan? Kenapa harus melempar ke luar gedung?” seru Alina masih tidak habis pikir dengan jalan pikir Barata yang memang memiliki penyakit Paranoid ini.
“Aku tidak peduli itu disebut membunuh atau tidak, jika dia berani mendekatiku aku akan menyingkirkannya, cih!” celetuk Barata lagi semakin memperat pelukannya.
Alina menghela nafasnya dalam, dia mulai berpikir, didalam dekapan suaminya ini, entah apa yang ia pikirkan.
***
Disaat yang lain,
Di kediaman keluarga Lorren, Falcon sedang mencoba berbicara dengan ibunya, tetapi seperti biasa dia akan diabaikan, tidak didengar dan seolah tidak dianggap, tetapi Falcon sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.
“Ibu, aku baru pulang dari mansion Barata, aku pasti akan membuat dia pulang Bu, Ibu jangan khawatir,” seru Falcon tersenyum namun Chaterine tidak menanggapi, wajahnya tetap sama, tetapi bibirnya bergetar seolah kemarahan dan perasaan yang lain terkumpul di sana.
***
Jangan lupa di like ya semuanya, berikan komentar membangun nya juga☺ Disini author masih butuh saran dari kalian, maaf ya jika ceritanya sedikit berat, awalnya pengen buat ringan aja tapi gak bisa ternyata.
__ADS_1
Jika kalian mendapatkan kesalahan ketik, nama atau tempat bisa langsung di komen ya biar author perbaiki langsung.
Terimakasih yaa untuk kalian semuanya, lope you 🥰