Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Aku ternyata beruntung


__ADS_3

Episode 83 :


Setelah mendapat respon meriah dan rasa terimakasih atas hadiah nyeleneh Barata, Alina sungguh tidak bisa menutupi rasa malu nya lagi.


"Kenapa lelaki ini sangat arogan bahkan untuk hal-hal seperti ini!" geram Alina mengikuti senyuman paksa para karyawan Barata.


"Sayang lihat kan? mereka sangat senang mengetahui jika kau istriku, karena kau sangat cantik," ucap Barata kepada Alina yang sebenarnya ingin bersembunyi saja di dalam lubang.


"Yaampun ternyata dia tidak sadar jika para karyawan nya sebenarnya hanya terpaksa melakukan itu, tapi ya sudah lah daripada aku kena masalah, iya kan saja," gumam Alina tersenyum mengangguk kearah Barata.


Alina tidak ingin mendapatkan masalah, tapi sungguh akibat tindakan arogan dan aneh Barata ini, Alina melupakan kekesalan nya melihat gadis yang tadi memeluk suaminya itu.


Entah kenapa Barata seperti berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan pada Alina jika Alina sangat mahal dan berharga, Barata ingin membuat Alina mencintai dirinya sendiri dan bangga atas dirinya, jadi saat nanti Alina akan bisa mengangkat wajahnya dan tidak akan diremehkan oleh orang lain lagi.


Setelah pengumuman aneh namun meriah itu usai, semuanya kembali berjalan normal, Barata juga masih memiliki dokumen yang harus ia tanda tangani basah sekarang jadi sebelum membawa istrinya pulang dia harus menyelesaikan nya terlebih dahulu.


"Sayang, tunggu sebentar ya, aku memiliki dokumen penting yang harus aku kerjakan sebentar, setelah ini aku akan membawa mu pulang dan kita akan makan bersama," ucap Barata masih menggenggam tangan istrinya ini.


Mereka masuk kedalam ruangan pribadi Barata, mengetahui Barata hendak duduk di kursi kebesaran nya, Alina segera melepas tangan Barata agar bisa duduk di kursi yang ada di depan meja Barata.


Tentunya Alina tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya.


"Srek!"


Barata menahan tangan Alina dan langsung menggenggam nya lagi.


"Sayang, aku sudah bilang jangan pernah lepas tangan ku kan? kenapa kah lepas," tanya Barata yang entah kenapa langsung khawatir dan tidak suka sekali saat mendapati istrinya melepaskan tangannya.

__ADS_1


"A ... aku hanya ingin duduk disini," *Alina menunjuk kearah kursi yang ada di depan meja Barata*


"Katamu kau mau bekerja, aku tidak ingin mengganggu mu,"


Balas Alina mencoba memberikan pengertian, entah mengapa Barata semakin aneh, dia tidak mau lepas dari nya dan sangat tidak suka saat dia melepaskan genggaman tangannya.


"Tidak mengganggu, jangan pernah lagi melepaskan tanganku, aku akhirnya menemukan seseorang yang tepat, tidak akan kulepas lagi, dengar, aku tidak mau melepaskan mu,"


Barata dengan tegas dan nafas yang sedikit sesak menekan tangan Alina, entah kenapa tetapi Barata seolah mengingat sesutu, mungkin berkaitan dengan saat kakak laki-laki nya menyelematkan nya di danau dulu, dia sangat benci jika orang berharga baginya melepaskan tangannya.


Alina yang melihat keanehan itu mengusap pipi Barata yang memerah dan tangannya terasa sedikit bergetar.


"Ada apa? kenapa kau terlihat takut?" tanya Alina merasa khawatir, Alina merasa ini semua pasti berkaitan dengan masa lalu mengerikan suaminya ini.


"Haaahh!" Barata menarik dan menghembuskan nafasnya dalam lalu ia tersenyum dan mencoba menekan rasa takut yang entah kenapa tadi mencuat.


Tapi sebelum berhasil duduk, "Tu ... tunggu, aku tidak akan melepaskan tanganmu, tapi biarkan aku duduk di kursi yang lain saja ya, bagaimana jika ada karyawan mu yang datang melihat kita," ucap Alina dengan sangat hati-hati.


"Memang aku peduli, ini perusahaan milikku dan lagian aku sudah umumkan kau sebagai istri ku! apa salahnya melakukan ini, dan sayang, tidak akan ada yang berani masuk kedalam ruangan ku tanpa mengetuk, sudahlah tenang saja dan duduk disini!"


Balas Barata sembari menepuk pahanya sebagai kode agar Alina duduk disitu, dia tidak menerima alasan apapun yang bertujuan sebagai penolakan.


"Haahh!" Alina menghela nafasnya dalam.


"Sejak kapan sih aku bisa menang darinya, dia ini dewa pemaksa!" ketus Alina mau tidak mau ya harus duduk di pangkuan suaminya.


Saat itu Barata langsung tersenyum merekah, salah satu tangannya mendekap pinggang istrinya, dan yang satunya lagi menandatangani dokumen yang harus ia tanda tangani.

__ADS_1


Ada sensasi yang hangat dan menenangkan, setiap kali Alina mendengar detak jantung suaminya, terdengar seperti melodi yang menenangkan dan akan membuat nya mengantuk.


Alina menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, rasanya nyaman sekali, rasa ingin memiliki dan tidak ingin kehilangan ini semua semakin kuat, tetapi kembali ke awal, Lagi-lagi Alina merasa apakah dia pantas?


"Wanita yang tadi memelukmu, apakah tidak masalah memutuskan kerja sama bisnis dengannya? seperti nya kerja sama bisnis kalian sangat penting dan akan menguntungkan," tanya Alina mencoba menggali informasi mengenai gadis itu.


Saat mendengar pertanyaan itu tangan Barata berhenti sebentar menandatangani berkas, lalu sesaat kemudian ia langsung menjawab sembari lanjut mengerjakan apa yang sedang ia kerjakan.


"Iya sangat menguntungkan, kerja sama bisnis yang baru saja aku batalkan sangat penting bagi perusahaan tetapi aku ingin menunjukkan kepadamu, jika uang dan perusahaan atau benda apapun tidak ada yang bisa melepaskan ikatan kita,"


"Dia memeluk aku dan mengatakan menyukai aku di hadapan mu, tentu saja aku harus keras dan memberinya pelajaran padanya, saat dia memeluk aku dan menatap mu tadi, itu artinya dia sudah menganggap remeh dirimu, aku tidak rela, tidak ada hal yang lebih berharga dibanding istriku!"


"Dia tidak akan bisa menjadikan iming-iming untung kerja sama bisnis sebagai alatnya untuk memeluk aku, pelukan ku kan hanya milikmu! enak saja dia mau mencuri nya!" ketus Barata sama sekali tidak goyah, jawaban yang jika didengar akan terdengar naif dan polos, tetapi siapa sangka jawaban itu keluar dari mulut Barata.


Mendengar itu ada beberapa hal yang membuat Alina bahagia tetapi juga sedih, Alina tentu saja bahagia karena diperlakukan spesial dan berharga oleh suaminya, tetapi juga sedih bagaimana mungkin selama ini Freya, adiknya memanfaatkan ketulusan dan mempermainkan kepercayaan langka lelaki ini.


Semakin Alina mengenal suaminya, semakin ia tahu betapa sikap arogan dan mengerikan itu hanya sebuah topeng yang menutupi betapa lembut dan setia hatinya.


"Aku ternyata beruntung," Kata-kata itu langsung tercetus, dia memeluk suaminya dan entah kenapa menangis di dalam dekapan suaminya ini.


Dia malu pada dirinya, bahwa saat lalu dia dengan enteng mengatakan pada Falcon untuk meninggalkan suaminya yang sebenarnya sudah rapuh ini.


Bersambung ....


***


Jangan lupa berikan dukungannya dengan cara di like dan komen ya terimakasih

__ADS_1


__ADS_2