Pengelana Dunia Utusan Para Dewa

Pengelana Dunia Utusan Para Dewa
Ch. 31 - Akhir Pertempuran


__ADS_3

Pertarungan sengit mereka terjadi di atas lautan, ditengah tengah hujan panah api yang tiada henti, juga kapal kapal yang semakin ke sini jumlahnya mulai berkurang.


" Sial! Kapal kapal pasukan ku sudah mulau hancur satu persatu, hanya tersisa beberapa kapal saja! Apakah kita hanya bisa sampai disini saja.. " gumam sang jenderal yang masih terus bertarung dengan Ken.


" Kenapa jenderal? Apakah kau merasa sedih melihat kapal kapal itu rubuh satu persatu? Haha.. "


" Ku beri pilihan, menyerah lah dan ikut kami menjadi tawanan dan kembali ke sana, atau mati dilautan ini? " ucap Ken.


" Si4l4n! Aku lebih memilih mati terhormat di medan pertempuran seperti ini! "


" Hiyaaa!! "


Boomm!!


Boomm!!


Boomm!!


Pertempuran mulai meluas, Ken mulai kesusahan menandingi nya,


" Sepertinya aku harus mengeluarkan semuanya kali ini! "


" Haaaa!!! "


Di arah bawah, para prajurit yang masih terus saja dihujani panah panah berapi semakin putus asa, harapannya hanya satu, Jenderal mereka yang sedang bertarung.


" Jenderal.. "


Dari luar kobaran api, Brian masih terus mengomandoi penyerangannya,


" Habiskan semua panahnya! Setiap tembakan majukan kapalnya! " teriak Brian.


Badai hujan panah api tak kunjung berhenti, pertempuran Ken dan sang Jenderal sudah mencapai puncak, keduanya mulai kehabisan nafas dan tenaga, namun di sisa sisa waktu terakhir, Ken melepaskan serangan lainnya membuat sang Jenderal itu tumbang.


" Bola Sinar Neraka! "


Swoosshh


Boomm!!


Sang Jenderal yang sudah tak sadarkan diri akhirnya terjatuh dan tenggelam, Ken yang sudah tak memiliki tenaga itu pun akhirnya dapat diselamatkan oleh Brian yang menyadari bahwa cahaya kehidupannya mulai melemah.


Lalu sisa sisa prajurit yang melihat itu pun menyerah, mereka dibawa kembali oleh para pasukan laut asosiasi, dan juga menyerahkan beberapa kapal yang belum hancur pada pihak asosiasi.


Arzha yang mendengar kabar itu dari Brian pun terlampau senang,


" Hufftt.. Akhirnya, tak lama lagi peperangan ini akan menuju titik akhir, setelah semua yang terjadi.. " gumam Arzha.


Malam pun berlanjut dengan kedua pihak saling beristirahat, namun pagi yang dirasakan keduanya esok hari benar benar berbeda, Arzha yang bangun pagi itu langsung mengumumkan kemenangan mereka tentang peperangan di laut, membuat moral para pasukan mulai terpompa kembali.

__ADS_1


Lain halnya dengan tenda para pasukan musuh, terlihat kemelut di wajah keempat jenderal yang masih tersisa,


" Sisa pasukan kita sudah hampir berimbang dengan pasukan musuh, pangan kita juga bahkan akan segera habis, apa yang harus kita lakukan? "ucap salah seorang jenderal paladin.


" Ini benar benar gawat, kita terkepung disini karena sebuah kecerobohan dan kebodohan, bagaimana jika mengajukan tanda untuk menyerah saja? Mungkin kita masih bisa menyelamatkan sisa pasukan kita? " sambung yang lainnya.


" Tidak! Kita harus menuntaskan misi ini! Sang Dewi tidak akan mengampuni kita, semua pasukan bersiap! Aku tidak yakin jika mereka masih memiliki beberapa persenjataan untuk bertahan.. " ucap sang kepala jenderal.


" Baik Jenderal! " ucap yang lainnya.


Peperangan ini sudah menghabiskan waktu selama tiga minggu lebih, namun terlihat dimata para pasukan Kepulauan Tengah semangat yang masih membara untuk memukul mundur pasukan musuh.


Di sisi lain, terlihat wajah wajah yang letih juga putus asa terlihat di barisan musuh yang sudah tak sekuat masa awal perang, kaki dan tangan yang mulai gemetar, berperang dengan peralatan yang ada, Arzha sudah mantap dengan kemenangan perangnya kali ini.


" Tutup semua jalur laut, dan habiskan sisa kapal yang masih ada kepada Tuan Winston, " ucap Arzha melalui telepatinya.


" Baik Tuan! " jawab dua anak buahnya dari sana.


" Tidak ada kapal untuk pulang, menyerah dan jadi budak? Atau mati? Haha.. " gumam Arzha.


" Serangg!! " Teriakan sang Jenderal dari bawah.


" Semua bersiap ditempat! " ucap Arzha.


Peperangan kembali berkecamuk, dengan beberapa tangga yang sudah mulai terkoyak, para pasukan musuh terus saja mencoba menaiki nya, berkali kali mendorong gerbang dengan penghancur, namun selalu digagalkan.


" Panah terus mereka! Bawa beberapa minyak! Lempar batu di arah sana! " Arzha dengan giat terus memberikan komando pada para pasukannya.


" Terus saja lakukan seperti itu, aku akan turun dulu sebentar, beri saja kabar jika mereka sudah menghentikan penyerangannya, " ucap Arzha sambil berjalan turun.


" Tuan! Ini bukanlah peperangan! Ini pembantaian, jika seperti ini terus lama kelamaan kita akan habis, perintahkan pasukan untuk mundur sekarang juga dan mari kita bergegas untuk pulang! " ucap seorang pasukan.


" Lapor Tuan! Sisa sisa kapal kita sedang dijarah dan dihancurkan oleh angkatan laut pasukan musuh! Bagaimana ini Tuan? Mereka datang dengan armada yang lebih banyak, kita tidak sanggup menahannya! " ucap prajurit itu.


" Si4l4n! Kalau begitu perintahkan sisa prajurit kita untuk mundur dan pulang! " ucap sang jenderal kepala.


" Mustahil Jenderal! Di laut sudah menunggu ratusan kapal yang siap menghadang kita, bahkan jumlahnya pun sepertinya bertambah! " ucap prajurit lain.


" Ini benar benar.. Semuanya mundur! Tarik pasukan, mari kita beristirahat sejenak selama beberapa hari, lalu kita mulai lagi peperangan terakhirnya, hidup atau mati! " ucap sang jenderal kepala.


" Dimengerti Tuan! " ucap salah satu pasukan yang ada di darat.


" Semuanya mundur mundur! "


" Mundur! Mundur! "


Arzha yang mendengar itu lalu naik ke atas benteng dan melihat apa yang sedang terjadi,


" Ternyata beristirahat untuk serangan terakhir? Cihh.. Kalian hanya mengantarkan nyawa, haha.. " ucap Arzha.

__ADS_1


Peperangan hari itu berakhir dengan kemenangan telak pihak asosiasi, para tetua petinggi asosiasi yang terlibat di peperangan itu kemudian mengadakan pesta selama beberapa hari ke depan karena tidak adanya serangan dari pasukan musuh.


" Tuan Arzha.. Menurut mu apa yang dipikirkan pasukan musuh tidak menyerang kita selama beberapa hari ini? " tanya Tuan Chris.


" Hmm? Mereka hanya sedang beristirahat dan menyiapkan kekuatannya untuk serangan terakhir, " ucap Arzha.


" Serangan terakhir? Berarti pelerangan ini akan segera berakhir? " tanya Tuan Chris lagi.


" Ya seperti itulah Tuan Chris.. " jawab Arzha.


" Haha.. Kemenangan milik pihak asosiasi! Haha.. " ucap para anggota platinum lainnya.


" Para tetua semuanya, pencapaian gemilang ini tidak lepas dari kontribusi pikiran anggota tetua Platinum baru juga termuda kita, Tuan Arzha! " ucap Tuan Winston yang ikut berpesta disana sebagai salah seorang petinggi anggota Platinum juga.


Namun Arzha tetap waspada menyiagakan Ken dan Brian untuk memimpin ratusan kapal disana.


" Tidak tidak.. Ini berkat kita semua, ini demi Kepulauan Tengah! Bersulang! " ucap Arzha.


" Bersulang! " ucap semuanya serempak.


Di tenda musuh, para jenderal semakin kebingungan untuk mencoba cara lain dalam menaklukkan benteng itu,


" Apalagi yang harus kita lakukan dalam peperangan ini? Apakah kalian memiliki beberapa ide? " ucap sang kepala jenderal.


" Sebenarnya aku memiliki beberapa ide, hanya saja ini terlalu beresiko untuk kita ke depannya, " ucap jenderal yang lainnya.


" Sebutkan saja apa ide itu, untuk resikonya kita bisa pikirkan bersama sama, " ucap yang lainnya.


" Baiklah jadi begini.. Bagaimana jika kita korbankan beberapa kapal, juga ambil kayu kayu kapal kapal yang masih bisa dipakai, dan kita buat beberapa atau beberapa puluh menara menara pengepungan mendadak disini? " ucap jenderal itu.


" Kapal kapal? Lalu bagaimana nanti kita pulang? Kapal kapal pun sekarang hanya tersisa hampir beberapa puluh lagi, bagaimana kita mengorbankan nya? " ucap jenderal yang lain.


" Maka dari itu.. Ide ini sedikit beresiko, aku hanya berpendapat saja, sisanya hanya kalian yang dapat menentukannya, " ucap jenderal itu.


" Aku pikir ide itu cukup bagus, bisa menjadi sebuah pilihan disaat sudah terlalu buntu seperti sekarang, resiko seperti itu perlu dikorbankan, itu ide bagus, mari kuta perintahkan saja mereka, pakai juga kapal kami, kalau begitu, " ucap kepala jenderal.


" Tidak jenderal! Itu terlalu berbahaya, sisakan satu untuk kemungkinan terburuk kita kabur dari sini! " ucap jenderal yang lainnya.


" Tudak ada kemungkinan terburuk, kabur? Kau pikir mereka yang mengepung kita di lautan akan memberikan jalan bagi kita untuk kabur? Pilihannya satu, menang atau mati! " ucap sang kepala jenderal


" Resikonya bisa lebih dari itu Jenderal, bukankah tidak mengetahui jumlah pasukan musuh yang sebenarnya? Namun memang sejak awal sepertinya terdapat ketimpangan dalam hal jumlah dengan mereka, "


" Namun.. Karena persiapan kita yang kurang matang, juga kesiapan musuh yang sudah sangat terencana, membuat sepertinya pasukan kita sekarang akan berimbang, "


" Namun.. Itu hanyalah gambaran kasar, bagaimana jika sebenarnya mereka memiliki pasukan yang lebih besar di balik benteng itu? Bukannya saat kita menerobos pintu, mereka akan selalu dikalahkan? " ucap jenderal tadi.


" Tapi menurut beberapa prajurit, pasukan angkatan laut Kepulauan Tengah sepertinya makin hari makin bertambah, apakah mungkin mereka memusatkan pada angkatan laut karena berpikir bahwa kita akan kabur? " ucap Jenderal lainnya.


" Kalau begitu.. Seperti ide ku saja, kita serang saja mereka habis habisan dengan puluhan menara pengepungan, lalu kalahkan mereka di dalam, biarkan seperti itu dulu, jika kita sudah dapat menduduki ibukota Cosovo, ke depannya akan sangat gampang, " ucap sang kepala Jenderal.

__ADS_1


" Persiapkan dengan cepat, kita beri kejutan mereka malam ini! Aku tak yakin jika mereka bisa mengetahui penyerangan kita kali ini " ucap sang kepala Jenderal.


" Baik Jenderal! " ucap tiga lainnya serempak.


__ADS_2