
...JEMPUT AKU!...
...Penulis : David Khanz...
Pukul 20.00 malam, Reno masih berselonjor santai di kursi sambil memainkan remote. Sesekali mata anak muda ini melirik layar ponsel yang tergeletak di atas meja. Lalu beralih menonton tayangan musik live di salah satu stasiun televisi. Sesekali ikut bernyanyi mengiringi alunan suara vokalis band yang sedang beraksi di layar.
"Ren, Chaca udah sampai mana sekarang?" tanya Ibu Reno tiba-tiba muncul di ruang tengah.
"Eh, Ibu .... " Reno segera menurunkan kaki. Duduk bersandar, memberi tempat pada ibunya untuk duduk. "Tadi di-chat, katanya masih di jalan, Bu."
Ibu Reno ikut duduk di samping anaknya. Keningnya berkerut. "Tadi kapan?"
Tanpa menoleh, Reno menjawab, "Ya, tadi, Bu. Kira-kira setengah jam yang lalu."
Wanita setengah baya itu menggeleng. "Kok, setengah jam yang lalu? Chaca itu adik perempuan kamu, lho, Ren. Kalau sudah sampai di terminal, terus kamunya belum datang, gimana?"
"Iya, Bu. Reno coba tanya lagi, ya." Anak muda itu meraih ponselnya. Membuka aplikasi percakapan instan, lalu mengirim pesan pada nomor Chaca. "Sudah keterima, Bu. Tuh, centang dua."
"Apa kata Chaca?" Ibu Reno tampak khawatir. "Ya, belum dibaca, Bu. Centangnya belum biru," jawab Reno kembali.
"Coba kamu telepon aja," pinta Ibu Reno. "Ibu, kok, gak enak perasaan begini, ya?"
"Iya, Bu. Reno telepon, deh." Anak muda itu menurut. Menghubungi nomor Chaca. Sebentar kemudian, terdengar nada panggilan tersambung. Namun beberapa saat ditunggu, belum juga diangkat. "Chacanya ketiduran di bis mungkin, Bu. Teleponnya gak diangkat."
Terlihat raut gusar di wajah itu. Sambil mengelus dada, wanita itu berkata, "Duh, lagi ngapain, ya, anak itu?"
"Ya, tidurlah, Bu," jawab Reno seraya menatap kembali layar TV. Kemudian ikut melantunkan nyanyian diiringi anggukan kepala.
"Ah, kamu ini, Ren. Di ajak ngomong sama orang tua, kok, malah nyanyi-nyanyi begitu," gerutu Ibu Reno, cemberut.
Reno menoleh pada ibunya. Disertai senyum, lalu berkata, "Lah, terus Reno harus gimana, Bu?"
Wanita itu mendecak. "Ibu itu khawatir sama adikmu, lho, Ren," jawabnya, "sudah Ibu bilang, pulangnya besok pagi aja. Biar bisa diantar sama Danar. Eh, malah maksa pulang sore tadi. Makanya nyampe ke rumah pasti malam kayak gini."
"Om Danar besok pagi, 'kan, kerja, Bu?"
"Ya, bisa minta izin atau cuti dulu. Bisa, 'kan? Jadi gak mesti naik angkutan umum. Eh, Chacanya aja maksa pengen pulang hari ini."
"Ah, kayak gak kenal sifatnya Chaca aja Ibu ini. Dia, kan, keras kepala. Sama kayak almarhum Bapak."
__ADS_1
Ibu Reno menepuk lengan anaknya. "Kamu ini, kalo ngomong, kok, suka ngelantur." Sebentar kemudian balik ke topik awal. "Sekarang kamu telepon Chaca lagi, Ren. Tanya, sudah nyampe mana, gitu?"
"Iya, Bu." Reno kembali menghubungi adiknya. Sama seperti tadi. Tak diangkat.
"Sekarang malah gak aktif, Bu. Mungkin, HP-nya lowbat."
"Duh, tuh anak. Bikin hati Ibu khawatir aja, deh," ujar Ibu Reno lirih.
"Ya, sudah. Reno berangkat ke terminal, deh. Siapa tahu Chaca sudah sampai di sana," kata Reno seraya mengambil ponsel dan kunci kontak motor.
"Pake jaket, Ren. Nanti kamu masuk angin, lho."
"Iya, Ibu sayang." Reno mengekeh.
"Dasar kamu ini."
Sebentar kemudian anak muda itu melaju dengan sepeda motor besar berwarna merah menyala. Menerjang pekat dan dinginnya malam.
Tak sampai satu jam, dia sudah tiba di terminal. Keadaan sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa kendaraan bis yang terparkir di sana, serta warung-warung kecil yang masih buka. Reno memarkir motornya tak jauh dari pintu masuk terminal. Bermaksud, agar bisa mengetahui ketika bis terakhir yang ditumpangi Chaca datang. Dia memilih duduk di bangku panjang, dekat sebuah toilet umum, sambil memainkan ponsel.
Lama juga berada di sana. Sesekali mencoba menghubungi nomor Chaca. Tak berhasil. HP adiknya tak kunjung aktif.
"Mau ngapain, Bang?" tanya Reno berusaha tenang. Dia mengangkat kedua tangan ke atas. Dilihatnya seorang laki-laki gondrong dan kumal, melotot dengan sorot menyeramkan.
"Ikut saya ke dalam toilet! Cepat!" hardik laki-laki itu sambil menarik jaket Reno, menuntun ke dalam kamar toilet, lalu mendorongnya.
Tak lama terdengar suara-suara bentakan dari dalam, bunyi gedebuk tubuh dipukul, serta disusul lenguhan lirih kesakitan.
Reno keluar dari dalam toilet dengan bercak darah memenuhi jaketnya. "Manusia sialan! Kamu pikir aku akan tinggal diam? Percuma kupelajari ilmu bela diri, kalo sampai mati konyol di tangan jahanam sampah sepertimu!" seru anak muda itu sambil mengelap lumuran darah di tangan pada pakaiannya.
Dia bersiap hendak melangkahkan kaki, tapi tertahan begitu terdengar suara tangis seorang perempuan, di salah satu kamar toilet. "Suara tangis siapa itu? Manusia atau hantu? Sepertinya kukenal," gumam Reno sembari menghampiri asal suara.
Benar saja, begitu pintu toilet didorong, tampak seorang perempuan tengah duduk menekuk memeluk lutut sambil menangis pilu.
"Chaca?" panggil Reno begitu mengenali ciri-ciri pakaian yang dikenakan perempuan itu. Sosok itu mengangkat kepala, lalu berseru lirih, "Kak Reno!"
"Ya, Tuhan! Apa yang terjadi padamu, Cha?" Reno melihat sebagian pakaian adiknya terbuka dan robek di bagian tertentu.
Chaca berusaha bangkit, tapi ambruk kembali. Cepat-cepat Reno membantu memapahnya. "Chaca! Ya, Tuhan!"
__ADS_1
Perempuan itu menangis bercampur ringis kesakitan yang mendera. "Laki-laki tadi yang melakukannya, Kak! Aku ... aku .... "
Reno tertegun melihat ada bercak darah di celana Chaca yang melorot. "Astaga, Cha! Kamu ... kamu ... telah di .... "
"Antar aku pulang, Kak!"
Reno membantu memapah adiknya, berjalan menuju motor. "Tahan, ya, Cha. Kita pulang sekarang."
"Sakit, Kak!"
"Sabar, Cha! Tahan!"
Kembali Reno membantu Chaca duduk di jok belakang, kemudian dia segera menaiki motornya. "Pegangan yang erat, Cha. Kita pulang secepatnya."
Chaca menurut sambil tetap menangis pilu. Lalu keduanya segera meninggalkan terminal bis yang sepi dan temaram. Reno memacu motornya bagai kesetanan. Melesat cepat membelah dinginnya malam di tengah jalanan sunyi.
"Turun, Cha. Kita udah sampe," titah Reno.
Perlahan Chaca turun dari motor. Berjalan sendiri masuk ke dalam rumah, sambil memanggil-manggil, "Ibuuu ... !!!"
Tak lama wanita setengah baya itu keluar dari kamar, terkejut, menghambur menyambut anak perempuannya. "Chaca! Apa yang terjadi denganmu, Nak? Ya, Tuhan!" jerit ibunya. Panik.
"Chaca ada yang nodong, Bu. Tas sama HP diambil. Terus Chaca di ... di ... aduh, Bu. Chaca sakit!"
"Ya, Tuhanku!" jerit ibunya begitu melihat Chaca memegangi bagian bawah perut disertai ringis kesakitan. "Kamu pulang sama siapa? Mana kakakmu Reno?"
Chaca menunjuk keluar rumah. "Tadi masih di depan masukin motor," jawab anak perempuan itu di antara raung tangisnya.
"Motor? Tadi, Ibu gak denger ada suara motor Reno .... "
"Masa sih, Bu?" Chaca bingung.
"Reno! Reeennn!" panggil wanita itu. Beranjak ke depan rumah. Namun tak menemukan siapa pun di sana. "Gak ada kakakmu di depan sini, Cha! Reno gak ada!"
"Tadi Chaca diantar pulang sama Kak Reno, Bu. Dia tadi masih ada di luar!" teriak Chaca sambil memperhatikan bercak darah di tangan. Anak perempuan itu yakin, itu bukan darahnya. Sepanjang perjalanan tadi, terus memeluk erat Reno. Lalu darah ini?
Esoknya berbagai media ramai mewartakan tentang dua penemuan mayat. Yang pertama di dalam kamar toilet terminal bis. Tergeletak berlumuran darah memenuhi jaketnya, akibat luka tusukan di bagian perut. Penemuan kedua, sesosok mayat terbujur kaku di pinggiran jalan. Seorang laki-laki gondrong dan kumal. Penuh luka tusukan di perut, mata melotot seperti pernah dilanda ketakutan sebelum menemui ajal, serta alat vital hilang dibabat habis. Tak jauh dari mayat tersebut, sebuah motor besar berwarna merah menyala teronggok dalam keadaan mesin masih hidup dan lampu depan menyala.
...SELESAI...
__ADS_1