
...THE CHANCE OF LIFE...
...Penulis : David Khanz...
Hujan masih belum mau berhenti sejak pagi tadi. Rintiknya menyapa disetiap kehidupan bernafas di permukaan bumi. Memberikan secercah harapan kaum bertangkai untuk bisa tetap bertahan mempersembahkan zat titipan dari Tuhan bagi makhluk berparu. Memenuhi setiap helaan rongga pernafasan yang kian sesak berebut dalam kepulan asap-asap hitam dari corong knalpot berbagai kendaraan yang berlalu-lalang di depan mata.
Aku berlari kecil di antara riak genangan air yang memenuhi permukaan aspal terminal yang tidak rata. Sebagian memercik membasahi ujung celana yang tak kutarik. Sementara tas ransel yang kubawa digunakan untuk menutupi kepala agar tak ikut kuyup terkena hujan. Segera menuju pos pemberhentian bis di ujung sana untuk sekedar berteduh, sekalian menunggu kendaraan yang akan membawaku ke tempat tujuan.
“Bisnya belum datang, ya, Mas?” tanyaku pada seorang laki-laki penjual makanan dan minuman yang biasa mangkal di sana.
“Belum, Kang. Paling sebentar lagi,” jawabnya sambil sibuk membuat segelas kopi hitam panas yang dipesan seseorang yang duduk bersandar tak jauh dari tempat kuberdiri, “mau ke mana, Kang?”
“Sukabumi,” jawabku mencari-cari tempat untuk sekedar duduk melepas penat setelah lama berdiri di dalam kereta tadi.
“Pake saja kursi ini, Kang,” ujar penjual itu menyodorkan sebuah kursi plastik yang sudah rusak di beberapa bagian.
“Oh, iya. Terima kasih. Sekalian, deh, pesan satu kopi hitam, ya, Mas.”
Penjual itu tersenyum dan langsung menyiapkan pesananku.
Aku duduk dekat tiang penyangga bangunan terminal. Bersender sambil sesekali mengibaskan butiran air hujan yang membasahi permukaan jaket kulit yang kukenakan.
Tak berapa lama tukang makanan dan minuman itu mengantarkan segelas kopi hitam panas pesananku tadi.
“Rokoknya sekalian, Kang?”
“Terima kasih. Aku gak ngerokok.”
Kuseruput cairan kopi yang masih mengepul panas, dalam gelas sedikit demi sedikit. Lumayan untuk sekedar menawarkan rasa dingin yang terasa mencucuk pori-pori dihampir seluruh tubuhku yang lembab.
Seketika mataku tertuju pada selembar koran yang tergeletak tak jauh dari tempatku duduk. Sepertinya koran lama. Karena kondisinya sudah kusam dan kotor dengan bekas pijakan alas kaki.
Perlahan aku pungut dan mulai membuka lembaran koran tersebut. Ada judul besar yang tertulis di sana dengan jelas, tentang berita kecelakaan sebuah angkutan umum.
Mengerikan! Begitu pikirku.
Sebagian lagi kutelusuri, masih tentang seputar kondisi politik negara yang belum kunjung kondusif. Tak membuatku terangsang untuk melanjutkan bacaan yang terasa membosankan.
Sesaat kemudian, kelopak mata mulai terasa berat untuk tetap terbuka. Perlahan aku mulai terkulai dalam kuasa alam tidur yang segera menyergap di setiap lorong kesadaran dalam kepala.
“Astaghfirullah!” seru satu suara dari seseorang yang mengejutkanku.
Aku tersentak dari tidur dan menoleh kearah tukang penjual makanan dan minuman yang tengah sibuk memunguti pecahan gelas yang jatuh ke tanah serta menimbulkan suara keras.
“Ma’af, ngeganggu tidur Akang. Gelas saya jatuh,” ujar laki-laki itu tergopoh-gopoh membereskan pecahan gelas yang berserakan.
“Enggak apa-apa, Mas,” jawabku di antara kesadaran yang perlahan mulai kembali.
Bersamaan dengan itu, bis yang ditunggu sudah datang. Aku segera bergegas meraih tas ransel yang tergeletak dan langsung menaiki badan kendaraan yang berhenti tepat di depanku. Sebagian kursi sudah terisi. Aku kebagian tempat yang kosong dan itu pun berada di pojok paling belakang kendaraan.
Bis tak lama berhenti, karena muatan sudah hampir penuh. Lalu perlahan mulai bergerak meninggalkan terminal yang masih diguyur hujan.
Alam mulai terlihat gelap, menandakan bahwa waktu sudah mulai merambat petang. Diikuti nyala lampu-lampu jalanan, menerangi setiap ruas jalur yang kami lalui.
Ya, Tuhan!
Aku baru ingat kalau kopi yang dipesan tadi belum kubayar. Untuk turun kembali rasanya tak mungkin. Terminal sudah jauh tertinggal di belakang.
Menyesal, mengapa bisa seteledor ini? Mudah-mudahan lain waktu bisa berjumpa kembali dengan laki-laki penjual makanan dan minuman itu.
“Mau ke mana, Anak Muda?” tanya seseorang yang duduk di sebelahku tiba-tiba.
Aku melirik sekilas kearahnya. Seorang laki-laki tua bermuka pucat. Lekat pandangan matanya kosong menatapku. “Sukabumi, Pak,” jawabku singkat.
Tiba-tiba terasa bergidik dengan tatapan mata serta suaranya yang datar.
“Seharusnya kamu tidak ikut naik bersama kami, tadi. Belum saatnya dan masih panjang perjalanan hidupmu, Nak,” lanjut laki-laki tua itu sambil menepuk-nepuk bahuku.
Dingin sekali tangannya. Atau mungkin karena faktor cuaca yang sedang hujan?
“Emangnya kenapa, Pak?” tanyaku penasaran.
Laki-laki tua itu tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Lebih tepatnya mungkin menyeringai. Itu yang kulihat dari raut mukanya yang datar dan kosong.
Dia tak lagi menoleh kearahku. Pandangannya tertuju ke depan. Entah apa yang sedang diperhatikan.
Beberapa saat kemudian, seorang kondektur menghampiri kami. Aku segera menyiapkan beberapa lembar uang. Namun saat tepat di depanku, kondektur itu hanya tersenyum dingin dan langsung kembali ke depan tanpa meminta uang ongkos. Berulang kali aku memanggil, dia tetap tak mengindahkan.
Dari kejauhan kulihat kondektur itu seperti tengah berbisik-bisik dengan sopir. Sesaat kemudian mereka berdua menoleh.
Aku benar-benar tak mengerti apa yang tengah mereka perbincangkan. Sementara lembaran uang ongkos ini masih tergenggam di tangan.
“Sudahlah, simpan kembali uangmu itu, Nak,” ujar laki-laki tua yang duduk di samping tanpa menoleh sedikit pun kearahku.
__ADS_1
“Kenapa? Aku belum bayar ongkosku, Pak,” jawabku heran.
Akhirnya aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju tempat kondektur itu berada.
“Mas, ini ongkos saya. Tadi Mas dipanggil, kok, enggak nyahut, sih?” kataku pada kondektur yang berdiri di sisi pintu depan kendaraan.
Kondektur itu menatapku sesaat, lalu beralih beradu pandang dengan sopir.
“Enggak usah. Ambil saja,” jawab kondektur perlahan.
“Lho, kenapa?” tanyaku kembali.
“Hitung-hitung sebagai hadiah dan kenang-kenangan dari kami. Kembali ke tempat duduk Anda semula. Tidur dan istirahat. Perjalanan kita masih lama.”
Aku tak habis pikir dengan semua ini. Dengan perasaan masih diliputi rasa ragu, akhirnya aku letakan uang ongkosku dekat dashboard kemudi sopir. Lalu aku kembali berjalan menuju tempat duduk di belakang.
Disaat itulah, aku sempat memperhatikan para penumpang bis yang duduk di kursinya masing-masing. Semua terdiam dan menatapku dingin. Di antara temaram lampu yang menyala, aku melihat mereka seperti ingin berucap mengungkapkan sesuatu. Namun tak sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka yang kaku dan memucat.
Akhirnya dengan rasa heran yang terus melanda ruang kepala, aku duduk kembali di tempat semula. Pikiran-pikiran aneh mulai menggerayangi alam sadarku. Sampai kemudian perlahan rasa kantuk ini mulai menggayuti kelopak mata.
Jujur saja, sebenarnya aku ingin sekali terus membuka mata ini. Agar pertanyaan-pertanyaan yang masih tersimpan di dalam hati ini terjawab segera. Siapa tahu di antara sadarku akan segera menemukan jawabannya.
Namun ....
Aku sudah tak dapat lagi menahan kantuk yang luar biasa berat ini. Sesaat kemudian, alam kegelapan pun sudah menyelimuti ruang kesadaran. Terhempas dalam dekapan mimpi yang segera menyapa.
BRAK! PRANG!
Aku tersentak kaget saat mendengar suara keras yang membuyarkan alam tidurku barusan.
“Ma’af, mengganggu, Kang. Gelas saya jatuh,” ujar seorang laki-laki tergopoh-gopoh memunguti pecahan gelas yang berserakan.
Aku memperhatikan sosok laki-laki itu, “Mas."
“Iya saya, Kang. Ma’afkan saya ya,” ujar laki-laki itu seperti merasa bersalah karena telah membangunkanku.
“Mas yang jualan kopi tadi, kan?” tanyaku kembali sambil terus memperhatikan laki-laki yang ada di hadapanku itu.
“Iya, Kang. Ada apa?” laki-laki itu sedikit mundur menghindari adu pandangan denganku.
“Kenapa saya ada di sini, ya?” Aku melihat-lihat sekeliling. Suasana terminal dan juga laki-laki penjual makanan dan minuman itu.
“Dari tadi juga Akang ini belum ke mana-mana, kok. Itu kopinya saja masih belum habis, Kang,” jawab laki-laki itu bergidik melihat tatapan mataku yang seakan tak pernah berkedip menguliti setiap jengkal tubuhnya.
“Mas ini ngomong apa barusan?” tanyaku samar-samar mendengar laki-laki itu bergumam sendirian.
“Oh, Enggak. Akang ini tertidur dan mimpi mungkin!”
“Masa, sih? Tapi .... ”
Rasanya, aku benar-benar sudah pergi dari sana dengan bis yang tadi. Tapi mengapa sekarang ada di terminal itu kembali? Apakah tadi itu benar-benar sebuah mimpi? Senyata itukah rasanya?
Ya, mudah-mudahan saja hanya mimpi. Karena sesungguhnya, yang ada sekarang adalah bis yang ditunggu sejak tadi sudah datang. Aku akan segera pulang ke rumah. Beristirahat dan bermimpi yang lebih indah di kamar tidur yang sudah berbulan-bulan kutinggalkan.
Syukurlah pula, bis ini tak terlalu lama berhenti mencari tambahan penumpang. Artinya aku akan lebih cepat sampai di rumah tanpa banyak hambatan. Kecuali, karena hujan yang belum juga ada tanda-tanda akan segera reda dalam waktu dekat.
Setelah mencari-cari tempat duduk, akhirnya aku mendapat bangku kosong di sebelah seorang laki-laki tua yang tengah tertidur.
“Permisi, Pak. Boleh saya ikut duduk di sebelah Bapak?” tanyaku pada sosok laki-laki tua yang tiba-tiba terbangun begitu aku mulai mendekati tempat duduknya.
Sesaat laki-laki tua itu tak bergeming dan hanya menatapku dalam-dalam.
“Mau ke mana, Nak?” tanya laki-laki itu dengan suara datar.
“Sukabumi.”
Dia menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat dudukku.
Laki-laki tua itu .... ? Sepertinya, aku mengenal dia. Atau pernah bertemu sebelumnya? Di mana, ya?
Hhmm, pertanyaan itu sama sekali tak pernah ingin kuucapkan. Enggan rasanya melihat raut muka laki-laki tua itu yang nampak tak bersahabat.
Seperti biasa, aku segera menyiapkan uang ongkos agar saat kondektur datang menagih, bisa langsung diberikan. Tanpa repot mencari-cari di dalam tas ransel yang tersimpan di bagian belakang kursi kendaraan.
Bis mulai berjalan meninggalkan terminal. Melaju dengan kencang di antara guyuran hujan yang lebat. Pepohonan yang tumbuh rindang di sepanjang sisi jalan seakan berlarian saling mendahului. Sementara gelap menyelimuti hampir setiap perjalanan menuju kampung halaman.
Tiba-tiba aku seperti teringat sesuatu.
Ya, aku ingat pada sosok penjual makanan dan minuman di terminal itu. Kopi yang belum sempat kubayar. Dan ....
Aaahhh ... aku juga ingat kini. Laki-laki tua yang duduk di sebelah itu seperti sosok laki-laki yang ada dalam mimpiku tadi. Mirip sekali jika saja tak ingin kukatakan sama persis.
Mengapa kejadian hari ini seperti pernah kualami sebelumnya? Lalu teringat berita yang ada dalam koran kotor yang tadi sempat kubaca, tentang kecelakaan kendaraan umum yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Saat kejadiannya pun persis dengan waktu yang tengah kujajaki.
__ADS_1
Aku merasa laju kendaraan mulai ada yang tak beres. Badan kendaraan seperti berguncang keras. Disusul kemudian dengan suara ledakan keras dari arah bawah kendaraan. Lalu tiba-tiba jerit ban yang beradu dengan aspal yang licin akibat hujan menggema memekakkan telinga.
Belum sempat berpikir, kejadian selanjutnya, aku seperti terhempas dengan keras menghantam kursi di depan. Dunia berputar mengaduk seisi kendaraan disertai jeritan mengerikan di dalam bis.
Aku tak ingat bagaimana akhirnya, karena tiba-tiba saja kesadaranku perlahan menghilang. Penglihatan pun berubah menghitam. Pekik jeritan itu sayup-sayup menjauh sampai akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi.
Satu hal yang masih tersisa dalam ingatan adalah saat wajahku tiba-tiba basah oleh cairan kental berbau amis. Mungkin berasal dari tubuh penumpang lain yang berada di atas menghimpitku.
Sampai kemudian ....
“Kang ... Kang .... ”
Suara itu yang pertama kali kudengar di antara kesadaran yang hilang timbul dengan mata yang masih terpejam.
“Kang, permisi, Kang. Saya mau pulang dulu.”
Perlahan aku membuka mata. Samar-samar terlihat bayangan seorang laki-laki yang tengah berada di hadapanku.
Perlahan sosoknya pun tampak jelas memenuhi bola mataku yang masih memerah.
“Saya ada di mana?” tanyaku pelan dengan suara tercekat.
“Akang ada di terminal. Saya mau pulang dulu, Kang. Ma’af, kursinya mau saya bawa pulang.”
Aku memperhatikan sosok itu. Laki-laki penjual makanan dan minuman.
“Ya Tuhan ... !!!” aku terperanjat kanget.
“Kenapa, Kang?”
“Kamu lagi, Mas?”
“Iya, saya! Ada apa emangnya?”
Aku memperhatikan keadaan sekeliling seperti orang linglung. Kondisi terminal bis yang sudah mulai sepi. Tak ada kendaraan yang berhenti menunggu penumpang. Tak ada orang-orang yang hilir mudik dengan membawa tas atau bungkusan. Yang ada hanyalah beberapa bohlam lampu temaram yang menerangi beberapa tempat. Dan ... juga laki-laki pedagang itu.
“Mengapa saya ada di sini lagi?” tanya aku pada laki-laki itu.
“Dari tadi juga Akang, mah, ada di sini. Tertidur. Saya sempat meninggalkan Akang sendirian di sini untuk salat Isya dulu. Saya enggak tega, soalnya Akang terlihat kecapekan.”
“Saya ketiduran? Terus ... mimpi?”
“Ya, mungkin saja, Kang.”
“Mana bis itu? Bis yang kecelakaan itu?”
“Bis yang mana, Kang?”
“Bis yang sudah dua kali saya naiki.”
Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia benar-benar bingung dengan ceritaku.
“Koran ... mana koran itu? Nah, itu dia!” aku memungut selembar koran kusam yang sempat dibaca tadi.
“Ooohh ... kecelakaan itu! Yang saya denger, sih, kejadiannya kemarin sore, Kang. Bis jurusan Sukabumi, kalo gak salah! Masuk jurang dan semuanya meninggal dunia terkecuali ada satu penumpang yang selamat,” laki-laki itu menjelaskan.
“Kemarin sore?” aku mulai membaca kembali tulisan yang ada dalam lembaran kertas koran itu.
Memang ada satu nama yang tercantum di sana, yang dikabarkan selamat dari kecelakaan mengerikan itu.
“Korbannya masih dirawat di Rumah Sakit daerah Cibadak. Kalo gak salah namanya ... Heri Juhaeri. Masih dalam keadaan koma sampai saat ini. Itu juga yang sempet saya denger, sih.”
Aku termenung dan duduk mematung. Tiba-tiba tubuh ini seperti lemas tak bertenaga. Hampir saja jatuh tersungkur kalau saja tak segera ditahan laki-laki penjual makanan dan minuman itu.
“Kang! Akang kenapa?” tanya laki-laki itu kaget.
Dia segera memapahku kepinggiran dekat tiang penyangga bangunan.
“Minumlah air dulu air, ya? Atau kalo mau, Akang bisa nginap di rumah saya. Gak jauh dari sini, kok.”
“Terima kasih,” jawabku perlahan.
Aku meminum air kemasan yang disodorkan laki-laki itu.
“Ngomong-ngomong, Akang ini mau ke mana? Dari tadi tertidur di sini.”
“Saya mau pulang ke Sukabumi.”
“Oh, iya ... kenalin nama saya Suharyanto. Saya biasa mangkal di sini sampai waktu Isya. Nama Akang siapa?”
Perlahan aku menoleh pada laki-laki itu dan menjawab, “Nama saya ... Heri Juhaeri.”
Laki-laki itu tertegun dan menatapku dengan saksama.
__ADS_1
...SELESAI...