
...RUMAH KUBURAN...
...Penulis : David Khanz...
Gelap …, selalu itu dan begitu di tiap kali dia tersadar. Ghea melenguh kesah di antara pejaman mata. Perlahan-lahan, gadis itu mencoba bangkit dari pembaringan yang terasa keras menekan sekujur tubuh bagian belakang, dibarengi sedikit ringis kecil menghiasi wajah.
"Ah, sudah menunjukkan waktu kapan ini?" gumam sosok tersebut begitu terduduk lemah bersama dera mati rasa yang menyelimuti hampir separuh badan. Mungkin karena terlalu lama terdiam dalam lena tidur nyenyaknya? Entahlah, Ghea sendiri tidak sepenuhnya mengerti. Namun dari kejadian serupa yang kerap dia alami sejak lalu itu, sedikit demi sedikit kondisi tubuhnya akan kembali normal, beberapa saat setelah terbangun. Lantas sejalan waktu tertentu, balik lagi seperti sedia kala. Melemah tak berdaya dan akhirnya memilih untuk berbaring dalam kebisuan.
Terkhusus pada saat itu, Ghea merasa ada perubahan lain yang terjadi. Tidak seperti biasanya. Tersentak begitu saja, lantas teringat kuat pada satu sosok yang selama 10 tahun ini senantiasa dirindukan. Siapa?
"Irene ….," gumam kembali gadis tersebut lirih dengan pandangan hampa. "Mungkinkah sahabatku itu akan datang menemuiku dalam waktu dekat ini?" imbuhnya lagi dalam pertanyaan bernada bimbang. "Begitu kuat aku merasakan, jika dia akan segera berkunjung ke sini."
Benar saja. Menjelang tiba waktu petang, seorang perempuan muda yang sebaya dengan usia Ghea, tiba-tiba muncul di depan rumah. Dia langsung tersenyum semringah disertai binar mata penuh kerinduan begitu pintu terkuak.
"Irene ….?" panggil Ghea terkejut.
"Gheaaa!" seru sosok bernama Irene tadi seraya mengembangkan kedua tangan. "Astaga, Ghea! Gue kangen banget sama elu!" sambungnya kembali dalam pelukan hangat mereka. "Untung aja elu masih tinggal di sini, Say! Sebelumnya, gue sempet mikir dan ragu buat dateng ke sini. Jangan-jangan … elu udah pindah!"
Suara cempreng Irene terdengar begitu menyakitkan gendang telinga. Namun Ghea tidak terlalu mempedulikannya, sebab yang terpenting saat itu adalah sosok dirindukan tersebut, kini telah nyata terwujud di depan mata.
"Gue juga kangen banget sama elu, Ren," balas Ghea usai pelukan mereka dilepas. "Emang mau pindah ke mana? Gue sama keluarga gue, dari dulu … ya, tinggal di sini. Cuma rumah ini yang kami milikin."
Kelakar Irene tanpa sadar, "Yaaa …, siapa tahu aja, udah pindah alam, Say. Ha-ha!"
"Sialan! Bisa aja lu!" timpal Ghea disertai seulas senyum tipis. Kemudian mengajak teman masa kecilnya tersebut untuk segera masuk ke dalam rumah. " … Di luar dingin, Ren. Yuk, ah."
Irene menuruti ajakan Ghea. Sesaat dia memperhatikan keadaan rumah yang sudah lama tidak lagi dikunjungi, lalu berkata-kata di antara ayunan perlahan langkah kakinya. "Gak ada yang banyak berubah, sejak gue dulu sering main ke sini, Eya," ucap Irene dengan sorot mata terkagum-kagum. "Rumah elu masih bergaya klasik, tapi artistik."
"Ya, begitulah ….," balas Ghea pelan, "semenjak Papa gue meninggal dulu, Mama gue cuma ngandelin hidup dari uang pensiunan Papa. Jadi …, gak banyak yang bisa Mama gue lakuin. Kecuali, ya ini dia … rumah ini, warisan satu-satunya dari Papa gue."
Ucap Irene pilu, "Iya, soal itu gue masih inget kok, Say. Sorry, ya? Gue gak bermaksud buat—"
"Gak apa-apa. Santai aja, Ren," tukas Ghea dengan cepat.
"Eh, ngomong-ngomong … Tante Marline mana?" tanya Irene tiba-tiba. Sekadar ingin mengalihkan pembicaraan dan mengubah suasana tersebut kembali seperti awal tadi.
Ghea menjawab disertai senyuman hambar, "Mama gue lagi ke luar."
"Ke luar … ke luar rumah?" tanya Irene dengan kedua alis terangkat naik.
"Ke luar kota, Say," jawab Ghea menjelaskan. Masih dengan sisa senyuman tipis dan pandangan berputar, terfokus sesaat, ke arah sebuah sudut ruangan. "Mungkin baru balik dalam dua atau tiga hari ke depan."
"Oohhh, jadi elu sendirian di rumah?" tanya Irene terkaget-kaget dan langsung dijawab Ghea dengan sebuah anggukkan. "Berani amat lu? Gak takut apa tiba-tiba ada maling masuk?"
Timpal Ghea dengan gaya bercanda seperti biasa, "Kalo malingnya kayak aktris Drakor sih, oke-oke aja, tuh."
"Siapa? Lee Bee Dho atau Le Ho An?"
"Itu sih, idola elu, Say," timpal Ghea disertai tawa yang ditahan. "Jagoan gue, dong … Tong Ngan Joek Oey sama Bhaw Mbeol Ah. Hi-hi!"
"Sialan!" umpat Irene keki, lantas keduanya pun tertawa-tawa geli sembari memasuki kamar Ghea.
Di dalam sana, kedua gadis tersebut melanjutkan perbincangan. Berbicara tentang masa lalu, serta alasan Irene yang sudah lama tidak pernah lagi datang berkunjung.
"Lepas SMA, gue lanjut kuliah di luar negeri, Say," ungkap Irene menuturkan kisah hidupnya. "Terus ikut magang di sana beberapa tahun."
"Ooohh … pantesan," ujar Ghea mulai memahami. "Begitu kita lulus SD dulu, elu juga langsung ngilang begitu aja, Ren."
Jawab Irene, "Ya, 'kan waktu SMP gue ikut tinggal sama Tante gue di Jakarta. Balik lagi pas sekolah SMA di Bandung, ngikut sama Bokap-Nyokap. Habis itu … gue daftar kuliah di Inggris dan diterima, terus langsung gawe."
"Oohh ….," gumam Ghea sampai termonyong-monyong.
"Tapi …."
"Tapi apa, Ren?" tanya Ghea mendadak merasa penasaran untuk mengetahui kelanjutan cerita teman masa kecilnya tersebut.
__ADS_1
Irene tidak segera menjawab. Mata gadis itu terfokus, menatap lekat bola mata Ghea. Seakan tengah menyimpan tumpukan rasa rindu yang selama ini di simpan dan ditahan.
"Akhir-akhir ini … gue keingetan terus sama elu, Say. Sering mimpiin elu juga," ucap Irene kemudian. "Itu juga yang bikin gue sadar, kalo gue … pernah punya sahabat baik sewaktu gue kecil dulu."
"Ya, Tuhan … Irene," desah Ghea. "Gak nyangka banget, ternyata elu masih inget sama gue, Say. Gue pikir, elu udah lupa."
Irene menggeleng-geleng. Lantas menimpali dengan suara lirih, "Enggaklah, Say. Gue gak pernah lupa ama kebaikan elu dan juga Tante Marline dulu." Tiba-tiba dia mendekap tubuh Ghea. Lebih erat dari awal perjumpaan mereka di depan rumah tadi. "Sorry ya, Eya. Gue baru bisa dateng lagi sekarang."
"I-iya, Ren. G-gak apa-apa," balas Ghea kembali tercekat. "Gue malah bersyukur, elu masih inget gue ama Mama gue."
Kedua gadis itu pun menghabiskan masa-masa pertemuan mereka hingga menjelang larut malam. Namun sayang sekali, Irene hanya memiliki sedikit waktu untuk menumpahkan kerinduan terhadap sahabatnya tersebut. Dikarenakan, pada keesok harinya dia harus melanjutkan kembali perjalanannya ke Bandung.
'Aku harus membangunkan Irene sebelum matahari terbit ….,' ucap Ghea di dalam hati, begitu temannya tersebut sudah terlelap didera rasa lelah. 'Dia tidak boleh mengetahui kondisi aku yang sebenarnya kini. Tak boleh. Cukuplah, pertemuan kami ini menjadi penuntas akhir dari rasa rindu dan desak penasaran yang selama ini kutahan-tahan.'
Lantas Ghea termenung sendiri tanpa bisa memejamkan kembali kelopak mata. Berharap kantuk itu datang menyergap dan menyusul Irene ke dalam alam peraduan. Sebagaimana yang kerap dia lakukan, yakni menyambangi sosok sahabatnya tersebut melalui impian-impian. Seperti di waktu-waktu terakhir lalu.
Pertanyaannya, mengapa harus Irene? Mengapa pula mesti melalui mimpi? Tidak adakah sosok lain maupun cara yang berbeda?
Ini bukanlah perkara kebetulan semata, akan tetapi hati Ghea yang —entah atas dasar apa— patut merujuk pada sahabatnya tersebut.
Sepuluh tahun lalu, begitu seingat Ghea di kala masih berusia belia pada waktu tersebut. Secara tidak sengaja, mendengar suara-suara cekcok di dalam rumah. Nalurinya sebagai seorang bocah perempuan, dia merasakan sedang terjadi sesuatu yang tidak beres di sana.
"Aakkhhh …."
Terdengar seperti suara seseorang yang sedang menderita kesakitan. Kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata atau bisa jadi tengah terjepit saluran pernapasannya.
"Mama ….," desis Ghea kecil, ragu untuk lebih mendekat karena merasa ketakutan. Dia mengenali pemilik suara-suara itu. Tidak lain adalah ibunya sendiri atau Mama Marline dan satu lagi adalah ….
"G-ghea ….?"
Satu sosok lelaki tampak terkejut begitu mendapati Ghea kecil sedang bersembunyi di belakang kursi tamu dengan raut wajah memucat pasi.
Gadis cilik itu menggeleng-geleng dan beringsut mundur, menjauh dari langkah sosok tadi yang hendak mendekat.
Lelaki tersebut malah kian mendekat dengan langkah perlahan-lahan. Lantas mencoba berbicara lembut melalui suaranya yang besar dan serak, "Enggak, Ghea. Om gak nyakitin bakalan nyakitin kamu, kok. Sini … kemarilah, Anak Manis."
Ghea kembali menggeleng ketakutan. Kemudian berusaha menghindar dengan cara berlari ke ruangan lain. Tepat ke arah dimana geletak tubuh ibunya terbujur diam di atas lantai. Dia ingat betul, bagaimana kondisi Mama Marline pada saat itu. Mata terbelalak besar disertai mulut menganga lebar.
"Mama!" jerit gadis kecil itu, lekas memburu tubuh ibunya. Bermaksud hendak membangunkan dan meminta bantuan perlindungan dari sosok lelaki menyeramkan tadi. Namun apalah daya, kenyataan yang ada, Mama Marline justru —seperti— sudah tidak lagi bernyawa. "Ma, bangun, Ma! Mama! Tolongin Eya, Mama! Omm … mmfftt! Mmhhh!"
Teriakan serta jeritan Ghea tiba-tiba tenggelam, begitu mulut gadis kecil tersebut dibekap paksa dari arah belakang.
"Diamlah, Anak Manis," ujar sosok lelaki tadi seraya menahan rontaan Ghea. "Seharusnya kamu gak datang pada waktu sekarang ini, Nak. Mengapa gak berlama-lama bermain bersama Irene anak saya saja, hah? Malah memergoki apa telah saya lakuin pada ibumu!"
"Mmhhh! Mmhhh!" Lengkingan Ghea tertahan di antara tekanan jemari lelaki itu. Namun, rontaan untuk melepaskan diri dari cengkeraman jemari kasar berotot itu, hanya bisa dilakukan beberapa saat. Sampai kemudian, nasib gadis tersebut tidak jauh berbeda dengan ibunya. Mati menyesak disertai wajah biru membengkak.
'Sialan!' rutuk lelaki yang tidak lain adalah ayah dari Irene, teman terdekat Ghea sendiri. 'Terpaksa harus kutangani anak ini, biar urusan ke depan gak bakal bikin masalah buatku nanti!'
Lelaki itu menghempaskan Ghea ke atas tubuh Mama Marline. Lantas berpikir beberapa saat untuk menuntaskan sisa dari biang permasalahan yang telah dia lakukan tadi. Cara tersebut tidak lain adalah dengan jalan menguburkan keduanya di dalam rumah atau tepatnya di kamar tidur mereka masing-masing.
"Maafin aku, Marline," ucap Ayah Irene di depan pusara ibunya Ghea. "Terpaksa aku mengirimmu ke alam sana, dimana suamimu dulu terlebih dahulu kupaksa pergi," imbuhnya kembali diiringi seringai dingin dan tampak menyebalkan.
Menyebalkan? Ya, tentu saja demikian. Itu terkhusus dari sudut pandang seorang gadis belia yang berdiri di sana. Turut memperhatikan. Tidak jauh dari keberadaan lelaki tersebut. Di depan permukaan lantai keramik yang masih tampak baru, diperbaiki.
Sosok kecil itu adalah Ghea. Dia berteriak, menjerit, memanggil-manggil dengan lengking suara membahana. Namun tidak ada satu pun mau mempedulikan, apalagi mendengar. Sebagaimana wujud aslinya yang tidak mampu dilihat oleh mata biasa.
Lantas sebelum lelaki itu pergi, dia masih sempat mengucapkan beberapa kalimat di dalam kamar Ghea. "Maafkan saya, Anak Manis ….," katanya lirih, "Irene pasti akan merasa sangat kehilanganmu. Tapi tenang saja, saya akan buat dia terlupa dan saya pastikan … untuk tidak lagi berada di kota ini sejak sekarang."
Setelah itu, Ayah Irene pun bergegas meninggalkan rumah milik mantan anak buahnya dulu, seraya bergumam sendiri di dalam hati, ' … Sekarang, kamu sudah bisa berkumpul kembali dengan istrimu sendiri, Wardoyo. Sekalian, bersama putrimu juga. He-he.'
Sejak kejadian tersebut, Irene tidak pernah lagi bertemu Ghea. Gadis itu dititipkan di kediaman adik kandung Ayah Irene. Menetap selama tiga tahun di sana dan kembali untuk melanjutkan pendidikan SLTA di Bandung, mengikuti tempat tugas baru orangtuanya yang sudah terlebih dahulu berpindah.
Ghea, si gadis kecil yang tidak berdosa dan telah turut menjadi korban pembantaian itu, tetap masih belum dapat menerima keadaan dirinya yang —kini— sudah berubah. Hanya bisa menangis, meratapi nasib, serta menahan kerinduan akan kehadiran sosok sahabatnya, yakni Irene. Kepada dia pula, putri mendiang Mama Marline tersebut ingin bercerita. Namun seiring waktu berjalan, hal itu tidak kunjung mampu terwujud.
Hingga akhirnya, di jelang waktu petang itulah, keduanya baru bertemu kembali.
__ADS_1
'Haruskah aku berterus terang tentang kejadian yang dilakukan oleh Papanya dulu?' tanya Ghea ragu. Lantas menggeleng sendiri seraya menatap sosok Irene yang sedang tergolek nyenyak di sampingnya. 'Ah, tidak. Aku tetap tidak boleh mengatakan hal yang sebenarnya. Aku tidak ingin, Irene menjauh dariku, hanya karena gara-gara Papanya. Lagipula, laki-laki jahanam itu … belum lama ini, dibuat tak berdaya oleh Mama.'
Di saat Ghea tengah asyik termenung, tiba-tiba terdengar deham Irene sambil menggeliat nikmat.
"Mmhhh …."
'Ya, Tuhan … sepertinya Irene akan segera terbangun. Aku harus segera berpura-pura masih tertidur,' ujar Ghea sembari buru-buru mengambil posisi, yakni merebahkan diri di samping Irene. Kemudian melanjutkan renungan tadi dengan suatu gambaran yang indah-indah.
"Ghea, bangun! Anterin gue ke terminal, yuk!" seru Irene secara tiba-tiba, —seakan-akan— memutuskan jalinan mimpi yang tengah Ghea nikmati.
"Apaan, sih?"
"Anterin gue ke terminal, Say!"
Ya, sepagi itu, Ghea memang harus mengantarkan sahabatnya tersebut untuk kembali ke Bandung. Harus, sebelum waktu fajar tiba dan mulai menyingsing.
Sedih? Tentu saja. Namun, usai kembali bertemu dengan Irene setelah sekian lama berpisah, laksana ada jiwa baru yang Ghea miliki sekarang. Apa itu? Dia merasa —seperti— bisa hidup lagi sebagaimana dulu. Tidak lagi terkekang di dalam ceruk sempit, terbujur kaku di dalam sana, di bawah lantai keramik kamar sendiri.
"Tadi Irene dateng ke sini, Ma," ungkap Ghea ketika ibunya, Mama Marline, tiba-tiba muncul setelah waktu berselang lewat dan bertanya-tanya.
"Irene …? Irene yang—"
"Ya, Irene manalagi, Ma? Dulu sering main ke sini dan berteman akrab dengan Eya," tukas Ghea. "Mama lupa?"
Wajah pucat perempuan tua itu mendadak bingung. Dia melongo, menatap wajah putrinya.
"Masalahnya bukan itu, Nak. Tentu saja Mama masih mengenal anak itu," ucap Mama Marline tampak bingung. "Tapi, masalahnya Irene itu … Irene itu …."
"Ada apa dengan Irene, Ma?" tanya Ghea penasaran.
Mama Marline tidak lekas menjawab. Dia memutar setengah badan, menoleh ke belakang, pada satu sosok yang sudah tidak begitu asing di mata Ghea sewaktu kecil dulu.
"Pa ….?" Kini beralih gadis tersebut bertanya pada sosok tadi. Tidak lain dan tidak bukan adalah Wardoyo.
Sejenak, lelaki itu melirik pada istrinya.
"Terus terang saja pada Eya, Pa," pinta Mama Marline sembari mengalihkan pandangan pada Ghea.
"I-ini … i-ini ada apa sebenarnya, Ma-Pa? Apa yang terjadi pada Irene?" ulang kembali Ghea bertanya-tanya.
Setelah beberapa saat hening, akhirnya Wardoyo pun berungkap jujur. Tutur lelaki tersebut, "Seminggu lalu … Irene meninggal dunia, Nak."
"Apa?" seru Ghea terkejut. "Papa yang melakukannya, 'kan?"
"Dengarkan dulu, Nak. Papa belum selesai bicara," ujar Wardoyo sembari kembali melirik istrinya yang tertunduk lesu. "Papa hanya bermaksud … melakukannya pada … pada Ayahnya Irene. T-tapi … semuanya berimbas pada Irene dan ibunya juga. Mereka bertiga … tewas dalam kecelakaan di Cianjur. Terbakar bersama kobaran api yang melahap kendaraan mereka."
"Kamu memang sengaja ingin membunuh keluarga itu 'kan, Pa?" tanya Mama Marline tiba-tiba disertai senyuman dingin.
"Apa maksudmu, Ma? Kamu jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, ya? Tujuanku hanya satu, pada lelaki yang telah kamu pilih untuk mengkhianatiku! Ingat itu! Aku gak pernah punya dendam apa pun pada istri dan anak bekas atasanku itu!" balas Wardoyo dengan suara menggelegar. "Kamu saja yang terlalu murah, menyerahkan diri kamu ke dalam pelukan lelaki jahanam itu! Sampai akhirnya, kamu hamil dan dia gak mau menerima tuntutan dari kamu untuk segera menikahimu! Iya, 'kan?"
"Kamu juga yang merasuki jiwa dia supaya bisa menghabisi aku, 'kan? Sekaligus menuntaskan dendam kamu atas diriku!" tuding Mama Marline disertai jari telunjuk teracung mengarah pada sosok suaminya.
"Bagaimana mungkin aku melakukannya, Marline! Semudah itu kamu menuduh aku? Secara gak langsung, kamu juga mengira … aku juga yang telah tega menghabisi Ghea! Begitu, hah?" balas Wardoyo sengit.
Ghea, si Gadis Malang itu hanya bisa terdiam. Tidak ingin menimpali, menengahi, ataupun melerai kedua orangtuanya. Sesuatu yang telah lazim dia saksikan sejak kecil dan semasa hidup dulu. Percekcokan antara ayah-ibunya seakan-akan sudah terbiasa dilalui selama berwaktu-waktu.
Hal sekarang yang ingin Ghea lakukan saat itu juga adalah menyingkir. Bergegas memasuki kamar, berbaring, menyatu kembali bersama raganya yang sudah hancur melebur menjadi onggokan tanah. Dingin, walaupun selalu berselimutkan kain putih yang terbungkus erat dari ujung kepala hingga kaki, serta langit-langit berlapiskan tatanan keramik.
Ghea tidak lagi peduli akan suara-suara sentakan penuh amarah di luar sana. Seperti biasa, tidak berapa lagi suasana bakal kembali hening. Wardoyo, ayahnya, akan pulang ke TPU sana, sementara Marline, sang Ibu, terbaring —sebagaimana dirinya kini— di kamar sebelah. Kemudian, tempat pun akan berubah menjadi semula, yakni sebuah bangunan rusak dipenuhi debu serta semak belukar merajalela. Seiring dengan munculnya cahaya emas kekuningan di ufuk timur.
'Irene …, jadi percakapan kita tadi itu benar adanya, Say? Kamu dan Mamamu … sudah berpindah rumah serta alam sebagaimana halnya kami. Di sini … rumah ini, sekaligus kuburan kami ….'
...TAMAT...
Sukabumi, 9 Mei 2023
__ADS_1