
...MALAM MENCEKAM...
...Penulis : David Khanz...
...------- o0o -------...
Larut makin beranjak kelam. Hening diselimuti hembusan angin malam yang kian mendingin. Menerobos masuk melalui celah ventilasi jendela. Berhembus memenuhi remang ruang bercahaya lampu teplok, menempel anggun di dinding kamar.
Astri mengerjap sebentar, begitu tepukan halus menyentuh lengan terbukanya. Deraan lelap di saat tadi merebah diri, tak sadar menuntun perempuan itu menuju alam peraduan. Gelap tanpa imajinasi liar yang kerap hadir di kala hampa menggayuti raga.
"Bang .... " Lirih suara Astri di antara kesadaran yang sepenuhnya belum menyatu. Nanar memandang raut wajah Galang, suaminya, dalam terpaan cahaya lampu kekuningan.
"Abang berangkat dulu, Dek," ujar laki-laki itu masih berdiri menatap Astri. Masih tergolek mengumpulkan sisa kesadarannya.
"Jam berapa sekarang, Bang?" Astri bangkit sambil mengucek-ngucek kelopak mata. Menguap sebentar, lalu duduk di tepian tempat tidur.
"Setengah sebelas malam, Dek," jawab Galang. Mengenakan setelan jaket tebal dan celana jin ketat, lengkap dengan kupluk yang membungkus rambut.
Malam ini, Galang kebagian kerja shif malam. Itu berarti, Astri akan ditinggal pergi sampai jelang pagi esok. Tidur sendirian di dalam rumah terpencil, jauh dari pemukiman warga lain. Hanya sebuah rumah kecil yang dikelilingi pesawahan, serta dataran luas penuh dengan pepohonan tinggi menjulang. Hunian bekas peninggalan orangtua Galang dulu, saat masih hidup.
Astri beranjak ke dapur. Mengambil sebuah rantang berisi makanan untuk bekal makan suaminya di tempat kerja.
"Bawa makanan ini, Bang," kata Astri mengasongkan perbekalan tersebut. "Mungkin sudah dingin. Aku menyiapkannya tadi sebelum ketiduran."
Galang tersenyum. "Tak apa, Dek. Dalam kondisi apa pun, masakan kamu tetap enak, kok. Kecuali kalo sudah basi."
Astri mencubit lengan suaminya, diiringi senyum manja. "Abang bisa aja, deh."
Laki-laki itu meringis seketika.
"Sakit, Dek," seru Galang sambil mengusap-usap bekas cubitan istrinya.
"Lagian Abang .... " rengek Astri kembali manja.
Sebelum pergi, Galang menatap istrinya. "Kamu gak apa-apa, kan, Abang tinggal, Dek?"
Astri menggelengkan kepala perlahan.
"Ini hari ketiga kita pindah ke rumah ini. Ya ... walaupun untuk sementara, sampai rumah kita selesai direnovasi." Galang mengangkat wajah Astri yang tertunduk. "Di sini gak ada listrik, jaringan henpon, dan juga jauh dari tetangga."
Astri kembali menggelengkan kepala dan berusaha tersenyum tegar.
"Beneran gak apa-apa, nih?" Galang meyakinkan.
"Gak apa-apa, Bang," jawab Astri dengan suara bergetar. "Abang berangkat aja, gih."
Sebenarnya, kalaupun ada pilihan lain, ingin sekali perempuan itu menahan suaminya untuk tetap berada di rumah. Menemani tidur sepanjang malam, atau juga mengisi dengan hal-hal lain yang lebih menyenangkan.
""Ya, udah kalo gitu. Doain Abang, ya, Dek. Besok pagi, Abang pulang, kok." Galang mengecup kening istrinya, lalu melangkah ke luar rumah. "Kunci semua pintu. Jangan dibuka, kalo bukan Abang yang dateng, ya."
"Iya, Bang." Astri menyalami Galang dan menciumnya dengan takzim. "Cepetan pulang lagi, ya, Bang."
Galang terkekeh. "Ini baru mau berangkat. Gimana mau cepet balik lagi."
"Maksudnya, abis kelar kerja, Abang buruan pulang. Gak pake mampir-mampir dulu," Astri menegaskan.
"Siap, Bu Galang .... " jawab Galang seraya menaiki kendaraan bermotor yang sudah terparkir di depan rumah, lalu menghidupkannya. "Abang berangkat, ya."
Astri mengangguk diiringi senyuman getir. Berbagai buah pikiran mulai memenuhi kepala, begitu sang suami mulai merayap menapaki jalan setapak menembus pekat. Gerung suara motor tuanya perlahan menjauh dan hilang terurai hembusan alam.
Astri mengunci rapat daun pintu rumah dengan palang kayu yang membentang. Menahan kuat hingga tak mampu ditembus, kecuali didobrak. Cepat-cepat memburu tempat tidur, menyelimuti sekujur badan, dan bersembunyi di dalamnya.
Matanya memutar-mutar dalam kegelapan. Memasang baik-baik gendang telinga untuk memastikan, suara-suara yang sayup terdengar dari arah luar. Berulangkali mencoba fokus dan memastikan, apakah sekedar ilusi ataukah nyata.
__ADS_1
"Suara itu .... " ujar Astri dalam hati. "Ya, suara itu datang lagi."
Perempuan itu menutup rapat kedua lubang telinga dengan jemari, namun tetap saja suara-suara itu masuk terselip di antara hembusan angin, menggidikan.
"Ya, Tuhan!" pekik Astri dalam balutan selimutnya. Ketakutan. Suara-suara itu semakin ramai bergema memenuhi ruang dengar. Bersahutan. Seakan tengah menikmati alam cekam yang kian menyiksa.
Astri berusaha terpejam. Berharap tidur segera menghinggapi ruang sadarnya. Melenakan serta melupakan sejenak dari raungan suara-suara membahana tersebut. Apalah yang didapat, justru kantuk tak kunjung mendera.
Tiba-tiba perempuan itu bangkit. Menghentakan balutan selimut dengan kakinya. Lalu perlahan merayap menuruni tempat tidur.
"Penasaran, sebenarnya makhluk apakah yang setiap malam datang ke tempat ini .... " gumam Astri di antara terpaan cahaya lampu teplok dari kamar, menembus remang hingga ke tengah ruang rumah.
Detak jantung kian berpacu. Memompa aliran darah dengan cepat menuju kepala, hingga riak bulu-bulu di kuduk serempak berdiri.
Perlahan-lahan jemari tangan perempuan itu menyibak kain gorden yang menutupi kaca jendela. Mengintip sedikit di antara celah tirai terbuka. Kemudian menyipit mencari-cari sosok yang membuatnya ketakutan, dalam keremangan suasana depan rumah dengan bantuan penerangan lampu teplok di luar sana.
Liar bola mata Astri bergerilya untuk menemukan titik fokus, disertai helaan napas kian memburu. Berharap menemukan apa yang dicari, di antara gema suara-suara menyeramkan dan menciutkan nyali.
"Ya, Tuhan!" kembali, pekik keluar dari mulut menganga Astri. Perempuan itu menatap sesosok makhluk mengerikan di antara terpaan cahaya lampu. Bulat besar bola matanya hampir keluar dari pelupuk, menebar aura adu kekuatan pandang. Tubuh bertotol-totol dengan leher bergerak-gerak dan kaki runcing berselaput.
"Tidak!" Astri beringsut menjauh. Makhluk itu memekik kuat meluluhkan keberanian yang semula dipupuk istri Galang tersebut, lalu bergerak mendekati beranda rumah. "Jangan! Jangan mendekat! Aku mohon!"
Percuma saja, makhluk itu tak mau mendengar. Disertai tatapan menakutkan, dia terus mendekat dan mendekati pintu.
TOK! TOK! TOK!
Daun pintu bergetar hebat diterjang. Palang pintu sebagai pengunci turut bergerak.
TOK! TOK! TOK!
"Enyah kau dari sini! Jangan ganggu aku!" teriak Astri kemudian berlari memburu tempat tidur. Kembali menyelimuti diri dengan tubuh gemetar. "Jangan ganggu aku!"
Makhluk itu malah meraung-raung di kegelapan malam luar sana. Bukan satu atau dua, namun kini semakin banyak. Mengelilingi area rumah, saling bersahutan meneror nyali penghuni kamar.
Astri menutup lubang telinga rapat-rapat. Memejamkan kelopak mata sekuat tenaga. Berharap dia akan segera tertidur dan melupakan semua cekam yang kian menghujam. Entah berapa lama. Sampai kapan. Yang pasti, perempuan itu pun tersentak dengan suara gedoran pintu depan disertai panggilan suara seseorang.
Astri tercekat. Menarik buka selimut yang menutupi sekujur badan dengan peluh dingin yang membanjiri.
"Bang Galang?" tanya Astri dalam rasa cekamnya.
Kembali pintu diketuk keras untuk kali kedua. "Dek, ini Abang pulang. Bukain pintu, dong."
Astri segera bangkit. Bergegas memburu pintu depan. "Abang? Itu Abang, kan?"
Terdengar jawaban lirih dari arah luar, "Iya, Dek. Ini Abang."
Perempuan itu membuka tirai jendela sedikit. Mengintip ke arah luar untuk memastikan sosok itu benar suaminya. Khawatir jika dia adalah jelmaan makhluk mengerikan yang sejak semalam meneror. Bisa saja, kan?
Astri mengangkat palang kayu pengunci, lalu menarik daun pintu hingga terbuka lebar.
"Abang!" seru Astri menubruk tubuh laki-laki itu dan memeluknya dengan erat.
"Ada apa ini, Dek?" Galang mengusap-usap punggung Astri. Membimbingnya masuk ke dalam rumah. "Kamu kenapa?"
Astri menangis pilu di dada Galang. "Aku takut, Bang. Aku takut."
"Takut kenapa? Apa yang terjadi?" Galang bingung.
"Kita pindah aja hari ini juga, Bang. Aku gak mau di sini," kata Astri dengan napas memburu. Masih dalam dekapan hangat sang suami.
"Pindah ke mana? Ini, kan, rumah kita, Dek."
"Pokoknya ke mana saja. Ke rumah orangtuaku atau bahkan ngontrak dulu sementara waktu. Aku gak mau di sini."
__ADS_1
Galang melepaskan pelukan Astri. Lalu menatap dalam-dalam mata perempuan yang belum lama dinikahinya tersebut.
"Ada apa sebenarnya? Ceritalah, Dek. Abang bingung." Galang mengusap lembut wajah sang istri. Penuh kasih.
Astri menoleh ke luar rumah. Pintu depan masih terbuka lebar.
"Aku takut, Bang," ujar Astri gemetar.
"Takut kenapa? Apanya yang harus ditakuti? Ini rumahku. Rumah kita." Galang menegaskan.
Perempuan itu menundukkan wajah disertai sisa isak yang masih terdengar. "Semalam ... ada banyak makhluk mengerikan datang ke sini, Bang."
"Makhluk? Makhluk apa?" Kening Galang berkerut.
Telunjuk Astri tiba-tiba terangkat, lalu menunjuk ke satu arah di luar rumah. "Itu! Itu! Itu .... "
Mata perempuan itu membesar. Ketakutan kembali tergurat di wajahnya yang berkilau dengan keringat dingin. Serta-merta Galang ikut menoleh ke arah tempat yang ditunjuk Astri. Laki-laki itu melihat sesosok makhluk tengah berdiri dengan pongah serta sorot mata tajam menggidikkan.
"Makhluk itu?" tanya Galang, lalu beralih memandangi sang istri. Sesaat kemudian, tawanya memecah kesunyian.
"Kenapa Abang tertawa? Aku ketakutan, Bang!" seru Astri seraya menepuk lengan Galang beberapa kali.
Galang menghentikan tawa. Bibir laki-laki itu bergerak-gerak, seperti tengah menahan syaraf gelitik agar tak kembali pecah terbahak.
"Beneran kamu takut dengan makhluk itu?" tanya Galang sesaat kemudian.
"Abang pikir aku bercanda?" Astri mulai kesal dengan sikap suaminya tersebut.
Galang tersenyum geli. "Itu, kan, kodok sawah, Dek. Masa kamu takut sama kodok?"
"Mana aku tahu kalo itu kodok? Seumur-umur baru kali ini aku melihatnya!" sergah Astri diiringi cemberut manja.
"Ya, sudah. Kamu gak perlu takut. Makhluk itu tidak berbahaya, kok. Mereka memang sering ada di sekitar daerah pesawahan yang berair. Lucu dan suaranya merdu banget," ujar Galang setengah menggoda sang istri.
"Tapi aku takut, Bang," rengek Astri agak ringan kini gejolak rasa takut yang menghujam sanubari, sejak tadi.
"Udah, sekarang kamu sudah tahu, kan? Makhluk itu namanya kodok. Beranak dengan cara bertelur. Anak kodok bernama cebong. Tidak berbahaya, namun geli dan jijik kalo melihat mereka. Oke, Dek?" Galang mengusap wajah Astri. Perempuan mengangguk perlahan dan kini sudah kembali tenang.
Sayup-sayup dari kejauhan terdengar mengalun suara azan melalui pengeras suara. Saling bersahutan dari satu Surau ke Langgar lainnya.
"Sudah masuk waktu Subuh rupanya. Bapak pergi ngambil air dulu, ya, Nak," kata Galang tiba-tiba. Beranjak menuju air pancuran yang terdapat di belakang rumah. Astri menganggukan kepala.
Laki-laki itu pun segera ke luar. Meninggalkan Astri yang masih duduk di ruang tengah.
Perempuan itu mengernyitkan kening setelah beberapa saat. Seperti tengah berpikir keras.
"Bang .... " panggil Astri keras.
Tak ada jawaban maupun suara-suara orang tengah mengambil air di belakang rumah.
"Bang!" Kembali Astri memanggil dengan suara yang lebih keras.
Tetap tak ada jawaban. Hening seperti biasa. Terkecuali kumandang azan di penghujung rangkaian kalimat, serta suara-suara kodok yang semula ditakuti.
Astri melongok ke luar rumah. Masih gelap. Tak ada sosok Galang. Motornya pun tak tampak terparkir di depan, seperti biasa.
"Bang Galang!" panggil Astri kali ketiga.
Mendadak bulu kuduk perempuan itu meremang. Menggidikan. Dadanya mulai bergemuruh. Lalu tiba-tiba, dia segera menutup pintu rumah dan memasang palang pengunci kembali ke tempat asal. Keringat dingin mulai mengucur deras. Berdiri menyandar membelakangi dengan napas memburu.
Matanya menangkap samar ke arah kegelapan di sudut dapur. Seperti ada sesosok orang tengah berdiri mematung memperhatikan.
"Ya, Tuhan! Dia .... " Astri ternganga disertai wajah memucat. "Bapak .... "
__ADS_1
Tiba-tiba kesadaran perempuan itu pun lenyap. Pekat memenuhi alam pikiran. Sampai kemudian, dia tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
...TAMAT...