
...JANGAN NIKAHI MANTANKU!...
...Penulis : David Khanz...
Siang itu, alunan musik degung masih menghangatkan suasana pesta jelang pernikahan Evi dan Ardi, di rumah mempelai perempuan. Asap pun masih mengepul dari tenda dapur tambahan di belakang rumah, berbaur dengan aroma berbagai bumbu masakan serta bau keringat para pekerja di sana. Tiba-tiba saja, seru kegaduhan menyeruak di antara kerumunan tamu undangan. Menarik perhatian hampir setiap mata yang hadir di sana.
"Ada apa, sih?" tanya seorang pekerja di dapur, seraya mencolek temannya yang sekonyong-konyong muncul dari arah ruangan tengah. Dia terlihat gugup bersimbah keringat, lalu menjawab, "Si Isma … datang!"
"Isma? Mantan istrinya Pak Ardi?" Yang lain ikut bertanya. Terkejut diiringi saling lempar pandang pada teman lainnya. Jawab sosok yang baru muncul tersebut, "Iya. Siapa lagi?"
"Wah, gawat! Bisa-bisa terjadi keributan, nih?"
"Ssttt … ke sana dulu, yuk," ajak seseorang di sana. "Pengen tahu, kejadian selanjutnya. Hihihi. Pasti seru!"
"Bener. Hayu, ah!"
"Lah, ini … masakan, gimana?"
"Udah! Tinggal aja dulu sebentar!" Yang lain menimpali. "Cepetan, entar keburu lewat kejadian serunya. Hihihi!"
Mereka berbondong-bondong menuju ruang tengah, area pelaminan yang masih terlihat belum beres didekorasi. Mengintip di balik helai kain tipis warna-warni dan sebagian lagi bersembunyi, seraya memasang kuping tajam-tajam.
"Salah saya di mana, Is? Hubungan kita udah jelas. Kita udah cerai. Mau kamu apalagi, sih?" tanya Ardi, sang pengantin pria, didampingi kedua orang tua Evi. Sementara mempelai perempuan bersembunyi di kamar, menangis tersedu sedan.
Wanita yang bernama Isma berkelit. Jawabnya, "Tentu aja salah, Mas! Aku masih dalam masa idah. Enak aja kamu mau langsung kawin lagi! Mikir dikit, dong! Pikirin perasaan aku dan anak-anak kita!"
"Lho, itu suka-suka saya, dong!" balas Ardi sengit. "Lagian, sebelumnya juga saya 'kan udah nawarin kamu buat rujuk, kamunya gak mau. Masih ingat, 'kan? Salah kalo kemudian saya mutusin buat nikah lagi? Kamu jangan cari gara-gara, deh, Is!"
"Yang cari gara-gara itu siapa?" Nada suara Isma makin naik. "Ingat anak-anak kita, Mas! Mereka masih butuh perhatian dari kamu! Seenaknya aja main kawin-kawin lagi. Mentang-mentang ada perawan yang mau sama kamu? Jangan sok kecakepan, deh, kamu. Sekarang aku sendiri yang ngurusin mereka. Anak-anak kamu!"
"Lho, kok … jadi nyalahin saya? Yang dulu minta cerai itu siapa? Kamu, 'kan? Kenapa sekarang jadi saya yang disalahin?"
"Ya, jelas ... aku bilang juga, kamu memang salah, Mas! Gak ngerti apa perasaanku?" Napas Isma sampai tersengal-sengal, menahan amarah. "Makanya, sengaja aku bawa pengacara khusus, nih, buat nuntasin masalah kita!" Tunjuk Isma pada sosok seorang lelaki yang duduk di sebelahnya.
"Perkenalkan, Pak, saya Farhan. Pengacaranya Ibu Isma Damayanti," ucap sosok tersebut memperkenalkan diri.
Ardi melirik sejenak pada Farhan, lalu beralih adu tatap dengan Isma, mantan istrinya. "Ya, silakan saja urus. Saya malah seneng, jadi urusan kita gak bakal berlama-lama, 'kan?"
"Mas!" seru Isma, "dalam kondisi begini, kamu masih bisa ngomong kayak 'gitu? Tega kamu ya, Mas?"
"Terus, maunya kamu apalagi, Is? Mau nuntut saya? Perihal apa?" tanya Ardi seakan menantang. Dia yakin, kalau langkahnya ini memang tidak salah. "Soal anak-anak … 'kan udah saya bilang, saya gak bakal lepas tanggung jawab. Saya bakal tetap ngejalanin kewajiban saya sebagai bapak kandung mereka. Terkecuali sama kamu. Saya udah gak punya kewajiban apa-apa lagi. Kamu gak bisa nuntut hak kamu, karena kita udah resmi cerai. Jelas?"
Mata Isma mulai berkaca-kaca. Tajam menatap bekas orang yang sudah belasan tahun bersamanya. Bias mata perempuan itu bukan lagi bicara tentang cinta, namun amarah yang telah menggerogoti dada.
__ADS_1
Ujarnya kemudian dengan kalimat terbata-bata. "Enak banget ya, kamu ngomong seenak udelmu. Jangan anggap sepele persoalan kita, Mas. Aku bisa menuntut kamu. Ingat itu!"
Ardi menyeringai, lalu menimpali, "Silakan, Is. Tuntut saya. Tunjukkin, salah saya di mana. Sebagai bahan pertimbangan aja, nih, Pak Farhan …."
"Iya, Pak Ardi," sahut Farhan siap-siap mendengarkan.
Lanjut Ardi berkata, "Isma ini … udah berkali-kali minta cerai dari saya, dan demi anak-anak, saya sudah berusaha bertahan. Sampai suatu ketika, terpaksa saya mengabulkan apa yang dia pinta. Kita sudah berpisah secara baik-baik. Masalah harta gono-gini, sedang saya usahakan pembagiannya. Termasuk hak anak-anak kami. Sudah saya tekankan, walaupun kami telah bercerai, hak anak-anak akan tetap saya penuhi. Biaya makan serta biaya pendidikan, hingga kelak mereka dewasa dan mandiri. Bila perlu, saya akan beri upah ibunya selama mengurus mereka. Gak mau repot? Saya akan dengan sangat senang hati mengajak mereka tinggal bersama istri baru saya nanti. Lagipula, Evi gak keberatan—"
"Enak aja si Evi mau ngurusin anak-anakku!" seloroh Isma mengejutkan semua yang ada di sana. "Mana bisa dia ngurus anak? Anak bau kencur 'gitu, mana punya pengalaman? Sok-sokan mau ngurus anak kita? Cuih! Gak sudi aku, Mas!"
Kedua orang tua Evi hanya terdiam. Menunduk sedih. Tidak menyangka jika menjelang hari kebahagiaan anak perempuan mereka bakal seperti ini. Dinikahi Ardi, duda beranak dua berusia tiga puluh tujuh tahun, dikira akan berjalan mulus. Nyatanya masalah pelik siap membelit.
Ardi menepuk bahu calon mertua laki-lakinya. Meminta agar tetap tenang dan bersabar.
"Ya, sudah. Sesuai dengan perjanjian awal kita, anak-anak akan tinggal bersama kamu, 'kan? Tapi sewaktu-waktu, saya juga akan tetap menemui mereka. Masalahnya sudah jelas. Apalagi?" Ardi mengangkat kedua lengan. "Tapi tolong ya, Is, dalam perkara ini … jangan bawa-bawa Evi. Dia sama sekali gak terlibat dalam masalah kita. Kami berdua saling mencintai. Kedua orang tua Evi sudah merestui. Besok akad nikah kami. Tolonglah … pahami."
"Cuih! Gak tahu malu! Bangkotan kayak kamu ngawinin perawan muda. Jangan-jangan, kalian sudah lama main gila di belakangku, ya?" tandas Isma sambil mendelik hebat.
"Tutup mulut kamu, Is! Jangan nuduh sembarangan!" seru Ardi dengan dada kembang-kempis. Isma malah tersenyum kecut. Balasnya, "Bisa aja, 'kan? Mana mungkin dalam waktu sesingkat ini, kalian bisa saling mencintai. Terus kawin. Hhmmm, aku mencium ada aroma pelakor di sini …."
"Cukup, Isma!" bentak Ardi mengejutkan. "Kamu sudah keterlaluan! Aku bisa nuntut balik karena kamu udah memfitnah kami!"
Isma kembali menyeringai. "Cuih, mana ada maling ngaku? Pantes aja ya, selama ini sikap kamu beda. Rupanya ada kutil dalam kehidupan rumah tangga kita. Wajar saja, kalo aku minta cerai, 'kan?"
Bapak Evi tiba-tiba turut angkat bicara dengan lirih. "Anak kami selama ini jarang kemana-mana, Bu. Kalopun keluar, paling urusan pekerjaan. Dia gak pernah pacaran. Makanya sampai usia sekarang, dua puluh enam tahun, Evi belum juga menikah."
"Huh, alasan itu 'kan bisa dibuat-buat, Pak. Bisa aja dia pamit kerja, tapi di luar malah pacaran sama Bapak Ardi. Bisa aja, 'kan?" ucap Isma sengit.
"Isma!" teriak Ardi disertai gemeretak gigi. Bapak Evi menepuk bahu calon menantunya. Meminta tenang dan bersabar.
" … Evi itu anak buah Pak Ardi di tempat kerjanya. Sebelum ini, hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan. Pertemuannya pun gak intens. Karena Evi hanyalah buruh biasa," tutur Bapak Evi. "Baru dua bulan lalu, Pak Ardi datang ke rumah kami untuk melamar Evi. Keputusan sepenuhnya kami pasrahkan kembali pada anak dan ternyata dia bersedia diperistri Pak Ardi. Karena kami juga sudah tahu status Pak Ardi, duda beranak dua. Gak ada yang disembunyikan. Pak Ardi jujur."
"Cuih … bisa aja dia ngarang, Pak. Apalagi anak Bapak itu cantik," seloroh Isma kembali sambil mendelik ke arah mantan suaminya.
"Disamping cantik, Evi juga jauh lebih baik, pintar, masih muda, ramah, lembut—" Ardi menambahkan.
"Cukup, Mas! Gak usah nambah-nambah sakit hatiku, deh! Fokus aja ama urusan kita! Anak-anak, tuh, pikirin!" seru Isma dengan dada turun-naik. "************ aja yang ada di kepala kamu itu! Dasar buaya!"
Ardi menarik napas panjang. Timpalnya kemudian, "Ya, sudah. Urusan kita tadi udah diomongin. Mau apalagi? Lagian pengacara kamu juga udah denger semua. Bukannya begitu, Pak Farhan?"
Farhan mengangguk, lalu menjawab, "Iya, Pak. Saya menyimak dari tadi. Nanti akan saya bantu urus."
"Ih, elu itu 'gimana, sih, Farhan?" seru Isma pada pengacaranya. "Bukannya bantu gua ngomong atau apa, kek? Kok, malah lembut begitu, sih?"
__ADS_1
Farhan tersenyum. "Nanti kita bahas kembali di kantor, Bu."
"Cuih!"
Akhirnya menjelang sore, Isma pamit pulang pada keluarga Evi. Namun sebelum pergi, dia berkata, "Pokoknya aku ingetin, buat si Evi … tolong jangan mau sama laki-laki itu! Dia masih bapak dari anak-anakku! Jangan berharap duit gaji dari dia, karena ada hak anak-anak dia di sana. Ingat itu!"
Sosok-sosok di balik kain dekorasi hampir serempak membulatkan bibir, "Ooohhh …."
"Ini, sih, urusannya duit, Mpok!"
"Ho'oh … dia takut anak-anak Pak Ardi terlantar, gara-gara kawin sama Neng Evi."
"Bisa jadi juga itu si Isma cemburu, Mpok."
"Pastilah! Biarpun udah mantan, tetep aja gak rela bekas sosis maenannya bakal dinikmati perempuan muda dan cantik kayak Neng Evi. Ahihihi!"
"Bener, Mbak. Dibandingin Neng Evi, entuh bekas istri Pak Ardi buriknya gak ketulungan. Lihat aja, muka dia mirip gorila begitu."
"Hus!"
"Eh, salah, ya?"
"Iyalah. Bukan gorila, tapi beruk! Hihihi."
"Eh, denger-denger, sih … mantan istri Pak Ardi itu 'kan seorang bidan."
"Masa bidan burik begitu?"
"Hus!"
"Eh …." Salah seseorang menghentikan obrolan seraya mengendus-endus. "Kayak bau gosong? Apaan, ya?"
"Ya, ampun! Masakan gue, Mpok!"
"Astaga … leumpeuh daging aing tutung sigana euy!"
"Waduh! Bisa batal hajat, nih, kalo makanannya berubah jadi arang!"
"Hayu! Buruan! Balik ke dapur!"
Mereka pun segera berhamburan menuju belakang rumah. Malah tak sengaja salah seorang menendang bahan masakan lainnya, diiringi gaya latah dan kalimat-kalimat khas yang TIDAK BOLEH ditulis di SINI. Bahaya!
...WASSALAAM...
__ADS_1