Penghuni Dunia Kegelapan

Penghuni Dunia Kegelapan
Kampung Mati


__ADS_3

...KAMPUNG MATI...


...Penulis : David Khanz...


...------- o0o -------...


Sesaat kuperhatikan gubuk kecil sederhana di depan itu, sebelum bergegas pergi dari tempat tersebut. Sebuah hunian sangat sederhana berdindingkan kayu dan beratap ilalang kering. Lama nian kudiami semenjak kabur dari kampung nun jauh di bawah sana. Berlari menjauh atas ancaman orang-orang berpakaian serba putih serta kotak besar yang senantiasa menyertai mereka di tiap kali datang mengunjungi kami, dulu, warga terpencil bernama Kedusunan Hegar Asri. Beberapa waktu lalu. Entah sudah seberapa lama hingga kini, aku sendiri tidak mampu menghitungnya.


"Wabah ini sangat mematikan, Zad," ujar salah seorang kawanku bernama Parna kala itu. "Jika kita sampai ikut tertular, tidak ada satu pun obat yang mampu menyembuhkannya. Terkecuali, menunggu kematian."


Aku menoleh sejenak. Memperhatikan raut wajah lelaki berusia dua puluh tahunan tersebut. Tampak gelisah. Seperti tengah dilanda ketakutan yang teramat sangat.


"Kamu percaya apa yang dikatakan mereka, para tetua adat kampung dan gerombolan orang kota berpakaian putih-putih itu?" tanyaku diiringi seringai, merasa lucu, melihat kerisauan yang dirasakan oleh Parna.


Jawab kawanku itu segera, "Tentu saja, Zad." Dia menggeser duduknya. Merapat. Lebih dekat denganku. Lantas memegangi lengan ini seakan ingin menegaskan ucapan sebelumnya. "Tidak ada pilihan lain, terkecuali kita harus mengikuti perintah mereka, Zad. Demi kelangsungan hidup. Bahkan …."


Kembali kulirik dia sejenak dan bertanya, "Apa?"


Parna menjawab, "... warga kampung lain pun, kudengar sudah mendapatkan ramuan anti wabah itu. Semuanya. Tanpa terkecuali. Tinggal sebagian lagi dari warga kampung kita ini. Termasuk kamu dan aku, Zad."


Aku tersenyum kecut.


"Tidak, Kawan. Aku tetap tidak ingin menerima ramuan itu. Apapun alasannya," timpalku. "Aku percaya, negeri kita memang sedang sakit. Wabah itu memang ada. Tapi pemberian ramuan itu, bukan satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran penyakit tersebut. Kamu tahu apa alasanku untuk tetap menolak, hhmmm?"


"Apa, Zad?" Parna menatapku penasaran.


Kutuangkan teh hangat ke dalam dua gelas bambu terlebih dahulu sebelum menjawab. Satunya diberikan pada Parna, kemudian sisanya kuseruput nikmat sembari menatap hamparan kebun luas di depan rumah.


"Kudengar, ada warga kampung lain yang sudah menerima pengobatan itu, tapi nasib malah berkata lain," kataku miris disertai tatapan hampa ke depan sana.


"Apa maksudmu, Zad?" tanya Parna bernada keheranan.


Aku menoleh. Menatap tajam raut wajah kawanku tersebut, lantas menjawab, "Ramuan yang dimaksud itu tidak serta merta menjamin seseorang akan selamat dari serangan wabah tersebut, Kawan. Tetap saja, mereka masih bisa terjangkiti dan … akhirnya mati mengenaskan."


"Ya, Tuhan!" seru Parna kaget. "... tapi setidaknya masih lebih banyak yang selamat 'kan, Zad?"


Aku menyeringai masam.


"Tentu, Par," kataku pelan, "tapi dengan kondisi yang jauh lebih buruk dibandingkan saat sebelum mereka menerima obat-obatan itu."


"Ya, Tuhan!"


"Kamu masih mau menerima tawaran para bedebah itu?"


Parna tidak lantas menjawab. Kebimbangan tampak jelas terlihat di garis-garis wajah mudanya yang kusam. Sampai kemudian dia menjawab teguh, "... tapi kematian dan kejadian buruk itu tidak lantas berkaitan langsung dengan pemberian obat-obatan itu 'kan, Zad? Aku pikir—"


"Terserah," tukasku cepat, "kalau kamu ingin menuruti perintah, silakan. Tapi bagiku, tidak. Aku tidak akan pernah mau. Sampai kapanpun. Ingat itu!"


"Tapi, Zad—"


"Tidak, Parna!" seruku seraya berdiri dan menjauh darinya. "Aku tidak akan memintamu untuk menolak sebagaimana aku, tapi jika lebih percaya omongan mereka, silakan saja ikuti!"


"Zad!"


"Tidak!"


"Kamu ini kawanku sejak kita kecil, Zad. Kita sama-sama tumbuh dan hidup sendiri hingga sekarang tanpa orang tua," ujar Parna mencoba menggoyahkan pendirianku, "aku tidak ingin terjadi sesuatu sama kita. Terutama kamu, Zad. Kita harus berjuang untuk tetap hidup di tengah serangan wabah menakutkan itu."

__ADS_1


Aku membalikkan badan. Menatap tajam Parna sambil menggeleng-geleng heran.


"Rupanya pikiranmu pun sudah dipengaruhi oleh dongeng-dongeng kaum mereka, Kawan," kataku miris. "Terserah jika itu maumu, tapi aku akan tetap berusaha bertahan sendiri dan menolak sampai kapan pun."


"Zad!"


Aku tidak peduli. Segera kutinggalkan Parna di luar sana. Lebih memilih untuk masuk ke rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Sama sekali tidak ingin mendengar panggilannya untuk berbicara.


Aku paham maksud Parna. Dia bermaksud ingin menunjukkan rasa pedulinya. Namun tidak untuk kali ini. Ajakan kawanku tersebut teramat menakutkan. Aku tidak ingin menjadi manusia percobaan atas sesuatu yang belum pasti. Salah satunya perihal pemberian obat tersebut yang digadang-gadangkan mampu memberikan kekebalan pada tubuh dari serangan wabah mematikan itu.


Hhmmm, entah rencana apa yang sedang mereka susun. Termasuk para Tetua Adat Kampung Hegar Asri. Mati-matian meminta pada setiap warga kedusunan untuk ….


"Zad! Hazad! Bangun, Zad!" Terdengar panggilan keras dari luar rumah keesokan harinya. Seperti suara Parna. "Aku datang bersama Ketua Adat dan orang-orang dari kota itu. Bangunlah, Zad! Buka pintu!"


Kupicingkan mata, lantas mengerjap-ngerjap sejenak sebelum akhirnya bangkit dari atas dipan kayu. Tulang punggung ini masih terasa ngilu. Mungkin akibat hamparan tempat tidur keras ini. Hanya beralaskan tikar pandan tanpa kasur empuk berbahan kapuk kapas.


Masih dengan rasa kantuk menggayuti mata, kumelangkah menuju pintu depan untuk menghampiri para tetamu sepagi ini.


"Ada apa, Par?" tanyaku usai mengenali sosok yang sedang berdiri mematung di depan rumah. Parna, bersama seorang laki-laki tua ditemani dua sosok sangar di samping kanan-kirinya, dan juga seseorang berpakaian putih-putih laksana tabib perkotaan.


"Maaf, Kawan, aku datang sepagi ke rumahmu. Hanya bermaksud mengantar mereka untuk—"


"Salam hormat, Mbah Redjo," sapaku pada laki-laki tua di depan sana seraya membungkukkan badan. "Gerangan apa yang membuat Yang Terhormat Ketua Adat berkunjung ke rumahku sepagi ini?"


Sosok tua bernama Mbah Redjo itu tersenyum. Dia melirik sejenak pada orang berpakaian serba putih dan dua laki-laki berwajah sangar di sampingnya. "Maafkan aku, Hazad," katanya seraya menyibak juntai jenggot putih yang tergerai hingga sebatas dada. "Aku hanya mengantar tamuku ini dari kota, sekalian memastikan bahwa kamu sudah menerima ramuan yang kami tawarkan itu. Kamu sudah siap 'kan, Zad?"


"A-aku … a-aku …." Tiba-tiba seisi dada ini berguncang dahsyat. Darah terpompa cepat menuju batok kepala. Ada rasa takut yang mendadak melanda.


Kulirik Parna yang tampak gugup dan menghindari beradu tatap. Sudah pasti dialah yang meminta para bedebah itu datang pagi-pagi sekali ke rumah.


"Kamu … Parna?" Aku mendelik kesal pada sosok kawanku tersebut.


Parna berkata dengan suara terpatah-parah, "Maafkan aku, Kawan. Aku hanya ingin kita berdua pun selamat dari wabah penyakit mematikan itu. Makanya, kupinta Mbah Redjo berkunjung sepagi ini ke rumahmu untuk—."


"Jahanam!" rutukku disertai gemeretak gigi menahan amarah.


Mbah Redjo terkesiap. Dia segera memberi perintah khusus melalui gerakkan kedua matanya pada sosok-sosok sangar di sampingnya. Aku tahu, itu pertanda buruk. Mereka berdua pasti akan segera memeganggiku. Lantas orang berpakaian putih-putih itu pun sudah bersiap-siap mengeluarkan sebuah benda dari dalam kotak, berbentuk bulat panjang berisi cairan tertentu dengan ujung disertai jarum kecil dan sangat tajam. Ramuan itukah yang akan akan segera dimasukkan ke dalam tubuh ini? Tidak! Jangan sampai hal itu terjadi. Aku harus berontak. Melawan. Menolak. Namun kedua pemilik wajah sangar tersebut, pasti memiliki tenaga yang jauh lebih besar.


Aku mundur perlahan. Menjauh. Hingga kemudian, otak ini berpikir keras. Lantas berbisik cepat mengirim ucapan ke dalam hati untuk segera berkata, 'Larilah!'


"Zad!"


"Kejar dia sampai dapat!"


Suara-suara itu terus bergema menakutkan di antara ayunan kakiku yang kian bergerak kian cepat. Berlari menjauh dan berusaha menghindar dari gapaian jemari kasar berurat kekar hendak menghentikan lajuku. Menuju depan sana. Rimbunan semak belukar yang banyak tumbuh menjelang gerbang belantara.


Tidak! Jangan sampai aku tertangkap oleh mereka! Kesempatanku untuk kabur dari sosok-sosok durjana itu harus benar-benar berhasil. Hanya sekali. Cuma kali ini. Hingga tidak sehela napas pun ingin berhenti untuk memulihkan kembang-kempis paru. Lari dan terus berlari menerobos alam liar sejauh mungkin, sampai kemudian tidak sadar sudah begitu jauh memasuki lebatnya rimba dingin tersebut. Lantas jatuh tersungkur usai penglihatan dilanda gulita.


Entah berapa lama aku terkapar di sana. Sampai kemudian terbangun dengan dera kesakitan menusuk-nusuk kulit. Mendapati diri ini sudah penuh dikerubuti gerombolan semut liar.


Ya, Tuhan!


Perlahan aku mulai tersadar. Mengingat kejadian sebelumnya sebelum tiba di sini. Serta merta aku pun lanjut berlari semakin dalam, menyeruak di antara rimbun dedaunan lebat. Tersaruk-saruk menapaki akar melintang dan berkali-kali pula jatuh terhuyung disertai rasa perih menghujani telapak kaki.


Tidak tahu ada di mana kini. Namun memperhatikan posisi tanah yang dipijak, tidak boleh lagi menuruni kembali ke bawah. Itu sama saja akan menyerahkan diri pada para begundal jahanam tersebut. Mungkin aku harus memilih tetap berada di sini untuk sekian waktu. Sampai situasi benar-benar aman suatu ketika. Bahkan tidak terasa, entah sudah berapa lama purnama berganti. Aku masih tetap bertahan menyendiri.


Tidak ada salahnya sekarang aku melihat-lihat kampungku sendiri, pikirku suatu waktu. Kini saatnya mencoba turun kembali, mengikuti arah aliran air di sana. Siapa tahu bisa memberi petunjuk jalan menuju pemukiman terdahulu. Itu pun tidak mudah. Berhari-hari pula aku berusaha. Hingga akhirnya ….

__ADS_1


"Ya, Tuhan!" seruku begitu tiba di tempat tujuan.


Kondisi perkampunganku sudah berubah. Sejak pertama kali menginjakan kaki di sana, disambut kesunyian dan puing-puing rumah tidak bertuan. Rusak parah dan sebagian malah sudah rata dengan tanah. Tidak terurus. Lapuk dimakan rayap. Hal aneh lainnya, terdapat gundukan tanah menyembul tinggi memanjang seukuran tinggi manusia dewasa. Kuburankah? Milik siapa? Apa yang terjadi?


Saat kusambangi rumah sendiri pun demikian. Kumuh dipenuhi rerumputan liar di sepanjang langkah hingga ke dalam. Tidak ada yang bisa diharapkan dan sangat berbahaya. Khawatir tiba-tiba ambruk menimpa dengan kondisi bolong di sana-sini. Bedanya, hanya rumahku yang tidak terdapat kuburannya.


Asap!


Tiba-tiba saja aku seperti membaui sesuatu yang terbakar. Ya, dari arah selatan sana. Tepat sekali dari kepulan kecil putih membumbung di langit dan seketika menuntun kaki ini untuk segera mendatangi sumbernya. Tidak seberapa jauh. Seingatku, berasal dari tempat seseorang bernama ….


"Parna!" Perlahan aku melihat sesosok manusia tengah duduk di depan perapian. Memunggungiku. Dari bentuk badannya, sekilas mirip kawan lamaku tersebut.


Sosok itu menoleh. Memutar tubuh disertai kilas raut wajah terkejut luar biasa.


"Hazad, kaukah itu?" Terdengar parau sosok itu bertanya. Kupastikan memang Parna. Namun kondisinya terlihat jauh lebih tua dan ringkih mengamatiku dari kejauhan. "Kamu … Hazad, 'kan?"


"Parna!" Aku segera berlari memburunya. Lantas memeluk tubuh itu yang hampir saja jatuh terhuyung begitu mencoba melanglah. "Ya, Tuhan! Apa yang terjadi denganmu, Kawan?"


Parna menangis tersedu sedan dalam pelukan. Tubuhnya begitu lemah untuk sekadar menopang pijakan kaki sendiri. Bahkan terpaksa kubantu dia untuk kembali duduk di tempatnya semula.


"Apa yang terjadi denganmu, Parna?" Aku mengulang pertanyaan tadi. "... juga warga kampung kita ini. Ada apa ini?"


Laki-laki yang usianya sebaya denganku itu malah menangis pilu. Gerak bibirnya pun tampak sulit untuk berbicara. Namun aku masih bisa mendengarnya jelas walaupun kadang tidak dimengerti. Dia mulai bercerita; sejak dirinya dan warga kampung diberi ramuan tertentu pada waktu itu, perlahan-lahan mereka mulai merasakan perubahan. Cepat lelah dan akhirnya satu per satu jatuh sakit, hingga meninggal dunia. Jeda kematian para warga pun tidak begitu berjauhan. Terakhir, Parnalah yang masih tersisa. Hidup dengan kondisi mengenaskan seperti itu seorang diri di tengah perkampungan mati.


"Anak-anak kecil sudah aku suruh pindah, mengungsi ke tempat lain. Karena aku sudah tidak sanggup lagi mengurusi mereka," tutur Parna yang kini kepalanya sudah banyak ditumbuhi rambut memutih dan kulit menua. "Warga yang telah mati, aku kuburkan di depan rumah mereka sendiri. Semampuku, seorang diri."


Aku menggeleng-geleng masih merasa tidak percaya.


"Lalu apa hubungannya kejadian ini dengan ramuan yang diberikan oleh orang kota itu, Kawan?"


Parna berusaha menjawab dengan bibir gemetar. Hampir saja dia jatuh dari duduknya jika saja tidak segera kutahan.


"Parna, apa yang terjadi padamu?" tanyaku sambil memegangi tubuhnya yang kian melemah.


"A-aku … tidak tahu, Zad," jawab Parna lirih dan tersengal-sengal. "Tapi benar katamu dulu, seandainya saja aku mau mendengar kata-katamu, mungkin aku tidak akan bernasib sama dengan warga lainnya."


Imbuh lelaki tersebut, "Kamulah, Kawan, warga Kampung Hegar Asri yang tersisa satu-satunya dan tidak mengalami kejadian nahas ini, Zad. Tidak sepertiku dan mereka yang lebih cepat menua dan mati …."


"Tenanglah, Kawan. Kamu pun akan baik-baik saja."


Parna menggeleng di antara dekapanku.


"Aku sudah tidak kuat lagi, Kawan," timpal Parna disertai napas terputus-putus. "Si Jahanam para Tetua Adat Kampung pun sudah terlebih dahulu mati. D-di sana. Mayatnya tidak mau aku kuburkan. Tapi, aku mohon padamu, Zad, makamkan aku di depan rumahku sendiri, ya? M-mungkin a-aku …."


"Kawan! Kamu akan segera sembuh, Kawan!"


"J-jangan … p-pernah kamu mau diberi ramuan laknat itu, Zad. I-itu … hanya akan membunuhmu perlahan-lahan. Sepertiku dan … aaahhh, a-aku … a-aku …."


"Parna!"


Terlambat. Detak jantung kawanku itu tiba-tiba saja berhenti. Napasnya pun tidak lagi terlihat kembang-kempis. Dia telah meninggal.


Aku hanya bisa memandanginya pilu. Sedih teramat sangat dengan kondisi mengenaskan lelaki tersebut. Kurus kering dan tua renta.


"Parnaaa!!!"


...T A M A T...

__ADS_1


__ADS_2