
...OJEK GAIB...
...Penulis : David Khanz...
...------- o0o -------...
Waktu hampir menunjukan pukul setengah sebelas malam, aku masih duduk terpaku di bangku pangkalan ojek dengan kondisi motor terparkir di depan, menunggu penumpang. Tiga puluh menit lagi biasanya akan mendapatkan pelanggan, seorang pekerja yang pulang sif malam. Lumayan untuk modal beli bahan bakar mengojek esok hari seperti biasa. Ini pekan kedua aku mengambil pekerjaan sebagai tukang ojek, di kampung baru yang kami tinggali dengan menempati sebuah rumah kontrakan kecil dan murah, sambil mencari lahan usaha lain.
Kuhisap dalam-dalam rokok terakhir yang sedari tadi menemani sunyi dan rasa dingin. Sendirian di bawah terpaan keremangan lampu kecil, tergantung di atas langit-langit pos tempat biasa kami mangkal. Rekan-rekan seprofesi lainnya sudah lama berpamitan satu per satu, undur diri berkumpul bersama keluarga masing-masing.
"Bang, ojek .... " Satu suara mengejutkanku dari arah samping. Seorang perempuan muda, cantik, mengenakan balutan kebaya lengkap dengan taburan warna-warni riasan wajah mempesona.
"Iya, Neng ... eh Mbak," jawabku gelagapan seraya membuang rokok yang sudah pendek dan menyengat di sela jari. "Mau pulang ke mana, Mbak?"
Perempuan itu tersenyum. "Jalan saja ke arah barat, nanti aku kasih tahu rutenya."
Aku melirik sebentar memperhatikannya, sebelum menyalakan motor. "Mbak ini ... abis dari kondangan atau .... " Sengaja tak diteruskan, biar dia sendiri yang menjawab. Bisa saja seorang sinden ataupun penari ronggeng, mungkin.
"Iya, Bang, aku pulang kemalaman," ujar perempuan tersebut seraya ancang-ancang mengambil tempat duduk di belakangku. Balutan erat kain batik yang membungkus bagian bawah tubuh, sedikit merepotkan saat hendak menapakkan kaki kanannya di pijakan motor. Mau tak mau dia harus mengangkat ujung kain dan menarik ke atas hingga pertengahan lutut.
"Mulus .... " kataku dalam hati, sesaat setelah melihat sekilas betis perempuan itu disingkap.
"Sudah siap, Mbak?" tanyaku memastikan keamanan penumpang yang sudah duduk merapat di belakang.
"Sudah, Bang," jawabnya dengan suara lembut mendayu. "Jalannya jangan terlalu ngebut, ya, Bang. Soalnya aku tak pakai jaket."
"Oh, siap, Mbak," sahutku seraya menarik pedal gas motor perlahan. Lalu melaju meninggalkan pos pangkalan ojek yang semakin sepi.
Sepanjang perjalanan, tak banyak percakapan yang kami lakukan. Hanya sesekali saja dia bersuara. Itu pun untuk menunjukan arah jalan yang harus dilalui. Jujur saja, karena memang masih benar-benar baru, tak begitu banyak daerah ini yang kuketahui. Termasuk tempat tinggal perempuan yang satu itu.
"Waduh .... " seruku di tengah perjalanan.
"Kenapa, Bang?" tanyanya di belakang.
Aku menengadah ke langit sebentar. "Gerimis, Mbak."
Benar, rintik air sudah mulai terasa menerpa wajah. Dingin bercampur udara malam yang membekukan.
"Percepat sedikit jalannya, Bang. Takut keburu turun hujan." Ada nada kekhawatiran dalam suara perempuan itu.
"Baik, Mbak. Masih jauh, ya?" tanyaku memberanikan diri untuk memastikan rasa penasaran yang mengganjal sejak tadi.
"Sebentar lagi sampai, kok, Bang," jawabnya kembali. "Setelah belokan kanan di depan, rumahku tak jauh lagi dari sana."
Aku menarik napas lega, karena sesaat lagi perjalanan ini akan segera berakhir. Artinya masih ada kesempatan sekali lagi untuk mengojek, mengantar pulang pekerja sif malam tadi. Akan tetapi, rintik hujan semakin merapat.
"Belok kanan, masuk ke halaman rumahku langsung, ya, Bang." Perempuan itu mengarahkan.
Sebuah rumah yang tak terlalu besar dengan pekarangan asri, serta dihiasi lampu-lampu taman yang indah berwarna-warni. Bersamaan dengan handel rem roda yang kutekan, tiba-tiba langit benar-benar menumpahkan tangisnya dari sejak tertahan tadi. Terpaksa, segera memarkir motor lalu mengikuti langkah perempuan memasuki beranda depan.
"Ikut neduh sebentar, ya, Mbak?" Agak sungkan aku berdiri agak jauh dari tempatnya berada sambil mengibas-ngibas sisa air hujan yang sempat membasahi jaket.
"Di dalam saja, Bang. Di luar sini dingin." Perempuan itu mempersilakanku masuk begitu daun pintu rumah terkuak lebar.
Sempat melongok sebentar memperhatikan seisi rumah yang tampak sederhana, aku menggelengkan kepala. "Terima kasih, Mbak. Saya di sini saja, deh."
Ada rasa tak enak jika harus ikut masuk ke dalam bersama perempuan muda itu. Khawatir menimbulkan pertanyaan dan omongan orang-orang sekitar, terutama tetangganya.
Tetangga? Ah, aku tak melihat ada rumah lain di sekeliling, terkecuali tempat di mana saat ini sedang berada. Mungkin saja ... ah, semakin tak karuan saja isi kepala ini.
"Masuk saja, Bang, sambil nunggu hujan reda," sahut perempuan itu kembali di ambang pintu. " ... atau mau kubuatkan kopi?"
__ADS_1
Aku menoleh sebentar, lalu membalas, "Terima kasih, Mbak. Gak usah repot-repot. Saya di luar saja, deh. Hehe."
Dia masih berdiri memandangiku. "Abang khawatir, ya?" Dia tersenyum simpul.
"Khawatir apa, ya, Mbak?" Aku mulai bingung, tapi yang jelas, sih, uang ongkos ojeknya belum dibayar.
"Saya sendirian, kok, di sini," imbuhnya kemudian. "Abang tak usah khawatir terjadi apa-apa."
Mendadak aku menoleh, menatap lekat perempuan itu lebih lama. "Maksudnya terjadi apa-apa ... bagaimana, Mbak?"
Dia tersenyum lalu menjawab, "Kalau hanya sekedar numpang berteduh di dalam, tak masalah, kok, Bang. Lagian hujannya masih lebat dan mungkin akan lama berhenti .... "
Aku tak membalasnya, tapi kalau sekedar numpang duduk di dalam sambil menikmati secangkir kopi panas, mungkin tak apa-apa. Lagipula, tadi siang aku baru saja bersitegang dengan istri sendiri. Biasa, hal sepele masalah keuangan rumah tangga. Rasa kesal ini masih membekas hingga sekarang.
Pulang lebih telat dari biasanya, bisa kujadikan alasan agar istri bisa lebih memahami arti sebuah kata menghargai seorang suami. Eh, apa hubungannya, ya? Entahlah, namun tiba-tiba saja terbersit untuk tak ingin mengecewakan tawaran perempuan muda itu, masuk ke dalam rumah dan menikmati hidangan kopi.
"Silakan dinikmati, Bang." Perempuan muda itu menyodorkan secangkir kopi, begitu aku duduk di atas kursi empuk.
"Terima kasih, ya, Mbak." Aku tersenyum seraya menyambut jamuannya. "Oh, iya ... saya warga baru di kampung ini. Jadi mohon maaf, jika sepanjang perjalanan kita tadi banyak bertanya."
Perempuan itu duduk berhadapan. Memandangku dengan seksama, disertai senyumannya yang tak berhenti. "Iya, aku tahu itu. Makanya aku bilang tadi, sambil jalan aku kasih tahu rutenya, kan?"
Aku mengangguk.
Sambungnya kembali, "Oh, ya ... kenalkan, Bang, namaku Ayu."
"Saya Ferdi, Mbak," balasku dengan mata sedikit sayu berat. Tiba-tiba saja kantuk mulai datang menyerang. Padahal baru saja menyeruput secangkir kopi. Ah!
"Aku tinggal sendiri di sini, Bang." Dia mulai bercerita. "Rumah ini adalah peninggalan kedua orangtuaku."
"Ooohh .... " Aku semakin tak kuat menahan kantuk yang semakin mendera. Beberapa kali pandangan ini harus dibuang jauh-jauh, begitu mata perempuan muda cantik menatap lekat-lekat. Betis putih dan mulus itu kembali terkuak indah saat kakinya berganti tumpah-tindih. Ah, godaankah ini?
Sebenarnya ingin sekali bertanya lebih jauh, semisal tentang tetangga sekitar rumah, namun urung kuucapkan. Mata ini benar-benar tak bisa diajak kompromi. Sampai tak fokus mendengarkan suara indah perempuan itu bercerita tentang dirinya. Sampai kemudian, aku pun tak sadar tertidur pulas di atas kursi, masih dengan kondisi pakaian setengah kuyup bekas kehujanan tadi.
Menguap sebentar, aku membuka mata perlahan. Menatap sesosok wajah asing diterpa sinar mentari pagi.
"Ya, Tuhan!" Aku bangkit sambil celingukan. "Di mana ini?"
Sosok tadi menatapku dalam-dalam. "Abang tidur semalaman di sini?"
Aku menoleh ke arah sosok asing tersebut. Seorang laki-laki muda yang masih berdiri di samping. "Kamu siapa?"
Dia tersenyum sebentar. "Saya warga kampung ini, Bang. Lagi nyari rumput dan kebetulan lewat. Saya lihat Abang tergeletak di sini. Saya pikir Abang pingsan atau bagaimana, gitu?"
Aku menyapu pandangan sekitar. Sebuah lahan luas penuh ditumbuhi rerumputan ilalang, serta beberapa buah gundukan tanah berhiaskan bebatuan dan batang pohon kamboja tertancap di atasnya.
"Mengapa saya ada di sini?" Aku mulai bergidik takut. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja mataku tertuju pada sebuah papan persegi yang menancap persis di ujung gundukan tanah di sampingku. "Nyimas Ayu?" Begitu bunyi tulisan yang terdapat di sana.
"Abang tidur di sini dari semalaman?" Sosok muda itu kembali bertanya disertai raut wajah heran.
"Saya gak tahu!" jawabku seraya bangkit dan menjauhi gundukan makam tadi. "Siapakah Nyimas Ayu?"
"Dia perempuan cantik kembang kampung ini, Bang. Meninggal beberapa bulan yang lalu akibat bunuh diri," jawab sosok muda tadi.
"Bunuh diri?" desisku seakan tak percaya.
"Iya, bunuh diri karena ditinggal mati kekasihnya, sesaat sebelum acara pernikahan yang akan mereka gelar."
"Ya, Tuhan!" Aku tersurut. "Bagaimana bisa?"
"Ceritanya, mereka adalah pasangan kekasih yang akan segera menikah. Pagi hari sebelum acara ijab kabul dilaksanakan, rombongan pihak pengantin laki-laki mengalami kecelakaan di tengah jalan. Sayang, si mempelai laki-laki itu meninggal dunia di tempat kejadian. Rupanya kejadian itu tak bisa diterima oleh pihak pengantin perempuan, Nyimas Ayu. Lalu dia gantung diri di kamarnya .... " tutur sosok laki-laki itu.
__ADS_1
Tragis sekali, tapi bagaimana mungkin semalam aku bisa bertemu dengan sosoknya yang sudah mati?
"Abang sendiri bagaima bisa sampai ada di sini?" tanyanya kemudian.
Aku menoleh setelah sekian saat menatap lama nisan kuburan di depan. "Aku hanya mengantar seorang penumpang perempuan ke sebuah rumah. Dia mengaku hanya bernama Ayu. Lagian, semalaman hujan lebat dan aku hanya numpang berteduh di rumah itu. Sampai tak sadar ketiduran dan pagi ini aku .... "
Ah, tiba-tiba aku ingin segera pulang. Mungkin dari semalaman istri menunggu cemas.
Ya, benar. Memang pusing sekali rasanya berlama-lama di tempat yang aneh seperti ini. Sama sekali tak masuk akal.
"Aku permisi pulang dulu, ya, Mas .... " kusalami sosok laki-laki itu. "Maaf, dengan Mas siapa ini, ya?"
"Arya."
"Baiklah, Mas Arya, saya pulang dulu."
Segera kuburu motor yang terparkir dari semalam, tak jauh dari tempat di mana saat ini berada. Lalu melaju sekencang mungkin menuju rumah.
"Semalam Abang ke mana, sih?" Itu kalimat yang terucap dari bibir istri begitu tiba di rumah. "Abang kalo marah jangan sampe kayak gitu, Bang. Aku khawatir semaleman nungguin Abang."
"Semalem hujan gede, Neng. Abang numpang neduh di rumah temen ampe ketiduran," balasku setelah memarkirkan motor di depan rumah, tentu tanpa menceritakan kejadian sesungguhnya semalam.
"Abang jangan bohong, deh. Hujan apaan coba semalem?" Istriku merengut.
"Emang semalem hujan, Neng. Abang abis nganter penumpang. Pas mau balik, langsung turun hujan gede banget."
"Emang Abang nganter penumpang ke mana?"
"Ya, masih sekitaran kampung ini."
"Aneh. Masa, sih, bisa hujan sebagian? Di sini kagak hujan sama sekali."
"Gak tahu, ah, Neng. Abang sendiri lagi bingung." Aku hendak bergegas masuk ke dalam rumah, namun ditahan oleh istri. "Apalagi, Neng?"
"Tadi pagi ada laki-laki nganterin uang buat Abang," kata istriku seraya menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.
"Duit apaan, Neng?" Aku makin bingung.
"Gak tahulah, Bang. Cuma kata si laki-laki tadi, dia lupa calon istrinya belum bayar ongkos ojek Abang. Makanya dianterin ke mari."
"Laki-laki calon istrinya bagaimana? Ngaco, ah." Aku langsung teringat pada sosok Ayu yang mati mengenaskan, seperti yang diceritakan laki-laki muda di area kuburan tadi pagi. "Eh, kamu kenal laki-laki tadi?"
"Ya, enggaklah, Bang. Dia cuma titip pesan, uang ini kasihin sama Abang. Alasannya karena kekasihnya lupa belum bayar ongkos ojek." Istriku bertutur. "Kalo gak salah, laki-laki itu bernama ... Arya."
"Arya?"
"Abang kenal?"
Aku menggelengkan kepala. Nama itu sama persis dengan laki-laki yang ditemui tadi dikuburan, lalu kekasih Nyimas Ayu yang meninggal itu? Siapa pula Arya yang pagi-pagi mengantarkan uang ongkos ojek ke rumah. Sosok samakah atau hanya faktor kebetulan belaka?
Ah, aku pusing sekali. Rangkaian cerita yang penuh misteri dan tak masuk akal. Akan tetapi semenjak kejadian itu, tiba-tiba usaha jasa ojekku semakin laris tak seperti biasa. Hampir setiap hari selalu mendapat banyak penumpang. Tentu saja itu berimbas langsung pada pendapatan ekonomi keluarga. Anehnya, hal itu justru tak dialami oleh rekan-rekan seprofesi lainnya.
"Sekarang, elu ngapa jarang mangkal di pangkalan ojek, Fer?" tanya salah seorang teman ojekku.
"Ya, ngojeklah. Sama kayak elu," jawabku sambil menghitung hasil usaha yang sudah melebihi harapan hari itu.
"Ngojek apaan? Saban hari gue lihat, elu cuman mondar-mandir di jalanan doangan. Ngojek apaan coba?" Temanku menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
"Lah, ini buktinya gue udah dapet duitnya. Tiap hari ada aja yang pake jasa gue. Makanya jarang nongkrong di pangkalan." Kuperlihatkan lembaran uang banyak di tangan padanya.
"Aneh, ngojek apaan, coba? Nganterin penumpang. Penumpang yang mana? Cuma mondar-mandir di jalanan doang .... " gumam temanku sambil menatap aneh.
__ADS_1
Entahlah, yang pasti suatu saat, mungkin aku akan berganti profesi. Berdagang? Itu salah satu pilihan utama. Karena uang hasil usaha ojekku, kini sudah banyak terkumpul dalam saldo rekening bank.
(Berdasarkan kisah nyata yang telah didramatisasi untuk kepentingan literasi)