
...DUA ALAM...
...Penulis : David Khanz...
Hangat sinar mentari pagi menerpa wajah, membangunkanku dari lelap yang melenakan beberapa waktu. Sukma berangsur kembali, menyatu dalam peraduan raga. Kupicingkan mata dari bias membutakan yang menerobos melalui sebuah celah, menyeret setengah badan menjauhi terpaan cahaya yang menyilaukan. Bangkit terduduk dengan benak penuh tanya, bingung dalam kondisi terasing.
"Di mana ini?" Kusapu pandangan memutari setiap sudut tempat saat ini berada, dari bentang ranjang tidur beralaskan hamparan tikar daun pandan, tempat membaringkan tubuh beberapa saat yang lalu. Tampak sebuah ruangan kecil berdinding anyaman bambu, bertonggak kayu, serta atap berbahan ilalang yang tersusun tebal dan rapih.
Tiba-tiba ....
"Uhuk ... eummhh ... " terdengar ringkih batuk berat dari arah luar ruangan lain. Disusul sayup suara-suara percakapan yang samar.
Kuayunkan kedua kaki menuruni dipan yang berdiri kokoh setinggi tungkai, menjejak lantai tanah yang lembab, lalu melangkah perlahan menuju asal suara cakap tadi berasal.
Dari arah beranda rumah rupanya. Tampak dua sosok laki-laki tengah asyik berbincang dengan raut muka dingin, bertemankan cangkir kopi dan sepiring ubi sampa rebus, terhidang di atas balai peranginan. Yang satu berperawakan tua dengan rambut kepala dan janggut putih tergerai memanjang, dilengkapi gelang akar bahar yang melingkari pegelangan tangannya. Seorang lagi berusia paruh baya, berkumis tebal melintang dan berpakaian serba hitam lengkap dengan ikat kepala berwarna senada.
Aku mencoba mendekat dan menguping dari balik tirai berbahan kulit kayu, namun lama obrolan mereka berhenti. Sampai kemudian ....
"Apa yang sedang kau lakukan di sana, Anak Muda?"
Astaga! Aku terkesiap. Laki-laki tua dengan rambut dan janggut putih itu, tahu-tahu sudah berdiri tepat di belakangku. Kapan jalannya?
Tersurut aku agak menjauh dari tempatnya berdiri, dengan detak jantung yang masih bertalu-talu. "Maaf, Pak. Saya baru bangun tidur dan gak tau kenapa tiba-tiba ada di sini."
Laki-laki tua itu mengernyitkan dahi disertai tatapan tajam menghujam nyali. "Dari mana sebenarnya asalmu datang, Anak Muda? Nada serta bahasa yang kau ucapkan, sangat asing terdengar oleh kami."
Aku menggelengkan kepala. "Saya sendiri gak tau, Pak. Saya pikir ... sebelum bangun tadi, saya tidur di kamar saya sendiri. Tapi kenapa sekarang ada di sini. Ini rumah Bapak, kan?"
"Hhmmm ... " Laki-laki tua itu mengusap-usap janggutnya, masih disertai tatapan tajam dan aneh. "Kau datang dari arah mana? Apa nama tempat yang kau tinggali selama ini?"
"Saya dari Jakarta, Pak," jawabku segera.
"Jakarta?"
"Ya, ... Jakarta. Pasti Bapak sudah .... "
"Aku belum pernah mendengar ada nama tempat bernama Jakarta. Kampung sebelah mana itu?"
Kampung? Ya, Tuhan! Masih adakah rakyat Indonesia yang masih belum mengenal nama ibukota negaranya sendiri?
"Kok, kampung, Pak? Jakarta itu kota besar. Ibukota negara kita. Bahkan sekarang presidennya dijabat oleh orang yang sama, bernama—"
"Ibukota negara? Sejak kapan kita punya negara?" Laki-laki tua itu semakin mengerutkan keningnya, bingung.
"Ya, Tuhan! Bapak pikir ini masih di jaman penjajahan?" Aku terkekeh hebat sampai berlinang air mata.
"Orang pribumi memang masih dijajah orang asing, Anak muda! Bahkan perang semakin hebat. Ke mana saja kau selama ini?!" Suara orang tua itu meninggi sambil berkacak pinggang.
Lelaki berkumis melintang yang sedari tadi mengintip percakapan kami, muncul dari balik pintu. "Jangan-jangan dia mata-mata musuh kita, Ki Braja?"
Serentak kami berpaling pada sosok laki-laki berpakaian serba hitam tersebut.
"Mata-mata musuh? Siapa musuh kita? Bapak-Bapak ini seperti sedang hidup di jaman sejarah saja," ujarku mulai bingung. "Saya bukan buzzer yang kerjanya selalu menebar berita hoax dan memprovokasi masyarakat dengan postingan-postingan yang berbau politik di internet!"
Kedua laki-laki itu saling lempar pandangan dengan raut muka bingung dengan ucapanku barusan.
"Apa yang dia bicarakan, Carok? Bahasanya sama sekali tak kumengerti!" tukas laki-laki tua yang dipanggil dengan nama Ki Braja tadi.
"Aku juga merasa seperti itu, Ki," jawab Carok, laki-laki berkumis melintang tersebut. "Jangan-jangan benar kecurigaanku tadi, dia itu memang ma—"
"Sebentar, Carok!"
"Ada apa, Ki?"
Aku merasakan nuansa yang semakin tak nyaman, mata merah Ki Braja memperhatikan dengan seksama setiap detail pakaian yang kukenakan dari atas hingga ujung kaki. Apa sebenarnya yang sedang dia pikirkan? Rasa was-was kian menghujam jantung ini.
"Anak Muda, katakan sejujurnya, siapakah sebenarnya dirimu? Dari mana kau berasal?" tanya Ki Braja bertubi-tubi. "Raut wajahmu seperti mengingatkanku pada seseorang .... "
Dengan suara bergetar kujawab tanyanya, "Sudah saya katakan tadi, saya berasal dari Jakarta. Saya sendiri bingung saat bangun tidur tadi, kenapa ada di sini?"
Ki Braja manggut-manggut. "Tadi malam, aku menemukanmu tergeletak di pinggiran hutan sana. Tepat di tempat biasa kami .... "
"Sebaiknya tak usah dikatakan, Ki. Aku masih curiga bahwa dia adalah salah satu mata-mata yang dikirim oleh pihak kompeni, untuk mencari tahu tempat persembunyian kita selama ini." Buru-buru Carok memotong ucapan Ki Braja.
"Sebentar ... tadi Bapak itu ngomongin tentang kompeni." Aku semakin tak mengerti dengan kata-kata kedua laki-laki ini. "Kompeni atau penjajah Belanda sudah lama pergi dari negeri kita. Itu sudah terjadi sejak tujuh puluh empat tahun yang lalu. Kita sudah merdeka, Pak!"
"Merdeka, katamu?" Carok maju selangkah mendekatiku sambil menarik bilah parang yang terselip di pinggangnya. "Justru mereka semakin merajalela menjadikan warga pribumi sebagai budak perahan. Bagaimana mungkin bisa kau katakan, kita sudah merdeka?"
__ADS_1
"Saya .... "
"Kau pikir di tahun berapa saat ini kita hidup?" Carok maju semakin mendekat.
Keningku berkerut. " ... tahun 2019, Pak."
Ki Braja dan Carok kembali saling berpandangan mata. "Itu masih lama, Anak Muda. Sekitar 200 tahun ke depan."
"Apa?" Aku hampir saja tertawa tapi buru-buru ditahan sambil berpikir hitung. " ... 200 tahun? Jadi hari ini tahun ... 1819, begitu?"
"Kau pikir tahun berapa lagi, Anak Muda?" Ki Braja tersenyum kecut. "Kau bilang tadi, negeri ini sudah merdeka sejak tujuh puluh empat tahun dari masa kau berasal, itu artinya tahun ke seratus dua puluh enam dari masa sekarang. Hhmm .... "
Carok mendekati Ki Braja seraya berbisik, "Jangan terlalu percaya dengan pemuda ini, Ki. Aku yakin dia sedang berbual dan berusaha mengecoh kita dengan cerita-cerita khayalannya itu, agar banyak waktu untuk memata-matai kita di sini."
Ki Braja menoleh ke arah Carok. "Kau pikir aku pun percaya begitu saja dengan cerita dia? Justru aku lebih tertarik dengan bahan dan bentuk pakaian yang dia kenakan."
"Ada apa dengan pakaiannya, Ki?"
"Kau tak lihat? Perhatikan kancing perapat belahan tengah pakaiannya. Bentuknya memanjang dan terbuat dari bahan mengilap. Aku perhatikan, cukup menarik ke atas dan ke bawah untuk menutup-buka pakaiannya. Kau pikir itu bukan sebuah keanehan?"
Carok manggut-manggut seraya turut memperhatikan pakaianku.
"Ini namanya ritsleting, Pak. Masa belum pernah melihat mode kancing kayak gini, sih, Pak?" ungkapku setelah memperhatikan arah tatapan kedua laki-laki tersebut pada sweter yang dikenakan di badan ini.
Tatapan mata Ki Braja semakin tajam mengulitiku. "Siapa namamu, Anak Muda?"
"Brajasmara Sinabar!"
"Apa?" Serempak kedua laki-laki itu bertanya diiringi raut kejut di wajah masing-masing.
Tiba-tiba tengkukku seperti disentuh oleh dua titik jemari Ki Braja. Begitu cepat dan tak sempat dielakan. Akibatnya, tubuhku mendadak kaku dan sulit digerakan. Disusul kemudian dengan sapuan lima jarinya mengusap kilat hingga kesadaran ini mendadak sirna. Tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, karena pekat telah membutakan semua alam pikiran ....
* * * * * *
"Braja, bangun! Hey .... "
Tepukan lembut menerpa wajah berulang-ulang, sampai akhirnya kubuka mata ini dengan pandangan sedikit mengabur. Perlahan-lahan tampak sesosok perempuan setengah baya berdiri di sampingku dengan senyumnya.
"Bangun! Udah mau pagi juga! Hari ini kamu kuliah, kan?" ujar sosok itu sambil merapihkan buku-buku yang berserakan di sekelilingku. "Heran, deh, sama kamu. Udah gede juga, kelakuannya, masih aja kayak bocah. Ini kamar atau kapal pecah, sih?"
Aku bangkit dari tidur dan memperhatikan sekeliling. Fokus terakhirku tertambat pada sosok yang sedang memunguti serakan buku-buku sambil berbicara tiada henti. "Siapa Anda, Nisanak?"
"Aku tak tahu siapa Anda dan mengapa aku ada di sini?"
"Kamu gak lagi ngeprank Mama, kan, Braja? Eh, mana kameranya ya?" Perempuan itu melihat-lihat sekeliling tempat disertai tawa kecilnya. "Dosa, lho, kamu ... ngerjain orangtua sendiri. Hihihi .... "
Aku bangun dari dipan empuk dan lembut yang belum pernah ditemukan seumur hidup, kecuali ranjang bambu beralaskan tikar daun pandan yang selalu digunakan saat merebahkan diri.
"Anda menyebutku dengan nama Braja? Apakah kita sudah pernah saling kenal sebelumnya, Nisanak?" Aku masih bingung memperhatikan perempuan itu.
"Kamu ini kenapa, sih, Braja? Salah tidur? Biasanya sakit leher, bukan otakmu yang ngedrop. Hihihi." Perempuan itu masih saja tertawa-tawa sendiri sambil sesekali menatapku. "Jadi kayak jaman dunia persilatan saja. Apa itu tadi ... Nisanak? Hihihi. Udah, mendingan kamu mandi sana biar otakmu fresh, terus sarapan dan langsung pergi kuliah."
"Sebentar ... " Aku menghampiri perempuan paruh baya itu. "Nisanak mengenalku, tapi aku tak mengenalmu. Siapakah Nisanak ini sebenarnya? Mengapa aku ada di sini?"
"Braja ... " Perempuan itu menghampiriku dengan tatapan aneh. "Kamu gak lagi bercanda, kan, Nak? Kamu .... "
"Ya, Tuhan!" Aku terperanjat begitu melihat sosok sendiri melalui pantulan cermin. "Ke mana janggutku? Rambutku? Wajah ini ... mengapa aku berubah semuda ini?"
"Braja ... kamu sehat, kan, Nak?" Lirih perempuan itu seraya mengusap bahuku. "Kamu .... "
"Tidak! Katakan aku tidak sedang bermimpi! Ini ... ini ... " Aku menepis lengan perempuan itu. "Nisanak ini siapa?"
"Aku Mamamu, Braja. Apa yang terjadi padamu? Kepalamu kepentok kayu tempat tidur?"
"Ah, tidak! Aku harus bersiap-siap menghadang pasukan kompeni itu! Di mana Carok, anak buahku? Aku harus segera pergi ... " Aku melangkah tergesa ke luar ruangan diikuti oleh perempuan yang mengaku sebagai ibuku tadi.
"Braja! Mau ke mana kamu? Tunggu!"
Aku tak peduli dan semakin mempercepat langkahku hingga teriakan perempuan tadi tak lagi terdengar.
Alam masih terlihat gulita dengan hembusan angin yang terasa dingin membekukan. Aku hanya ingin berlari dan berlari di antara pekat yang semakin mengikat netra. Pikiran ini tertuju pada keselamatan Carok serta anak buahku lainnya, dari serbuan pasukan kompeni yang sudah mengendus tempat persembunyian kami selama ini.
* * * * * *
Ki Braja tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar, tempat di mana aku masih terbaring kaku setengah sadar.
"Bangun, Anak Muda!" seru Ki Braja sambil mengetukan dua jarinya di daging pundakku dengan keras.
__ADS_1
Perlahan kesadaranku kembali pulih. "Ada apa, Pak?"
"Kita harus pergi dari sini secepatnya, sebelum pasukan kompeni itu datang memporak-porandakan tempat ini!" ujar Ki Braja langsung membantuku berdiri dan menyeret ke luar gubuk.
Di depan rumah sudah berdiri, laki-laki berkumis melintang yang kukenal dengan nama Carok, bersiap-siap dengan sebilah parang tajam terhunus di depan dada. "Cepat, Ki. Mereka sudah semakin mendekat!"
Aku bingung, apa sedang yang terjadi. Alam masih membuta dengan pekat hitam yang membatasi jarak pandang. Entah malam ataukah jelang pagi saat ini, yang pasti sebelum pergi, Ki Braja menatapku dalam-dalam dengan sorot matanya yang menggidikan.
"Dengarkan aku, Anak Muda. Apa pun yang terjadi, teruslah berlari sepanjang kau mampu. Ingat, jangan pernah kembali ke tempat asal kau datang. Ini jalan satu-satunya bagimu untuk keluar dari sini!" Ki Braja memegang kedua bahuku dengan erat. "Bawalah benda ini sebagai kenang-kenangan atas pertemuan singkat kita ini!"
Ki Braja melepaskan gelang akar bahar di pegelangan tangannya, lalu menyerahkan paksa padaku.
"Ini untuk apa, Pak? Lalu ... kemana saya harus pergi?" Aku masih diliputi rasa bingung dan bimbang atas saran yang diberikan Ki Braja tadi sambil menggenggam gelang akar bahar pemberiannya.
Dari kejauhan terdengar beberapa kali suara letusan keras, bergema di seantero rimba yang mengelilingi kami.
"Cepat, Ki! Mereka makin mendekat!" seru Carok dengan wajah tertekan.
"Anak Muda, ikuti kami! Ayo ... " Ki Braja bergegas melangkah diikuti oleh Carok. Aku pun serta-merta ikut berjalan di belalang mereka.
Lama-lama langkah itu semakin cepat dan berganti dengan larian yang harus diimbangi, namun gerakku terasa makin lambat tertinggal jauh oleh Ki Braja dan Carok.
"Pak, tunggu saya!" teriakku dengan napas tersengal-sengal. Dua orang itu tak menoleh sedikit pun, mereka berlari semakin cepat dan jauh meninggalkanku seorang. Sampai akhirnya lenyap ditelan kegelapan.
Aku bingung harus melangkah ke mana. Semuanya tampak sama, hitam dibalut kegelapan. Hanya bisa berjalan tanpa tentu arah mengikuti tunjuk jari kaki. Rasa takut kian menghantui, menyelimuti setiap lorong rasa di dalam hati.
Samar-samar di antara cekam yang mendera, aku mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah depan.
Pasti Pak Braja dan Carok kembali lagi untuk menjemputku, bisik batin ini lega.
Tidak, sepertinya bukan mereka, tapi sesosok manusia lain yang tengah berlari ke arahku. Hanya seorang, laki-laki juga sepertiku. Bayangnya makin terlihat jelas, sampai akhirnya dia berhenti sesaat beberapa langkah di depan. Menatapku dengan sorot mata yang aneh dan bingung.
Tak ada suara yang keluar dari mulut kami untuk sekedar menyapa atau pun bertanya. Sosok laki-laki tadi perlahan beringsut menjauhi, kemudian melanjutkan larinya meninggalkanku.
"Hey ... tunggu!" teriakku setelah sosoknya menjauh, tapi percuma saja dia tetap berlari dan menghilang ditelan kegelapan. "Aneh, sepertinya ... Tuhan ... laki-laki tadi, kok .... "
Aku meraba wajah sendiri, lalu menoleh ke arah hilangnya sosok laki-laki yang ditemui tadi. Siapakah dia? Mengapa ....
BRAK!
Ah, batok kepalaku terantuk sesuatu yang melintang keras. Cukup membuat limbung jejak kaki ini, hingga jatuh terjerembab ke atas lapisan tanah yang keras dan dingin. Disusul dengan hilangnya kesadaranku menjemput fana.
* * * * * *
"Braja .... "
Kubuka kelopak mata perlahan, menatap sosok yang tengah berada di depan dengan pandangan masih mengabur.
"Braja .... "
Suara itu memanggilku untuk kedua kalinya. Itu, kan, suara ....
"Mama ... " ucapku begitu mengenali sosok tersebut.
"Bangun, Nak! Udah mau Magrib! Tak baik tidur setelah waktu Asar. Bangunlah," ujar Mama lembut membangunkanku.
Aku segera bangkit dan duduk ditepian tempat tidur. "Ma .... "
"Ada apa, Nak?"
"Kenapa Mama memberiku nama Braja?"
Mama tersenyum. "Kenapa tanya itu?"
"Cuma pengen tau aja, Ma."
Setelah beberapa saat berpikir, Mama menjawab, "Itu nama mendiang Uyut kamu, Nak. Bapak dari kakekmu, namanya Brajasmara Sinabar."
Aku tertegun. "Kenapa harus nama itu?"
"Entahlah, mungkin nama itu akan selalu mengingatkan sosok leluhur keluarga Papamu. Makanya Papa memilih nama itu buat kamu."
Aku mengangguk perlahan tanpa berminat untuk kembali bertanya pada Mama.
"Mandi, gih! Sebentar lagi Magrib, lho, Nak." Mama melangkah ke luar kamarku.
"Iya, Ma ... " jawabku sambil memperhatikan gelang akar bahar yang berada dalam genggaman.
__ADS_1
...SELESAI ...