Penghuni Dunia Kegelapan

Penghuni Dunia Kegelapan
Kesurupan


__ADS_3

...KESURUPAN...


...Penulis : David Khanz...


"Pergi kalian semua! Jangan pernah datang lagi ke sini!" teriak Yosi dengan suara memekakan telinga, dipegangi kuat-kuat oleh keempat tamunya di pinggir tempat tidur.


"Bram, gimana, nih?" tanya Irene pada Bram yang berusaha sekuat tenaga memegangi lengan Yosi, dibantu oleh Hodi dan Lena.


"Panggilin orang pinter terdekat dong!" seru Bram menatap ketiga temannya.


"Di, elu keluar, gih! Cari orang yang bisa ngusir setan di kampung sekitar sini!" ujar Lena ketakutan sambil menahan kaki Yosi yang meronta-ronta.


"Kalo gue yang keluar, terus siapa yang nahan tubuh dia?" Hodi menunjuk Yosi dengan ujung matanya. "Lagian si Bram belum tentu kuat nahan sendiri. Iya, kan, Bro?"


Bram menganggukan kepala dengan suara bergetar, "I-iy-aa .... "


"Ya, udah. Kita berdua, deh, yang keluar," kata Irene akhirnya pada Lena. "Elu berdua tahan Yosi ya?"


Hodi dan Bram menganggukan kepala. Perlahan Irene dan Lena melepaskan pegangan pada kedua kaki Yosi yang terus meronta. Geraman kuat disertai sorot mata tajam menakutkan masih menyertai gadis tersebut.


"Pergi kalian semua! Jangan ganggu aku, atau akan kubuat kalian mati mengenaskan di sini!" teriak Yosi diiringi tawa menggidikan.


"Iya, maafkan kami, Eyang. Kami hanya bermaksud mengisi liburan di vila ini untuk beberapa waktu saja. Tak ada maksud mengganggu Eyang di sini!" jawab Bram ketakutan sambil memegang lengan Yosi sekuat tenaga.


"Tidak boleh! Siapa pun tak akan aku perkenankan mengganggu ketenanganku di tempat ini! Pergi kalian atau—"


"Iya, Eyang. Kami akan pergi besok pagi-pagi sekali. Tapi keluarlah dari tubuh gadis ini ... " Hodi turut bersuara.


Yosi tertawa keras diiringi jeritan yang memekakan telinga.


※     ※     ※     ※     ※     ※     ※     ※


Siang itu ponsel Yosi tiba-tiba berdering. Tertera di layar ada pemberitahuan panggilan dari sebuah nama beserta nomor yang sudah dia kenal.


"Halo, Juan! Ada apa?" tanya Yosi setelah menggeser ikon bergambar telepon berwarna hijau di telepon selulernya.


Orang yang bernama Juan menjawab di seberang sana, "Yos, ada sekelompok anak muda nyari rumah kosong buat ditempati barang lima sampai enam hari ke depan."


"Terus, urusannya sama gue, apa?"


"Eh, vila Pak Broto yang elu urus itu kosong, kan?"


Yosi berpikir sejenak, "Kosong, sih, Ju. Tapi gue gak berani ngasih begitu aja. Soalnya harus ada ijin dari pemilik vila itu sendiri. Lagian keluarga Pak Broto juga mau ke sini akhir pekan nanti."


"Duh, gimana, dong? Bantu gue ngapa? Mereka udah terlanjur ngasih persekot ama gue." Suara Juan terdengar tertekan.


"Ya, kalo itu, sih, urusan elu, Ju? Ngapa gue yang kudu ikut mikir? Lagian ... " Yosi tak meneruskan ucapannya karena ragu.


"Lagian kenapa, Yos? Sayang, nih, duit. Sebagian udah kepake ama gue," memelas Juan meminta pertolongan gadis itu.


Yosi celingukan ke sekitar ruangan rumah tempat dia berada saat itu, sambil memegangi tengkuknya yang tiba-tiba merinding, " ... vila Pak Broto itu serem, Ju. Gue takut .... "


"Takut apaan, sih? Hari gini masih takut ama yang begituan?" Juan tertawa di balik ponselnya. "Eh, Yos ... makhluk begitu sekarang malah diburu buat nyari duit di media sosial. Elo gak kenal si Helm Ijo, Sarung Ironman atau juga si Iwan Laslos? Mereka dapet gaji internet dari penampakan jurig, Yos!"


Yosi mencibir, "Bodo amat. Itu, kan, urusan mereka. Gue ini cewek, Ju. Gue parno kalo masalah gituan, mah."


"Ya, tolonglah, Yos. Gak mesti elu yang jagain tuh vila, kan? Bisa bokap atau nyokap elu, kek." Juan memaksa.


"Nyokap gue juga sama penakutnya ama gue. Kalo bokap ... dia lagi sakit, Ju," jawab Yosi seraya mengusap lengannya yang mendadak dingin dan meremang.


"Sakit apaan?"


"Bengeknya kambuh .... "


"Ya, udah ... gimana kalo ama elu aja, Yos? Biar gue yang temenin jaga semaleman, deh ... " ujar Juan dengan suara hembusan napasnya terdengar jelas menerpa sepiker ponsel.


"Elu lagi mikir jorok ya?"


"Kok, elu tahu, Yos?"


Yosi kembali mencibir, "Bunyi napas elu nyampe ke mari! Gue ngerasa ada aroma mesum di otak elu, Ju!"


"Haha ... tahu aja lu, Non."


"Udah, ah! Gue gak—"


"Eh, iya ... sori ... sori ... gue becanda, Sih! Sori ... beneran!" Juan gelagapan. "Pokoknya elu kudu bantuin gue, deh, Non!"


Yosi berpikir-pikir dulu sambil membayangkan bakal masuk ke dalam vila, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya. Kondisi kedua orangtuanya tak memungkinkan untuk pergi ke sana. Terbayang nuansa mistik yang akan dia lihat di dalam bangunan yang sering dibiarkan kosong tersebut. Tapi ....


"Ya, udah, deh. Suruh dateng aja tamunya langsung ke vila. Kasih tahu gue, kalo elu semua udah pada nyampe di sana ya?" Dengan berat hati, akhirnya Yosi memenuhi permintaan tolong Juan, sang sahabat sejak masa kecil. "Kalo bukan elu yang minta, gue gak bakalan sudi nurutinnya, deh, Ju!"


Terdengar tawa Juan sebelum dia memutuskan percakapan melalui ponsel. Yosi terdiam sambil memejamkan mata, kemudian menarik napas panjang.


Mau tak mau Yosi harus bicara dengan ayahnya, Pak Betrand, perihal vila yang akan disewa oleh sekelompok anak muda seperti yang diceritakan oleh Juan tadi.


"Atur-atur aja, deh, sama kamu, Yos. Bapak masih harus banyak istirahat dulu. Uhuk! Uhuk!" jawab Pak Betrand begitu Yosi mengutarakan rencananya. "Usahakan, jangan sampai terlalu lama. Soalnya Pak Broto mau datang akhir pekan ini."


"Iya, Pak. Yos juga udah tahu, kok," timpal Yosi seraya menyelimuti tubuh bapaknya yang meringkuk panas. 


"Hati-hati, Yos. Uhuk! Uhuk! Jaga diri baik-baik. Vila itu udah lama dibiarkan kosong. Bapak khawatir—"


"Bapak tenang saja. Yos bisa jaga diri, kok ... " pungkas Yos walaupun jujur saja, dia sendiri merasa takut.


Beberapa jam berlalu, ponsel Yosi kembali berdering. Panggilan dari Juan. "Gimana, Ju?"


"Gue udah di depan vila, nih, Yos. Elu cepetan ke mari, deh, atau gue jemput ke sana?" ujar Juan dari balik telepon  seluler.


"Gak usah. Gue bisa dateng sendiri."


"Lama, Yos!"


"Gue bawa 'metik', Dodol!"


"O, iya. Gue lupa."


"Bawel lu kayak emak-emak komplek!"


Juan tertawa.


Tak butuh waktu lama, beberapa menit kemudian Yosi sudah tiba di depan vila dengan sepeda motor matic-nya. Disambut tamunya yang berjumlah empat orang; Hodi, Bram, Lena dan Irene. Termasuk si Dodol, Juan.


"Berapa lama?" tanya Yosi setelah sebelumnya saling berkenalan dan mengobrol basa-basi.


"Paling lima hari, Mbak," jawab Hodi, cowok kurus berambut keriwil plus pipinya yang dipenuhi jerawat batu.


"Gak bisa kurang, Mas?" tanya Yosi menawar.


"Apanya? Harganya? Kan, belum nyepakatin harga, Mbak?"


"Lama sewanya, Mas," timpal Yosi seraya tersenyum tawar.


"Dih, dasar bego lu, Di!" sungut Lena sambil mendorong kepala Hodi dengan ujung telunjuknya. "Malu-maluin aja!"

__ADS_1


Hodi menggaruk rambut keriwilnya dengan rasa malu. "Emang kalo lima hari kenapa, Mbak?"


"Soalnya vila ini mau dipake acara lain, Mas. Hhmm ... tapi lima hari itu ... pulangnya pagi-pagi, kan, Mas?" Kali ini yang bersuara adalah Juan. Tentu saja tanpa berkompromi terlebih dahulu dengan Yosi. Hasilnya, pemuda itu langsung mendapat senyum buaya dari si gadis.


Bram tampil membantu untuk menjawab, "Tenang aja, Mas dan Mbak. Sebelum tengah hari, kami sudah harus berkemas, kok .... "


"Oohhh .... " respon Juan dan Yosi berbarengan.


"Berapa harga sewanya, Mbak?" tanya Hodi setelah sebelumnya saling melempar pandangan mata dengan ketiga temannya.


Yosi menyebutkan sejumlah angka.


"Gimana, guys? Jadi gak?" Bram meminta pendapat Hodi, Lena dan Irene. Ketiganya temannya mengangguk setuju.


"Ya, sudah. Kita sepakat ya?" Bram bermaksud mengajak Yosi bersalaman, namun gadis itu belum mau menerimanya. "Kenapa, Mbak?"


"Sebentar, Mas ... ada aturannya," Yosi berkilah.


"Aturan apa, Mbak?" Bram bingung.


Dengan suara tegas, Yosi berucap, "Pembayaran harus dilakukan di muka, terus harga sudah termasuk uang sewa selama lima hari ke depan, dan itu akan menjadi hak milik pemberi sewa walaupun ... misalkan, pihak penyewa tidak menempati vila ini sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama."


" ... kayak ngontrak rumah aja ... " gumam Irene di dekat kuping Lena.


"Aturan lainnya, Mbak?" tanya Hodi penasaran.


"Silakan pergunakan fasilitas yang ada di vila ini, termasuk; barang elektronik, air, listrik, peralatan dapur, perlengkapan kamar tidur, kamar mandi, dan lain sebagainya, tapi tidak untuk dimiliki ya .... "


"Tentu saja, Mbak .... "


"Yosi!"


"Ya, Mbak Yosi."


"Sepakat ya?"


"Sepakat!"


"Sah?"


"Sah!"


※     ※     ※     ※     ※     ※     ※     ※


Menjelang tengah malam, Yosi datang berkunjung menemui keempat tamunya di dalam vila, ditemani Juan, sang Dodol yang menunggu di beranda depan.


"Gimana kondisi vilanya, Mas dan Mbak semua? Apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya Yosi setelah sebelumnya melempar sapa. "Uhuk! Uhuk!"


"Baik, Mbak. Terima kasih sudah mau mampir melihat-lihat keadaan kami. Semuanya berjalan normal saja, Mbak," jawab Irene mewakili ketiga temannya. "Mbak Yos sakit?"


Yosi mendeham beberapa kali. "Sedikit pilek. Mungkin karena faktor perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim penghujan, seperti akhir-akhir ini .... "


" ... tapi muka Mbak Yos pucat lho, Mbak?" Lena ikut mengomentari perihal raut muka Yosi yang tidak secerah tadi siang, saat pertama kali mereka bertemu.


"Masa, sih?" Yosi memegangi kedua pipinya sembari jelalatan menyapu seluruh penjuru ruangan, seperti ada yang tengah dia khawatirkan.


"Mbak Yos minum obat saja dulu. Kami bawa stok obat-obatan, kok," sambung Lena seraya meraih tas kecil yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berada.


Yosi memegangi kepalanya dengan posisi berdiri dan mulai limbung. Untunglah Bram sigap menahan tubuh gadis itu agar tidak ambruk ke lantai keramik. "Dudukin di kursi ini!"


Yosi mengerang kesakitan sambil terus memijit-pijit keningnya. Nanar matanya menatap liar ke depan, lalu menjerit-jerit seperti tengah dilanda ketakutan luar biasa. Mulutnya menceracau tak karuan dengan bahasa yang terdengar asing.


"Aduh, gimana urusannya, nih, Bram?" tanya Irene tampak panik melihat kondisi Yosi yang semakin bergerak liar.


"Bisa-bisanya ya otak elu itu mikirin yang kagak-kagak, di saat kita lagi ketakutan kayak gini, Di!" sentak Lena sambil menunjuk-tunjuk muka Hodi.


"Kagak-kagak gimana, sih, Sayang? Kok, mikirnya laen ya ama gue?" Hodi heran.


"Maksud elo dibawa ke kamar, mau ngapain?" Lena masih bersikeras.


"Lah, emangnya kamar buat apaan, sih, Sayang? Duh, kamu itu kalo cembukur, kok, gak pada tempatnya ya? Dih .... "


"Udah, berisik elu berdua! Gak lihat apa, gue lagi megangin nih cewek ampe keringetan gini!" hardik Bram kesal melihat perdebatan tak berfaedah antara Hodi dan Lena.


Tiba-tiba Yosi tertawa keras hingga membuat Lena dan Irene tersurut ketakutan. "Hahaha! Kalian siapa? Mengapa ada di sini? Mengganggu ketenanganku saja!"


"Eh, Mbak Yos! Sadar, Mbak! Eling ... nyebut! Nyebut!" Hodi kebingungan.


Bram mencolek lengan Hodi dan menunjukkan arah matanya pada dada Yosi.


"Iya, lumayan gede juga ya, Bro. Ukuran 36B kayaknya, deh!" ujar Hodi setelah melihat apa yang ditunjuk Bram sambil leletkan lidah.


"Dih, bukan itu maksud gue! Bandul kalungnya, bodoh!" sentak Bram dengan suara agak pelan di antara suara geraman Yosi. Khawatir kata-katanya tadi di dengar sang pacar, Irene.


"Oohh ... iya, gue baru paham, Cuy!" kata Hodi disertai kekehannya yang menyebalkan. "Ya, udah. Bawa ke kamar, deh. Di sini gue susah buat meganginnya!"


"Ayo ... " jawab Bram.


Dengan susah payah kedua anak muda itu menyeret paksa tubuh Yosi ke dalam kamar.


"Aku tidak sudi kalian semua ada di sini! Ini tempatku! Hahaha!" teriak Yosi dengan suara berat dan menyeramkan.


"Iya, kita di sini juga bayar, kok, Mbak ... eh, Eyang! Lima hari sewa tempat, lumayan harganya setara ama iPhone 11 ... " jawab Hodi disambut jitakan maut jemari Bram di kepalanya yang berambut keriwil.


※     ※     ※     ※     ※     ※     ※     ※


"Bram!" Tergopoh-gopoh Irene masuk kembali ke kamar diikuti Lena dengan napas memburu kelelahan.


"Dapet orang pintarnya?" tanya Bram masih memegangi lengan Yosi yang masih liar meronta-ronta.


Lena dan Irene melambaikan tangan mereka ke arah pintu kamar yang terbuka, lalu sesosok tua laki-laki berjanggut putih muncul dari luar. Dia berjalan sambil berkomat-kamit, menatap tajam pada Yosi yang tengah histeris.


Begitu melihat kedatangan laki-laki tua tersebut, serta merta jeritan Yosi langsung lenyap. Berganti tatapan mata yang penuh bias ketakutan. 


"Jangan ... jangan ... jangan usir aku, Mbah! Jangan!" jerit Yosi memelas.


"Lepaskan dia, Anak Muda!" perintah laki-laki tua itu pada Hodi dan Bram. Tanpa pikir panjang kedua anak muda itu melepaskan cekalannya, lalu mundur menjauh dari sosok Yosi yang sudah tidak seliar tadi. "Tinggalkan kamar, segera! Biar kuselesaikan urusan ini, hanya antara dia dan aku!"


Hodi, Lena, Bram dan Irene berhamburan ke luar kamar, ketakutan. Laki-laki tua itu menendang daun pintu kamar hingga terbanting dan tertutup rapat.


"Eh, gila! Dukun, sih, dukun ... tapi jangan berduaan di dalam kamar gitu, dong!" gerutu Hodi kesal.


"Emang kenapa, Di? Kan, urusan mereka. Hitung-hitung bawa mobil ke bengkel ketok magic, kek!" timpal Bram.


"Bukan gitu masalahnya, Bram. Sekarang sudah lengkap adanya .... " tukas Hodi masih berwajah masam.


"Lengkap apanya, sih?"


"Jika ada dua insan berlainan jenis berada dalam satu ruangan tertutup, maka pihak ketiganya adalah ... setan. Nah, yang di dalam sekarang ... udah lengkap. Dukun, Mbak Yos beserta jurignya! Pas, kan?"


"Dih, apaan, sih?" cibir Lena sambil mengguratkan jari telunjuk di keningnya atas ungkapan Hodi barusan.


"Eh, kalian berdua dapetin tuh dukun dari mana?" Bram tiba-tiba penasaran pada kedua gadis tersebut, Irene dan Lena.

__ADS_1


"Dikasih tahu sama Mas ... yang tadi siang ikut ngantar kita ke sini itu, siapa ya?" Lena berpikir.


"Juan?" tebak Hodi.


"Ya, dia ... " lanjut Lena kemudian.


"Sekarang dia ada di mana?" tanya Bram kembali.


Lena dan Irene menunjuk ke luar vila, "Tuh, di luar."


"Kenapa gak ikut masuk dari tadi?" Hodi heran campur bingung.


Lena mengangkat bahunya. "Katanya, sih, takut ama masalah beginian .... "


Hodi dan Bram manggut-manggut. 


Tak berapa lama kemudian, keempatnya terperanjat begitu mendengar suara jeritan panjang Yosi dari dalam kamar. Disusul kemudian, laki-laki tua berjanggut putih itu membuka pintu kamar. Berjalan gontai dengan napas tersendat, kelelahan.


"Gimana keadaan Mbak Yos sekarang, Mbah?" buru Bram begitu sosok laki-laki itu keluar kamar.


"Untunglah, kalian cepat memanggilku. Kalau tidak, mungkin bakal ada korban jiwa di sini!" jawab laki-laki tua itu sambil pegangi dadanya yang sakit. "Makhluk penghuni vila ini benar-benar jahat. Kejadian seperti ini bukan hal pertama .... "


"Apa?!" Hodi melongo kaget.


"Jadi ... kejadian ini sering terjadi di sini, Mbah?" bagian Bram kini yang bertanya.


Laki-laki tua itu mengangguk perlahan. " ... dan mediator makhluk ganas itu untuk menunjukkan keberadaannya ... selalu saja ... dia!"


"Dia siapa?" Hodi tambah bingung.


"Gadis penjaga vila ini."


"Mbak Yos?"


"Ya ... " Laki-laki tua itu kembali mengangguk perlahan. " ... tapi ... untuk malam ini ... dia aman, karena aku sudah memantrai seluruh tubuhnya agar makhluk itu tak kembali untuk sementara waktu."


"Sementara waktu? Jadi ... sewaktu-waktu makhluk ghaib itu bisa datang kembali, Mbah?" tanya Irene merinding ketakutan. 


Laki-laki tua berjanggut putih itu manggut-manggut. "Sebaiknya kalian berempat jangan berlama-lama berada di sini. Bahaya sekali, karena korban selanjutnya bisa saja satu di antara kalian ... atau juga gadis itu dan aku sendiri."


"Ih ... serem!" Tubuh Lena dan Irene sampai bergidik hebat.


"Untuk malam ini aman gak, Mbah? Soalnya, gak mungkin kami berempat harus pergi di malam buta seperti sekarang ini," ujar Bram khawatir.


Laki-laki tua itu terbatuk beberapa kali. "Uhuk! Uhuk! Aku kira aman-aman saja, tapi besok pagi-pagi ... sebaiknya kalian lekas pergi dari sini secepatnya."


Keempat anak muda itu mengangguk berbarengan. "Ya, sudah. Besok pagi kami akan segera berkemas .... "


"Baguslah, Anak Muda! Uhuk! Uhuk!" Laki-laki tua itu tersenyum. "Aku akan bawa gadis itu, dan kalian berempat ... jangan coba-coba berbuat macam-macam di dalam vila ini."


"Macam-macam gimana, Mbah?"


Dalam hati, laki-laki itu bergumam, 'Bodoh! Tentu saja sesuatu yang bisa membuatku ... ngiler dan ingin kembali muda!'


"Aku tahu kalian berempat belum menikah, kan? Jadi ... tolong hargai lingkungan tempat kami ini. Oke?"


"Asssiiiaaapppp, Mbah!"


"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Ngek!"


※     ※     ※     ※     ※     ※     ※     ※


Pagi-pagi sekali Yosi sudah tiba di depan bangunan vila dengan motor matic-nya. Gadis itu terheran-heran karena di sana sudah terparkir dua buah kendaraan roda empat.


"Mobil siapa ya?" tanya Yosi memperhatikan kedua kendaraab tersebut.


Belum habis rasa penasarannya, dari dalam muncul sesosok laki-laki yang telah lama dia kenali, sebagai ....


"Pak Broto?" gumam Yosi terkejut.


Laki-laki berkumis tebal dan penuh karisma itu tersenyum, berjalan menghampiri gadis tersebut. "Hai, Yos. Apa kabar?"


"B-ba-i-k, Om," jawab Yosi gugup.


"Bapakmu, Pak Betrand, mana? Kok, gak ikut ke sini?" tanya Pak Broto dengan senyumnya yang penuh arti.


Yosi gelagapan. "Bapak ... sedang sakit, Om."


Pak Broto manggut-manggut sambil memainkan ujung kumis dengan jemarinya seperti sedang berpikir. "Sakit ya? Sakit apa?"


Lama Yosi terdiam dengan perasaan tak menentu. "Asma, Om."


"Ooohh ... sudah sembuh sekarang?" 


"Belum, Om."


"Bisa bangun dan berjalan, kan?" Pertanyaan aneh Pak Broto, seperti tengah menyelidiki Yosi dan keluarganya.


"Kadang-kadang, Om."


"Ooohh ... " kembali Pak Broto tersenyum penuh arti. " ... tapi semalam Pak Betrand bisa jalan ya, katanya?"


Yosi menatap wajah Pak Broto yang masih mengumbar senyumnya. "Maksud Om Broto bagaimana? Saya belum ngerti."


Pak Broto berjalan mengelilingi Yosi yang berdiri mematung sambil menundukkan wajah. Gadis itu merasa ada yang tidak beres dengan sikap majikannya tersebut.


"Akting kalian berdua semalam ... sungguh luar biasa!" Pak Broto mulai membuka penuturannya.


"Maksudnya apa ya, Om?" Yosi masih berpikir keras.


"Sudahlah, Yos. Gak usah berpura-pura terus. Kedok kalian selama ini sudah terbongkar," ujar Pak Broto menghentikan langkahnya tepat di depan Yosi berdiri. "Semalam, saya ikut menyaksikan sebuah pertunjukan yang benar-benar spektakuler. Anaknya berperan sebagai perempuan yang kerasukan, dan bapaknya ... begitu menjiwai perannya sebagai seorang dukun. Hebat! Mantap! Two thumbs up! Kalian berdua layak mendapatkan piala Oscar! Menakjubkan!"


Yosi sudah memahami ke arah mana Pak Broto akan melanjutkan pembicaraannya.


"Sudah lama ... saya curiga bahwa kalian berdua telah banyak melakukan suatu hal yang tidak baik dan tidak terpuji. Malah menurut saya ... memalukan!" Pak Broto menatap wajah Yosi yang tertunduk. "Menipu orang lain, mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan, sekaligus ... memperkaya diri dengan cara yang sangat menjijikan. Kamu tahu siapa pemuda yang bernama Hodi itu?"


Yosi masih terdiam.


"Dia itu keponakan saya, Yos. Dia sengaja kukirim ke sini, sebagai umpan untuk membuka kelakuan keluarga kalian selama ini ... " Hodi, Bram, Lena dan Irene keluar bersamaan dari dalam vila, menatap wajah Yosi yang sudah memerah padam menahan rasa malu. "Sudah berapa orang yang menjadi korban penipuan kalian dengan modus semacam ini? Meminta bayaran penuh atas biaya sewa vila saya, lalu kalian buat cerita mistis sekaligus drama horor seperti tadi malam. Akhirnya korban dirugikan dan kalian diuntungkan sepertiga kali lipat. Wah, very smart!"


Yosi mulai menangis menyesali perbuatannya beserta kekuarga.


"Sayang sekali, Pak Betrand tidak ikut dalam seremonial hebat pagi ini. Menurut saya, lebih baik jangan. Beliau sudah tua dan ... tenang saja, Yos, saya tidak akan memperkarakan kamu dan keluargamu ke jalur hukum, tapi sebagai konsekuensinya ... saya tidak bisa melanjutkan hubungan kerjasama saya dengan keluargamu. Cukup sampai di sini saja. Saya tidak akan memberi kalian pesangon atau apalah namanya, karena harga sewa yang telah kalian tarifkan untuk keponakan saya beserta teman-temannya ... juga dari korban-korban lainnya, saya rasa cukup bagi kalian untuk dijadikan modal usaha lain. Sebagai penutup acara perpisahan saya dengan keluargamu pagi ini, maka perkenalkan asisten saya yang baru .... "


Yosi mengangkat wajah dan tatap arah matanya mengikuti ayunan tangan Pak Broto pada sesosok laki-laki yang berjalan menghampiri mereka sambil tersenyum simpul ....


"Juan ... ?" bisik Yosi begitu mengenali sosok laki-laki muda yang sudah dekat sejak masa kecil dulu.


"Hai, Yos. Jangan kaget ya? Dari dulu aku sudah menasehatimu untuk tidak melakukan hal-hal bodoh itu, tapi kalian keras kepala. Terpaksa, aku mengorbankan persahabatan kita selama ini dan lebih memilih untuk menghindarkan calon korban-korban lainnya dari tipu muslihat kalian melalui drama ... KESURUPAN! Maafkan aku, Yos!" ujar Juan sambil tersenyum.


Yosi tak bisa berkata apa-apa lagi, karena perlahan pagi yang sudah mulai terang ini, kembali meredup dan gelap gulita di pelupuk matanya.


...~ S E L E S A I ~...

__ADS_1


__ADS_2