
...ARWAH PENASARAN...
...Penulis : David Khanz...
...------- o0o -------...
Sore itu di tengah rintik hujan dan gelegar petir bersahutan, warga Kampung Kedawung dikejutkan oleh suara teriakan seorang laki-laki tua yang berlari-lari dengan wajah ketakutan. Beberapa kali ia terjatuh di atas tanah basah dan licin, lalu bangkit kembali sambil terus berteriak di depan rumah-rumah warga.
"Ada mayat! Tolong, ada mayat!"
Beberapa penghuni rumah tergopoh-gopoh keluar menghampiri laki-laki tua itu.
"Ada apa, Pak?" tanya salah seorang warga sambil membetulkan letak sarungnya yang hampir melorot.
"Ada mayat!" jawab laki-laki tua itu seraya menunjuk-nunjuk suatu tempat.
"Di mana?" tanya warga itu kembali dengan rasa kejut dan penasaran.
"Di dekat bukit sungai sana!"
Serentak warga menoleh ke arah tempat yang ditunjuk si laki-laki tua. Tidak terlalu jauh dari pemukiman mereka, namun sangat riskan pergi ke sana di tengah cuaca yang sedang tidak bersahabat seperti itu.
"Baik, Bapak pergi ke rumah kepala kampung dan laporkan kejadian ini pada beliau. Kami bersama beberapa warga akan memeriksa tempat yang Bapak sebutkan tadi," ujar salah seorang warga tadi sambil memberi kode pada tetangga depan rumah agar mengikutinya.
Tanpa diminta dua kali, laki-laki tua itu segera bergegas menuju rumah kepala kampung sambil kembali berteriak, "Ada mayat! Ada mayat di dekat bukit sungai!"
"Jarwo, Slamet, Narto dan Bejo! Ikut saya sekarang!" warga yang berbicara dengan laki-laki tua tadi memberi perintah pada beberapa orang tetangganya yang berkerumun di depan rumah.
"Ke mana, Mas Joko?"
"Ke bukit sungai! Memangnya ke mana lagi?"
Mereka mengangguk-angguk sebentar lalu bergegas mengikuti langkah kaki lelaki yang bernama Joko itu dengan telanjang kaki.
Untunglah di saat itu hujan mulai mereda. Pekik langit pun sudah tak terdengar. Jadi mereka bisa berjalan menyusuri pematang sawah yang licin tanpa rasa khawatir.
Tidak berapa lama mereka berlima sudah berada di tempat tujuan. Mencari-cari sebentar di antara rimbun pepohonan dan ilalang, sampai kemudian salah seorang dari mereka tiba-tiba berteriak, "Mayatnya ada di sini!"
Serentak keempat laki-laki itu berlarian menuju tempat yang dimaksud.
"Ya, Tuhan!" seru mereka berbarengan begitu melihat sesosok tubuh terbujur kaku dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
Bagaimana tidak, seluruh tubuhnya sudah membengkak biru. Tertutup sebagian badannya dengan pakaian yang sudah compang-camping. Namun dibeberapa bagian lagi tampak terbuka seperti bekas direnggut paksa. Terutama dibagian-bagian auratnya. Mayat seorang wanita muda yang mereka kenal sebagai Janda Kembang Kampung Kedawung, bernama Suratmi.
Yang lebih mengenaskan lagi adalah pegelangan tangan sebelah kanan putus bercampur darah yang sudah membeku. Buntung tak berjari. Entah ke mana bagian yang hilang itu.
Sepertinya sudah beberapa hari sosok tubuh itu kehilangan nyawa. Buktinya, semerbak bau bangkai menyengat seketika saat para laki-laki tiba di sana.
"Jangan sentuh mayat itu! Tunggu sampai kepala kampung tiba di sini!" Joko memberi perintah pada keempat tetangganya sambil menutup hidung.
Beberapa di antara mereka bahkan sampai muntah-muntah setelah mencium aroma jasad yang sudah mulai membusuk itu.
Selang beberapa lama, Kepala Kampung Kedawung tiba di tempat itu bersama warga dan seorang laki-laki tua berambut serta janggut panjang yang sudah memutih. Mbah Jambrong namanya. Seseorang yang dipercaya warga sekitar memiliki ilmu kanuragan yang ditakuti penghuni alam astral.
Mbah Jambrong langsung mendekati sosok mayat itu sambil komat-kamit membaca rapalan kalimat dengan bahasa yang aneh dan tak dimengerti. Lalu menghentakan kakinya ke tanah dengan keras sambil berseru keras.
"Huuaaaaa .... !!!"
Sebagian warga yang ada di tempat itu, mundur beberapa langkah sambil mengusap dada, terkejut.
__ADS_1
"Bungkus mayat itu dengan kain dan segera kuburkan sebelum malam tiba!" Mbah Jambrong memberi perintah pada warga.
Tak menunggu lama, beberapa warga segera mendekati mayat itu dan bergegas melaksanakan perintah. Walaupun harus sambil menahan nafas karena sengatan bau busuk yang menyesakan.
"Ada yang melihat sisa bagian tubuh mayat yang hilang itu?" Mbah Jambrong mengitari pandangannya ke seluruh warga yang ada di sana. Tidak ada yang bersuara dan semuanya serempak menggelengkan kepala.
"Apakah Suratmi dibunuh seseorang, Mbah?" Kepala Kampung Kedawung bertanya dengan suara pelan pada Mbah Jambrong. Khawatir percakapannya didengar warga.
"Dia dibunuh setelah sebelumnya diperkosa, Ki," jawab Mbah Jambrong dengan nada suara yang sama.
"Bagaimana Mbah bisa tahu?" selidik kepala kampung penasaran.
Laki-laki tua berambut dan berjenggot panjang putih itu menarik nafas sejenak, "Aki lihat kondisi pakaiannya yang robek di bagian dada dan alat vitalnya, kan?"
"Apakah mungkin dia juga jadi korban perampokan?"
"Apa maksudmu?" Mbah Jambrong melirik ke arah kepala kampung.
"Pegelangan tangannya buntung seperti bekas tebasan senjata tajam. Dan yang aku tahu, janda itu punya perhiasan yang selalu dikenakan di bagian tangannya yang hilang itu, Mbah," bisik kepala kampung.
"Rupanya Aki juga sering memperhatikan Janda Kembang kampung kita, ya?" Mbah Jambrong mengekeh memperlihatkan barisan giginya yang berwarna kecoklatan.
"Aku, kan, kepala kampung di sini. Sudah sewajarnya selalu memperhatikan setiap wargaku sendiri, Mbah!" rutuk kepala kampung sambil mendenguskan nafasnya, gusar.
Mbah Jambrong kembali terkekeh pelan.
"Mayatnya sudah kami bungkus, Mbah. Mau dikuburkan di mana?" tanya salah seorang warga setelah selesai melaksanakan perintah Mbah Jambrong tadi.
"Tentu saja di tempat biasa, Anak Muda!" jawab Mbah Jambrong dengan suara keras menggetarkan, "bawa sekarang dan langsung kuburkan sebelum malam tiba!"
"Baik, Mbah."
Serentak beberapa orang warga segera menggotong jasad itu dan membawanya ke tempat yang dimaksud.
Malam pun mulai merayap menyelimuti angkasa. Langit perkampungan Kedawung turut menghitam. Kesunyian yang mencekam setelah kejadian sore tadi, membuat para penghuni rumah lekas menutup rapat pintu dan jendela. Tidak seperti biasanya, kali ini mereka lebih memilih mengurung diri dalam satu kamar bersama keluarga disertai rasa takut.
Mereka khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan terkait kematian Suratmi yang tidak wajar itu. Mungkin saja arwahnya akan gentayangan atau bisa juga bakal menuntut balas orang-orang yang telah menghilangkan nyawanya.
Benar saja, keesokan paginya warga Kampung Kedawung ramai membicarakan kejadian-kejadian aneh yang mereka temui semalam. Kebanyakan dari mereka bercerita bahwa malam tadi terdengar ada suara tangisan perempuan yang memilukan di luar rumah mereka sambil berkata tak henti-hentinya, "Kembalikan tanganku!"
Tak ada satupun warga yang berani melihat atau sekedar mengintip keluar untuk mengetahui asal suara itu terdengar. Nyali mereka mendadak musnah berganti rasa takut yang teramat sangat.
Kejadian itu berlanjut hingga malam-malam berikutnya. Warga Kampung Kedawung selalu dihantui suara-suara pilu tangis seorang wanita disertai ucapan yang sama seperti malam sebelumnya.
Puncak ketakutan warga pun terjadi. Tepat dihari ketujuh setelah kematian Suratmi, esok paginya, warga menemukan sosok Mbah Jambrong tergeletak di dalam rumahnya dalam keadaan tak bernyawa. Tubuhnya bersimbah darah dan pakaian yang dikenakannya pun robek tak beraturan. Persis seperti kondisi pada saat mayat Suratmi pertama kali ditemukan.
Kini ketakutan warga pun bertambah. Dihantui arwah Suratmi dan juga Mbah Jambrong yang dikenal sakti namun mati dalam keadaan sama-sama mengenaskan.
Dan kini sore pun merayap remang. Kegelapan alam mulai menebar cekam. Seperti yang terjadi pada keluarga Joko, misalnya.
"Kalian tidurlah dulu di dalam kamar. Aku akan berjaga-jaga di ruang depan," kata Joko pada anak istrinya.
"Apa yang akan kau lakukan, Mas?" istri Joko gemetar menahan rasa takut sambil memeluk ketiga anaknya.
"Aku hanya ingin melindungi kalian dari makhluk-makhluk penebar teror menakutkan itu," jawab Joko sambil bergegas mengambil sebilah parang yang terselip di dinding bilik rumahnya.
"Hati-hati, Mas."
"Doakan saja."
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu depan rumah.
TOK! TOK! TOK!
Sepontan Joko menghunuskan parangnya ke arah pintu sambil pasang kuda-kuda, "Siapa?!"
Hening tak ada jawaban.
"Siapa di luar?" Seru Joko lebih keras.
Masih belum ada jawaban.
TOK! TOK! TOK!
Anak istri Joko semakin ketakutan.
"Siapa itu? Jawab!" Teriak Joko semakin keras.
TOK! TOK! TOK!
"Bangsat! Kutebas kau! Siapa pun yang ada di luar dan mengganggu keluargaku!"
Joko kembali menghunuskan parangnya dan bergegas membuka pintu rumah dengan amarah yang memuncak.
"Astaga!" Joko berseru kaget begitu pintu terbuka lebar.
Dalam keremangan lampu minyak kelapa yang menempel di dinding luar rumah, tampak sesosok wujud menakutkan berdiri kaku menatap sayu ke arah Joko. Wajahnya putih memucat dengan keadaan tangan buntung tak berjari. Yang lebih mengejutkan lagi, justru ada sosok potongan pegelangan tangan lain yang bergerak menunjuk-nunjuk wajah Joko. Seakan siap menusuk dan mencongkel kedua bola matanya.
"Kembalikan tanganku!" ujar sosok itu lirih sambil menangis.
"Aku tidak tahu di mana tanganmu!" jawab Joko ketakutan, "bukankah itu tanganmu sendiri yang sedang kau cari-cari?"
Joko menunjuk potongan tangan yang melayang mendekatinya sambil mengacungkan jari telunjuknya.
"Itu bukan tanganku. Itu tangan laki-laki tua jahanam yang kalian panggil Mbah Jambrong!" jawab sosok menakutkan itu sambil terus menangis. "Aku menginginkan tanganmu sebagai penggantinya!"
"Tidak! Jangan!" pekik Joko seraya mundur beberapa langkah menjauhi potongan tangan yang terus mendekatinya.
"Ambil tangan laki-laki itu dan bunuh dia!"
"Tidaaaaakkkk .... !!!"
Tiba-tiba potongan tangan itu melayang dengan jari telunjuk yang mengacung siap menusuk jantung Joko. Di saat-saat genting itulah secepat kilat Joko menahan laju pergerakan sosok telunjuk itu dengan telapak tangannya yang terbuka. Dan ....
SET!
Secara tidak sengaja sosok telunjuk ? yang mengacung itu berbenturan dengan jari jempol ? Joko. Awalnya tidak terjadi apa-apa, namun tiba-tiba ....
"Aaaaakkuu kkaaaallllaaaahhh ... !!!" jerit sosok mengerikan itu sambil menangis kecewa, "tidaaaakkk ... ! Aku kalaaaaahhh ... !!!"
Lalu perlahan kedua wujud menakutkan itu pun menghilang, menyisakan jerit menyayat hati di atas langit.
"Aku kalaaaahhh ... !!!"
Joko mengusap wajahnya yang berpeluh basah. Dengan sisa tenaganya yang melemah, dia melangkah sempoyongan ke luar rumah.
"Terima kasih, Tuhan. Engkau telah membantuku mengalahkan makhluk terkutuk itu!"
Setelah kejadian itu, wargapun tak pernah lagi dihantui arwah-arwah yang kalah bertaruh dengan Joko semalam.
__ADS_1
Selamat ya, Mas Joko!
...T A M A T...