
...JOERIG COEROEK...
...Penulis : David Khanz...
...------- o0o -------...
Hawa panas langsung membakar sekujur tubuh, begitu memasuki kamar Esih, adikku. Dia terbaring di atas tempat tidur dengan kondisi tangan serta kaki terikat kuat dengan seutas tali yang terpaku pada sisi ranjang. Mata Esih terbelalak mengerikan dengan warna bola mata memerah. Erangan keras dan kuat sesekali terdengar dari mulutnya yang menganga lebar, menebarkan aroma busuk. Wajah memucat dengan gerai rambut panjang yang tak beraturan, meneror ciut nyali bagi siapa pun yang memandangnya.
“Siapa kau?” tanya Esih dengan suara berat dan asing terdengar, begitu kumendekati sosoknya yang terus meronta.
“Aku Galih, kakakmu, Esih! Aku baru datang dari pondok pesantren dan ingin menolongmu,” jawabku miris dengan keadaan Esih seperti itu.
“Aku bukan Esih dan aku tidak tahu siapa kamu, Anak Muda!” ujar Esih disertai tawa keras terbahak memenuhi ruang kamar yang sempit dan bau.
“Kalau bukan Esih, lalu siapakah kau sebenarnya? Mengapa berada dalam tubuh adikku dan menganggunya? Keluarlah segera! Pergi ke tempat asalmu!” kataku sambil melafalkan ayat-ayat suci. Tawa Esih malah semakin keras dan panjang. Dengan pongahnya dia menatapku lalu meludah.
“Jangan campuri urusanku, Anak Muda! Aku akan membuat gadis ini menderita dan mati perlahan! Kaulah yang seharusnya pergi sebelum kubunuh!” seru Esih dengan lengkingan suara yang serasa menusuk gendang telingaku.
Lafalan ayat-ayat suci semakin kukeraskan. Akibatnya, Esih mulai menjerit-jerit sambil meronta hendak melepaskan diri dari jeratan temali yang membelenggu.
Hampir selama dua pekan ini, Esih terbujur kaku di dalam kamar. Sakit yang menderanya begitu aneh. Awalnya sering jatuh pingsan dan termurung sendiri sambil menceracau tak karuan. Kadang disertai tawa yang aneh menggidikan. Terakhir kali, dia mencoba melukai dirinya sendiri dengan sebilah pisau yang disayat-sayat pada sekujur tubuh. Untunglah, keluargaku dibantu beberapa tenaga tetangga laki-laki, buru-buru mengamankan Esih. Mengikat tangan serta kakinya di atas tempat tidur.
Aku sedang berada di pondok pesantren, ketika kabar itu disampaikan. Siangnya aku langsung pulang, setelah sebelumnya berpamitan pada Kyai Haji Farzan, pemilik sekaligus guru besar pesantren, tempatku menimba ilmu agama ini.
“Hati-hati ya, Nak! Berserahlah diri hanya kepada Gusti Allah dan mohon diberikan petunjuk serta kekuatan dariNya! Gunakan akal sehat sebelum mengedepankan nafsu amarah! Aku akan membantu do’a dari sini!” begitu nasihat Kyai Haji Farzan sesaat sebelum kulangkahkan kaki meninggalkan kediaman beliau.
Sorot mata sayu sosok panutanku itu, terlihat begitu tenang dan berkharisma. Beberapa kali pundakku ditepuk dengan lembut, namun terasa kuat mencengkeram. Setiap kali tepukan telapak tangannya mendarat dipundak, saat itu juga terasa seperti ada energi yang masuk ke dalam tubuhku. Lalu berkumpul dalam satu titik bagian tubuh dan serta merta membuat jiwaku bangkit dengan keyakinan dan keberanian yang kuat. Entahlah apa yang beliau lakukan. Aku sendiri bingung.
Perjalanan menuju kampung halaman, lumayan, cukup jauh dan melelahkan. Diantar sebuah angkutan umum yang lapuk dan berdecit nyaring, setiap kali menginjak permukaan jalanan yang penuh dengan bebatuan dan tanah bergelombang. Memakan waktu hampir setengah hari penuh perjalanan. Walaupun akhirnya tiba juga di tanah kelahiran menjelang petang hari.
“Esih … Esih … tolonglah dia, Galih!” ujar Emak menyambut begitu aku sampai di depan pintu rumah.
Langsung di hambur peluk penuh kerinduan seorang ibu pada anaknya.
“Ada apa dengan Esih, Mak?” tanyaku seraya mengusap air mata ibu yang mengalir deras membasahi pipi tuanya.
“Dia sakit, Galih!” jawab Emak disertai isak tangis yang belum kunjung reda.
“Mengapa tak dibawa berobat ke dokter saja, Mak?”
Aku mulai bingung.
“Ini bukan sakit biasa, Nak! Sudah beberapa mantri, dokter, tabib sampai dukun yang dimintai tolong mengobati Esih, namun belum ada seorang pun yang mampu menyembuhkan!” Emak mulai bercerita setelah mulai tenang dan tarikan nafas teratur memenuhi rongga dada.
“Kok, bisa seperti itu, Mak?”
“Esih sakit terkena guna-guna, Galih! Terakhir kali, seorang dukun yang mencoba mengobatinya malah mati terbunuh oleh sosok makhluk yang berada di balik tubuh Esih.”
“Sosok makhluk? Mungkin sebangsa jin atau ... ?” gumamku sambil berpikir keras bagaimana caranya menolong Esih.
__ADS_1
Jika seorang dukun saja mampu dibuat binasa, betapa berbahayanya sosok makhluk astral yang dimaksud emak tadi.
“Sepertinya makhluk yang menghuni tubuh Esih itu sakti mandraguna. Dia kerap kali menyerang orang yang mau menyembuhkan Esih itu cukup dengan mengacungkan jari telunjuk! Dan ... dengan telunjuknya itulah salah seorang dukun terkenal di kampung sebelah mati mengenaskan dengan kondisi kulit perut robek besar serta usus terburai menjijikan!” salah seorang warga yang kumintai keterangan bercerita panjang lebar.
Tampak sekali ketakutan menyelimuti wajah-wajah mereka. Sampai-sampai, begitu usai bercerita mereka buru-buru masuk ke rumahnya masing-masing. Langsung menutup rapat pintu serta daun jendela rumah.
“Hati-hati dengan makhluk itu, Nak! Aku sarankan, sebaiknya kamu urungkan niatmu untuk menolong Esih, sebelum terbunuh seperti yang lainnya!” yang satu ini adalah suara Kepala Kampung yang turut berkumpul di antara kerumunan warga.
“Terima kasih atas nasihatnya, Pak! Insyaa Allah, aku sudah bertekad dan berniat untuk membantu Esih, apapun yang akan terjadi. Aku mohon do’anya, Pak,” jawabku pada sosok laki-laki tua berkumis serta janggut putih lebat itu.
“Anak tidak tahu diri! Aku sudah mengingatkanmu, Anak Muda! Sebagai Kepala Kampung, aku tak akan bertanggung jawab, jika sesuatu yang buruk terjadi padamu!” gumam laki-laki tua itu kembali sambil memperhatikanku dari kejauhan.
Sorot matanya memancarkan bias kekhawatiran yang melanda hati, disertai dengan bibir yang tertutup kumis tebalnya yang tampak bergerak-gerak, melafalkan bacaan-bacaan dengan bahasa yang tak difahami.
Aku memejamkan mata dan menutup telinga, begitu Esih menjerit dengan lengkingan suaranya yang menyakitkan. Sumpah serapah berhamburan disertai bahasa kotor dan tak sepatutnya diungkapkan, “Bedebah! Hentikan suara-suaramu itu, Anak Muda tolol!”
Aku tak peduli dan terus membacakan ayat-ayat suci dengan keras. Tubuhku bergetar kuat menahan serangan hawa panas yang mulai mengepung seisi kamar. Kondisi ruangan yang semula temaram dengan penerangan lampu templok kecil berbahan minyak kelapa, tiba-tiba berubah memerah seperti darah segar berbau amis. Esih meronta kuat hendak membebaskan diri dari jeratan tali yang mengikatnya. Sampai akhirnya, satu persatu temali itu putus dengan kekuatan yang sulit dibayangkan.
Beberapa penghuni rumah yang mengintip di balik pintu kamar Esih, serentak berhamburan ke luar karena sudah tak kuat dengan hawa panas menyebar dan berbau busuk. Ada yang mencoba bertahan dan berjaga-jaga untuk membantuku, namun akhirnya mereka menyerah dan segera berlari keluar dengan kondisi tubuh melepuh. Mengeluarkan uap seperti daging terpanggang.
Kini, aku sendiri yang harus menghadapi kekuatan makhluk yang berada dalam tubuh Esih itu, dengan segenap kekuatan yang entah dari mana datangnya. Peluh mulai membanjiri sekujur tubuh. Membasahi seluruh pakaian yang kukenakan. Di saat itu pula, aku seperti tak ingin melewatkan satu nafas pun untuk terus membacakan ayat-ayat suci dengan lantang.
Esih bangkit dari tempat tidur. Seluruh belenggu yang menahan tubuhnya terputus. Dia menggeram sambil menatapku menggidikan. Tangannya mulai terangkat ke atas dengan jemari yang terbuka.
“Sudah kuperingatkan sebelumnya, agar kau tidak mencampuri urusanku, Anak Muda! Kini, harus kau tanggung semua akibatnya dengan nyawamu sendiri!” seru Esih dengan suara berat tidak seperti layaknya suara lembut seorang perempuan muda.
Telunjuk Esih mulai menunjuk mukaku dan siap menghunus dengan ujung kuku yang panjang serta runcing. Aku bersiap-siap untuk menahan serangannya. Perlahan memasang kuda-kuda dengan renggangan kedua kaki yang terbuka serta bertumpu pada kekuatan kedua lutut.
“Ya Allah ... lindungilah, anakku Galih! Berilah dia kekuatan untuk membinasakan makhluk-Mu yang jahat itu!” Emak menangis pilu di tengah-tengah kerumunan warga yang memadati halaman rumah.
Mereka ingin menyaksikan pertarunganku dengan makhluk yang mengganggu Esih.
Beberapa saat kemudian terdengar teriakan nyaring suaraku yang membahana. Hampir semua orang yang ada di sekitar tempat itu, ikut berteriak dan mengiraku telah terluka.
“Galiiiihhhh!” teriak emak hendak menghambur masuk ke dalam rumah namun dicegah beberapa warga, “apa yang terjadi dengan anakku?”
Tak berapa lama kemudian, muncul sesosok tubuh Esih yang berjalan limbung di antara pintu yang terbuka lebar. Serentak warga yang berkerumun, mundur perlahan ketakutan. Esih terus melangkah dan mulai menunjuk-nunjuk ke arah warga.
“Di mana kepala kampung kalian berada?” tanya Esih sambil tertawa keras.
Beberapa warga mencoba untuk menjawab dengan suara ketakutan,”Tadi kami lihat beliau berada di rumahnya, Mbah!”
Esih kembali tertawa.
“Kini giliran dia yang akan kubunuh! Karena aku telah gagal membunuh anak muda itu! Hahaha.” Suara tawa Esih perlahan menghilang bersamaan dengan ambruknya gadis itu di atas tanah.
Tubuhnya terbujur kaku.
“Esih …. ”
__ADS_1
Warga ragu untuk mendekat karena masih diliputi rasa takut.
“Tak apa-apa, tolonglah dia. Bawa kembali ke dalam rumah. Makhluk itu sudah pergi dan tak akan pernah kembali lagi mengganggu Esih,” kataku di ambang pintu rumah sambil menahan rasa sakit yang menghujam dada.
Ada beberapa tetes darah segar yang keluar dari mulut dan membasahi bajuku yang masih basah oleh keringat.
“Galih .… ” emak memanggil dan segera menghambur memeluk, “kamu tak apa-apa, Nak?”
“Alhamdulillah … aku sehat wal’afiat, Mak! Hanya sedikit luka dalam. Beberapa hari ke depan juga, Insyaa Allah, akan pulih kembali.”
Akhirnya, beberapa warga memberanikan diri menolong Esih yang tergeletak belum sadarkan diri dan segera membawanya masuk ke dalam rumah. Beberapa di antara mereka membantu memapahku yang masih lemah dan terhuyung saat mencoba melangkahkan kaki.
“Kamu hebat, Nak! Bisa mengalahkan makhluk jahat itu!” ujar salah seorang warga sambil membantuku duduk di atas balai depan rumah.
“Semua karena pertolongan Allah, juga do’a dari Emak, guru serta warga sekalian,” jawabku menahan rasa sesak saat menarik nafas panjang.
“Rupanya kau ini bukan anak muda biasa. Kau pasti memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, Nak.”
“Tidak juga, Pak! Aku hanya manusia biasa seperti yang lainnya. Tidak ada ilmu kesaktian yang dimiliki. Hanya teringat pesan guru di pondok pesantren sesaat sebelum makhluk itu mencederaiku lebih lanjut.”
“Apa bunyi pesan yang disampaikan gurumu itu, Nak?”
“Ingat selalu kepada Gusti Allah dan gunakan akal sehat.”
“Gunakan akal sehat?”
Aku tersenyum, “Aku perhatikan sejak awal bertemu makhluk itu, dia senantiasa menunjukan jari telunjuknya padaku! Bahkan saat mulai menyerang tadi! Dan .… ”
“Dan apalagi?”
“Sebelum aku kehabisan tenaga, makhluk itu bersiap-siap hendak menghabisiku dengan serangan jari telunjuknya. Di saat itulah aku berinisiatip untuk melawan dengan jurus yang sama.”
“Apa itu?”
“Jari jempolku.”
“Kok, bisa?”
“Ketika jari telunjuknya bertemu dengan jari jempolku … tiba-tiba dia mengaku kalah, dan berjanji akan pergi dari kampung ini. Sekaligus meninggalkan tubuh Esih yang selama ini dia huni.”
Sebagian warga mengangguk-angguk sambil mempraktekan telunjuk dan jempolnya dipertemukan, “Telunjuk memang kalah dengan jempol! Berarti kalau ada setan kelingking bisa kalah dengan telunjuk. Setan jempol pasti kalah juga kalau dikasih kelingking! Hihihi … iya juga, ya? Permainan bocah! Hikz hikz hikz!”
“Lalu mengapa makhluk itu mencari-cari kepala kampung?”
“Dia yang ada di balik semua ini. Dia juga yang sengaja mengguna-gunai Esih, karena adikku telah menolak cinta si duda itu!”
“Ya ampyun … kalau masalah cinta, mah, kenapa enggak ke eike aja, atuh? Atuh, pan, eike juga janda yang butuh belaian duda! Hihihihi .… ” celetuk seorang wanita setengah baya sambil tertawa dan memperlihatkan gigi depan yang sudah lama menghilang dari pondasinya.
Semua warga ikut tertawa terbahak-bahak ….
__ADS_1
...T A M A T...