
Hari ini adalah hari pertama disha sekolah. Gue hanya berharap semoga disha bisa memenuhi impiannya. Setelah pulang sekolah, gue bertemu dengan disha di jalan.
“hai kak” sapa disha dengan senyum lebar ke gue.
“hai” sapa gue juga dengan senyum gue lah masa senyum orang .
“eh eh tumben nih kakak ku tersayang mau senyum, emang kejadian langka nih” ucap anisa cengengesan eh lebih tepatnya ketawa dengan suara gede sampe orang orang ngeliatin anisa dengan tatapan tajam.
“ lo bisa diem ga!” bentak gue kesel karena tiba tiba anisa berkata seperti itu.
“eh iya kak maaf, mulai lagi deh heran aku” ucap anisa yang langsung berjalan mendahului gue dan disha. Gue dan disha tertawa dengan saling memandang satu sama lain.
“kamu itu cantik, jarang ada cewek cantik,baik, yang mau jalan kayak gini sama aku apalagi ngobrol, itu jarang banget” ucap gue yang keluar aja tu kata kata tanpa izin gue saat kami sedang jalan bersama.
“ eh kaka bisa ngomong aku kamu juga ternyata, emang kenapa kok pada gamau deket sama kakak si? Kakak kan orangnya baik tu, ganteng lagi” ucap disha sambil mengarahkan kepalanya kearah gue.
“ eh maksut gue tu bukan aku kamu, keblabasan aja gue. Alesan kenapa gue ga pernah ada yang deketin apalagi cewek, itu karena mereka takut kalok ada di samping gue” ucap gue sok menjelaskan.
“huu kak david nih alesan aja” ucap disha sambil tertawa.
“ gini ni punya kakak kekurangan cewek, eh kak disha itu temen aku kak malah jalan barengnya sama kakak ni gimana coba. Dan sha gausah ngobrol sama kakakku yang satu ini mending kita cepet cepet pulang deh” ucap anisa yang tiba tiba memotong obrolan gue dengan disha dan menarik disha untuk jalan lebih cepat. Gue sempat melihat kea rah disha yang melihat gue dari depan dan gue pun mengekspresikan kesal agar dia berbalik kearah gue, ternyata tidak ada perubahan. Dia semakin jauh dari hadapan gue dan gue malah ketemu sama ridho.
“wih kakak tersayang lagi jalan sendirian nih. Bareng aku yok kak kita lewat jalan pintas” ucap ridho sambil menaik naikkan alisnya.
“okelah kali ini gue ikutin lo” ucap gue yang langsung ditarik oleh ridho ke jalan pintas tersebut.
Gue dan ridho sampai rumah dan benar saja, anisa dan disha belum sampai rumah. Gue langsung ganti baju dan duduk di ruang tamu dengan ridho.
“ kak main ps yok” ajak ridho.
“ yaudah deh ayok” jawab gue.
“wih wih jarang jarang nih kakak tersayang mau diajak main ps. Kejadian langka nih” ucap ridho sambil tertawa.
Setelah beberapa menit bermain, gue denger suara anisa dan disha.
“loh kok kak david dah sampek si? Kan tadi masih dibelakangnya aku sama anisa” ucap disha.
“kan gue hebat, ajaib gue tuh bisa cepet kalok ke mana mana” ucap menyombongkan diri.
__ADS_1
“elah kak juju raja napa si kak kalok kakak tu lewat jalan pintas bareng aku heran deh adek sendiri serasa ga dianggep gue” ucap ridho sambil bermain game. Ucapan ridho gue kasih tatapan tajam yang membuat ridho menunduk.
“aelah kak adek sendiri itu kasian banget masih kecil udah kena tatapan tajam macem silet gitu. Kalok ridho nangis gimana coba kak” ucap anisa dengan santainya.
“maaf kak ni mulut gabisa di ajak kompromi main ngomong aja ga kerjasama dulu sama otakku” ucap ridho dengan mata berkaca kaca menatap gue.
“ serah kalian deh mau gimana, capek gue kena komentar kalian terus. Mending gue ngerjain tugas abis itu tidur” ucap gue sambil melangkahkan kaki gue menuju kamar gue.
Disha savita pov
‘impian…
Lamunanku terasa menyejukkan relungan
Menggambarkan cinta dan kasih sayang
Sepi sunyi yang berubah menjadi kebisingan
Angin malam terasa hangat dipelukan
Lihatlah, banyak bintang menyambut sang rembulan
Seakan sang bulan memanggilku,untuk terus menatapnya
Semakin malam…aku mendengar kicauan burung mecari sangkarnya
Anak burung mencari orangtuanya
Ku titipkan pada kicauan burung dan sang rembulan,kerinduanku
Ku rindu ayahku, ku rindu ibuku
Kemana semua? Menghilang dengan perasaan yang sama
Apakah ayah marah padaku seperti ibu?
Ajak aku pergi saja ayah, biarkan ibuku bahagia
Bak tersusun kelopak mawar yang indah
__ADS_1
Semua tujuanku teleh rapih tersusun
Setiap diriku melangkah, aku akan melihat dunia yang nyata
Kemana semua harapanku? Apakah hilang untuk selamanya?
Mungkin inilah takdirku
Biarlah aku disini,sepi sendiri
Aku akan langkahkan kaki selalu menuju langit cerah
Bersama sang mentari yang bersinar indah’
Aku saat ini seperti kapas yang mudah pergi kemanapun. Tidak ada yang peduli tentangku. Hatiku sangat rapuh mendapat sayatan setiap aku melihat orangtuaku bertengkar.
Aku merasa beruntung karena di keterpurukanku ini, aku menemukan sosok teman sekaligus seorang kakak yaitu kak bima.
Saat itu, aku sedang ada di tengah jalan kecil yang sunyi dan cenderung gelap karena disekitar jalanan itu adalah hutan. Tiba tiba kak bima datang disaat aku sedang menangis meratapi nasibku.
" eh kamu siapa? Kenapa kamu ada disini? Ayo ikut kakak aja ya, disini itu ngeri banyak hewan buas" ucapnya dengan sangat lembut. Saat itu aku merasa seperti kak bima adalah malaikat atau bahkan kak bima adalah tuhan dalam wujud manusia? Itulah yang aku pikirkan.
Saat itu hanya satu hal yang aku lakukan, yaitu mengikutnya. Dia dengan lembut menenangkanku, membuatku menceritakan semua hal yang aku alami. Dia sangat perhatian, penyayang dan sabar mendengarkan ceritaku.
Sejak saat itu aku menjadi sahabat sekaligus adik dari kak bima, dia yang memintaku untuk menjadi adiknya selama aku menjadi sahabatnya.
Setelah kejadian itu, setiap aku pulang kerumah aku selalu mendapat banyak kejutan yang menyakitkan. Saat aku pulang setelah bertemu dengan kak bima, orangtuaku mengatakan sebuah fakta yang selama ini ditutupi sebuah drama. Mereka menjalankan drama teater di kehidupanku yang nyata tanpa memperdulikan hati dan perasaanku.
Mereka mengatakan bahwa aku bukanlah anak dari ayahku, dan tentu aku juga bukan anak dari ibu disha amanda lalu, aku anak siapa? Pertanyaan itu selalu teriang di kepalaku. Disetiap sikap ayah dan ibu semuanya bohong aku ditipu dengan sikap mereka selama ini.
Mereka meberi sebuah kejutan yang lebih besar lagi, mereka mengatakan bahwa aku anak kandung dari abhi gunawan, ayah dari disha amanda. Aku semakin bingung dengan kehidupanku.
Di saat yang bersamaan juga ibu tiriku yang selalu sayang padaku melemparkan tas berisi pakaian dan barang barangku ke hadapanku dengan kasar. Ibu tiriku bilang aku cuma menyusahkan mereka selama ini, aku hanya dijadikan sebuah bahan drama mereka agar anak kandung mereka, disha sebenarnya bisa menjadi orang yang selalu merasa beruntung dan menjatuhkanku di saat disha amanda sudah bahagia.
Bersambung...
bagi para teman teman yang udah membaca ceritaku ini tolong pencet tombol like dan pencet tombol love juga yaaaaaa!!!
jangan lupa okeee:)
__ADS_1