Pengorbanan Dalam Cinta Dan Benci

Pengorbanan Dalam Cinta Dan Benci
episode 2


__ADS_3

Dengan rasa sedih aku menurunkan uluran tanganku, dan aku mencoba tersenyum melawan rasa sedihku ini.


"o iya, ayo kita ke ruang utama. sambil makan makan juga yuk, aku laper ni hehe." kata kak disha membuyarkan pandanganku yang menatap kak arman sedari tadi.


"ayo kak, aku juga ingin makan kue."kata ku


"yaudah lah ayo kita ke ruang utama, daripada lama lama disini bisa mati kelaperan kalian nanti."


"ada ada aja sih man, yaudah ayo"kata kak disha yang terlihat bahagia mendengar gurauan kak arman.


bahagia rasanya jika aku berada di dekat kak arman, meskipun dia tidak menerima kehadiranku, walau hanya sebagai orang asing dimatanya. rasa sakit dihatiku, entah sejak kapan aku mulai merasa sakit hati melihat kak arman lebih senang bersama kakakku dari pada dengan ku. jika aku selalu berharap suatu hari kak arman akan menjadi milikku, apakah itu akan mungkin terjadi?


hanya allah yang mengetahui perasaanku dan hanya allah lah yang mengerti tentang harapan dan jodohku.


aku disini, melamun memikirkan semua yang sedang aku alami saat ini. tiba tiba....


"disha!"


aku sangat terkejut ketika ayah memanggilku dengan tegas. aku menjadi sangat takut melihatnya, entah apa kesalahanku sehingga ayah memarahiku.


"apa apaan ini, kamu malah diem disini. dasar anak gatau malu, masih mending saya mau nerima kamu, apalagi dengan kondisi wajah kamu yang jelek saya masih nerima kamu. kurang baik apa saya!"kata ayah dengan intonasi yang mengerikan. saking takutnya bahkan aku tidak berani menatapnya lagi.


"udah sana siapin minuman untuk para tamu!"


kata ayah.


dengan bergegas aku lari kedapur, dan aku tidak merasa bahwa air mataku jatuh begitu saja. aku memang tidak pernah merasakan kasih sayang ayah sejak aku masih bayi, ayah kandungku pasti akan menyayangiku jika dia masih hidup saat ini.


saat aku sedang membuat minuman untuk para tamu, ibuku datang menemuiku.

__ADS_1


"nak, maafin ibu. bu gabisa bantu apa apa, ngelindungin kamua aja engga. maafin ibu nak" kata ibuku sambil menangis memelukku.


"udah bu, gausah dipikirin. ayah kan memang begitu orangnya. setidaknya, dia masih mau menerimaku dirumah ini".


air mata ku menetes begitu saja tanpa diperintahkan, dan aku menangis bersama ibuku di dapur saat itu juga.


setelah malam itu, setelah tangisan malam itu bersama ibuku, aku menyadari bahwa aku memang harus tahu diri disini. tidak mungkin ibuku akan selalu menemaniku dan membelaku. adakalanya ibuku bahkan tidak bisa melakukan apa apa untukku selain menyemangatiku.


pagi ini, aku bagun dalam keadaan seperti orang gila. aku tertidur di kursi taman malam tadi. aku merasa sangat pegal pada tubuhku dan rasa gatal akibat gigitan nyamuk semalam.


"uhhh gatel banget si, hoammm....masih ngantuk pula,mana badan pegel semua"kataku sambil berusaha berdiri dari kursi taman.


"disha!" panggil kak disha dari kejauhan


"kok kamu bisa tidur diluar si?, aku nungguin kamu dari tadi malem. kenapa? kamu kena marah ayah lagi?"tanya kak disha


"e-engga kok kak"kataku dengan gugup


aku mengejarnya sampai meneriakan namanya, tapi kak disha tidak mau berhenti dan terus mencari ayahnya.


"kak disha tunggu kak!"kataku


terlambat sudah aku mencegah kak disha. kak disha sudah berada di hadapan ayahnya yang membuat gugup serta takut karena setelah kak disha memarahi ayahnya karena telah memarahiku, ayahnya tidak akan tinggal diam dan pasti akan menghukum ku.


"ayah! kenapa si selalu aja kayak gini. disha itu anak ayah juga, dia adiku yah!. aku gaterima ya yah, kalok ayah marahin disha dan hukum disha sesuka ayah, aku bakalan kabur dari rumah!"kata kak disha memarahi ayahnya.


"apa apaan ini!, ayah marahin dia karena dia gatau diri. hukuman dan marah ayah ke dia itu pantas buat dia terima!. gaakan ada yang kabur dari rumah ini, inget itu!"


"tapi yah-"kata kak disha yang langsung dipotong oleh ayah. "tidak ada tapi tapian! Ingat itu!"bentak ayah yang langsung meninggalkan kakakku sendirian.

__ADS_1


Kak disha menangis tersedu-sedu karena dia belum pernah dibentak seperti itu oleh ayahnya. "kak disha! Kak disha gak papa kan?, jangan nangis kak."kataku berusaha menenangkan kak disha.


"aku gapapa sha, aku cuma ngerasa marah, kesel, dan benci sama ayah aku sendiri! Dia gabisa menjaga perasaan anak anaknya."kata kak disha yang kecewa dengan sikap ayahnya.


"ayah sebenernya gak gitu kok kak. Dia cuman lagi marah aja sama aku jadi kayak gitu, udah kak kita pergi ke kamarnya aja ya." kataku menenangkan kak disha.


"......" kak disha tetap diam dan aku tau pasti banyak hal yang sedang ia pikirkan saat ini.


"ini kak diminum dulu airnya." kataku sambil menyodorkan air minum kepada kak disha. "aku gamau minum sha!, aku cuma mau sendiri di sini!"bentak kak disha yang membuatku kaget.


Aku langsung pergi dari kamar kak disha. Aku berlarian hingga aku bertabrakan dengan kak arman.


Brukkk. "apa apaan si lo! Kalok jalan tu yang bener!"kata kak arman marah kepadaku. "maaf kak, aku gasengaja" ucapku yang tak didengar olehnya. Ia bahkan pergi begitu saja.


Aku merasa akar dari semua permasalahan disini adalah aku. Untuk itu aku terpaksa harus kabur dari rumah ini dan pergi sejauh mungkin dari rumah ini tanpa ketahuan siapa siapa.


pada siang hari ini, aku merasa sangat gelisah karena kak disha terus mengurung dirinya sendiri di dalam kamar. aku merasa sangat bersalah dengan kak disha.


aku bingung dalam memilih langkahku sendiri, melihat kakakku yang belum keluar dari kamar entah mengapa aku sangat merasa bersalah dan aku ingin memutuskan langkahku siang ini juga.


aku mengemasi bajuku, dan tentunya aku mengemasi barang barang yang paling penting dalam hidupku. ini adalah awal langkahku yang aku pikirkan dengan matang.


malam pun tiba, kak disha bahkan belum mau keluar dari kamarnya. semua orang memilih tidur dan tak peduli dengan keadaan kak disha.


aku sudah siap pergi dengan barang barangku, namun aku tidak lupa dengan kakakku. aku memberi kakakku surat yang aku tulis melalui pintu. aku berharap kakakku bisa membaca isi surat itu dan tidak marah lagi kepada semua orang. aku juga tidak lupa dengan ibuku, aku datang ke kamar ibu dan memberikan kecupan terakhir sebelum aku meninggalkannya dan tidak lupa surat khusus yang aku letakkan di nakas kamar ibu.


Bersambung...


bagi para teman teman yang udah membaca ceritaku ini tolong pencet tombol like dan pencet tombol love juga yaaaaa!!!

__ADS_1


jangan lupa okeee:)


__ADS_2