Pengorbanan Dalam Cinta Dan Benci

Pengorbanan Dalam Cinta Dan Benci
episode 11


__ADS_3

Setiap dukaku saat ini selalu menusukku. Kenyataan yang pahit bahkan membenciku. Entah kesalahan apa yang ku perbuat.


Mereka mengatakan bahwa aku memang anak kandung ibuku amira tapi ayahku adalah abhi gunawan. Mereka bilang ibuku meninggal saat melahirkanku dan ayahku meninggal karena sebuah kecelakaan. Sungguh miris bukan, aku hanya dijadikan cermin persamaan disha agar dia bisa menjadi orang yang kuat dan membuatku lemah dengan kasih sayang palsu mereka. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah itu dan mencari seridaknya rumah kecil untukku bernaung.


Meski dalam hidup yang serba kekurangan, banyak orang yang membantuku. Ada yang membantuku untuk mencari tempat tinggal baru, ada yang menyerahkan kontrakannya dengan harga murah kepadaku, ada yang menerimaku bekerja, bahkan orangtua kak bima menyekolahkan ku dengan uang mereka dan ada yang selalu mendapingiku, kak bima.


Aku dan kak bima berjalan kaki menuju sekolah. Aku selalu melakukan suatu hal bersama dengan kak bima setelah kejadian pahit itu. Aku dan kak bima saling membantu satu sama lain.


Aku dan kak bima bersekolah di sekolah yang menurut kami dekat dari rumah kami. Kak bima memang tidak memiliki banyak masalah di rumahnya, tapi dia selalu memberiku nasihat seakan akan dia udah berpengalaman dalam menghadapi permasalahan ku.


Orangtua kak bima sangat sayang padaku. Mereka menganggapku seperti anak mereka sendiri. Mereka juga selalu mengajakku ke rumah mereka untuk tinggal saja di sana, tapi aku selalu menolak mereka. Entah mengapa dendam orangtua tiriku masih berlaku pada kehidupanku, bahkan orangtua kak bima pernah hampir ditangkap oleh petugas kepolisian hanya karena tuduhan orangtua tiriku yang mengatakan bahwa orangtua kak bima mencoba menculikku. Sejak saat itu aku tidak pernah main lama lama di rumah kak bima.


Sepulang sekolah, aku bekerja di salah satu rumah yang sedang membutuhkan pembantu. Aku mengerjakan segala hal, dari mulai mencuci piring, cuci baju, nyapu, ngepel, lap meja, lap kaca dan lain lain.


" hmm nak, kok kamu mau kerja kayak gini si nak? " tanya bu riska, pemilik rumah ini.


" itu bu hmm saya sedang mencari tambahan uang jajan kok bu" ucapku dengan senyum yang tidak ketinggalan. Sebuah tipuan sirkus kecil bukan? Meyakinkan orang bahwa orangtuaku masih tetap baik dan sayang padaku walaupun aku tau semua itu hanya kebohongan yang bahkan semua orang sudah mengetahuinya.


Aku selalu bekerja dengan giat dari pulang sekolah sampai larut malam supaya aku bisa membayar sekolah ku sendiri dan bisa membayar uang kontrakan yang aku tinggali tanpa menyusahkan siapapun.


Langit mulai menampakkan warna kebiruannya, sang mentari mulai memancarkan cahaya yang membuatku menggeliat dari tempat tidurku.


Udara pagi terasa sejuk meskipun aku masih mengantuk pagi ini. Pekerjaan yang aku jalani saat ini sungguh melelahkan, tapi semangatku tetap membara untuk menghidupi diriku.


Sudah lama aku tidak merasakan kebahagian keluargaku yang lalu, tapi aku selalu berfikir dan berharap bahwa suatu hari mereka akan bangga denganku dan mau memelukku seperti dulu.

__ADS_1


Saat ini, aku hanya memiliki tantangan dan harapan yang membuatku tetap hidup. Memiliki kak bima sebagai temanku sudah lebih dari cukup bagiku.


Pagi ini aku berangkat sekolah seperti biasa tapi ketika di jalan aku melihat seseorang yang berjalan mengendap -endap ke rumah kak bima.


Aku merasa bahwa orang itu adalah pencuri atau jangan jangan orang itu memiliki niat lebih jahat dari mencuri? Itulah yang aku pikirkan saat ini. Aku mengikuti gerak gerik dari orang yang mencurigakan ini yang semakin lama semakin jelas bahwa dia memang akan melakukan tindak kejahatan karena saat ini dia sedang memanjat pagar rumah kak bima.


Dengan sigap aku mengambil kayu balok yang ada di dekat kotak sampah jalan, lalu aku memukuli orang jahat itu.


" nih rasain! Turun ga lo! Kalok mau ngelakuin hal hal yang maksiat jangan disini woi rumah orang baik ini mah! "ucapku sambil memukulinya dengan ganas.


" eh eh berenti woi sakit ini! Gue tu bukan maling atau sapa pun lah apalagi berbuat maksiat! Masa gue berbuat maksiat dirumah gue sendiri si" ucapnya yang langsung turun dan berdiri dihadapanku.


"ha? Rumah lo? Sejak kapan ini rumah lo? Setau gue keluarga ini cuma punya satu anak yaitu kak bima, lah lo itu siapa mereka? Seenaknya aja bilang ini rumah lo! " ucapku cuek dengan tatapan tajamku. Orang itu langsung mendekatiku dan menatapku lebih tajam dari mata serigala yang membuatku takut dan mengkerut seperti kerupuk disiram air.


Deg..


Ucapan orang itu membuatku mengingat seberapa kejamanya duniaku saat ini, bahkan orangtua ku tidak mau memandangku lagi.


" eh maaf ya, mau gue panggil apaan nih? Om apa pak atau pengen dipanggil kek? " ucapku cuek dan memilih untuk berjalan menuju gerbang rumah kak bima.


" lo tu makin lama makin nyolot ya! Gue ga setua itu kali, jangan jangan mata lo tu dah rabun jadi gabisa liat wajah setampan dan semuda gue" ucapnya menyombongkan diri. Aku sengaja tidak menggubrisnya dan langsung memanggil seseorang yang ada di dalam rumah kak bima.


" om, tante ini ada maling om, te mau diapain ni enaknya mana ngaku ngaku jadi anak om sama tante lagi" teriakku sengaja memanggil orangtua kak bima dan tidak menggubris ucapan orang asing itu.


" eh lo kalok ngomong bisa dijaga ga si enak aja lo ngatain gue ini maling! Tampang ganteng gini dibilang maling terus yang ga maling harus seganteng apa ha? "ucap orang itu sok ganteng.

__ADS_1


" eh eh ganteng dari mana ya pak? Mau diambilin kaca ni? " ucapku meledeknya.


" wah lo ni bener bener ngajak berantem ya! " ucapnya mengancam.


" oke! Ayo kita berantem sekarang" ucapku sambil mengangkat kedua tanganku siap memukulnya.


"nih rasain! Orang kayak lo tu harus dikasih pelajaran!" ucapku ya terus memukulinya tanpa ampun.


" eh lo tu bisa berenti ga si gue ga lawan lo jangan kira gue lemah ya! " ucapnya yang tiba tiba menarik tanganku kuat dan membuatku mendekat dengannya. Mata kami saling beradu tatap.


Tiba tiba, orang tua kak bima dateng dan ngagetin aku dan orang asing ini lah emang sapa lagi:v.


"ekhm,, udh belom tatapannya nih" ucap om bagas yang keluar bersama dengan tante wina.


" eh tante, ini te ada maling mau masuk rumah om sama tante ni orangnya gatau diri lagi pakek acara ngaku ngaku jadi anak om sama tante segala lagi" ucapku dengan menatap kesal kepada orang asing ini.


"ha,,ha,, kamu ni emang pinter kalok jadi pengawas" ucap om bagas.


" disha kenalin ini aditya anak sulung om sama tante" ucap tante wina dengan senyum lebar.


Bersambung...


bagi para teman teman yang udah membaca ceritaku ini tolong pencet tombol like dan pencet tombol love juga yaaaaaa!!!


jangan lupa okeee:)

__ADS_1


__ADS_2