PENGORBANAN SEORANG ISTRI ( ISTIKHARAH CINTA )

PENGORBANAN SEORANG ISTRI ( ISTIKHARAH CINTA )
12


__ADS_3

Dia bangga dengan sosok ayah nya. Dibalik sifatnya yang keras, tak pernah sedikitpun menyimpan amarah yang besar. Sabar lah yang selalu menjadi acuan dalam hidupnya. Sisil berharap memiliki suami seperti cinta pertamanya.


Dalam setiap tindakannya Abah tidak pernah membedakan anak satu dengan yang lainnya. Mengajarkan kita pentingnya arti sebuah hubungan persaudaraan.


"Bah, tos teu kedah deui. Atos na simpen wae. Sisil, tos dapat kartu na." ucap Sisil dengan senyum simpul pada sang Abah.


(Bah, sudah tidak usah. Uangnya simpan saja. Sisil, sudah dapat kartunya)


Inilah yang Abah nya suka dari Sisil. Walaupun sifatnya yang keras kepala dan selalu di no 2 kan. Tak pernah menyerah mencari solusi.


"Atos timana Sil? Nuhunkeun ka teteh?" ucap sang Abah.


( uang darimana Sil? Minta ke teteh?)


"Alhamdulillah sakola masihan karinganan. Atos na kanggo nu lain. Bilih aya pangngabutuh nu sanes na. Ayena do'akeun Sisil wae sing lancar ujiannya."


"Alhamdulillah Abah do'akeun. Sing sabar nya Sil. Ngaharepan mimih. Sisil tos teurang sorangan watak na kumaha." dengan wajah sendu sang Abah menatap anak gadisnya.


"Sisil angkat hela, Bah. Assalammualaikum..." ucap Sisil pamit dengan mencium tangan sang Abah dengan takjim.


"waalaikumsalam...."


*********


Tiba di sekolah.


"Ti...." teriak Sisil


"Hai...." jawab Eti.

__ADS_1


"Udah dapat kartu?" sambungnya lagi


"Alhamdulillah udah. Ruangan berapa? ko tumben tadi gak naik angkot?" tanya Sisil


"Hm... di anterin AA. Pulang dia...! Kantin yuk laper ni..."


"Makan aja Lo pikirannya. Ayu mana? Tumben tu anak Lom berangkat." tanya Sisil


" lah mang dia gak bareng? Eti pun merasa heran.


"Enggak".


"khuy lah kantin."


saat di perjalan menuju kantin Sisil tak sengaja bertemu dengan sang ketos.


" Pagi kak..." jawab Sisil.


" mau kemana? udah dapat kartu?"


" udah kak. mau ke kantin. kita duluan y kak."


Sisil dan Eti pun segera menjauh dari ketos menuju kantin. Sang ketos pun hanya bisa melihatnya punggung Sisil yang makin menjauh.


Bel masuk pun berbunyi. pertanda ujian akan di mulai. Sisil dan teman-temannya segera membubarkan diri menuju ruangan ujian masing-masing.


saat memasuki kelas Sisil terperanjat dengan siapa dia duduk. Malu yang dia rasakan saat ini.


"Maaf kak. Bisa geser."

__ADS_1


Eka sekilas melihat siapa yang berbicara. dia sangat senang siapa yang jadi teman sebangkunya.


"silahkan." Eka pun mempersilahkan Sisil untuk duduk di sampingnya.


sambil menunggu guru pengawas. Sisil kembali mengulang pelajaran.Eka yang tepat berada disampingnya terus memperhatikan apa yang dilakukan gadis itu.


"Manis..." satu kata yang terlintas di benak Eka.


"Selamat pagi anak-anak."


"Pagi pak...."


Ujian pun dimulai. Waktu yang di berikan hanya 45 menit. di setiap mata pelajaran.


Tak terasa 30 menit telah berlalu.


"Jangan berisik. Kalau sudah selesai silahkan kumpulkan. Jangan diskusi."


Fokus ku kini pada soal terakhir. tak ku pedulikan bisik-bisik teman yang meminta jawaban. Rasanya ingin segera keluar dari kelas.


Sempat ku lirik kak Eka pun sama fokusnya pada lembar ujian yang ada di tangannya.


Tak ada satu pun siswa yang maju duluan. Hingga aku putuskan berdiri dan memberikan hasil jawaban.


"Permisi kak, boleh lewat?"


"Oh silahkan. Udah selesai"


" Udah kak. Aku duluan." aku pun sempat melirik kertas jawaban kak Eka pun sebenarnya sudah selesai tapi entah kenapa gak segera di kumpulkan.

__ADS_1


__ADS_2