PENGORBANAN SEORANG ISTRI ( ISTIKHARAH CINTA )

PENGORBANAN SEORANG ISTRI ( ISTIKHARAH CINTA )
13


__ADS_3

"Permisi kak, boleh lewat?"


"Oh silahkan. Udah selesai"


" Udah kak. Aku duluan." aku pun sempat melirik kertas jawaban kak Eka pun sebenarnya sudah selesai tapi entah kenapa gak segera di kumpulkan.


***


Sambil menunggu teman yang belum keluar, aku buka kembali buku pelajaran selanjutnya.


Lima menit berlalu semua siswa-siswi sudah mulai berhamburan keluar. Ada yang pergi kantin atau hanya sekedar nongkrong di depan kelas.


Ditengah kesibukan aku membaca. Seseorang menghampiriku.


"Lagi baca apa?"


Ku tengokan kepala, siapa gerangan yang menyapaku. " Eh Zas, kirain siapa? Ngagetin aja Lo!"


"He...."


"Biasa ngulang pelajaran, Zas." sambil kutunjukan buku apa yang tengah kubaca padanya. Zasas hanya manggut-manggut tanda mengerti yang aku maksud.


"Rajin bener seh baca...!"


"Terus mau ngapain lagi kalau bukan baca...!"


"Kantin kek. Mau gak?"


"Makasih deh, lebih baik baca kalau disana gak fokus."


Tak terasa waktu cepat berlalu ujian selanjutnya segera di mulai kembali.


Seperti sebelum jam di mulai kelas ramai dengan krasak-krusuk siswa-siswi yang mengobrol.


"Tadi gak ke kantin?" tanya kak Eka


"Gak kak." sebenarnya rasa gugup sedang menyelimuti ku.

__ADS_1


Siapa seh yang gak berdebar duduk di samping ketos. "Boleh gak seh duduknya pindah? Kenapa juga jantung aku. Semoga saja kak Eka gak dengar." batinku.


Tak berselang lama suara guru terdengar menyapa para siswa.


"Siang anak-anak"


"Siang Bu..."


"Silahkan maju buat bagikan ini dua orang."


Soal telah di bagikan. Suasana jadi hening...


15menit telah berlalu...


"Sstt... Sil..."


"Sil...."


"Sil..." teriak Evan teman sekalasku yang persis duduk di belakangku.


"Siapa itu yang teriak?"


Sempat ku lirik kak Eka tersenyum. Entahlah senyum itu untuk apa.


Timbullah rasa jengkel pada Evan. Aku paling tidak bisa mengerjakan soal ataupun memberi contekan sebelum aku selesai mengerjakan.


"Bentar Van. Tanggung aku dikit lagi ini. kamu kerjain yang lainnya dulu."


"Ok."


"Minta contekan?" sahut kak Eka.


Aku pun hanya menganggukkan sebagai tanda mengiyakan atas jawaban dia.


Kini mata ku fokus kembali pada lembaran soal.


"Kamu mau jawaban apa Van?" tanyaku.

__ADS_1


"Semua..." jawab Evan dengan entengnya.


"Eh anjir... Lo gak ngerjain sama sekali." bisikku


"Gak..." cengir Evan.


"Ni..." sambil ku lirik ke depan takut ketahuan guru kasih contekan ama teman.


"Kalau jawabannya salah semua jangan ngomel ya. Kata siapa gak ngerjain sendiri." sungutku.


"Gak masalah."


1 jam telah berlalu semua siswa sudah berhamburan keluar kelas begitupun dengan kelasku.


Satu per satu teman mulai mengumpulkan jawaban ujian. Begitupun aku dan kak Eka.


Ku tengokan kanan kiri mencari seseorang yang dari tadi tak nampak batang hidungnya.


"Itu dedemit kemana ya?"


"Kok gak ada seh?"


"Biasanya seperti jailangkung. Tiba-tiba muncul saja." monologku


"Doorrr...."


"Eh copot...copot... Eh dasar kampret. Ngagetin aja Lo..."


"Ayu kemana Ti?" tanyaku pada sohib yang sableng ini.


"Biasa lagi mojok, dapat mangsa baru."


Ayu memang bersifat playgrils. Kami berteman sejak di bangku SMP walau gak satu kelas tapi kami cukup dekat.


"Mau pulang gak dia? Samperin yuk."


Ku telusuri koridoor sekolah mencari keberadaan Ayu. Saat di perjalanan ku lihat Kak Eka sedang berduaan dengan seorang cewek.

__ADS_1


Tak sengaja pandangan kami bertemu. Kak Eka sempat tersenyum padaku sebelum pandangan kami putuskan.


__ADS_2