
Saat malam tiba.
Keluarga sisil tengah berkumpul di ruang keluarga. Mereka bercengkrama ria dengan satu sama lain.
Kesempatan inilah yang dimanfaatkan sisil untuk beebicara pada abahnya.
"Bah, sisil lulus sakolana. Sisil hoyong diteraskan ka smk. keunging henteu ?" ( bah, sisil lulus sekalahnya. Sisil ingin diteruakan ke smk. Boleh tidak ?).
Dengan ragu-ragu sisil mengutarakan keinginannya. Ia berharap bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
"Bah, keunging henteu ?( Bah, boleh tidak ?) sisil bertanya kembali pada abah nya. sedangkan abah nya hanya diam menanggapi keinginan anak gadis nya.
Hening...
Hanya yang terdengar sisil hembusan nafas sang abah.
Kemudian
" Mang bade diteraskan ka smk mana, sil ? sisil terang sorangan. Abah mah cuma tukang becak jeung buruh tani. Abah teu sanggup. Can dei ngabiayaan adi na sisil. Tah kan biaya dei. Ari aa maneh mah damel ge jang ku sorangan ge kurang sanajan can nikah oge. Ayenamah neang duit teh hese pisan kan. Komo dei ayena ges loba ojek motor. Becakmah ges ka tinggaleun jaman. Penghasilan abah ges berkurang." ( memang mau diteruskan ke smk mana, sil ? Abah kan cuma tukang becang dan buruh tani. Abah tidak sanggup. Belum lagi biaya adik nya sisil. Itu kan biaya lagi. Kalau aa kamu seh kerja juga buat sendiri juga kurang walaupun belum nikah juga. Apalagi sekarang sudah banyak ojek motor. Becak seh sudah ketingggalan jaman. Penghasilan abah juga sudah berkurang ). Dengan suara lembut sang abah menjelaskan keberadaan kelurganya.
Sisil hanya mampu diam dengan penjelasan abah. Sisil pun paham dan mengerti dengan keadaan keluarganya yang gak seperti dulu lagi. Namun keinginan nya yang tinggi sisil berharap abahnya mau menyekolahkan nya lagi walau dengan keadaan seperti ini.
Katakan saja sisil egois, keras kepala, pembangkang. Tapi demi cita-cita nya sisil akan berusaha mewujudkan nya.
Dengan sekali tarik nafas nya. Sisil mengutarakan isi yang ada di kepala nya.
__ADS_1
"Bah, aya sakolaan nu narima murid siga sisil. Syarat na sisil ti sakola aya rekomendasi murid prestasi siga beasiswa kitu , bah. Lumayan kan ngringankeun biaya. Sisilkan ti sakola jawara wae. Ilek mah teu di lanjut. Eman atuh ( Bah, ada sekolahan yang nerima murid seperti sisil. Syaratnya sisil di sekolah ada rekomendasi murid prestasi seperti beasiswa gitu, bah. Lumayankan meringankan biaya. Sisilkan di sekolah juara terus. Masa tidak di lanjutkan. Sayang lah. )" jawab sisil.
"Mang na dimana eta ? tanya abah sisil.
(memang nya dimana ? )
" Di cirebon bah. Smk bina bangsa." dengan hati- hati sisil menjawab.
Sisil takut abah nya marah dengan smk yang dia pilih. Memang benar sekolah tersebut menyediakan beasiswa untuk murid berprestasi. Hanya saja yang sisil takutkan bukan itu.
Smk bina bangsa terkenal dengan sekolah no 1 dengan segala kualitas terbaik dalam hal mengajar hanya saja sekolah itu pun terkenal dengan kelakuan para murid nya.
"Naon....? ( apa...? ) dengan kagetnya sang abah teriak hingga menimbulkan kegemparan dirumah nya.
"Mih....!!! nyarios atuh ka abah ( mih....!!! bilang ke abah ) sisil pun meminta bantuan pada mimih nya. Sedangkan mimih nya yang dari tadi hanya jadi pendengar setia. Tak berniat ikut menimpali pembicaraan anak dan bapak nya.
"Henteu ari kaditu mah. Mending mondok sil nimba ilmu agama tibatan sakalo nu ges terkenal kalakuan muridna nu jore. Abah teu rela teu rido anak awewe abah hiji-hijina boga kalukan siga kitu. Setan eta mah ( tidak kalau kesana seh. Lebih baik nimba ilmu agama daripada sekolah yang sudah terkenal dengan kelakuan muridnya yang jelek. Abah tidak rela, tidak ikhlas anak gadis abah satu-satunya punya kelakuan seprti itu. Setan itu seh ) denang amarah nya abah menentang keraa keinginan sisil.
Setelah pembicaraan abah dan sisil mereka pun masuk kedalam kamar masing-masing.
************
Dengan hati sedih dan kecewa sisil tidak bisa berbuat apa-apa.
" Padahalkan aku hanya ingin belajar di sekolah yang terbaik disekolah ini. Toh, aku niat nya cuma belajar gak macam-macam. Mang salah aku dimana ? Biarin yang lain seh mau gimana-gimana yang pentingkan aku gak ikut-ikutan kelakuan mereka. Abah jahat. Sisil gak pernah minta apapun sama abah." monolog sisil samb terisak.
__ADS_1
Tangisan sisil pun pecah. Jujur saja sisil merasa cemburu dengan segala yang dicurahkan kedua orang tua nya. Sejak kecil sisil selalu tersisihkan. Apa yang dia inginkan selalu jadi no 2 . Keinginan adiknya terutama hasan selalu utama. Tapi kali ini sisil tidak mau mengalah lagi.
tok...tok...tok...
Terdengar pintu kamar sisil di ketuk.
"Sil, kaluar atuh tos siang masa rek kamer wae. Sing jauh jodoh na kaluar tong mager. Tu di luar aya yanto jeung eti. Gera di tenjo. ( sil, keluat seh sudah siang masa mau di kamar saja. Nanti jauh jodoh nya keluar jangan magar. Itu di luar ada yanto jeung eti. Cepat di lihat ). teriak mimih.
"ennya mih... !!! " jawab sisil ( iya mih...!!!)
Mimih pun berlalu dari kamar sisil dan menemui teman sisil yang ada diteras rumah.
" Ti, bade diteuraskeun kamana sakola na ? " mimih sisil pun bertanya pada eti.
( Ti, mau diteruskan kemana sekolahnya )
"Ka bina bangsa mih. " jawab eti.
" Tos daftar deh. " kemabali lagi mimih bertanya.
" Ntoas. Kan pendaftaran na ke enjing terakhir mih. " jelas eti.
Penjelasan eti pun membuat mimih sisil beepikir lagi dengan kemauan anak gadis nya itu. Eti saja yang notabene nya anak keturunan kiyai saja di ijinkan sekolah disana kenapa tidak dengan sisil.
"Saya yakin sisil bisa menjaga diri. Ya sudah lah nanti saya bantu bicara sama abah nya sisil barang kali saja mau merubah nya kalau tetap saja gak bisa minta bantuan sama reno saja buat kasih pengertian sama abah nya. Toh saya juga kan bantu cari nafkah ini dan lagi pula sis gak pernah minta apa-apa." mimih pun berbicara pada hati dan menyakinkan diri.
__ADS_1