PENGORBANAN SEORANG ISTRI ( ISTIKHARAH CINTA )

PENGORBANAN SEORANG ISTRI ( ISTIKHARAH CINTA )
14


__ADS_3

Di pertengahan jalan aku di telepon a Reno. Setelah ku angkat aku pun memberi tahu Eti untuk segera berpamitan.


"Ti, aku pulang duluan y. A Reno nyuruh cepat pulang."


"Ok. TTDJ ya."


"Yoi. Bilangin noh Ama dia jangan mojok terus. Entar mami nyari."


Ya seperti itu lah kedekatan kita. Kita selalu memanggil orang tua kita mengikuti anaknya. Agar lebih akrab saja.


*****


Setibanya di rumah.


"Assalamualaikum...." ucapku sambil memasuki dan mencari keberadaan orang tuaku. Sepi.


Aku terus mencari di setiap sudut rumah tapi gak ada satu orangpun yang kutemui.


Sambil menunggu orang rumah, akupun berganti baju dan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim.


30 menit berlalu akhirnya orang yang ku tunggu datang juga.


"A, dari mana?" tanyaku.


" Eh Sil, udah pulang?" tanya a Reno.

__ADS_1


Aku melirik a Reno sebentar sebelum bertanya, aa sudah lebih dulu menlanjutkam kata. "Ade masuk rumah sakit, mimih ama abah lagi disana. Ini aa baru pulang. Kamu masak gih."


" Tong loba teing ke teu kadahar. Gera si Hasan kedap dei balik." lanjut a Reno.


( jangan banyak-banyak ebtar ke makan. Cepat si Hasan Bentar lagi pulang)


" Muhun a."


Sisil pun beranjak ke dapur. Mencari apa yang bisa dimasak. Biasanya orang tua nya selalu ada bahan masakan yang di beli pagi.


" Alhamdulillah, masih aya bayem sareng tempe. Cukuplah. Nasi na masih aya henteu nya. Tempokeun hela lah."


Sudah biasa. Dari usia 12 tahun Sisil sudah bisa mengerjakan tugas rumah bila ibu nya gak bisa masak dia selalu yang menggantikan tugasnya.


Kemandirian yang dipupuk dari kecil serta keadaan yang mengharuskan membuat Sisil tak merasa menjadi beban dalam menjalakan tugasnya.


Tak ada pengecualian. Bahkan untuk hukumanpun apabila melakukan kesalahan sang ibu tak akan pernah membedakannya.


Inilah yang membuat Sisil menjadi pribadi yang kuat.


30 menit berkutat di dapur semua maskan yang Sisil buat sudah terhidang di meja makan. Begitupun sang adik yang baru pulang sekolah.


"Nembe uih, San? Tos kamana hela?" tanyaku.


(Baru pulang, San? Darimana dulu?

__ADS_1


"Muhun teh. Mimih kamana? Biasa ulin hela". jawab Hasan.


(Ya teh. Mimih kemana? biasa main dulu)


Hanya tarikan napas yang bisa ku lakukan. Sudah biasa dengan sikap adikku yang satu ini.


" Sana mandi dan ganti baju. Besok masih pakai seragamnya kan. Mimih jeung abah aya di rumah sakit". jelasku.


" Saha nu geuring?" Hasan bertanya dengan begitu kerasnya.


(Siapa yang sakit)


" si Iman". singkatku


" Ooh, kunaon?" lanjut Hasan.


"Ish. Gera mandilah, sholat, terus tah dahar. terus kitu anterkeun ieu mam ka a Reno di sawah. Ulah ngalayab teuing". ucapku.


(Ish. Cepat mandi, sholat, terus makan. terus lagi antarjan makanan ini ke a Reno di sawah. Jangan maen terus)


"Nya...." singkat hasan.


Seperti ini lah keseharian keluarga kecil ini. Selalu berwarna. Kadang pertengkaran menjadi tempat untuk menunjukan kasih sayang satu sama lain. Bukan berarti saling membenci.


Di usia yang masih dini. Sisil dipaksa menjadi dewasa. Mengayomi kedua adiknya. Mengurus rumah. Bahkan bekerjapun di waktu segang dia lakukakan.

__ADS_1


Masa remaja yang seharusnya diisi dengan kegiatan menarik. Tak bisa ia rasakan. Belajar, bekerja itulah kesehariannya.


__ADS_2