
1 minggu telah berlalu
Sikecil sudah pulang dari rumah sakit. Melihat keadaannya, sungguh ingin rasanya menangis. Mata tuanya terlihat sayu.
Tak banyak yang bisa aku lakukan selain membantu orang tuaku.
"Mih, Bah. Sisil berhenti sekolah saja ya. Biar Hasan ama Iman yang sekolah. Teu nananon. Sisil kan istri, sakola luhur oge tungtung namah dapur, sumur jeung kasur."
(Mih, Bah. Sisik berhenti sekolah saja ya. BiAr Hasan dan Iman yang sekolah. Gak apa-apa. Sisilkan perempuan, sekolah tinggi juga akhirnya dapur, sumur dan kasur)
Tak sanggup rasanya melihat. tangan abah yang sudah tua terus mengais rejeki untuk kami semua.
"Teu nanaon Sil. Abah masih sanggup nyakolakeun. Sanajan narik becak oge. Abah usahakeun kanggo pangabutuh sapopoe. Ulah di pikirkeun."
"Masih aya lanceuk maneh nu ngabantuan abah."
(Gak apa-apa Sil. Abah masih sanggup menyekolahkan. Walaupun narik becak juga. Abah usahakan buat kebutuhan sehari-hari. Jangan dipikirkan.
Masih ada kakak kamu yang bantuin)
Rasanya sudah tak sanggup lagi air mata ini ku bendung. Ku labuhkan pelukan pada sang ayah cinta pertamaku.
"Sisil sayang abah. Terima kasih sudah mau memberi yang terbaik untuk kami." ucapku.
"Sisil janji. Sisil akan memberikan yang terbaik buat masa depan Sisil dan keluarga. Sisil ingin abah bangga. Suatu saat nanti Sisil yang akan gantikan tugas abah ama mimih buat cari nafkah."
*************
Waktu terus berganti.Setelah pembicaraan panjang waktu itu, kini tiba saatnya pembagian raport.
"Mih, besok ambil raport di sekolah." ucapku memberi tahu mimih.
"Mang na teu tiasa di wakilkeun." jawab mimih.
(Memangnya gak bisa diwakilkan)
__ADS_1
"Bisa mih. Emang na mimih gak mau liat hasil Ujian Sisil? Sadinten ieuh libur jualanna (sehari ini libur jualannya)." akupun terus membujuk mimih agar mau mengambil hasil ujianku. Selain itu ada pengumuman penting mengenai beasiswa.
Bukan hanya raport saja yang akan di terima. Aku merasa percaya diri bisa mendapatkan beasiswa tersebut.
Pengennya seh ayahku yang mewakilkan. Tapi karena sudah terlanjur mengambil upah kerja di pak Haji terpaksa mimih yang ku pinta menggantikan. Selain narik becak. Ayahku juga bekerja sebagai serabutan.
"Nya entos, tabuh sabaraha kaditu na. Mimih nyusul (Ya sudah, jam berapa kesananya)." tanya mimih.
"Libur...." tegasku.
"Entar berangkatnya bareng Sisil." lanjutku.
**********
Esok harinya, kami pun berangkat ke sekolah bersama, di antar abah dengan kendaraan kebesarannya. Senang sekali setiap kali naik becak yang di kayuh oleh ayah.
Usianya yang sidah tak muda lagi tak pernah sedikitpun untuk mengeluh.
Bangga...
Tentu saja Sisil sebagai anak, merasa bangga dengan sang cinta pertama.
"Assalamualikum, Mih." sapa Eti dan Ayu bersamaan lalu mencium tangannya.
"Iih ini anak tambah tembeb saja." ucap Ayu sambil menjawil pipi sang adik.
"Ibu kadie Yu?" tanya Mimih. (Ibu kesini)
"Gak mih, yang kisini teteh. Mami lagi bantu papi di toko." jawab Ayu.
Begitulah ayu. Walaupun dia dari keluarga yang berada tak pernah malu berteman dengan siapapun.
"Mimih asup ka kelas mana, Sil." tanya mimih sambil ku ajak beliau menujh kelasku. (mimih masuk ke kelas mana)
"Ayo mih, Ti, Yu aku ke kelas dulu. Titip Iman jangan di cubitin." sahutku sambil berlalu.
__ADS_1
Sesampainya di kelas. Sisil pun mengajak ibunya untuk duduk.
Sebelum keluar Sisil terlebih dahulu berbicara sama ibu. " Mih, Sisil tunggu di luar ya. Nemenin Iman, takut nangis."
Tepat jam 8 kelas sudah di penuhi wali murid. Para orang tua saling bercengkrama satu sama lain. Saling membanggakam dengan keunggulan anak mereka masing-masing, begitupun dengan orang tua Sisil.
Tak berselang lama wali kelas Sisil pun datang.
" Assalammualikum wr. wb.." ucap pak sakri
"Wa'alaikumsalam wr. wb.." serempak para wali murid menjawab.
Di depan sana pak Sakri pun memberi sambutan sebelum sedikit sebelum hasil raport di umumkan.
Rasanya tak sabar menunggu hasil.
Mendebarkan.
'Siapa ya yang jadi juara pertama. Mampukah aku mempertahankan presatasi aku dari sd yang selalu yang pertama.' aku terus membatin takut orang tua ku kecewa dengan apa yang pernah aku janjikan pada mereka.
"Sebelumnya terima kasih pada bapak dan ibu wali murid yang sudah berkenan hadir dalam pembagaian raport pada semseter pertama ini. Bukan hanya itu saja bapak ibu semuanya. Bapak kepala sekolah menyampaikan mandatnya pada kami yang di tunjuk sebagai wali kelas untuk menyampaikan kebijakan sekolah terkait beasiswa untuk siswa-siswi yang berprestasi yang masuk 3 besar dan akan mendapat tambahan beasiswa lagi jika mampu menjadi juara umum untuk seluruh kelas 1 ini.
Adapun beasiswa nya untuk 3 besar siswa yang berprestasi terbebas dati spp bulanan selama 1 semester berikutnya. dan untuk juara umum bebas dari keuangan selama 1 tahun kedepan." sambut pak Sakri di akhir sambutannya.
"Alhamdulillah pak seandainya anak kami menjadi salah satu penerima beasiswa dapat membantu meringankan biaya sekolahnya." ucap salah satu wali murid.
"Baiklah, bapak-bapak ibu semuanya, saya akan mengumumkan siapa saja yang dapat prestasinya.
Dimulai dari peringkat 10. Anwar Fuadi, 9. Bayu Purnomo,..........3. Ratna Wulndari, 2. Abi Manan, dan untuk peringkat 1 Pricilia Putri.
Itu siswa-siwi yang masuk 10 besar ya ibu bapak. Untuk anaknya yang belum mendapatkan peringkat jangan berkecil hati masih ada ujian lainnya untuk mengejar ketertinggalannya.
Oh iya, ada satu lagi pengumuman. Untuk Pricilia Putri wali murid nya ada? tanya pak Sakri.
"Ada pak." jawab mimih.
__ADS_1
"Alhamdulillah, selamat ya bu untuk Pricilia. Bukan hanya di kelas tapi Pricilia juga menjadi juara umum seluruh kelas satu. Nanti sehabis pembagian raport silahkan ibu ke ruang kepala sekolah. Sil, nanti dampingi orang tua kamu kesana. Sekali lagi bapak ucapkan selamat ya." pak Sakri dengan suaru tegasnya dan wibawanya.
"Terima kasih pak." ucapku dengan rasa syukur. Tak sia-sia waktu yang ku habiskan untuk belajar.