Perfect mother

Perfect mother
Bab 1


__ADS_3

Dor! dor! dor!


Suara tembakan terdengar menggelegar di sekitar bangunan tua yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Rintihan demi rintihan samar-samar terdengar. 


Tampak seorang pria paruh baya tersungkur di lantai sembari menekan perut bagian kirinya yang terus mengucurkan darah. Dia terkena tembakan beberapa saat lalu. 


"Si-siapa y-yang me-menyuruhmu?" tanyanya tergagap-gagap pada wanita yang berdiri di depan matanya seraya menyunggingkan senyum miring. 


"Kalau aku bilang tidak ada, apa kau kau percaya?" mengangkat dagu pria itu dengan pistol kebanggaannya. 


"Pria malang, siapa sangka kau akan mati di tanganku!" sayup-sayup terdengar tawa renyah dibibir sang pembunuh. 


"A-ampuni a-aku! aku b-bisa me-membayar mu du-dua kali lipat, ta-tapi aku m-mohon biarkan aku hi-hidup." pria tua itu merangkak lalu merangkul kaki jenjang wanita yang hendak melenyapkannya. 


Duak!


"Menjijikkan, jangan menyentuhku!" pembunuh itu menghempaskan targetnya dengan kasar. 


"Sampai bertemu di neraka pak tua!" ucap seorang wanita cantik berambut hitam lebat sebelum akhirnya menginjak dada pria paruh baya itu sampai remuk.


Akh!


Lolongan panjang yang menjadi akhir dari kehidupan pak tua itu. Kini rasa sakitnya telah hilang digantikan dengan kematian yang mengenaskan.


"Mar!" panggil seorang wanita asia bernama Anna. Lantas yang di panggil menoleh, bibirnya terangkat mengukir senyum tipis.


Ya, dia adalah Maria Ozawa. Pembunuh bayaran yang di beri julukan the queen of kill. Maria terkenal di dunia gelap. Bukan hanya karena skill tapi juga kecantikannya yang menawan.


"Sudah beres?" tanya Anna. Sedikit meringis kala melihat jasad yang baru saja Maria habisi.


"Seperti yang kau lihat, aku berhasil menyingkirkannya!" mengangkat bahunya acuh, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Anna dengan santainya.


"Dasar wanita gila!" umpat Anna, tangannya sibuk mengetik pesan. Menyuruh anak buahnya mengurus jasad yang baru saja Maria tinggalkan.


"Dimana mereka?" Maria menanyakan keberadaan sang buah hati sembari membersihkan percikan darah yang mengenai wajahnya dengan menggunakan tisu basah.


"Sean dan Dean?" bertanya balik. Memastikan. Maria mengangguk-angguk. Mengiyakan. "Memangnya siapa lagi!"


Maria meraih sebotol air mineral dan meneguknya hingga tandas tak tersisa. "Mungkin ayahnya?" sahut Anna bercanda.


Uhuk! uhuk! uhuk! 


Seketika Maria tersedak. Terkejut mendengar jawaban yang keluar dari bibir Anna. Asal kalian tahu, Maria sedikit sensitif jika menyangkut orang asing yang menghabiskan malam bersamanya kala itu.


7 tahun berlalu, tetapi ingatan malam itu masih berbekas di kepalanya. Maria tidak bisa melupakan kejadian itu meskipun dia menginginkannya. 


Jujur saja, Maria memang penasaran dengan identitas ayah dari anak-anaknya. Namun, Maria juga ingin membunuhnya karena sudah mengambil mahkota yang sudah dia jaga dengan sepenuh jiwa.


Untung saja Maria tidak melihat wajah pria yang menidurinya, malam itu. Jika tidak, Maria mungkin akan mencari dan membunuhnya begitu mereka bertemu.

__ADS_1


"Berhenti becanda, Anna. Kau tahu sendirikan, aku tidak suka membahas pria sialan itu. Semua sudah berlalu, dan sekarang aku bahagia dengan hidupku!" berceloteh. Menyembur Anna dengan ocehan panjang lebar.


"Mar, kau tidak kasihan dengan Sean dan Dean. Mereka membutuhkan sosok ayah. Kau mau orang-orang menyebutnya sebagai anak haram?" bertanya dengan nada serius.


Di Amerika hal semacam ini memang sudah lumrah. Tapi tetap saja Anna ingin Maria hidup bahagia dan fokus membesarkan Sean dan Dean. Setidaknya, Maria harus menuruti kata-katanya untuk meninggalkan pekerjaan mengerikan ini.


Menyesal, seharusnya Anna tidak mengajari Maria cara memakai senjata. Jika tidak, Maria pasti sibuk menidurkan anak-anaknya sekarang.


"Mereka tidak sama dengan anak kecil pada umumnya, Anna. Kau tidak ingat siapa yang mencari informasi target kita malam ini, Sean! dan siapa yang menyusun rencananya, Dean-kan. Mereka bukan anak kecil yang manja, Anna!" bersikukuh pada tekadnya.


"Kalau begitu berhenti dari pekerjaan sialan ini. Aku sudah mencarikan mu pekerjaan yang lebih layak. Sesuai dengan gelar sarjana mu!" Maria mendelik. Tidak suka mendengar peryataan Anna barusan.


Maria sudah nyaman dengan pekerjaan berbahaya ini. Maria tidak berniat mencari pekerjaan lain. Pekerjaan ini sudah sangat baik bahkan menghasilkan banyak uang.


"Aku tidak mau berhenti, aku terlanjur nyaman dengan pekerjaan ini, Anna!" ujar Maria, menolak. Bolehkah Anna memukul kepala Maria. Anna sangat kesal sekarang.


"Terserah!" Desis Anna. Akhirnya diam dan fokus mengemudikan mobil. Bicara dengan wanita seperti Maria membuat tekanan darahnya naik.


...****************...


Sampai di apartemen, Anna bergegas masuk kedalam. meninggalkan Maria yang kesusahan membawa dua kantong plastik berisi makanan favorit Sean dan Dean. Ayam crispy dan beberapa kotak pizza. Ya, mereka sempat singgah sebentar di McDonald terdekat tadi.


"Aunty pulang!" teriak Anna begitu menapakkan kakinya satu langkah di depan pintu. Membuat dua anak kecil itu terperanjat kaget. Namun, menyambut Anna dengan tawa candanya. 


"Di mana mommy?" tanya Sean celingukan. Menoleh ke belakang mencari keberadaan Maria. Anna mengangkat bahunya acuh, lalu duduk di sofa dan mengambil segelas air.


"Mommy di sini boy!" terdengar sebuah jawaban. Dari arah pintu Maria tampak kesulitan membawa dua kantong plastik itu.


"Kau membelikan kami ayam crispy, mom?" tanya Dean heboh. Sorot mata itu menatap binar Maria. Senang karena Maria tidak melupakan janjinya.


"Sesuai perjanjian, jika misi ini berhasil mommy akan membelikan kalian berdua ayam crispy." meletakkan dua kantong plastik itu di atas meja. Lalu mengambil dua kaleng bir dan menyerahkan salah satunya pada Anna. "Cuci tangan kalian sebelum makan!" perintah Maria sembari memindahkan ayam crispy itu ke dalam piring.


Keheningan menyelimuti. Anna masih kesal dengan sifat keras kepala Maria. Alhasil keduanya duduk diam, menunggu Sean dan Dean selesai mencuci tangan.


Tidak sampai 5 menit Sean dan Dean selesai mencuci tangan. Kedua anak itu duduk di sofa yang sama. Saling berebut ayam crispy dan Pizza.


Pemandangan itu membuat hati Maria dan Anna menghangat. sedikit merasa kurang, seandainya ayah biologis Sean dan Dean ada di sini. Lengkap sudah kebahagiaan mereka. 


"Kenapa menunggu kami, seharusnya kalian tidur lebih awal." ujar Maria memberi nasehat. Meskipun Sean dan Dean memiliki kecerdasan di atas batas normal anak seusianya. Tetap saja kondisi tubuh mereka tidak sama seperti orang dewasa. 


"Kami ingin memastikan jika mom pulang dalam keadaan selamat!" seru Sean cepat. Pekerjaan Maria bukan pekerjaan individu. Asal kalian tahu, Sean dan Dean ikut andil dalam pelaksanaan misi. 


Sean merupakan anak pertama Maria. Dia bisa mengendalikan perangkat komputer. Bisa di bilang Sean seorang hacker yang handal.


Sebelum menerima misi, Maria selalu menyuruh Sean mencari tahu, siapa dan bagaimana target mereka. Jika target benar-benar orang yang jahat, barulah Maria akan mengambil tindakan. Alias menerima misi itu. 


Pekerjaan ini mempunyai resiko yang amat besar. Tidak sembarang klien Maria Terima. Maria selalu memilah-milah mana klien yang aman dan mana klien yang membawa mala petaka. 


Sedangkan Dean adik kembar Sean merupakan seorang ahli dalam menyusun strategi. Mulai dari penurunan saham hingga kebangkrutan sampai kematian semua rencana Dean lah yang menyusun. 

__ADS_1


Tidak hanya itu, Dean juga sama ahlinya dalam menggunakan senjata tajam dan pistol. Tidak logis, tapi Maria juga tidak tahu alasan tuhan memberinya anak sehebat itu. 


Sean dan Dean adalah saudara kembar identik. Mulai dari makanan favorit, baju favorit, serial favorit, semuanya sama. Keduanya hampir memiliki selera yang sama. Hanya ada sedikit perbedaan tipis. 


Kepribadian mereka juga tidak sama. Sean terkesan cuek dan suka menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Berbanding terbalik dengan Dean, dia anak periang yang mudah bersosialisasi dengan orang-orang lingkungan setempat. Namun, Dean mudah marah dan gampang merajuk. 


Tetapi perbedaan itu membuat mereka saling melengkapi satu sama lain. Manusia memang makhluk paling sempurna, bukan berarti tidak memiliki kekurangan. Sean tidak mudah di dekati tetapi dia memiliki banyak teman berkat Dean. Sedangkan Sean menjadi obat dikala Dean merasa sedih ataupun terluka. 


"Meskipun mommy pergi meninggalkan kalian. Itu bukan masalah besar, kalian masih memiliki ibu kedua yaitu Aunty Anna!" jelas Maria di akhir senyum tipis. 


"Aku orangnya serakah mom. Menginginkan kalian berdua tanpa mau melepaskan salah satu dari kalian!" balas Sean cepat dan di setujui Dean.


Meskipun mereka lebih dekat dengan Anna. Tetap saja Maria adalah ibu kandung mereka. Rasa cinta dan hormatnya sama besarnya dengan rasa cinta dan hormatnya pada Anna. 


"Ya mom tahu itu, hampir setiap malam kalian mengatakan hal yang sama. Membuat mom bosan saja!" jengah Maria. Namun tidak bisa di pungkiri Maria senang mendengar pernyataan kedua anaknya barusan. 


Maria merasa senang, meskipun tidak ikut membesarkan mereka. Dia tetap mendapat cinta dan perhatian yang sama seperti Anna. 


Bukannya tidak mau merawat mereka. Hanya saja Maria di sibukkan dengan pekerjaan. Semua kebutuhan sehari-hari Maria yang menanggung. Karena itu mau tidak mau Maria harus pergi bekerja setelah Sean dan Dean berusia 1 tahun. Dan membiarkan Anna merawat mereka berdua.


"Sekarang pergi tidur! ini sudah malam, kalian bisa terlambat ke sekolah besok!" tambah Anna. Mengusap lembut kepala Sean dan Dean secara bergantian. 


Sean dan Dean mengangguk, beranjak dari tempat duduk dan berjalan mendekati pintu kamar. "Jangan lupa singkat gigi kalian sebelum tidur!" teriak Maria mengingatkan. Tidak ingin mendapat keluhan sakit gigi di pagi buta.


"Oke mom!" jawab mereka serempak. Sama-sama memperlihatkan kebosanan. Setiap malam, Maria selalu mengingatkan mereka. Dan hal itu membuat mereka kesal. 


Kini tinggal Maria dan Anna saja. Keduanya masih saling mendiami, "Anna, aku benar-benar minta maaf. Untuk saat ini aku masih belum bisa meninggalkan pekerjaan ini!" akhirnya Maria membuka suara. Memulai obrolan. 


"Kenapa Mar? aku bukan ingin mengatur kehidupan mu. Hanya saja aku takut kau terluka dan meninggalkan kami semua." ujar Anna, menjelaskan. 


Anna bisa hidup sebahagia ini karena Maria. Maria memberi kehangatan keluarga padanya. Dan Anna sudah menganggap Maria sebagai adiknya sendiri. Karena itu Anna tidak ingin kehilangan Maria karena pekerjaan bodoh itu. 


"Aku bisa melampiaskan semua rasa sakitku lewat pekerjaan ini, Anna. Di tambah perasaan bersalah karena tidak bisa memberi Sean dan Dean sosok figur seorang ayah. Aku lelah Anna, terkadang aku berpikir aku ibu yang buruk bagi mereka berdua." entah kenapa mendadak Maria mengeluarkan semua unek-uneknya. 


Tidak terasa setetes air jatuh dari ujung kelopak mata sampai ke pipi. Sungguh, Maria lelah memikirkan keadaan yang menimpanya sekarang. 


Tanpa banyak bicara Anna menarik Maria kedalam pelukannya. Anna tahu betul sebesar apa rasa sakit yang Maria alami. Sedikit menyesal, sudah berulang kali memaksa Maria agar mengikuti kemauannya tanpa tahu apa alasan di balik keputusannya itu. 


"Maafkan aku Maria. Lain kali aku tidak akan memaksa mu lagi. Tapi ingat, kau harus pulang dalam keadaan selamat tanpa lecet sedikit pun!" kata Anna meyakinkan. Dan Maria mengangguk setuju. 


Setelah sesi curhat selesai, keduanya masuk kedalam kamar masing-masing untuk beristirahat. Masalah mereka tidak berakhir di sini, esok sampai seterusnya masalah itu masih berlanjut. 


Anna tidak tahu apa yang Tuhan takdirkan untuk Maria. Tapi Anna yakin suatu saat nanti Maria akan di pertemukan dengan ayah biologis Sean dan Dean.


Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menunggu dan menunggu. Membiarkan waktu berjalan dengan semestinya. Mungkin tidak sekarang, tapi percayalah kebahagiaan itu akan datang pada waktunya.


TBC 


Warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏jangan lupa like dan komen ya gaes 🖤


Hai-hai gaes, kembali lagi dengan author tercinta kalian 🤣maaf author menghilang selama beberapa waktu dan tidak menepati janji untuk menyelesaikan cerita Peter dan Rachel. Author sibuk di dunia real gaes, tapi sekarang author sudah kembali, author bakal usahakan update setiap hari ya. Dan untuk cerita Peter dan Rachel author revisi dulu, jujur saja author sudah lupa dengan jalan ceritanya jadi harus baca ulang sekalian merevisi jadi sekali lagi author minta maaf ya ❤️ sembari menunggu cerita Peter dan Rachel coba baca cerita ini dulu, terimakasih 😍


__ADS_2