Perfect mother

Perfect mother
Bab 7


__ADS_3

Sampai di lantai 5...


Maria bingung mencari kamar mandi, tiba-tiba saja dia ingin buang air kecil. Beruntungnya toilet tersedia di dekat ruang interview. Maria bergegas masuk kedalam salah satu bilik.


Setelah selesai Maria menghentikan langkahnya tepat di depan wastafel. Ia menyalakan keran dan mencuci tangannya hingga memutih. Entah kenapa Maria merasakan firasat buruk sejak menginjakkan kakinya di perusahaan ini.


"Tenang Maria! ini demi keberhasilan misi mu!" gumamnya menenangkan diri. Maria menatap pantulan dirinya di dalam cermin dengan sangat lama. Wajah ini sungguh berbeda dari wajah aslinya. Dari sini Maria yakin rencana 100 persen dipastikan berhasil.


Merasa sedikit lebih tenang Maria memutuskan pergi mengambil antrian. Namun, tepat di ambang pintu Maria tidak sengaja menabrak seorang wanita berpenampilan modis. Sepertinya wanita itu juga kandidat calon asisten.


Bruk!


"Aduh!" teriak wanita itu kencang. Bagian belakangnya menabrak lantai membuatnya merintih kesakitan.


Merasa bersalah, Maria pun membantu wanita itu berdiri. Bibirnya tak hanya diam, berulang kali permintaan maaf Maria lontarkan. Namun, wanita itu tidak menerima niat baik Maria dan malah balik berteriak memaki-maki.


"Kalau jalan pakai mata cupu!" teriaknya kesal. Melihat baju bagian belakangnya basah terkena genangan air di lantai. Wanita itu semakin berapi-api.


Awal mula dia hanya mendorong Maria masuk kembali. Namun, lama kelamaan wanita itu bersikap kurang ajar dengan menampar dan mendorong Maria sampai membentur ujung wastafel.


Plak!


Bruk!


Rasa ngilu menjalar ke seluruh bagian kepala Maria seketika. Rintihan demi rintihan terdengar memprihatinkan yang justru semakin membuat wanita angkuh itu merasa senang.


Kesal mendapat perlakuan buruk, Maria berdecak kencang seraya melemparkan tatapan dingin ke arah wanita itu. "Apa liat-liat? sekarang kita sudah impas!" sahutnya dengan wajah sombong. Puas sudah membalas Maria.


Wanita itu berdiri di depan wastafel, berusaha membersihkan kemejanya yang basah dengan menggunakan tisu. Maria yang melihat itu tersenyum miring, tidak ingin membuang kesempatan ia mengeluarkan mata pisau tersembunyi dari balik cincin.


Sebuah besi kecil melongok ke atas. Terlihat sepele namun mampu menggores kulit tebal sekali pun. Dengan perlahan Maria bangun dari tempatnya terjatuh. Mulai mendekati wanita sombong itu, lalu berdiri tepat di belakang.


Shrek!


Dengan sekali gores, kemeja bagian belakang wanita sombong itu terkoyak. Dan lubang yang terlihat cukup besar sampai sedikit memperlihatkan dalaman. Parahnya dia tidak sadar bajunya telah sobek. Itu karena Maria melakukannya dengan sangat hati-hati sampai dia tidak menyadari perbuatan kejinya ini.


"Apa kau juga salah satu kandidat asisten?" tanyanya penasaran.


"Ya, seperti yang kau lihat aku juga memakai seragam hitam putih, sama seperti mu!" cibir Maria malas.

__ADS_1


"Pulanglah!"


"Kenapa?"


"Dengan penampilan cupu mu, aku yakin kau tidak akan mendapatkan posisi itu!" remeh Nya dengan wajah sinis. Maria tergelak kecil lalu menepuk pelan pundak wanita itu tiga kali.


"Lalu dengan penampilan murahan mu, apa kau yakin bisa mendapatkan posisi itu. Ayolah, siapapun yang melihat mu pasti mengira kau pelacur yang di pesan bapak-bapak lanjut usia!" sahut Maria melontarkan jawaban sarkasme.


Lantas wanita itu semakin tersulut emosi. Namun, tidak berani membalas perkataan Maria. Sadar dandanannya hampir menyerupai kupu-kupu malam. Ia memilih keluar meninggalkan Maria yang mengukir senyum kemenangan.


Di luar sana, semua orang meringis seraya berbisik-bisik membicarakan sobekan pada bagian punggung wanita sombong itu. Maria sendiri juga ikut tertawa, senang melihat semua orang mencemooh wanita sombong itu.


Siapa suruh sudah menyinggung the queen of hell. Sudah bagus Maria tidak menghabisinya, hanya sedikit memberi pelajaran dengan mempermalukannya di tempat umum.


"Nona, apa kau tidak sadar baju yang kau kenakan sudah tidak layak pakai?" tanya seorang wanita berambut pendek.


"A-apa maksud mu?"


"Kemeja mu sobek, nona. Kau yakin interview dengan pakaian itu, ayolah dalaman mu bahkan terlihat jelas, nona!" balas wanita berambut pendek itu dengan tatapan mencemooh.


Mendengar kata sobekan, lantas dia langsung menggerayangi bagian belakangnya. Dan benar saja kemejanya sobek, perasaan tadi kemejanya tidak ada masalah.


sorot matanya melirik ke arah Maria sekarang. Memang tidak menuduh secara langsung, namun jelas sekali di lihat dari tatapan kebenciannya wanita itu menyalahkan Maria.


"Siapa namamu?" tanya Maria seraya mencengkram pergelangan tangan wanita itu.


"Kenapa? apa kau ingin menandai wajah cantikku?" bertanya dengan wajah sinis.


"Kau ingin membalasku, karena itu setidaknya aku harus tau nama mu!" bisik Maria membuat wanita itu merinding seketika.


"Oh, kalau begitu dengarkan dan ingat baik-baik. Nama ku Shireen!" ucap wanita itu sebelum masuk kedalam lift.


"Aku menunggu pembalasan mu, babe!" ujar Maria sebelum akhirnya pintu lift tertutup dan keduanya berpisah di saat itu juga. Entah akan bertemu kembali atau tidak, tapi Maria yakin wanita itu mungkin menjadi sumber masalah baginya.


...****************...


Setelah mengambil antrian, Maria duduk menunggu di ujung kursi. Satu persatu calon sekertaris di panggil kedalam dan keluar dalam keadaan menangis.


Entah seberapa menakutkannya pemimpin AX company. Sampai-sampai tidak ada yang keluar dengan wajah bahagia. Semuanya menangis dan keluar dengan cepat. Seolah enggan bertahan lebih lama di tempat ini.

__ADS_1


Hingga tibalah giliran Maria masuk kedalam. Sesaat, Maria sempat menoleh ke belakang. Memastikan masih ada pelamar yang tersisa. Tapi sepertinya dia yang terakhir. Semoga saja dia tidak berakhir sama seperti pelamar yang lain.


"JANGAN HANYA BERDIRI SAJA, KEMARI DAN DUDUK DI SINI!" sentak seorang pria dari seberang sana. Maria terperanjat kaget, dengan langkah berat ia masuk kedalam dan duduk di kursi yang tersedia.


Melihat cara bicara pemimpin AX company sudah di pastikan Lucas bukan orang yang mudah di hadapi. Dia sangat galak dan mudah marah.


Sesaat Maria sempat terpesona dengan ketampanan yang di miliki Lucas Alexander. Namun, karena galak Maria jadi ingin menampar wajah tampan nan rupawan itu.


"Kenapa kamu mau bekerja di perusahaan ini?" tanya Lucas jutek. Langsung melontarkan pertanyaan tanpa basa-basi terlebih dulu.


Sorot tajamnya mengamati Maria dari atas sampai ke bawah. Sedikit jijik, tapi merasa Maria lebih baik dari pelamar-pelamar sebelumnya.


Maria terlihat paling normal di antara pelamar-pelamar yang lain. Tidak bersikap centil, berpakaian sopan, dan tidak menggoda. Minusnya wajah Maria yang paling buruk dari semua pelamar yang datang wawancara.


Tapi tidak masalah, setidaknya Lucas mendapatkan asisten pribadi sekarang. Yang dibutuhkan di sini adalah skill bukan penampilan.


"Karena perusahaan ini memiliki reputasi yang bagus dan membuat saya yakin untuk berkarir di sini. Selain itu, saya memiliki skill yang saya rasa cocok untuk menempati posisi menjadi asisten pribadi anda!" jawab Maria.


Lucas di buat terkesan dengan jawaban tersebut. Padahal Maria asal menjawab, berharap segera keluar dari ruangan ini. Tidak tahu bagaimana hasilnya nanti, yang jelas Maria mau pulang ke apartemen sekarang.


"Mulai besok kau bisa bekerja. Baca kontraknya dan tandatangani!" Lucas melemparkan map bewarna hitam ke arah Maria.


"Sa-saya diterima?" tanya Maria memastikan.


"Kau tidak mau?" tanya Lucas. Mengambil ancang-ancang hendak menyahut kontrak kerja tersebut. Namun, Maria menahan tangan kekarnya dan melemparkan senyum sumringah.


"Tentu saja saya mau, tuan." dengan secepat kilat Maria menyahut bolpoin yang terletak di samping Lucas.


Sangking senangnya di terima membuat Maria bertindak ceroboh dengan tidak membaca kontrak kerja terlebih dulu. Langsung membubuhkan tanda tangan dan menyerahkan kontrak tersebut dengan senyum mengembang.


"Saya tidak akan mengecewakan anda, tuan!" setelah berkata demikian Maria terburu-buru keluar. Sudah tidak bisa berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Lucas.


"Akhirnya aku di terima bekerja!"


"Lucas Alexander, kematian mu akan segera tiba. Bersiaplah!"


TBC


Warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏


jangan lupa like dan komen ya gaes đź–¤


__ADS_2