
Maria menggeliat kecil lantaran terganggu oleh hawa dingin yang menusuk permukaan kulit. Sampai akhirnya Maria terbangun dari alam mimpi karena menggigil kedinginan. Dengan mata menyipit Maria berusaha mencari sumber utama penyebab menurunnya suhu ruang.
Melihat gorden berterbangan bebas di terpa angin, Maria jadi sadar bahwa dirinya lupa menutup jendela semalam. Pantas saja angin malam membuat tubuhnya meremang tidak karuan.
Prang!
Maria membanting jendela dengan kasar. Tidak peduli apakah kaca itu pecah atau tidak. Yang jelas Maria ingin tidur dengan nyaman.
Melihat warna langit masih belum berubah cerah. Di tambah kabut tebal menyelimuti pemandangan di luar sana, Maria semakin yakin pada niatnya untuk tidur kembali. Lagi pula orang gila mana yang bangun sepagi ini.
Dok! Dok! Dok!
Yah kecuali orang yang satu ini, Maria lupa jika dirinya tinggal satu atap bersama orang gila kini. Mengetuk pintu tanpa henti siapa lagi kalau bukan Lucas Alexander pelakunya.
"MARIA!" panggil Lucas. Tidak-tidak lebih tepatnya pria itu sengaja berteriak kencang agar sang asisten pribadi bangun dari tidurnya.
Satu dua kali Lucas masih bisa menoleransi. Tapi ini sudah kelima kalinya dia berteriak memanggil nama Maria. Tenggorokannya terasa sakit sekarang. Ditambah kekesalannya karena di abaikan oleh asistennya sendiri membuat Lucas ingin menghancurkan pintu yang menjadi penghalangnya masuk kedalam kamar.
"Aku tidak akan menyerah dengan mudah, cupu!"
Dok! Dok! Dok!
Lucas menggedor pintu seperti orang kesetanan. Dia tidak akan berhenti sebelum Maria bangun dan membuka pintunya.
"Sialan! Kenapa dia tidak berhenti mengetuk pintu." geram Maria, menyibak selimut dan membuangnya ke sembarang arah. Memaksakan diri beranjak dari tempat tidur sebelum pintu itu jebol karena gedoran iblis.
Maria berjalan sempoyongan, matanya masih merekat kuat. Hanya ada celah sedikit di kedua kelopak matanya. Begitu jemari lentiknya hendak meraih kenop tiba-tiba pergerakannya terhenti. Maria sadar bahwa dia masih belum berdandan cupu.
"Sialan! Dimana rambut palsuku?" ujar Maria kelabakan. Niatnya untuk membuka pintu terurung lantaran harus memakai atribut penyamarannya terlebih dulu.
Maria duduk di pinggiran ranjang, mengambil wik di atas nakas dan memakainya dengan cepat. Tak lupa dia juga mengenakan kontak lensa dan tahi lalat palsunya.
Ceklek!
"Ya tuan?" Maria membuka pintu seraya menguap lebar-lebar. Pura-pura baru bangun tidur. Lucas mengamati penampilan Maria dari atas sampai bawah. Ada sedikit perubahan, Maria tidak mengenakan kaca mata tebalnya.
"Jam berapa sekarang?" bertanya dengan wajah super menakutkan. Mungkin tatapan tajamnya itu bisa melahap Maria sekarang juga.
"Jam 5," Maria menjawab dengan santainya seakan-akan bukan apa-apa. Sesekali Maria juga menguap, lalu bersandar pada pintu kamar dan menutup matanya kembali.
__ADS_1
Tingkah Maria barusan membuat amarah Lucas semakin menjadi-jadi. Tanpa ragu Lucas menampar pelan pipi Maria secara bergantian.
Plak! Plak!
Maria langsung membuka matanya seketika. "Berani sekali kau tidur di depan atasan mu!" sentaknya memberi teguran.
"Saya tak tidur, tuan! Kenapa anda menampar pipi saya?" melayangkan protes, kedua tangannya mengusap pelan pipi yang terasa panas. Jelas-jelas Lucas tak menggunakan banyak tenaga, lalu kenapa pipi wanita itu langsung memerah.
Dasar wanita rapuh.
"Kau menutup mata kalau bukan tidur lalu apa namanya?" cibir Lucas jengah. Pandai sekali Maria berkilah, apa dia pikir seorang Lucas Alexander bisa di kelabui begitu saja.
"Ck, Ck, anda tidak peka sekali ya. Saya memejamkan mata karena tidak kuat melihat ketampanan anda." jawaban tak terduga keluar dari bibir Maria. Lucas terkejut sekaligus senang mendengar Maria memuji ketampanannya.
"Benarkah? Senang sekali aku mendengar pujian dari wanita malang seperti mu. Aku akui aku memang tampan, tapi jangan harap kau bisa bersanding. Karena kau bukan seleraku!" baru di puji sedikit saja hidungnya langsung memanjang.
Dasar iblis narsis tidak punya hati nurani.
"Ya-ya saking tampannya mata saya sampai sakit dan berharap tidak melihat anda lagi." getaran kalimat yang terurai membuat maria sadar telah melemparkan dirinya sendiri kedalam jurang kematian.
Lucas sendiri terdiam di ambang pintu dengan kedua tangan terkepal. Baru saja Lucas terbang bebas karena senang dan Maria langsung menghantamnya dengan kata-kata sampai membuatnya terjatuh dalam sekejap. Maria yakin pria itu kesal karena perkataannya kali terakhir.
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud berkata begitu." melontarkan permohonan maaf lalu membungkam mulutnya rapat-rapat. Sungguh, tatapan Lucas berhasil mengintimidasi dirinya.
"Lupakan saja, sekarang buatkan aku sarapan." pinta Lucas mengabaikan permintaan maaf Maria. Sebenarnya dia tidak tersinggung sama sekali, tapi melihat Maria berkaca-kaca sambil ketakutan seperti itu entah kenapa membuat hati Lucas berdebar tidak karuan.
"Tapi tuan, saya belum mandi!"
"Memang apa hubungannya kau belum mandi dengan memasak? Bau busuk mu tidak akan mempengaruhi rasa makanannya bukan?" inilah mengapa Maria tidak tahan tinggal satu atap bersama Lucas meski hanya sedetik saja. Cara bicaranya yang arogan dan suka memerintah membuat Maria ingin menampar wajah yang sialnya sangat tampan itu.
"Tapi-"
"Kau tau Maria rasa laparku berada di tingkat dimana aku bisa memakan apapun yang ada di hadapanku. Jangan sampai aku memakan mu karena kehabisan kesabaran!" apa-apaan kenapa Lucas bisa bicara sambil tersenyum begitu. Menakutkan sekali.
"Baik, saya akan menyiapkan sarapan anda tuan!" sahut Maria cepat. Terbirit-birit masuk ke dapur apartemen, bergegas menyiapkan sarapan untuk yang mulia raja.
Maria mencepol rambutnya asal-asalan. Memakai celemek dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang bisa di olah menjadi makanan. Sementara itu, Lucas meraih cangkir kopinya dan duduk di meja pantry. Mengamati kegiatan Maria sambil menyeduh kopi.
"Kenapa anda duduk disini, tuan?" tanya Maria diringi senyum lebar yang menyebalkan. Namun, terlihat cukup manis di mata Lucas.
__ADS_1
"Ini apartemenku, aku mau duduk dimanapun yang aku mau itu bukan urusanmu." sarkas Lucas. Maria menggertakkan gigi, jawaban Lucas selalu bisa membuatnya bungkam seribu bahasa.
"Memang tidak ada gunanya ya bicara dengan orang gila!" gumam Maria pelan.
"Kau mengumpatiku?" teriak Lucas tak terima.
"Saya mana berani mengumpati bos saya sendiri, saya rasa anda salah dengar, tuan." kilah Maria. Mencoba menyelamatkan diri sendiri. Sebisa mungkin Maria mengacuhkan kehadiran Lucas dan fokus memasak. Namun, Lucas selalu punya cara untuk menyita perhatiannya.
"Waktu aku menjemputmu di apartemen, aku melihat dua anak kembar laki-laki. Apa mereka anak mu?" pembahasan Lucas membuat Maria menghentikan aktivitas memasaknya. Pandangannya beralih pada Lucas kini.
"Hmm, bukankah saya sudah menuliskan latar belakang saya secara lengkap di CV yang saya serahkan waktu itu? Seharusnya anda sudah tau kalau status saya itu single mom!" balas Maria, kembali berkutat pada wajan dan sepatula.
"Aku hanya memastikan, kenapa kau terlihat kesal begitu?"
"Berhenti menanyakan hal-hal yang tidak penting, tuan! Karena itu hanya membuang-buang waktu saya!" sengit Maria.
"Astaga sok penting sekali kau ini, lagi pula bukankah hal yang wajar kalau aku melontarkan pertanyaan pada asisten pribadiku? Aku hanya ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupanmu."
"Saya rasa itu tidak penting karena itu privasi!"
"Begitukah? Kalau begitu ayo kita bahas hal lain. Coba ceritakan pertemuan pertama mu dengan ayah si kembar." bukannya menenenang Maria malah semakin kesal. Wanita itu mendelik, meraih pisau dan bersiap menikam Lucas.
"A-ada apa denganmu? Letakkan pisau itu, kau mau membunuhku?" sebenarnya Lucas tidak takut mati. Hanya saja dia sedikit terkejut melihat reaksi Maria yang berlebihan.
"Hahahaha saya tidak bisa membunuh anda sekarang tuan tapi mungkin saja nanti." Maria terpaksa meletakkan pisau yang digenggamnya ke tempat semula. Ini bukan kesempatan yang bagus, Lucas tidak dalam keadaan lengah. Bisa saja dirinya pergi ke alam baka jika bertindak sekarang.
"Kalau tidak mau menjawab juga tidak papa kenapa harus marah?"
"Karena pertanyaan anda membuat saya muak!" sahut Maria cepat.
"Padahal aku ingin tahu ayah si kembar itu seperti apa. Jujur saja wajah si kembar itu sangat mirip dengan seseorang."
"Siapa? anda pernah melihatnya dimana?"
TBC
Warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏jangan lupa like dan komen ya gaes 🖤
__ADS_1