Perfect mother

Perfect mother
Bab 5


__ADS_3

Selesai berkemas Anna memanggil taksi untuk mengantar mereka ke bandara. Mobil dan apartemen Maria jual karena tidak tahu dalam jangka waktu berapa lama mereka tinggal di California. Setelah Maria berhasil menyingkirkan Lucas, dia akan membeli apartemen dan mobil baru.


Tidak ada kebahagiaan di perjalanan mereka, Dean yang tadinya antusias mendadak merasa sedih kini setelah mendengar cerita Sean. "Setelah sampai, mom akan mendaftarkan kalian ke sekolah baru!"


Si kembar diam membisu tidak sedikitpun peduli ataupun berniat menatap mata Maria. "Sean! Dean! mommy sedang bicara, kenapa kalian tidak memperhatikan?" kesal Maria pada akhirnya.


"Kami mendengarkan mu, mom!" jawab si kembar serempak. Lalu kembali diam dan membuang muka ke arah jendela. Maria menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali diam dan duduk di kursinya dengan tenang. Anna sendiri sudah tertidur sejak pesawat mereka lepas landas.


Maria juga lelah, namun tidak bisa memejamkan mata karena terlalu banyak pikiran. Hatinya masih ragu, akankah dia berhasil menyelesaikan misi kali ini. Maria tidak yakin bisa kembali dalam keadaan selamat. Tapi tidak masalah yang terpenting nyawa si kembar aman-aman saja.


Ada yang janggal di sini, Maria tidak pernah memberitahu siapapun mengenai keberadaan si kembar. Identitas si kembar juga ia sembunyikan rapat-rapat. Lalu, dari mana klien itu tahu Ia memiliki anak kembar. Apa jangan-jangan klien itu berasal dari orang terdekatnya.


Maria berhenti memikirkan hal-hal negatif, berusaha membangun sikap optimistis dan memilih memejamkan matanya secara paksa. Tidur atau tidak Maria tidak peduli, dia hanya menginginkan ketenangan sekarang.


...***************...


Setibanya mereka di bandara kota California. Anna mengajak Maria dan si kembar beristirahat di apartemen yang diam-diam dibelinya semalam. Mereka tidak perlu merisaukan tempat tinggal setelah sampai.


Sepanjang perjalanan, mobil taksi itu di selimuti keheningan. Tidak ada yang mau membuka suara, selain lelah karena perjalanan panjang mereka juga enggan menegur satu sama lain.


Maria melemparkan pandangan ke kanan dan kiri jalan. Dimana gedung-gedung tinggi berdiri kokoh. Sampai akhirnya mobil taksi itu melewati sebuah hotel bintang tujuh yang membutuhkan ratusan ribu dolar hanya untuk menginap satu malam.


Ingatan 7 tahun silam tiba-tiba melintas begitu saja di kepalanya. Sudah lama semenjak one night stand itu. Namun, ia masih ingat betul semua urutan kejadian malam itu. Bahkan letak kamar itu masih bisa Maria ingat dengan jelas.


Tidak sadar matanya mulai berkaca-kaca. Semua akar dari masalah berasal dari sini. Seandainya dia tidak menerima misi itu, Maria mungkin tidak akan melakukan one night stand dengan pria asing.


"Kau tidak papa?" tanya Anna kala sadar Maria sedang menahan tangis. Matanya sudah memerah padam di campur genangan air yang siap turun membasahi pipi.

__ADS_1


"Aku tidak papa, hanya mengingat segelintir kenangan buruk yang aku alami di kota ini!" jawab Maria seraya mengusap air mata dengan sapu tangan. Semua sudah berlalu, tapi entah kenapa luka yang Maria dapatkan sampai sekarang masih belum sembuh.


Anna bukan tidak tau kenangan buruk apa yang Maria tinggalkan di tempat ini. Ayah biologis si kembar berasal dari California, ia rasa Maria tengah bernostalgia. Apalagi mereka baru saja melewati hotel yang menjadi saksi bisu one night stand malam itu. Oleh karena itu Anna menanyakan keadaan Maria.


Setengah jam berlalu, akhirnya mereka tiba di apartemen. Maria meminta bantuan satpam untuk membawakan koper mereka ke lantai atas. Anna dan Maria tidak perlu membersihkan apartemen itu sebab penjual apartemen sudah membersihkannya. Setelah sampai tinggal pakai saja.


Sayangnya tidak ada makanan sama sekali di sini selain teh dan kopi. Sementara, Anna membuat dua cangkir kopi dan dua cangkir teh untuk mengganjal rasa lapar. Setelah tidur siang, Anna akan membawa mereka berbelanja ke mall terdekat.


"Kalian istirahat saja, aku mau mencari tau di mana tempat tinggal Lucas Alexander." seru Maria seraya mengenakan jaket kulit.


"Kita baru tiba dan kau mau pergi huh?" heran Anna. Tidak bisakah Maria menunggu sebentar saja. Lagi pula waktu mereka tidak terbatas. Setidaknya Maria harus beristirahat sejenak.


"Aku tidak ingin membuang-buang waktu, Anna. Aku ingin segera menyelesaikan misi dan pergi dari sini!" menjawab dengan sorot mata datar. Sean dan Dean tidak ikut nimbrung. Memilih diam dan mendengarkan.


"Setelah semua ini selesai, aku akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan gelar sarjanaku dan meninggalkan dunia gelap itu dengan senang hati." lanjut Maria membuat tiga pasang mata itu terarah padanya.


"Menurut mu dengan wajah seserius ini, apa aku terlihat sedang melawak?" cibirnya malas. Lantas si kembar dan Anna saling berpelukan serta bersorak gembira.


Selesai memeluk si kembar Anna langsung menabrakkan diri ke tubuh Anna dan memeluknya erat. "Terimakasih, keputusan mu membuat kami semua senang, Mar." bisik Anna.


"Aku tau, sekarang lepaskan aku dan biarkan aku pergi. Nanti saat kau belanja ajak si kembar juga ya!" Anna mengangguk lalu melepaskan pelukannya.


Setelah itu Maria mendekat ke arah si kembar, "kalian ikutlah aunty Anna berbelanja. Belilah banyak camilan dan makanan ringan. Tapi ingat, jangan nakal!" peringat Maria, lalu mencubit pelan hidung mungil mereka secara bergantian.


"Siap kapten!" jawab si kembar serempak, sudah tidak marah setelah mendengar Maria memutuskan meninggalkan dunia gelap.


Maria berjalan keluar sebelum menutup pintu dia melambaikan tangan dan mengulum senyum. "Hati-hati, mom!" teriak Sean. Maria mengangguk sebelum akhirnya melangkah pergi.

__ADS_1


...****************...


Maria berdiri di atas trotoar sambil mengayunkan tangan. Memanggil salah satu taksi yang berlalu lalang. Sebelum berangkat, Maria memeriksa handphonenya terlebih dulu. Mencari tahu alamat rumah Lucas Alexander.


Sean sudah mengirimkan informasi secara detail dan Maria sangat bersyukur karena itu. "Pak tolong antar saya ke alamat ini!" menunjukkan alamat yang tertulis di ponselnya.


"Baik nona!" setelah itu sopir taksi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Maria membuang muka ke arah jendela. Mengamati suasana kota yang di padati penduduk.


Tidak sampai setengah jam mereka sampai sebab jarak rumah Lucas dan apartemen Maria tidak terlalu jauh. Masih berada dalam satu kawasan. "Pak jangan kemana-mana saya akan segera kembali!" ucap Maria.


"Baik nona!" Maria membuka pintu mobil, lalu memakai kacamata hitam sebelum menutup pintunya kembali. Dengan langkah mengendap-endap, Maria bersembunyi di balik pohon yang terletak tepat di depan mansion Lucas.


Maria melongok-kan kepala, dari sana dia bisa melihat rumah Lucas dengan jelas. "Keamanan seketat ini, bagaimana caraku agar bisa masuk kedalam?" pikir Maria. Lalu mengambil gambar untuk di tunjukan pada Dean.


Puluhan orang bertubuh tambun yang memakai jas hitam rapi di tempatkan di seluruh penjuru Mansion. Kaki Maria mendadak lemas, melihat betapa ketatnya keamanan membuatnya pesimis.


"Kau harus bisa Maria, demi anak dan sahabat mu. Kau pasti berhasil, yakinlah itu." gumam Maria menyemangati dirinya sendiri.


Setelah itu, Maria kembali ke tempat di mana sopir taksi itu menunggu. Maria akan meminta solusi pada Dean nanti, mungkin anak itu bisa menemukan cara untuknya menyelundup masuk ke dalam tempat tinggal Lucas Alexander.


TBC


Warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏


jangan lupa like dan komen ya gaes đź–¤

__ADS_1


__ADS_2