Perfect mother

Perfect mother
Bab 10


__ADS_3

"Bagaimana dengan mu, Dean? Apa kau setuju mommy pindah ke apartemen paman Lucas?" beralih pada Dean kini.


Maria tau putra bungsunya itu sedih. Sebab itu Maria menanyakan pendapat Dean. Tidak ingin pergi tanpa persetujuan si kembar.


Dean sendiri terdiam di tempatnya berdiri. Tidak melarang ataupun menyetujui Maria pindah ke apartemen Lucas. Jauh dalam relung hati Dean tidak ingin Maria pergi. Sebab Dean tidak bisa hidup tanpa kehadiran Maria.


Hening sejenak, sesaat Dean terdiam sambil menundukkan kepala. Seolah sedang mempertimbangkan keputusan. "Kau bisa pergi, mom!" sahut Dean pada akhirnya. Mengulum senyum tipis dan berusaha menahan tangis. Padahal Dean menjawab dengan bibir bergetar Maria bisa melihat itu.


"Kau yakin tidak akan kesepian tanpa kehadiran mommy?" tanya Maria lagi, memastikan Dean benar-benar mengikhlaskan kepergiannya.


"Aku tidak akan kesepian mom, di sini ada aunty Anna dan kak Sean. Jadi kau tidak usah khawatir!" masih berusaha meyakinkan Maria jika dirinya baik-baik saja.


Bruk!


Maria memeluk erat tubuh Dean. Pertahanan Dean runtuh, Dean terisak dalam pelukan ibunya. Tidak peduli seberapa bijaknya Dean dalam merencanakan sesuatu. Tetap saja Dean hanya anak kecil yang membutuhkan kasih sayang orang tua.


"Jangan menangis, sayang. Mommy janji, setiap akhir pekan mommy pasti pulang." ucap Maria seraya mengusap punggung bergetar Dean. Lalu menciumi pipi gembul Dean yang terkena tetesan air mata.


"Tidak bisakah aku pergi dengan mu, mom?" tanyanya sesenggukan. Maria menghembuskan napas panjang sebelum mengulum senyum tipis dan mengusap bekas air mata Dean dengan ibu jari.


"Mommy tidak ingin membahayakan nyawa mu dengan mengajak mu ikut pindah, sayang. mengertilah! mommy sangat menyayangi mu dan mommy tidak ingin kehilanganmu!" tutur Maria menjelaskan.


"Tapi janji ya mom, setiap akhir pekan kau harus datang mengunjungi kami!" serunya seraya mengulurkan jari kelingking.


"Ya mommy berjanji!" Maria mengait jari kecil Dean. Berjanji akan pulang ke apartemen ini setiap akhir pekan.


Masalah perizinan telah terselesaikan. Maria masuk kedalam kamar untuk mengepak koper. Membawa beberapa barang penting saja. Berupa pakaian sehari-hari dan alat elektronik.


****************


Sesuai janjinya, Lucas kembali ke apartemen Maria setelah rapat selesai. Lucas kembali di sore hari. "Sudah selesai berkemas?"


Maria mengangguk seraya menarik kopernya keluar apartemen. "Masukan barang-barang mu ke dalam bagasi. Aku akan menunggu di dalam mobil." seru Lucas sebelum masuk kedalam.


Lagi-lagi Maria mengangguk singkat. Lalu menolehkan kepalanya ke belakang. Menatap si kembar dan Anna dengan sorot mata sedih. Jika di beri pilihan lain Maria tidak akan pernah memilih untuk ikut tinggal bersama Lucas.

__ADS_1


"Cepat pulang ya, mom!" ucap Dean dengan suara lirih.


"Tentu, aku pasti segera pulang." Maria memasukkan barang-barangnya ke bagasi mobil. Lalu melambaikan tangan sebelum masuk kedalam mobil.


"Sampai jumpa, sayang!"


"Sampai jumpa!" Maria melambaikan tangan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Keheningan menyelimuti, tidak ada percakapan antara Lucas dan Maria. Keduanya sama-sama diam dan terlarut dalam pikiran masing-masing.


"Tuan, boleh saya menanyakan sesuatu?" ucap Maria ragu-ragu. Lucas menoleh singkat sebelum akhirnya kembali membuang muka.


"Hm, tanyakan saja!" jawabnya.


"Kenapa saya harus tinggal bersama anda?" masih tidak mengerti jalan pikiran Lucas. Pasalnya Maria masih belum rela harus meninggalkan si kembar bernama Anna.


"Itu karena aku membutuhkan asisten yang bisa mengurus semua keperluan pribadiku!" jawab Lucas cepat.


"Kalau begitu seharusnya anda mencari istri bukan asisten, tuan!" ucap Maria blak-blakan. Tidak peduli jika Lucas tersinggung dengan ucapannya.


"Saya bukannya mau mengatur, tuan. Saya hanya memberi saran!" sanggah Maria. Lucas berdecak sebal, sebelum menatap Maria dengan tatapan membunuh.


"Aku tidak butuh saran dari mu, jadi tutup mulutmu jika tidak aku akan menjahitnya." jantung Maria berdetak kencang, seolah-olah mau lepas dari sarangnya. Ancaman Lucas terdengar tidak main-main. Tentunya Maria dibuat sedikit gugup.


Seandainya Lucas tahu dia seorang pembunuh bayaran. Entah bagaimana nasibnya nanti, bisa jadi Lucas mencincang habis tubuhnya itu.


Maria menutup mulutnya rapat-rapat. Menggosok jari jemarinya ketakutan. Jujur, Maria mulai tidak nyaman berada dekat dengan Lucas Alexander.


"Kapan semua ini berakhir, tuhan?" gumam Maria. Meletakkan kepalanya di dasbor mobil. Seakan sudah pasrah pada takdir sang maha kuasa.


"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Lucas memastikan.


"Tidak tuan!" jawab Maria gelagapan.


Setibanya mereka di apartemen. Lucas menyuruh Maria turun dari mobilnya. "Ambil barang bawaan mu dan ikuti aku!" perintahnya. Maria mengangguk singkat sebelum mengambil koper dan menariknya mengikuti Lucas.

__ADS_1


Maria tertegun melihat desain apartemen Lucas. Terlihat sederhana, namun berkelas dan minimalis. "Kamar mu ada di sebelah kamar ku! aku punya banyak aturan di apartemen ini. Baca dan paham, aku tidak ingin kau membuat kesalahan sedikit pun!"


Menyodorkan buku setebal 4 cm. Maria menelan Saliva, tidak yakin bisa mengingat setiap peraturan yang tertulis. "Setebal ini, tuan?" tanya Maria memastikan.


"Apa kau keberatan? kalau begitu bayar denda penalti dan pergi? baru di suruh baca buku setipis ini saja kau sudah mengeluh, bagaimana jika aku meminta mu untuk melayaniku nanti?" ketus Lucas marah-marah.


"Tuan!"


"Apalagi?" mulai jengah membalas perkataan Maria. "Anda tidak serius bukan dengan kalimat yang terakhir?"


"Kalau aku serius bagaimana? apa kau takut?" menyunggingkan senyum kemenangan. Lucas senang melihat Maria terpaku di tempat dengan ekspresi takut.


"Aku hanya bercanda! sekarang bereskan barang-barang mu dan istirahatlah. Besok kau mulai bekerja, ingat! aku tidak suka dengan orang yang tidak bisa tepat waktu!" ujarnya. Lalu membuka pintu kamar, meninggalkan Maria yang masih mematung di ambang pintu.


"Sialan! aku harus segera menghabisinya sebelum dia menghabisiku lebih dulu!" Maria menarik kopernya masuk kedalam kamar.


Menarik kain yang menutupi ranjang dan menghempaskan diri dengan kencang. Maria menatap langit-langit kamar, merenungkan nasib.


"Kapan semua ini berakhir, Tuhan? permainan baru di mulai dan aku sudah angkat tangan! aku tidak bisa menghadapi pria kejam itu, bagaimana jika dia melenyapkan aku nanti." gumam Maria.


"Argh...sialan!" teriak Maria. Menenggelamkan wajahnya ke bantal empuk yang ada di samping.


Ada yang aneh, sebelum mencari cara untuk mendekati target. Maria sempat mencari tahu di mana tempat tinggal Lucas. Setahunya Lucas memiliki mansion mewah, tapi kenapa Lucas mengajaknya tinggal di apartemen ini.


Bukankah ini kesempatan yang bagus. Di sini tidak ada bodyguard yang menjaga Lucas. Dia tinggal sendiri. "Jika aku melenyapkannya sekarang apa tidak papa?" gumam Maria menimbang-nimbang.


"Aku tidak boleh bertindak gegabah. Di lihat dari bagaimana dia menipuku Lucas tidak mungkin bodoh. Dia manipulatif, aku harus berhati-hati." tekad Maria.


Setelah ini dia harus berhati-hati dalam mengambil langkah. Bisa jadi Lucas meletakkan jebakan kasat mata. Maria tidak boleh terperangkap.


"Sudahlah, lebih baik aku beres-beres sebelum istirahat."


TBC


Warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏jangan lupa like dan komen ya gaes 🖤


__ADS_2