
"Siapa? Dimana anda pernah melihatnya?" mendadak jantung Maria berdetak tidak karuan. Mungkinkah Tuhan akan segera mempertemukannya dengan pria brengsek itu.
"Entahlah, aku tidak yakin apakah aku pernah bertemu dengannya secara langsung atau hanya sekedar melihatnya melalui foto saja. Tapi wajah itu terlihat sangat familiar." gumam Lucas pelan.
"Saya rasa mata anda sudah rabun, tuan!" potong Maria. Kini hatinya sedikit lega mengetahui Lucas sudah lupa dimana dia melihat wajah yang serupa dengan si kembar.
"Kenapa begitu?" Lucas menukikkan sebelah alisnya. Menunggu penjelasan Maria selanjutnya.
"Karena wajah si kembar tidak pasaran, mereka sangat tampan dan lihat binar mata mereka seindah kristal bewarna biru." ujar Maria mengagumi ketampanan putranya sendiri. Hanya dengan membayangkan wajah si kembar Maria bisa sampai segemas ini.
"Soal bola mata, bukankah bola mata mereka cukup mirip dengan bola mataku?" Maria berdecih pelan, memangnya di dunia ini yang bermata biru cuma mereka bertiga saja.
"Kau mau menikah denganku? mungkin aku bisa menjadi ayah si kembar." tawar Lucas, Maria menghela napas sabar. Siapa yang bilang Maria tidak pantas bersanding dengan seorang Lucas Alexander tadi. Segampang itukah perangai Lucas mudah berubah-ubah.
"Tidak terimakasih!"
"Sedih sekali si cupu menolak lamaranku!"
Tapi ekspresi anda tidak mengatakan sedih sama sekali. Malah terlihat sedang menggoda. Apa itu lucu?
"Saya masih belum move on. Mantan suami saya sangat tampan dan kaya raya." sewot Maria, berbohong demi kebaikan. Dia ingin menginjak-injak harga diri Lucas.
"Kalau dia kaya kau tidak akan bekerja sebagai asistenku." cemohnya. Sialan lagi-lagi Lucas berhasil membungkam Maria. Dia selalu kalah telak jika bicara dengan Lucas Alexander.
"Setidaknya permainannya sangat hebat!" mengarah pada hal-hal yang berbau dewasa. Lucas mencebikkan bibirnya, "curang! Kau belum merasakan permainanku dan langsung menilai."
"Saya tidak berniat bermain bersama anda, tuan!"
"Kenapa?"
"Karena anda tidak setampan dan seromantis suami saya!" padahal semua yang dikatakan Maria hanya omong kosong belaka. Tapi kenapa dia bisa mendeskripsikannya dengan lancar.
__ADS_1
"Sialan kau!" umpat Lucas, melempar sendok ke arah Maria. Namun, dengan cekatan Maria berhasil mengelak.
"Sudahlah tuan, dari pada anda mengoceh terus lebih baik anda makan dan pergi bekerja sana!" Maria menghidangkan nasi goreng cumi-cumi dan segelas jus jeruk.
"Maria apa kau tidak sadar kau sudah bersikap kurang ajar padaku! baru sehari kau menjadi asisten dan kau bersikap seolah-olah kita sudah lama saling mengenal." sindir Lucas, menyendok nasi dan memasukkannya kedalam mulutnya.
Berkacalah tuan! Kau bahkan sangat cerewet dan suka menggodaku. Lagi pula siapa yang menyebarkan gosip Lucas Alexander seorang pebisnis yang tegas dan dingin. Kenapa kenyataannya berbanding terbalik.
"Benarkah? Tapi saya tidak merasa demikian. Apa mungkin anda kurang bersosialisasi dengan orang-orang makanya berpikir bahwa interaksi kita berlebihan." Maria tidak sadar secara tidak langsung dia telah menghina seorang Lucas.
"Pandai sekali kau bersilat lidah. Baru kali ini aku menemukan lawan yang sepadan."
"Wah terimakasih atas pujiannya."
Dasar sinting!
"Oh ya, kau lulusan Oxford university bukan?" Maria kira pembicaraan mereka berhenti sampai disini. Tapi ternyata yang mulia raja masih mencari topik. Sepertinya anda suka bicara dengan saya ya. Pikir Maria.
"Iya! Saya lulusan terbaik." ucap Maria membanggakan diri sendiri.
"APA! Bukankah di kontrak tertulis saya hanya menyiapkan kebutuhan pribadi anda?" tanya Maria memastikan. Padahal dia berniat tidur kembali, kepalanya pusing sebab kurangnya waktu istirahat.
"Memiliki kemampuan sehebat itu dan tidak digunakan dengan baik bukankah kau yang rugi?" benar, tapi Maria sudah mempunyai pekerjaan yaitu menghilangkan nyawa orang. Dan ya gajinya bahkan lebih besar dari gaji pegawai kantoran.
"hmm saya sudah lupa caranya bekerja, tuan!" masih mencari alasan untuk menggagalkan rencana Lucas yang ingin membawanya ke perusahaan. Itu berarti selama 24 jam dia berada di sisi Lucas Alexander.
Bukankah kesempatan itu menguntungkan Maria? Kesempatan untuk membunuh Lucas jadi semakin banyak. "Jangan khawatir, Kenneth bisa mengajari mu nanti." sahut Lucas memberi solusi.
"Saya-"
"Sudahlah terima saja, lagi pula kau lulusan terbaik Oxford university bukan? Pasti tidak akan sulit bagimu mempelajari semuanya dalam waktu singkat. Dari tadi kau terus mencari alasan biar tidak bekerja, aku jadi curiga ijazah mu itu palsu!" turur Lucas panjang lebar. Mulai melontarkan tuduhan yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Bukankah kontraknya tidak bisa dirubah?"
"Kau lupa, aku bosnya. Aku berhak merubah kontraknya. Jangan khawatir aku juga akan menambah gaji mu nanti." baiklah Maria menyerah, melihat kegigihan Lucas sepertinya sudah tidak ada cara untuk menolak penawaran pria itu. Hah...bukan penawaran, lebih tepatnya itu pemaksaan berkedok penawaran.
"Terserah yang mulai raja saja! Saya akan menuruti semua keinginan anda." putus Maria pada akhirnya. Untuk apa melawan jika pada akhir Lucas selalu berhasil meruntuhkan usahanya.
"Yang mulia raja? Itu sebutan mu padaku? Senang sekali mendengar upik abu seperti mu menyadari posisinya." Maria diam sambil menatapnya tajam. Bibirnya merapat lantaran kesal melihat Lucas senang karena menang.
Kebahagiaan sesaat mu itu akan aku hancurkan cepat atau lambat tuan. Tunggu saja nanti.
"Kalau begitu saya akan bersiap-siap dulu!" Maria beranjak dari tempat duduk. Hendak meninggalkan Lucas sendiri, namun langkahnya tertahan tatkala suara Lucas kembali terdengar.
"Cepatlah! Kalau kau terlambat sedetik saja, aku akan melemparmu dari atas gedung ini!" ancam Lucas, getaran suaranya terdengar serius. Wajahnya juga berubah dingin.
"Iya-iya dasar iblis sialan!" jawab Maria mengumpati sang tuan muda. Setelah itu langsung berlari seperti tikus ketakutan. Membanting pintu kamar dan menguncinya dengan cepat. Takut Lucas marah dan membuntutinya dari belakang.
"MARIA!" panggil Lucas tidak terima. Namun, tidak bergerak sama sekali dari tempat duduknya. Sekedar menggertak untuk menakuti Maria.
"Wanita sialan itu selalu memiliki cara untuk membuatku kesal!" Tanpa sadar Lucas menyungging senyum tipis. Entah sudah berapa lama dia tidak merasakan perasaan hangat seperti ini.
Dia baru kenal Maria selama beberapa hari. Rasanya Lucas sudah sangat nyaman dan menaruh kepercayaan pada Maria. Meskipun Maria tidak menarik dari segi penampilan. Tapi kepribadiannya benar-benar unik.
Apartemen kecil nam suram ini bahkan mulai memperlihatkan tanda-tanda kehidupan semenjak kedatangan Maria. "Apa jangan-jangan aku mulai-"
"Tidak mungkin, aku masih belum melupakan wanita tujuh tahun lalu. Mungkinkah aku terlalu kesepian sampai merasa nyaman tinggal bersama orang asing?"
"Lalu bagaimana jika aku benar-benar ingin bersama Maria? Bagaimana jika aku terobsesi padanya? Sialan, hanya dengan membayangkan saja bulu kudukku sudah berdiri semua!"
"Sadar Lucas! Ini bukan saatnya kau berimajinasi yang tidak-tidak. Fokus saja pada pembunuh bayaran yang dikirimkan oleh musuh-musuh mu itu. Dan lanjutkan pencarian mu."
TBC
__ADS_1
Warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏jangan lupa like dan komen ya gaes 🖤