Perfect mother

Perfect mother
Bab 2


__ADS_3

Matahari mulai bangun dari peraduan. Memancarkan sinarnya menghapus titik-titik embun di dedaunan. Menandakan alam telah berganti rupa. Maria bangun lebih awal, pagi ini. Melakukan pekerjaan rumah tangga seperti ibu-ibu pada umumnya.


Sekarang Maria berkutat dalam dapur. Hendak membuat sarapan untuk keluarga. Hari ini, hari pertama Sean dan Dean masuk sekolah setelah libur panjang. Karena itu Maria memasak dengan kedua tangannya sendiri.


Selama ini Anna mengurus semua pekerjaan rumah tangga. Maria tidak pernah ikut campur karena di sibukkan dengan pekerjaan. Malam hari, Maria beraksi sedangkan di pagi hari Maria mulai menggali informasi mengenai target.


Bukan mau menelantarkan kedua anaknya. Maria melakukan ini juga karena mereka. Maria ingin mencukupi kebutuhan keluarga. Karena itu Anna yang mengerjakan pekerjaan rumah dan Maria yang bekerja.


"Good morning mom," sapa Sean dan Dean serempak. Keduanya sudah rapi mengenakan seragam sekolah.


"Good morning, dear." balas menyapa. Mengupas apel dan memotongnya kecil-kecil. Setelah itu Maria melepas celemek, mengambil nampan dan meletakkan satu bungkus roti, selai, apel, dan dua gelas susu.


"Makan ini!" mengambil dua potong roti, meletakkannya ke piring Sean dan Dean. Dengan senyum mengembang kedua anak itu melahap roti. Ini kali pertamanya Maria ikut sarapan pagi.


"Hari ini mommy yang akan mengantar kalian ke sekolah." kata Maria memulai obrolan. Sean dan Dean menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Tumben kau mau mengantarkan mereka." Anna keheranan. Bahkan untuk meninggalkan tempat tidur biasanya Maria menolak dengan tegas.


"Aku belajar membagi waktu Anna. Setidaknya aku harus menyisihkan sedikit waktu untuk kedua anakku. Memisahkan pekerjaan dan masalah pribadi, jadi kau harus mendukungku." Jawab Maria. Mengulas senyum tipis. Juga menyorot dengan tatapan penuh semangat.


"Tentu, aku selalu mendukung mu, babe." mengedipkan sebelah mata sebelum akhirnya kembali menikmati sarapan.


"Mom, tidak bisakah kami pindah sekolah saja?" suara Dean terdengar jelas. Maria dan Anna menghentikan kegiatan dan menoleh. Dean menatap dengan sorot mata memohon.


"Memangnya kenapa boy. Kau tidak senang bersekolah di sana?" tanya Maria khawatir Merasa gagal menjadi ibu karena tidak mengetahui masalah anaknya sendiri.


Dean hendak menjawab tapi Sean bertindak satu langkah lebih cepat dengan menyiku perut adiknya secara diam-diam. Sean Memelototi Dean menyuruhnya diam. Tutup mulut mu, jangan mengadu.


"Tidak mom, kami senang sekolah di sana. Hanya saja Dean pernah mendapat hukuman karena tidak mengerjakan tugas, karena itu Dean ingin pindah." Sean menyahut, berdalih. Tidak ingin Maria kepikiran dengan masalah yang menimpa mereka di sekolah.


"Kalau itu masalahnya Dean pantas mendapatkan hukuman. Di dunia ini, kita harus belajar dari kesalahan dan merubah diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Untuk apa takut? itu sudah berlalu bukan." Anna menjelaskan. Dean tidak menjawab, memaksakan diri agar menganggukkan kepala. Masih mengerucutkan bibir.


"Sudah-sudah, hentikan obrolan kalian dan cepat habiskan makanan kalian. Atau kita akan terlambat nanti." seru Maria sembari melihat jam dinding.


Sean dan Dean kembali mengunyah roti mereka. Mengakhiri percakapan seperti yang Maria perintahkan. "Mom akan menunggu di lantai bawah, kalian habiskan susunya juga." Maria beranjak dari tempat duduk. Menunggu seraya memanasi mobil.


"Aunty pergi ke kamar dulu ya. Pastikan kalian menghabiskan susunya, jika tidak aunty akan menjewer telinga kalian. Mengerti!"

__ADS_1


"Mengerti aunty." Anna mengulas senyum. Puas mendengar jawaban Sean dan Dean. Lalu, Anna masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.


"Kenapa menghentikan aku tadi?" menoleh ke arah Sean. Menatap Sean datar menuntut jawaban.


Sean menghembuskan napas lelah. Rupanya Dean tidak tahu situasi. "Aku tidak ingin kau berubah menjadi anak manja dengan mengadu pada mommy."


"MOMMY BERHAK TAHU APA YANG KITA ALAMI DI SEKOLAH." sentak Dean.


"Dean, mommy bekerja sampai kelelahan karena kita. Jadi jangan menambah beban pikirannya dengan menceritakan masalah kita di sekolah." Sean menyahut tas punggungnya. Beranjak dari tempat duduk dan berlalu meninggalkan Dean sendiri.


“TUNGGU AKU KAK." teriak Dean kesal. Berlari mengikuti Sean dari belakang.


"Sudah selesai?" tanya Maria tanpa menaruh kecurigaan pada sikap Dean.


"Sudah mom!" Sean membuka pintu mobil. Duduk di sebelah kursi pengemudi. Sedangkan Dean duduk di jok penumpang sendirian.


...****************...


Maria mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menyalakan musik, sesekali ikut bernyanyi dan berjoget. Tidak peduli jika Sean dan Dean melemparkan tatapan aneh.


"MOM, BISAKAH KAU MEMATIKAN MUSIK DAN FOKUS MENGEMUDI SAJA?" teriak Dean mulai terganggu. Maria menolehkan kepalanya cepat, menatap Dean dengan tatapan penuh tanda tanya. Ada apa dengan anak itu, kenapa mudah sekali marah.


Akhirnya Maria mengalah tanpa bertanya alasan Dean menyuruhnya mematikan musik. Maria rasa Dean memiliki masalah. Karena itu Dean sedikit lebih sensitif dari hari-hari sebelumnya.


Hening, ketiga orang itu sibuk pada kegiatan masing-masing. Maria fokus mengemudikan mobil. Sedangkan si kembar saling mendiami. Sesekali mata mereka bertemu. Namun, Dean langsung membuang muka. Ketara sekali dia tengah merajuk.


Sepuluh menit berlalu, Maria turun dari mobil dan mengantarkan kedua putranya sampai ke gerbang. Maria memaksa mencium pipi Sean dan Dean. Ya walaupun mereka menolak dengan tegas Maria tidak peduli.


"HEI ANAK HARAM! KERJAKAN TUGASKU. HARUS SELESAI SEBELUM GURU DATANG YA!" seorang siswa laki-laki datang dan melemparkan buku ke arah Dean. Maria terlonjak kaget saat melihat buku itu mendarat tepat di bawah kaki Dean.


Dengan sabar Maria mengambil buku itu. Lalu berdiri dan berjalan mendekati anak nakal yang melemparkannya. "Nak, kenapa kau tidak mengerjakan tugas mu sendiri?" Maria bertanya dengan nada halus.


Namun, anak itu menyahut buku yang Maria bawa dengan kasar. "APA URUSAN MU, AKU MENYURUH ANAK HARAM ITU. JANGAN IKUT CAMPUR!" Maria masih mengukir senyum. Meskipun jauh dari lubuk hatinya Maria kesal, ingin memukul kepala anak bodoh itu.


Apa orang tuanya tidak mengajarkan sopan santun. Dan apa dia bilang tadi, anak haram? berani sekali bocah ingusan sepertinya menghina Dean.


"Mencela atau mengejek teman itu bukan hal yang baik, nak. Kenapa kau mengejek, Dean?" masih berusaha bersabar. Maria mulai mengerti, mengapa Dean minta pindah sekolah pagi ini.

__ADS_1


"Ibuku bilang aku tidak perlu berteman dengan anak yang tidak jelas asal usulnya. Sean dan Dean tidak punya ayah. Teman-teman ku bilang ibunya pelacur yang bekerja di klub malam."


habis sudah kesabaran Maria. Jadi bukan hanya anak ini yang merundung putranya. Tapi seluruh sekolah juga menyudutkan Sean dan Dean. Lihat saja nanti Maria akan membalas semua perbuatan mereka.


Bugh!


Kejadian tidak terduga terjadi. Sean memukul rahang anak nakal itu. "JANGAN MENGHINA MOMMYKU, DIA WANITA BAIK-BAIK. TUTUP MULUT BAU MU ITU!"


Tidak terima mendapat tinju, anak itu memukul balik Sean. Alhasil pertikaian terjadi, Sean dan temannya berkelahi. Maria tidak tinggal diam, mencoba melerai keduanya.


Keributan tersebut memicu datangnya guru dan anak-anak yang lain. "Sean, hentikan kenapa kau memukul teman mu?" seorang guru datang dan mendorong Sean sampai terjatuh.


Bergegas Maria menghampiri Sean dan membantunya berdiri. "Mohon maaf nyonya, tapi anak itu yang memulai pertengkaran!" sewot Maria.


Tidak Terima saat guru langsung menyalahkan Sean tanpa menanyakan alasan mengapa Sean memukul anak nakal itu. "SALAH ATAU TIDAK, tetap saja seharusnya Sean tidak memukul temannya nona."


"Entah apa yang di ajarkan orang tuanya sampai membuatnya tumbuh menjadi anak nakal."


"Dengar-dengar kalian lahir tanpa seorang ayah dan apa pekerjaan ibu mu. Pelacur? pantas saja anak seperti kalian tidak punya moral!" guru itu mengoceh tanpa henti. Terus merendahkan si kembar dan Maria.


Plak!


Maria menampar pipi guru. "ATAS HAK APA ANDA MENILAI BURUK SIFAT DAN PEKERJAAN SESEORANG. BERANI SEKALI ANDA MENGHINA ANAK SAYA!" sentak Maria. Matanya memerah padam di isi dengan genangan air.


"Anda ibunya?" tanya guru itu memastikan. Bertanya dengan suara terbata-bata. ketakutan


"YA AKU IBU SEAN DAN DEAN. Berani sekali kalian memperlakukan anak ku seperti sampah. Kau sebut dirimu seorang guru? cuih menjijikkan, aku tidak sudi anakku di ajar oleh orang tidak berpendidikan seperti mu."


"Ayo kita pulang nak. Mommy akan mencarikan sekolah baru yang jauh lebih baik dari tempat kumuh ini." Maria menggandeng tangan si kembar dan mengajaknya pergi.


Sebelum masuk kedalam mobil Maria kembali mendekati guru tersebut. Prak! Maria melemparkan setumpuk uang tepat di muka guru itu.


"PAKAI INI UNTUK MENYEKOLAHKAN MULUT KOTOR MU ITU!"


TBC


Warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏Jangan lupa like dan komen ya gaes 🖤


__ADS_2