Perfect mother

Perfect mother
Bab 6


__ADS_3

Sampai di apartemen, Maria bergegas masuk kedalam. Begitu kakinya melewati pintu, matanya terfokuskan pada dua tempat. Yang pertama dapur, terlihat Anna dan Sean sibuk merapikan belanjaan. Sedangkan Dean sendiri asik bermain video game di sofa ruang tengah.


Maria memutuskan untuk menghampiri Dean. Menyahut video game dan menarik Dean agar berbalik ke arahnya. "Mom, aku belum selesai bermain!" rengek Dean melayangkan protes. Sesekali berusaha meraih video game yang di angkat tinggi-tinggi oleh Maria.


"Kau bisa melanjutkan permainan mu nanti. Masalah mommy jauh lebih penting dari video game ini." ketus Maria, kemudian melemparkan benda tersebut ke sofa sebelah.


"Apalagi sekarang?" gumam Dean tertekan, matanya memutar berulang-ulang. Malas mendengar keluhan Maria.


"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Maria dengan raut muka datar. Tamatlah riwayat Dean jika membuat Maria marah.


"Ck, katakan masalah apa yang ingin mommy keluhkan?" cibir Dean pada akhirnya. Mengalihkan pembicaraan, tidak ingin menambah bensin pada api yang baru saja menyala.


"Sepertinya mommy tidak bisa mendekati Lucas Alexander dengan mudah. Penjagaan di kediamannya begitu ketat dan mereka juga bersenjata lengkap." keluh Maria dengan raut muka putus asa.


Anna yang tidak sengaja mendengar Maria, reflek menghentikan kegiatan. Buah-buahan yang berada di genggamannya jatuh berserakan di bawah lantai.


Tubuhnya mendadak bergetar hebat, keringat dingin mulai bercucuran keluar. Di tambah pikiran-pikiran negatif berseliweran di kepala semakin membuatnya gelisah. Apa jadinya nanti saat Maria masuk kedalam kandang harimau. Sudah pasti Maria Dicabik-cabik sampai mati bukan.


Anna tidak siap kehilangan Maria. Rasa sayang dan cintanya sudah hampir menyamai rasa cinta dan sayangnya pada keluarga. "Aunty, tidak usah khawatir. Percayakan saja semua pada mommy. Sean yakin mommy pasti berhasil!"


Sean berusaha menenangkan pikiran Anna dengan menggenggam kedua tangan Anna. Ucapannya terdengar begitu optimis, tapi hatinya berkata lain. Jujur, Sean juga tidak ingin kehilangan sosok Maria dalam hidupnya.


Anna dan Sean kembali diam, mulai menguping kembali pembicaraan yang terjadi antara Dean dan Maria.


"Mudah saja, aku sudah mempersiapkan semuanya, mom. Kau tinggal menjalaninya saja dan aku pastikan rencana kita kali ini berhasil!" ucap Dean di iringi sunggingan senyum miring. Sorot matanya menyiratkan keseriusan. Dean yang cengeng tergantikan oleh sosok licik dan penuh tipu muslihat kini.


"Apa itu, beritahu mommy rencana mu, nak!" seru Maria. Bergerak mendekat mengikis jarak yang tersisa. Tidak sabar mendengar ide dari Dean.


"Jreng! Jreng! Jreng! Aku mendapat kabar bahwa perusahaan Lucas Alexander membutuhkan asisten pribadi untuk pemimpin mereka. Ini kesempatan mu mom, jadi kau harus segera mengirim lamaran ke perusahaan itu." Teriak Dean heboh, kedua tangan mungilnya memperlihatkan sebuah poster lowongan pekerjaan.

__ADS_1


Entah darimana Dean mendapatkan poster itu. Anna bahkan tidak tahu, seingatnya Dean selalu berada di sisi kirinya tadi. "Ini.... dari mana kau mendapatkannya?"


Wajah yang tadinya muram sekarang berubah menjadi secerah matahari. Matanya di penuhi binar-binar kebahagiaan. Merasa rintangan pertamanya sudah berhasil ia lalui.


"Aku menemukannya di papan lowongan yang terletak di depan Mall tadi." seru Dean bangga, seolah baru saja menemukan berlian berharga ratusan juta.


"Aku hebat bukan?" tanya Dean dengan memperlihatkan wajah imutnya. Berharap mendapat pujian dari Maria.


"Ya, putra mommy yang satu ini memang hebat dan mommy sangat bangga padamu, nak!" ujar Maria, lalu mengusap lembut kepala hitam Dean.


"Kalau begitu mommy harus segera membuat lamaran. Lihat, batas waktunya hanya sampai besok." Maria menunjuk tulisan yang terletak di pojok kertas. Dean mengangguk-angguk, kemudian mengambil video gamenya dan bermain kembali.


...****************...


Setelah mengirim lamaran, akhirnya hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Hari ini Maria di haruskan pergi ke perusahaan untuk melakukan interview. Tidak ingin Identitasnya di ketahui, Maria memutuskan merubah penampilannya menjadi cupu.


Maria memakai rambut palsu, lensa hitam untuk menutupi mata biru miliknya yang indah. Tak lupa Maria juga memakai kacamata bulat dan tahi lalat yang cukup besar sebagai pemanis di pipi kanannya.


"Kau yakin ingin berdandan seperti ini, mom?" tanya Dean. Berusaha menahan tawa tidak ingin di jewer Maria.


"Kenapa? aku puas dengan penampilanku yang sekarang!" tutur Maria sembari merapikan jas hitam yang membalut tubuh seksinya. Astaga, penampilannya sangat buruk. Siapa yang mau memperkerjakan Maria jika dia berpenampilan seperti ini. Zaman sekarang penampilan itu nomor satu.


"Ya terserah kau saja mom, jangan sampai lupa nama mu tetap Maria. Tapi tidak ada marga ataupun nama lengkap. Hanya Maria saja, oke?"


"Aku sudah ingat Dean, berhenti mengingatkanku. Kau tahu, telingaku sudah akan pecah sekarang." cibir Maria judes. Dean hanya menggelengkan kepalanya. Mommy ini memang kekanak-kanakan.


"Umurmu?" Sean ikut bertanya kini.


"35?" tanya Maria memastikan.

__ADS_1


"Benar, jangan salah ucap!" peringat Sean. Padahal umur asli Maria jauh lebih mudah 5 tahun dari umur palsu itu.


"Kalau begitu aku harus segera berangkat, interview di mulai pada jam 09:00. Aku tidak ingin membuat kesan yang buruk di mata Lucas Alexander." tutur Maria, sebelum akhirnya meraih map bewarna hijau. Yang berisi beberapa dokumen-dokumen persyaratan.


"Tunggu!" Maria hendak membuka pintu apartemen namun harus terhenti karena teriakan Anna.


"Kenapa lagi? ayolah aku sudah terlambat." rengek Maria dengan wajah merah padam. Mulai kesal dengan semua orang karena sudah membuang-buang waktu berharganya.


"Semoga berhasil!" Anna mengepalkan kedua telapak tangan, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Menyemangati sahabatnya tercinta. "Ya, terimakasih!" balas Maria dengan senyum hangat.


"Jika aku lolos interview, aku akan membeli ayam crispy dan beberapa kotak Pizza. Malam ini, kita berpesta!" teriak Maria sebelum pintu tertutup rapat. Dan Maria menghilang dari balik pintu itu.


Seperti biasa Maria menaiki kendaraan umum. Biasanya, Maria memanggil taksi online. Tapi sepertinya Maria harus mulai berhemat dengan menaiki bus umum atau kereta bawah tanah.


Sampai di halte dekat perusahaan AX company, Maria segera keluar. Dengan langkah panjang Maria berjalan memasuki Arena gedung perusahaan. Baru ia menaiki satu tangga, seorang satpam menghentikannya.


"Maaf, anda ingin bertemu dengan siapa kalo boleh tahu?" tanya satpam itu sopan. Benar kata orang semua pegawai AX company tidak pandang bulu, semua orang berhak dihormati dan di berikan hak yang sama. Mereka tidak membeda-bedakan Maria meskipun penampilannya sedikit cupu.


"Saya di suruh datang untuk melakukan interview, kalo boleh tau dimana ruang interview berada?" tanya Maria sopan.


"Oh, jadi anda kandidat asisten pribadi CEO kami. Ruang interview ada di lantai 5 ruang no 3, nona. Semoga berhasil!" satpam itu memberi semangat.


"Terimakasih," ucap Maria di iringi senyum tulus.


TBC


Warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏

__ADS_1


jangan lupa like dan komen ya gaes đź–¤


__ADS_2