
Ting! tong! ting! tong!
Berulang kali bel apartemen berbunyi. Sean terbangun karena terperanjat kaget. Dengan mata sayup-sayup Sean memaksakan dirinya beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Entah siapa yang bertamu sepagi ini.
Ceklek!
Pintu terbuka menampakkan sosok pria tampan berdiri gagah perkasa dengan tatapan datarnya. Melihat siapa yang datang sontak Sean terpaku di tempat. Tidak menyangka target ibunya datang ke sini.
"Permisi! apa ini tempat tinggal Maria?" tanya Lucas seraya mengedarkan pandangannya ke depan. Mengamati tempat tinggal asisten pribadinya.
Sean tidak tahu harus menjawab apa. Dia membisu tidak menanggapi pertanyaan Lucas. "Nak, apa benar ini tempat tinggal Maria?" sekali lagi melontarkan pertanyaan. Mulai kesal dengan Sean karena berani mengabaikannya.
"Y-yaa.. silahkan masuk." mempersilahkan Lucas masuk kedalam. Sean tidak punya pilihan lain selain membiarkan Lucas masuk. Sean tidak ingin Lucas curiga dengan gerak-geriknya.
Sean berlari ke kamar Maria. Masuk tanpa mengetuk pintu. Melihat ibunya tidur nyaman di bawah selimut. Sean menepuk dahinya pelan sebelum akhirnya membangunkan dengan mengguncang kencang tubuh ibunya.
"Mommy!" panggil Sean pelan. Maria mengerutkan keningnya singkat sebelum akhirnya berbalik dan kembali pada posisi nyaman.
"Bangun mommy! kita kedatangan tamu!" mengguncang tubuh ibu lagi. Tidak mau menyerah sampai wanita itu bangun.
Terganggu karena guncangan-guncangan itu. Maria bangun dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Ia mengumpulkan nyawa tanpa mempedulikan ocehan-ocehan Sean.
Rasa kantuk masih menyerang dan nyawa Maria masih belum terkumpul sepenuhnya. "Ada apa?" tanya Maria setelah sekian lama membisu.
Sean mematung, mendengar Maria bertanya membuatnya kesal seketika. Jadi ibunya ini tidak mendengarkan ocehannya sama sekali.
"Mom! dengarkan aku baik-baik."
"Ya ya ada apa kenapa kau terlihat sangat panik, Sean. Apa semuanya baik-baik saja?"di masih bersikap santai. Menganggap hal yang Sean katakan hanya omong kosong semata.
"LUCAS ALEXANDER DATANG DAN MENCARI MU MOM!" sahut Sean cepat.
"APA!!" pekik Maria kaget. Seketika kesadarannya kembali utuh.
Bergegas dia membuka selimut. Masuk kedalam kamar mandi dan memakai semua atribut penyamarannya. Tidak sampai 15 menit Maria keluar dengan penampilan cupu.
"Kenapa dia datang ke sini!" gumam Maria bertanya-tanya seraya menuruni tangga. Sean mengekor di belakang.
__ADS_1
Ketika telapak kakinya menyentuh lantai dasar. Maria mengatur napas, berusaha menenangkan diri. "Kau datang, tuan?" tanya Maria disisipi senyum ramah.
Lucas menatap Maria datar. Baru kali ini dia menunggu orang dan parahnya yang di tunggu adalah asisten barunya. "Dari mana saja kau?"
Maria termangu, apakah Lucas buta. Apa dia tidak bisa melihat jam dan warna langit di luar sana. Kenapa bertamu di waktu orang-orang masih tidur.
"Saya baru bangun tidur, tuan!" jawab Maria diiringi tawa renyah.
Lucas mendengus kesal pasalnya hampir setengah jam dia menunggu. Terlebih alasan yang di lontarkan Maria sangat tidak masuk akal. "Kau bangun jam segini? lalu bagaimana cara mu membangunkan aku nanti."
Lucas memarahi Maria. "Saya membangunkan anda? kenapa saya harus melakukan itu?" tanya Maria tidak mengerti.
"Karena itu tugas mu sebagai asisten." sahut Lucas menjawab.
"APA!!"
"Kemasi barang-barang mu dan ikut aku ke apartemenku!" ajak Lucas bak mengajak istrinya pergi. Maria tersedak air liurnya sendiri. Tidak menyangka Lucas meminta hal yang mustahil untuk dilakukan.
"Saya tidak mau, tuan. Untuk apa saya tinggal di apartemen anda sedangkan saya sudah memiliki tempat tinggal sendiri." tolak Maria mentah-mentah. Mulai meninggikan suara sebab di landa rasa takut tiba-tiba.
Bak di sambar petir di siang bolong, Maria terduduk di sofa sebelah Lucas. Kala itu, dia terlalu senang sebab rencananya selangkah lebih maju. Karena senang Maria tidak sempat membaca isi kontrak kerja yang dia tanda tangani.
"Saya memang tidak membaca kontraknya. Tapi kenapa anda tidak bilang dari awal, tuan? Dari pada tinggal bersama anda lebih baik saya mengundurkan diri saja." Sean terlonjak kaget mendengar penuturan Maria. Pasalnya rencana Sudah tersusun rapi dan Maria mau mundur di tengah-tengah jalan.
"Mengundurkan diri kau bilang? fine, tapi bayar uang penaltinya." seru Lucas dengan senyum miring.
"Uang penalti?" mengulangi kalimat Lucas. Menatap dengan tatapan bertanya-tanya.
"Ya uang penalti, seandainya kau mengundurkan diri sebelum kontrak kerja mu habis. Maka kau di wajibkan membayar penalti sebesar 2 juta dolar. Itu sudah tertulis di surat kontrak." jelas Lucas panjang lebar. Lagi-lagi Maria di hantam fakta yang ada. Cukup, Maria tidak kuat lagi.
Bagaimana aku bisa bertindak gegabah. Seandainya aku tidak menandatangani tanpa membaca terlebih dulu. Semua ini tidak akan terjadi. Mungkin kita masih sempat menyusun rencana lain.
"Sekarang bereskan barang-barang mu dan ikut denganku atau kau harus membayarku senilai 2 juta dollar." lanjut Lucas lagi. Pria terus menerbitkan senyum kemenangan. Senang melihat Maria tidak berdaya.
Belum sempat Maria melontarkan jawaban. Suara langkah Anna membuat perhatian mereka teralihkan. "Ada apa ini?" tanya Anna kebingungan tatkala mendapati Lucas dan Maria duduk dengan ekspresi kurang mengenakkan.
Anna menuruni tangga seraya menggandeng tangan mungil Dean. Tatapan Lucas mengamati Sean dan Dean secara bergantian. Saat sudah paham mereka berdua kembar. Barulah dia membuang muka.
__ADS_1
"Aku memberi mu waktu tiga jam untuk berpikir. Aku harus menghadiri rapat penting sekarang. Setelah rapat selesai aku akan kembali dan mendengarkan keputusan mu!" potong Lucas kemudian keluar dengan ekspresi santai.
"Ada apa, Mar? kenapa dia datang ke sini?" Anna melontarkan pertanyaan secara beruntun. Melihat tatapan kosong yang di penuhi genangan air mata membuat Anna semakin yakin Lucas melakukan sesuatu hal yang merugikan Maria.
"Bodoh sekali aku!" pekik Maria frustasi seraya memukul kepalanya sendiri.
"Bagaimana ini? Lucas memintaku tinggal di apartemennya." ujarnya memberitahu Anna.
"WHAT! APA KAU BERCANDA?" teriak Anna.
"Aku tidak mungkin bercanda di pagi buta Anna. Sialan! ini semua salahku. Seharusnya aku membaca isi kontrak sebelum membubuhkan tanda tangan!" sesal Maria.
"Rencana kita baru maju satu langkah dan aku sudah mengacaukannya!” gumam Maria sedih. Tidak lama setelah itu buliran bening menjatuhi pipi. Maria berada di ambang kebingungan.
"Untuk apa menyesal Maria semuanya sudah terlambat. Dari pada kau menangisi kebodohan mu lebih baik kita cari solusinya." saran Anna. Kasihan melihat sahabatnya
"Aku rasa kita punya pilihan selain menuruti permintaan Lucas, Anna. Kita tidak punya uang untuk membayar penalti." sahut Maria dengan suara lirih. Terdengar putus asa.
"Kau benar mom, kita tidak punya pilihan lain. Kau harus ikut bersama paman Lucas!" sahut Sean dari belakang sana.
"Jika mommy ikut ke apartemen Lucas, mommy harus meninggalkan kalian semua. Apa kalian sudah siap?" tanya Maria dengan tatapan memelas. Tidak ingin meninggalkan anak-anak dan sahabatnya.
"Tidak papa mom, kau bisa mengunjungi kami setiap akhir pekan." ujar Sean berpikiran dewasa. Berusaha membuat Maria mengerti, keadaan mereka sudah sangat mendesak dan mereka tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Lucas.
"Tapi...."
"Jangan pikirkan kami, mom. Pikirkan bagaimana cara agar kau bisa menyelesaikan misi ini dengan secepat mungkin. Aku lelah mom, aku ingin pulang ke Shanghai!" potong Sean menyanggah.
"Bagaimana dengan mu, Dean? Apakah kau setuju mommy pindah ke apartemen paman Lucas?"
TBC
Warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏
jangan lupa like dan komen ya gaes 🖤
__ADS_1