
Isak tangis terdengar pilu. Maria mengemudikan mobil dengan perasaan sedih. Hatinya tidak berhenti merutuki dirinya sendiri sebab merasa gagal menjadi ibu yang baik untuk Sean dan Dean.
Jadi inikah alasan Dean meminta pindah. Lantas mengapa mereka tidak mau berterus terang. Hidup di antara orang-orang berpikiran sempit seperti itu. Maria yakin siapapun juga tidak akan tahan.
Seandainya Maria tidak pergi mengantar, mungkin masalah ini masih berlanjut. Seharusnya Sean dan Dean mengadu sejak awal. Hal itu tidak akan membuat mereka terlihat lemah.
Menangis dan merajuk seperti anak pada umumnya tidak akan membuat Maria marah. Itu hal wajar karena si kembar masih berusia 6 tahun. Jadi mereka tidak perlu berpura-pura kuat dan mengatasi masalahnya sendiri.
"Mom!" panggil Sean. Meraih lengan Maria, menatap dengan sorot mata bersalah. Maria menoleh sejenak, lalu kembali membuang mukanya dengan cepat.
"Maafkan Sean, mom! Sean tidak bermaksud menyembunyikan masalah ini dari mommy!" meminta maaf dengan mata berkaca-kaca, ikut sedih melihat ibunya menangis.
"Lalu, kenapa kalian tidak pernah cerita? dan tadi, kenapa Sean berbohong. Mommy tidak pernah mengajarkan kalian untuk berkata bohong." kata Maria. Air mata mengalir sampai ke pipi.
"Aku tidak ingin menambah beban pikiran mu, mom. Karena itu aku melarang Dean mengatakan yang sebenarnya." Sean menunduk takut.
Mendengar jawaban Sean, lantas Maria menyalakan lampu sen. Menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Maria menyandarkan kepalanya ke setir mobil. Sudah tidak kuat dengan perasaan bersalah yang menyerang hati.
"Itu tidak akan terjadi, nak. Mommy tidak pernah terbebani dengan kehadiran kalian berdua." Maria mengusap wajahnya kasar. Lalu mengelus kepala si kembar secara bergantian.
“Lain kali jangan sembunyikan apapun dari mommy, sayang. Kalian bisa mengadu pada mommy, jangan bertingkah seperti orang dewasa. Kalian masih anak berusia 6 tahun!”
Lantas si kembar mengangguk serempak. Lalu beranjak dari tempat duduk, berlomba-lomba naik ke kursi depan. Memperebutkan kursi kosong di samping Maria.
"Ini kursiku!"
"Aku lebih dulu memegangnya, jadi kursi ini milikku!"
__ADS_1
"Kau kakakku, yang lebih tua harus mengalah." sungut Dean.
"Kita beda lima menit saja." balas Sean malas. Tidak sudi mengalah pada saudara kembarnya.
Melihat pertengkaran si kembar, Maria menghempaskan napas panjang. "Kalian berdua duduk saja di belakang, jangan membuat mommy semakin emosi!" sungut Maria. Si kembar ketakutan dan kembali ke tempat duduknya semula.
Sesaat setelah menegur Maria kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Musik kembali terdengar, bukan hanya Maria saja. Si kembar juga ikut menggerakkan tangan, menikmati dentuman musik yang terdengar.
Suasana kembali ceria, Maria dan si kembar melupakan masalah di sekolah dalam sekejap. Terlalu asik berjoget sampai membuat mereka tidak sadar, mobil mereka sudah sampai di halaman depan.
...****************...
"Kami pulang!" teriak si kembar begitu melewati pintu utama. Anna yang kebetulan duduk di ruang tamu sambil membaca majalah bisnis terperanjat kaget.
"Secepat ini? apa sekolahnya masih libur?" keheranan kala mendapati si kembar pulang kembali. Bukannya menjawab, si kembar malah berlari masuk ke dalam kamar. Menutup pintunya rapat-rapat.
Tidak lama setelah itu, Maria masuk dengan wajah muram. Seolah baru saja kehilangan sebuah barang, "Hei, ada apa denganmu? dan kenapa kau membawa si kembar pulang?"
"Tidak ada yang baik, Anna. Entah itu keadaanku ataupun keadaan anakku!" jawaban ironi terlontar begitu saja dari mulutnya. Maria sedih kala mengingat kejadian di sekolah si kembar, pagi ini.
"Maksud mu? katakan dengan jelas Maria!" pintanya memaksa. Semakin dibuat penasaran.
"Sebelum aku cerita, aku ingin menanyakan sesuatu." Maria duduk di sebelah Anna, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala kursi.
"Ya, tanyakan saja. jangan membuatku semakin penasaran, Maria!" sungut Anna dengan wajah memelas. Lelah di permainkan oleh perkataan Maria yang penuh teka-teki.
"Pernahkah kau mendapati si kembar dalam masalah selama ini?" secepat kilat Anna menggelengkan kepala. Selama ini Anna hanya mengantar sampai gerbang, tidak pernah mengantar sampai kedalam sekolah. Bahkan dia tidak pernah turun dari mobil.
__ADS_1
"Tidak!" jawab Anna singkat padat dan jelas. Lantas Maria terduduk lesu. Itu berarti Anna juga tidak tahu apa yang si kembar alami selama bersekolah di tempat itu.
"Kau tahu, si kembar mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari teman-teman dan guru-gurunya. Mereka selalu merendahkan putraku, memperlakukan putraku seperti sampah. Si kembar disudutkan karena terlahir tanpa seorang ayah, Anna!" jelas Maria dengan bibir bergetar. Tidak terasa genangan air mulai memenuhi mata. Lalu, mengalir deras membasahi pipi. Ibu mana yang tidak sakit mendengar keberadaan anaknya dipertanyakan.
Mendengar penjelasan Maria Anna mematung di tempat. Tidak bisa berkata-kata. Rasa bersalah mulai menyeruak masuk kedalam hati. Anna menyesal tidak pernah mengantar si kembar sampai kedalam kelas.
"Kau serius? tapi kenapa si kembar tidak pernah bercerita padaku?" heran Anna. Jika tidak mau bercerita pada Maria, mereka bisa bercerita padanya bukan. Kenapa si kembar malah menutup-nutupi masalah ini.
"Si kembar bilang, mereka tidak ingin membebaniku, Anna!" sontak tangis Maria pecah. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
"Mereka bilang aku seorang pelacur, dan si kembar lahir tanpa ayah yang tidak jelas asal usulnya!" masih terus bercerita, membuat Anna ikut sedih.
Anna menarik Maria kedalam dekapannya. Memeluk Maria erat, sesekali menepuk punggung bergetar itu. "Tenangkan dirimu Mar. Tidak usah menanggapi omong kosong orang-orang dungu itu. Mereka tidak tahu, kejadian apa yang selama ini kita alami. Jadi jangan menangisi perkataan tidak berguna mereka, oke!"
Anna melepaskan pelukannya, memberi ruang untuk Maria. "Aku akan membuatkan mu kopi. Tunggu sebentar ya!" Maria mengangguk seraya mengusap bekas air matanya. Perasaannya lebih plong setelah bercerita pada Anna.
Beberapa saat kemudian, Anna datang membawa dua cangkir americano. Anna menyerahkan satu gelas pada Maria dan gelas yang lain untuk dirinya sendiri.
"Terimakasih!" ucap Maria.
"Sama-sama!" keduanya pun menikmati kopi itu dalam diam. Pembicaraan mereka tak berlanjut, kini keduanya fokus dengan layar televisi yang memainkan film Hollywood bergenre Action. Maria dan Anna sama-sama menyukai film laga dan juga drama Korea.
Namun, Maria menonton televisi saat di akhir pekan saja. Sedangkan Anna hampir setiap hari melihat televisi, bukan hanya film Holywood atau drama Korea saja. Bahkan jika ada sinetron perselisihan rumah tangga saja Anna juga menontonnya. Mungkin karena tidak ada kegiatan yang bisa Anna lakukan selain menonton series setelah si kembar pergi ke sekolah.
TBC
Warning!
__ADS_1
Cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏
jangan lupa like dan komen ya gaes 🖤