Pernikahan Haram II

Pernikahan Haram II
#01


__ADS_3

Nazril masih duduk memperhatikan wajahnya di depan cermin. beberapa helai uban yang terselip diantara rambut hitamnya mulai dicabutnya satu persatu. Tidak banyak namun amat mengganggu penglihatannya. Apalagi satu dua helai yang tumbuh di dekat telinga. Sesekali ia mengaduh saat beberapa helai rambut hitamnya ikut tercabut. ia mendesah. Kali ini perhatiannya beralih ke arah kerutan kerutan di keningnya. ia mengurutnya ke atas dan berusaha menahannya dengan jempol dan jari telunjuknya. Kerutan itu kembali terlihat membentang saat ia melepas jempol dan telunjuknya kembali.


Nazril mendesah. Usianya kini sudah genap 40 tahun. di usianya yang sudah kepala empat itu, ia masih juga belum melepas kesendiriannya. bukannya tak ada yang mau. Segala yang diinginkan wanita ada pada dirinya. Wajahnya yang tampan dengan kulit putih bersih, postur tubuh yang tinggi serta penghasilan yang mapan, membuat para gadis berharap untuk dinikahi olehnya. Bahkan, ibu-ibu tetangganya tak segan-segan mengajukan anak gadis mereka untuk dinikahi Nazril. Dia hanya terlalu pemalu untuk mengungkapkan ketertarikannya pada seseorang. Selain itu, kesibukannya berkarir sebagai staf ahli di salah satu perusahaan mutiara, membuatnya tidak punya waktu untuk memikirkan itu.


selain itu, ia punya komitmen untuk untuk menyelesaikan kuliah adik satu-satunya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, dia menjadi harapan tunggal adiknya untuk menyelesaikan kuliahnya. Dia belum fokus memikirkan pernikahan sebelum adik semata wayangnya benar-benar merampungkan kuliahnya.


tok,tok,tok...


Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Nazril mendesah dan segera merapikan rambutnya yang berantakan. Sedikit kotoran yang menempel diujung matanya diusapnya dengan sapu tangan di atas meja.


"Kopinya Kak," kata seorang gadis cantik berlesung pipit sebelah sambil tersenyum di balik pintu. Dia memegang nampan berisi segelas kopi. sebelum diijinkan masuk, ia sudah lebih dulu melangkah ke dalam kamar. Segelas kopi ditangannya di letakkan di atas meja. Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk.


"Kamu gak kuliah Pit," kata Nazril. Ia melangkah ke arah meja dan duduk. Gelas kopi di depannya di angkat dan menyeruputnya sekali.


Aaah...


Pipit merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Nazril menoleh.


"Loh, ditanya kok malah tidur,"


Pipit menahan senyumnya. Bola matanya tertahan di tengah-tengah menghadap ke langit-langit kamar.


Setelah terdiam beberapa saat, tawanya pecah.


"Sebentar lagi Kak, Pipit harus memastikan dulu kakak sedang ceria atau gak," kata Pipit. Ia lalu bangkit dan melangkah ke tempat Nazril duduk. Ia lalu memeluk tubuh Nazril dari belakang. Ia menggelayut manja saat Nazril melingkarkan kedua tangannya di lehernya.


"Kak, ayo dong Kak, kapan nikahnya. Pipit pingin sekali punya kakak ipar," kata pipit dengan nada manja. Nazril tersenyum . Ia berbalik dan menjewer telinga pipit.


"Selesaikan dulu kuliahmu. Jangan nakal, 20 tahun kamu wisuda, maka selama itu kamu akan menunggu kakak menikah." Ia mendesah


"What? selama itu?" kata Pipit pura-pura terperangah.


Pipit mengeleng-geleng. Ia lalu melepaskan pelukannya dan mengeluarkan ponsel dari saku roknya. Tangannya mulai lincah mengotak-atik layar ponsel.

__ADS_1


"Kak, lihat," Pipit memperlihatkan layar kameranya kepada Nazril. Nazril memicingkan matanya. Setelah memastikan Nazril membaca pesan pendek dalam ponsel Pipit. Ia kembali menggeser layar ponsel.


"Ini juga,"


"Ini juga,"


"ini juga." Pipit menatap Nazril. Nazril hanya tersenyum melihat tingkah adiknya.


"Ini sms dari teman-teman Pipit, semua minta dititipkan salam untuk Kakak." Pipit terlihat kesal melihat Nazril yang hanya memberikan respon dengan senyuman.


"Dan ini, pipit spesialkan untuk kakak." Kali ini Pipit memperlihatkan sebuah photo seorang gadis berjilbab putih di ponselnya.


"Ini gadis paling cerdas di kampus. orangnya baik, cantik, dan shalelah. Diantara cewek-cewek yang Pipit pilih, hanya dia yang masuk top one. Namanya, Milna Salsabila. Satu lagi, ia juga sama dengan kakak, masih jomblo," jelas Pipit panjang lebar tanpa memberikan kesempatan pada Nazril untuk berbicara. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak kegirangan seakan-akan hubungan antara Kakaknya dengan gadis pilihannya benar-benar terjadi.


Nazril berbalik dan menyeruput kembali kopinya. Itu membuat Pipit berubah kesal. Usahanya selama ini menjodohkan kakaknya tetap tak membuahkan hasil.


Pipit memasukkan kembali ponselnya dan menjatuhkan tubuhnya di sisi ranjang. Nazril menoleh dan melangkah mendekati Pipit. Setelah puas memandang Pipit yang seperti tak mempedulikannya yang duduk di sampingnya, ia memeluk tubuh Pipit.


Nazril tersenyum dan mencubit pipi Pipit. Wajah Pipit semakin cemberut.


"Menghargai bagaimana,"


"Pilih salah satu dong Kak,"


"Pilih bagaimana, anak orang kok disamakan dengan barang,"


Pipit terlihat semakin kesal. Dicubitnya paha Nazril keras. Nazril berteriak kesakitan sembari menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Males, ah, Pipit mau kuliah saja. Males, males," kata Pipit menepuk-nepuk ranjang. Ia kemudian berdiri dan menyodorkan tangannya hendak bersalaman dengan Nazril.


"Gak ah, kamu belum minta maaf. Paha kakak pasti menghitam karna cubitanmu,"


"Kak...kakak, ayo, nanti Pipit bisa terlambat," kata Pipit manja sembari menghentak-hentakkan kakinya.

__ADS_1


"Gak, ah, sebelum kamu minta maaf," kata Nazril. Ia menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Pura-pura sedang marah. Pipit mendekat dan menindih tubuh Nazril. Bantal yang menutupi tubuh Nazril dirampasnya. Nazril menutup wajahnya dengan tangan. Bibir Pipit yang nyosor hendak menciumnya membuatnya geli.


"Ok, ok, kakak nyerah. Ayo, singkirkan bibirmu dulu, kakak gak mau gincumu nempel di wajah kakak," kata Nazril sembari mendorong tubuh Pipit menjauh darinya.


Nazril bangkit dan merapikan pakaiannya yang kusut. Pipit masih berdiri. Ia meraih tangan kanan Nazril dan menciumnya.


"Apa lagi, ayo, berangkat sana," kata Nazril saat melihat Pipit masih berdiri. Kali ini ia menyodorkan tangannya ke arah Nazril.


"Uang baksonisasinya," kata Pipit menahan senyum.


"Baksonisasi atau pulsaninasi," kata Nazril sambil berjalan ke arah meja. Ia meraba saku belakang celananya. Ia terlihat mulai kebingungan.


"Ada apa Kak," kata Pipit. Melihat Nazril sedang mencari sesuatu, ia mendekat.


"Dompet Kakak, kok gak ada ya," kata Nazril. Ia membuka laci meja dan memeriksa beberapa celana dan baju yang ada di dalam lemari.


Nazril mendesah sambil berkacak pinggang. Matanya melirik kesana kemari dengan kening mengerut, seperti sedang mengingat sesuatu.


"Hilang Kak?" tanya Pipit.


"Gak tahu juga, biasanya kakak taruh di saku belakang," kata Nazril. Ia meraba kembali saku celana belakangnya.


Pipit ikut-ikutan mendesah.


"Bagaimana nih Pit, ATM kakak ada di dompet itu." Nazril menatap Pipit. Pipit menaikkan kedua pundaknya dengan muka cemberut.


"Tapi sebentar," Nazril melangkah dan kembali membuka laci meja. Ia memperlihatkan selembar uang lima puluh ribu kepada Pipit. Pipit berjalan lemah mendekati Nazril dan menyambar uang yang ada di tangan Nazril.


"Makanya Kakak cepat nikah biar ada yang nyimpan duitnya,"kata Pipit.


"Ya udah, Kak, Pipit berangkat dulu, ntar terlambat," sambung Pipit, ia memegang tangan Nazril dan menciumnya kembali.


Nazril mengangguk dan kembali duduk di depan cermin. Kopi yang masih tersisa setengah diminumnya lagi. Ia mendesah beberapa kali ketika belum juga bisa mengingat tempat meletakkan dompetnya.

__ADS_1


__ADS_2