Pernikahan Haram II

Pernikahan Haram II
#02


__ADS_3

Milna Salsabila. Gadis cantik berkulit sawo matang itu masih bersedekap memandang ibunya yang sedang mengarahkan slank air ke arah tanaman-tanaman hias di halaman rumah. Ia masih berdiri memperhatikan ibunya dari balik kaca jendela rumah. Sedari tadi ia bolak-balik ke kamarnya. Ia masih ragu berangkat kuliah pagi ini. Ia masih mengkhawatirkan kesehatan ibunya. Ia merasa ada yang berbeda dengan ibunya akhir-akhir ini. Tepatnya, ada penyakit yang kini sedang di derita ibunya, walaupun secara zahirnya, ibunya terlihat begitu sehat dengan tubuhnya yang padat berisi.


Semalaman, tak henti-henti terdengar batuk dari dalam kamarnya. Ia yakin, ada sesuatu yang terjadi pada ibunya.


Ibunya memang tak pernah mengeluh apa-apa. Ibunya pun selalu memenangkan debat dengan memperlihatkan tubuhnya yang masih bugar dan tak kalah seksi dengannya. Sepuluh tahun menjanda dan menjadi ibu tunggal, ibunya masih terbilang cantik dan nyaris tanpa kerutan di wajahnya. Terkadang, jika mereka berdua berboncengan, banyak yang mengira mereka berdua adalah kakak beradik. Sampai saat ini, ibunya tetap memilih menjanda dengan alasan tak ingin melihatnya terlantar. Dia sudah berkali-kali meyakinkan ibunya bahwa dia menerima jika suatu hari nanti ibunya menikah lagi. Ia ingin suatu hari nanti ibunya bisa menikmati masa tuanya dengan pasangan hidupnya yang kedua.


"Ibu tak akan menikah jika kuliahmu belum tuntas. Satu lagi, ibu tetap akan menjadi bidadari almarhum ayahmu, di dunia dan akhirat,"


Itu jawaban ibunya saat ia menyuruh ibunya menerima tawaran menikah dari beberapa orang laki-laki yang tertarik kepadanya. Sejak itu, ia tidak pernah lagi membahasnya di depan ibunya. Keputusan ada di tangan ibunya. Dia hanya ingin ibunya tahu, dia sebagai anak tidak pernah menghalanginya untuk menikah lagi.


Milna memundurkan badannya ketika ia melihat ibunya mengarahkan pandangan ke arah kaca tempatnya berdiri. Milna menarik sedikit lengan bajunya dan memperhatikan jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam 8 pagi. Ibunya tentu bertanya-tanya kenapa sampai saat ini ia belum juga keluar dari rumah.


"Milna," terdengar panggilan. Milna mendesah. Setelah merapikan ujung jilbabnya, ia segera keluar.


"Sudah jam berapa ini, Nak, kok belum berangkat kuliah," kata bu Siti ketika melihat Milna keluar dari rumah. Slank yang ada di tangannya ia gantung di atas dahan pohon rambutan di dekatnya. Ia melangkah mendekati Milna. Ia terlihat memeriksa bagian belakang jilbab Milna. Beberapa helai rambut yang terlihat di kening Milna di rapikannya.


"Bu, ibu istirahat saja dulu. Nanti biar Milna yang antar kuenya ke pelanggan," kata Milna. Ia menatap wajah bu Siti yang terlihat pucat. Semalaman ibunya tak tidur karna harus menyelesaikan pesanan gue dari pelanggan. "Gak usah, ibu gak apa-apa kok. Kamu berangkat saja sana. Ibu masih sehat kok, malah lebih sehat dari kamu. Lihat," kata bu Siti. Ia memperlihat kedua lengan tangannya dan berpose layaknya binaraga. Milna yang mencoba terus bertahan serius, tak bisa lagi menahan tawanya. Ia terpaksa duduk jongkok karna tak bisa lagi menahan tawanya. Melihat tawa Milna tak kunjung juga mereda, bu Siti tersenyum dan segera mengangkat tubuh Milna.

__ADS_1


"Sudah, Ayo, berangkat sana," kata Bu Siti. Milna mengeluarkan selembar tissu dari dalam tasnya dan mengusap matanya yang berair. Setelah mencium tangan ibunya, Milna segera menaiki sepeda motornya dan segera berlalu di iringi senyum bu Siti.


* * *


Siti Nur melangkah pelan menuju teras rumahnya sambil berpegangan di tembok pembatas rumahnya. Sesekali ia berhenti. Degup jantungnya berdegup lebih kencang. Nafasnya terengah-engah.


Sedari tadi ia berusaha menyembunyikan keadaannya di hadapan Milna. Ia takut Milna mengetahuinya dan tak membiarkannya beraktifitas lagi seperti biasa. Dia harus tetap bekerja semampunya untuk membiayai kuliah Milna. Uang pensiunan almarhum suaminya tidak akan cukup jika tidak ditopang usaha lainnya.


Beberapa kali Milna menyuruhnya untuk memeriksa kesehatannya, namun ia takut. Dokter pasti akan memberinya pantangan-pantangan yang akan menghalangi pekerjaannya. Walaupun ia merasa, penyakit yang dideritanya kini mulai mengganggunya, namun ia merasa belum waktunya memeriksakannya ke dokter.


Setelah merasa kuat lagi berjalan, Siti Nur kembali mengayunkan langkahnya. Hari ini ia akan mengantarkan kue pesanan pelanggannya, sekaligus mencari alamat pemilik dompet yang ia temukan di tengah jalan kemarin.


* * *


"Eh, Bu Siti, mari masuk, Bu," sapa perempuan itu ramah mempersilahkan Siti Nur masuk setelah membuka gerbang rumah. Siti Nur tersenyum. Ia mengambil beberpa box plastik berisi kue kering yang ia ikat di belakang sepeda motornya. Ia lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Nafasnya terdengar terengah-engah.


"Maaf, pesanannya terlambat sedikit, Bu. Saya harus mengantar beberapa pesanan ke tempat lain," kata Siti Nur.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Bu. Kue-kue ini juga akan diantarkan besok," kata pemilik rumah. Ia menyerahkan dua lembar uang kertas seratus ribuan kepada Siti Nur.


"Gak minum teh dulu, Bu," tawar pemilik rumah saat Siti Nur pamit pergi.


"Gak usah, Bu. Lain kali saja," kata Siti Nur. Setelah bersalaman, ia membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju sepeda motornya.


"Oya, Bu." Siti Nur urung menghidupkan sepeda motornya. Ia seperti ingat sesuatu. Ia mengeluarkan sebuah dompet berwarna hitam dari tasnya. Ia lalu turun dan melangkah kembali menuju pemilik rumah yang hendak menutup gerbang.


"Saya mencari alamat ini, Bu. Mungkin Ibu tahu," kata Nur Santi. Ia memperlihatkan kartu identitas itu kepada pemilik rumah.


"Pemondah. Jalan TGH. Lalu. Moh. Nuh.


Pemilik rumah mulai membaca kartu identitas. Ia mengernyitkan dahinya. Seperti mencoba mengingat-ingat.


"Kayaknya harus melewati perempatan pertama dekat pengadilan agama, Bu. Setelah itu ibu belok kanan. Kalau gak salah ya, Bu." Pemilik rumah menggaruk-garuk kepalanya.


"Termakasih, Bu. Insya Allah, saya akan mencarinya nanti. Kalau begitu, mari, Bu," kata Siti Nur. Pemilik rumah tersenyum menganggukkan kepalanya. Setelah membunyikan bel motornya sekali, sepeda motor yang di tungganginya melesat menembus keramaian jalan.

__ADS_1


Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Suara bising kendaraan siang itu mewarnai istirahat warga kota di sudut-sudut taman kota. Suara adzan Dhuhur terdengar berkumandang usai tarhim. Beberapa pegawai perkantoran terlihat mulai bergegas dan memenuhi halaman masjid dekat alun-alun kota.


Siti Nur menghentikan sepeda motornya di sebuah warung tepi jalan dekat perempatan jalan. Terik matahari yang menyengat, ditambah dengan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat, membuatnya harus istirahat sejenak memulihkan tenaganya.


__ADS_2