
Siti Nur menghentikan laju sepeda motornya di depan sebuah mobil sedan warna hitam yang terparkir di depan gerbang rumahnya. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat seorang lelaki usia sekitar lima puluhan sedang duduk santai menikmati rokoknya di kursi teras rumahnya.
Siti Nur menggelengkan kepalanya setengah kesal. Ekspresi wajahnya seketika berubah. Laki-laki tua itu datang lagi setelah sebulan lebih tidak datang menemuinya. Ia sudah memberinya peringatan agar tidak menemuinya sampai ia sendiri yang memintanya datang. Ia tak ingin Milna tahu siapa laki-laki itu dan yang lebih ia takutkan, Milna akhirnya tahu apa maksud kedatangan laki-laki itu sebelum waktunya. Siti Nur kembali menyalakan sepeda motornya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Laki-laki itu tersenyum.
"Ibu mertua sudah pulang?" sapanya dengan nada setengah meledek setelah mematikan rokok di tangannya ke dalam asbak. Siti Nur tak menoleh dan memang ia tak ingin melihat wajah laki-laki itu. Mendengar laki-laki itu memanggilnya ibu mertua, ia merasa jijik dan hendak muntah.
"Ayolah, Bu.Jangan cemberut seperti itu. Gak baik. Calon mantumu datang mengunjungimu kok gak disambut," kata laki-laki itu sambil tersenyum saat melihat ekspresi wajah tidak senang dari Siti Nur.
Siti Nur menarik kunci motornya dan bergegas menghampiri laki-laki itu.
"Berhenti memanggilku ibu. Aku bukan ibumu. Seharusnya kamu itu memanggilku anak, dan sebutanmu yang paling pantas untuk Milna adalah cucu." Siti Nur terlihat kesal. Tapi nada bicaranya yang keras, ditambah emosinya yang memuncak, membuat detak jantungnya semakin cepat. Ia mulai merasa kesulitan bernafas. Siti Nur memegang dadanya. Ia masih berdiri dan menatap tajam ke arah laki-laki itu.
"Sudahlah, Siti Nur. Terima saja. Kamu itu sudah sakit-sakitan. Tak usah menyembunyikan keadaanmu dalam tubuhmu yang montok dan wajah cantikmu itu. Sampai matipun, kamu tidak akan mampu membayar hutang-hutangmu," kata laki-laki itu sambil tetap tersenyum mengolok.
"Hutangku tak akan sebanyak itu jika kamu tidak licik. Tunggulah kelak jika kamu sudah mati. Kamu akan berkalung harta riba di dalam neraka," kata Siti Nur sengit.
"Hahaha..., tahu apa kamu tentang neraka, Siti Nur. Tahu apa. Neraka dan surga itu ya di dunia ini. Aku hidup senang bergelimang harta seperti saat ini, yah, karna aku saat ini sedang menikmati surgaku. Begitu juga sebaliknya yang terjadi pada dirimu. Melarat itu sama dengan neraka," laki-laki itu tertawa sejadi-jadinya sambil menunjuk ke wajah Siti Nur yang masih terlihat kesal menatapnya tajam.
"Cukup, Pak Darmanta. Kalau memang kamu kesini hanya untuk mengolok dan menghinaku, silahkan tinggalkan rumah ini," hardik Siti Nur.
__ADS_1
Perlahan tawa laki-laki yang dipanggil pak Darmanta itu reda. Ia menatap ke arah Siti Nur.
"Percuma saja kamu mengusirku, Siti Nur. Calon mertuaku." Pak Darmanta tersenyum dan bangkit.
"Baik, aku akan pergi. Tapi besok, pagi-pagi sekali aku akan datang lagi kesini biar Milna tahu perjanjian apa yang telah kamu buat denganku," kata pak Darmanta. Ia mengambil tas pundaknya dan hendak pergi. Siti Nur memejamkan matanya. Karna tak kuat lagi berdiri, ia memutuskan duduk.
"Ya, Allah. Kamu benar-benar menyiksa dan membuatku sengsara, Darmanta. Kamu tidak juga mengerti perasaanku. Aku sudah memperingatkanmu agar tidak menemuiku di sini. Tapi kamu memang sengaja ingin membatalkan pernikahanmu sendiri." kata Siti Nur. Ia menundukkan kepalanya. Ia sudah merasa terlalu lelah untuk meladeni kasar pak Darmanta.
"Gitu dong, yang halus sedikit kalau ngomong sama calon menantu." Pak Darmanta kembali duduk. Ia menatap ke arah Siti Nur yang memalingkan wajahnya.
"Kamu tahu kenapa aku tiba-tiba datang kesini? Kamu sudah terlalu lama menghilang, Siti Nur. Aku takut kamu berkhianat dan melupakan kesepakatan kita,"kata pak Darmanta.
Siti Nur menoleh. Amarah yang tadinya mereda kembali bangkit. Ia menatap marah ke arah pak Darmanta.
Pak Darmanta tersenyum.
"Itu dulu, Siti Nur. Itu dulu. Dulu sekali saat bodimu masih seperti gitar spanyol. Kalau aku boleh ibaratkan, waktu itu kamu seperti buah yang sedang ranum-ranumnya." Pak Darmanta bangkit dan berdiri di depan Siti Nur. Ia tersenyum menatap wajah Siti Nur yang enggan menoleh ke arahnya.
"Sekarang, lihatlah dirimu. Bodi dan wajahmu memang masih oke, tapi tenagamu sudah tidak akan bisa menahan gempuran kekuatan kuda liar milikku. Hahahaha....." Pak Darmanta tertawa terbahak-bahak sambil mengepalkan kedua tangannya.
Siti Nur mendesah. Ia sudah tidak punya cara lagi mengadapi pak Darmanta. Setua itu, ia belum juga berubah. Ia tidak bisa membayangkan jika kelak dia benar-benar menikah dengan Milna. Laki-laki itu sudah jadi momok menakutkan setiap malam menjelang tidurnya. Setengah dari pikirannya terkuras memikirkan masalah itu. Tapi yang lebih menakutkannya lagi adalah ketika membayangkan saat ia harus memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi kepada Milna.
__ADS_1
Siti Nur mendesah dan menatap ke arah pak Darmanta. Kali ini tatapan matanya terlihat memelas.
"Ku mohon, pulanglah. Aku takut orang-orang melihat kita berduaan di sini. Aku takut mereka berpikir yang tidak-tidak tentang kita," kata Siti Nur dengan nada datar.
Pak Darmanta tersenyum. Ia menyulut rokoknya dan kembali duduk. Asap rokok mengepul dari mulutnya.
"Orang-orang kampung itu tidak akan berani macam-macam kepadaku. Tidak hanya kamu, sudah tiga keluarga yang sudah menjadikan anak gadisnya sebagai jaminan hutang mereka." Pak Darmanta kembali menghisap rokoknya. Ia mendongakkan kepalanya bangga. Siti Nur menggelengkan kepalanya.
"Tapi di antara gadis-gadis itu, Milna lah yang nomor satu. Ia akan jadi istri utamaku." Ia menoleh ke arah Siti Nur. "Kamu seharusnya bangga kelak punya menantu kaya raya seperti aku," sambung pak Darmanta sambil menepuk dadanya.
Sulastri terdiam. Ia tak mau lagi menanggapi kata-kata pak Darmanta. Itu hanya akan semakin membuat hatinya sakit. Dari segi apapun ia melawan, ia tetap akan kalah. Dia merasa benar-benar telah jadi tawanan pak Darmanta. Dia hanya bisa berharap, laki-laki tua itu cepat pergi dari rumah itu.
"Baiklah, Siti Nur. Aku pergi dulu. Ingat, Kamu harus janji tetap menjaga Milna hingga saatnya nanti aku datang melamarnya," kata pak Darmanta. Ia bangkit dan melempar puntung rokoknya jauh ke halaman rumah. Siti Nur mendesah lega. Ia ikut berdiri. Pak Darmanta lebih mendekat ke arahnya. Siti Nur mundur tapi langkahnya terhalang kursi di belakangnya.
Pak Darmanta mendengus-denguskan hidungnya lebih dekat ke wajah Siti Nur. Siti Nur segera berpaling. Ia berusaha menghalangi wajah pak Darmanta dengan telapak tangannya. Bau asap rokok menyembur dari mulut pak Darmanta, membuat perut Siti Nur mual.
Pak Darmanta tersenyum.
"Luar biasa, bau keringatmu saja wanginya minta ampun. Membuatku terangsang saja," kata pak Darmanta memejamkan mata sambil menghirup aroma tubuh Siti Nur.
"Tapi sayang, aku harus menyimpan energiku untuk anakmu, Milna." Pak Darmanta memundurkan wajahnya. Ia mempererat sabuk celananya. Setelah merapikan rambutnya, ia kemudian berjalan dengan langkah angkuh menuju gerbang rumah.
__ADS_1
Siti Nur memandangnya penuh kebencian.