Pernikahan Haram II

Pernikahan Haram II
#06


__ADS_3

Suara gemuruh guntur terdengar disela-sela derasnya hujan. Milna yang duduk bersandar menikmati secangkir teh yang dihidangkan Pipit terlihat tidak tenang. Berkali-kali ia menoleh ke arah jam tangannya. Hampir maghrib. Hujannya masih deras mengguyur. Beberapa kali ia mencoba menghubungi ibunya, tapi ponsel ibunya tidak bisa dihubungi.


Melihat raut kecemasan di wajah Milna, Pipit mencolek tangan Milna. Makanan ringan di tangannya disodorkannya ke arah Milna. Milna menggeleng.


"Kok gak semangat gitu sih, Milna," sapa Pipit. Milna sedikit tersenyum. Ia meminum tehnya.


"Iya nih, Milna. Gak asik. Baru sekali main bareng tapi kok gak semangat gitu," sambut Amira sambil terus asik dengan pemainan game di ponselnya. Sesekali salah satu tangannya meraba ke arah cemilan yang dipegang Pipit.


Milna tersenyum dan memegang pundak Amira.


"Sudah hampir maghrib nih. Kasihan ibu di rumah sendirian. Ibu juga lagi kurang sehat. Aku takut dia butuh sesuatu," jawab Milna. Pipit terdiam. Kembali suara guntur terdengar menggelegar. Ketiganya menutup telinga. Melihat bagaimana gelapnya langit di luar sana, belum bisa dipastikan bahwa malam ini hujan benar-benar akan reda. Setidak-tidaknya hingga tengah malam nanti.


"Kenapa gak ditelpon saja dulu biar ibu juga gak cemas," sambung Amira. Kedua jempol tangannya terlihat lincah memencet tombol demi tombol ponselnya. Milna mendesah.


"Sudah. Tapi gak aktif. Mungkin ibu lupa mencharge hp nya," jawab Milna. Ia lalu menselonjorkan kedua kakinya dan membaringkan tubuhnya pelan.


Pipit tersenyum. Ia menggeser tubuhnya dan ikut berbaring di samping Milna. Melihat kedua temannya berbaring, Amira ikut-ikutan berbaring.


"Sudah, gak usah cemas lagi. Nanti aku minta tolong kak Nazril untuk mengantar kalian," kata Pipit. Milna agak sedikit lega. Milna kembali mendesah. Ia menoleh ke arah Pipit.


"Tapi..., saya gak enak sama kak Nazril. Saya kok ngerepotin," kata Milna. Pipit tersenyum.


"Santai saja Mil. Kak Nazril orangnya baik, kok. Lagian siapa lagi yang akan ngantar kamu hujan-hujan begini kalau gak kak Nazril," kata Pipit. Amira tersenyum.


"Mungkin ada cowoknya kali Pit," goda Amira. Wajah Milna cemberut.


"Ih, cowok dari mana," kata Milna.


"Sudah. Gak usah cemas lagi. Ayo, aku baru saja download pengajian bagus dari salah seorang ustadz. Judulnya membina rumah tangga," kata Pipit. Ia memperlihatkannya kepada Milna.


"Memangnya sudah ada rencana nikah setelah wisuda?" kata Milna. Pipit tersenyum.


"Dengar ceramah pernikahan bukan berarti harus cepat nikah, Milna. Kita denger dulu ceramahnya pak Ustadz, mungkin ada kreteria-kreteria laki-laki yang pantas jadi suami kita," kata Pipit. Milna tersenyum dan mulai memperhatikan tayangan di ponsel Pipit.


* * * * *


Pipit membuka pintu kamar Nazril setelah terdengar suara Nazril menyuruhnya masuk. Nazril yang masih sibuk mencatat sesuatu di mejanya tidak menoleh saat Pipit melangkah pelan ke arahnya. Pipit tersenyum ketika melihat sebuah dompet hitam di atas meja. Beberapa kartu dan lembar uang kertas berjejer dekat dompet.


"Ini kan dompet Kakak. Katanya hilang," kata Pipit.


"Tadi ada seorang perempuan yang nganter," kata Nazril tanpa menoleh. Pipit mengangkat kedua alisnya. Ia tersenyum.

__ADS_1


"Perempuan? gadis atau janda,"


"Ah, Kamu, Pit. Mau gadis atau janda, yang penting dompet kakak sudah kembali,"


Pipit lebih mendekat. Tubuhnya menempel di tubuh Nazril.


"Isinya utuh Kak,"


"Alhamdulillah. Orangnya jujur. Dia juga tidak mau menerima imbalan."


"Kamu mau apa kesini. Kok teman-temannya ditinggal,"


Pipit melingkarkan kedua tangannya di leher Nazril.


"Kak, tolong antarkan teman Pipit dong. Kasihan, ibunya sendirian di rumah,"


Nazril menutup ujung bolpoinnya. Setelah memeriksa kembali catatan yang ditulisnya, buku itu ditutupnya. Pipit melepaskan kedua tangannya lalu duduk di tepi ranjang. Nazril menoleh. Secangkir kopi yang ada di depannya diambilnya dan meminumnya.


"Apa gak nginep saja. Hujan masih deras." Nazril kembali menyeruput kopinya sambil menatap ke arah Pipit.


"Kalau Amira positif nginep. Tapi Milna minta pulang. Ibunya sedang sakit di rumah,"


Nazril bangkit dan memasukkan kembali kartu-kartu yang berceceran di atas meja ke dalam dompetnya. Sedangkan beberapa lembar uang kertas ia lipat kembali dan melangkah menuju Pipit. Ia memberikan uang itu kepada Pipit. Pipit tersenyum.


"Ngantarnya sendiri saja, ya?"


Nazril memasang wajah sangarnya. Ia melirik ke arah sapu yang bersandar di dekat pintu. Merasa Nazril akan memukulnya, Pipit segera bangkit dan berlari ke arah pintu.


"becanda, Kak. Iya, nanti Pipit temenin," kata Pipit sambil tertawa menjauh ke arah pintu. Nazril tersenyum.


"Kak, Milna itu cantik loh , Kak. Andai saja kakak melihat wajahnya waktu ia membuka cadarnya, Pipit jamin kakak bakalan kelepek," goda Pipit dari balik pintu. Nazril pura-pura tak mendengar. Ia melangkah menuju lemari dan mengambil handuknya.


"Mau gak Pipit sampaikan salam kakak,"


Nazril mendesah. Ia mulai terlihat kesal. Merasa Pipit masih saja terus menggodanya, Nazril melangkah mengambil sapu. Melihat itu, Pipit segera menutup pintu dan berlari menuju kamarnya.


* * * * *


Siti Nur masih duduk mendekap tubuhnya erat di teras rumah. Hujan masih saja deras mengguyur. Mungkin Milna sudah menelponnya beberapa kali dan merasa cemas karna ponselnya tak bisa dihubungi. Tadi, tanpa sengaja ia menjatuhkan ponselnya saat memperbaiki atap yang bocor di dalam kamarnya. Melihat hujan sederas ini, Milna tidak akan bisa pulang. Tapi ia ingin memastikan jika Milna tidak bisa pulang malam ini, setidaknya ia berada di tempat yang aman.


Siti Nur memegang dadanya. Dadanya kembali terasa sesak. Selalu begitu jika ia merasa cemas dan tertekan. Apalagi dengan cuaca dingin seperti ini. Tapi ia tidak tenang di dalam kamarnya. Ia takut Tertidur dan tak ada yang membukakan Milna pintu gerbang.

__ADS_1


Siti Nur akhirnya menyerah. Angin yang bertiup dingin memaksanya bangkit dan melangkah ke dalam rumah.


Siti Nur menoleh. Terdengar suara mobil berhenti di antara suara gemeritik hujan saat ia baru saja hendak membuka pintu. Tak berapa lama kemudian, Milna terlihat dari balik pintu gerbang melambaikan tangannya ke arah mobil. Siti Nur tersenyum.


"Alhamdulillah. Siapa yang nganter kamu, Nak," kata Siti Nur ketika Milna menyalaminya.


"Teman Milna, Bu," jawab Milna.


"Teman? Cowok atau cewek," kata Siti Nur. Milna tersenyum.


"Cowok, Bu. Kakaknya teman Milna. Si Pipit. Gak usah khawatir, Bu. Pipit ikut kok," kata Milna. Ia memegang tangan Siti Nur dan mengajaknya masuk.


"Hp ibu kok dari tadi Milna hubungi kok gak aktif-aktif," kata Milna ketika sudah sampai di dalam rumah. Tas pundaknya di gantung di tembok. Ia segera menghampiri Siti Nur ketika melihat Siti Nur membuka penutup makanan di atas meja makan.


"Jatuh, Nak. Rusak," jawab Siti Nur.


"Sudah. Ibu duduk saja dulu. Biar Milna yang hidangkan makanan," kata Milna ketika melihat Siti Nur mulai sibuk menggelar makanan di atas meja makan.


"Memangnya jatuh dimana, Bu," lanjut Milna.


"Tadi waktu ibu benahi genteng rumah,"


Milna menoleh. Ia terdiam menatap Siti Nur. Ia terlihat kesal.


"Berapa kali Milna bilang, Bu. Jangan kerjakan sesuatu yang berbahaya bagi ibu. Untung saja hanya HP yang jatuh. Coba kalau ibu," kata Milna.


Siti Nur mendesah. Ia keceplosan bercerita kepada Milna. Seharusnya ia tidak menceritakannya pada Milna. Milna paling tidak suka melihatnya melakukan pekerjaan berat.


"Atapnya bocor Nak."


Milna mendesah. Ia masih menatap Siti Nur.


"iya, Bu. Tapi kan bisa nyuruh orang. Itu bukan pekerjaan ibu. Itu tinggi loh Bu," kata Milna dengan nada setengah marah.


Siti Nur mengangguk. Ia meraih piring yang sudah berisi nasi di depannya. Milna meletakkan beberapa ikan kering ke dalam piring Siti Nur.


"Ya, Ibu gak akan melakukannya lagi," kata Siti Nur dengan suara lirih. Ia mulai menyantap makanannya.


Hujan masih terdengar deras mengguyur. Milna memilih berbaring di dekat ibunya yang meringkuk kedinginan dalam selimutnya, usai shalat isya'. Dipandangnya murung wajah ibunya yang terlihat lelah. Sesekali terdengar batuk kering yang mengganggu nyenyak tidurnya.


Milna mendesah panjang. Dia sudah terlalu lelah menunggu masa kuliahnya berakhir. Ia ingin beban di pundak ibunya bisa berkurang dan lebih fokus membantunya bekerja. Keputusannya memakai cadar memang telah membuat langkahnya begitu sempit. Termasuk peluang bekerja di luar. Ia harus memikirkan sebuah pekerjaan yang tak terikat kepada peraturan.

__ADS_1


Malam semakin larut. Kantuk yang menderanya mulai membawanya perlahan menuju alam mimpinya.


__ADS_2