
Siti Nur meletakkan gelas minuman kosong yang baru saja dihabiskannya di atas meja. Panas matahari masih terik menyengat. Pantulan hawa panasnya di aspal jalan raya semakin menambah peluh di tubuhnya. Ia mengangkat tubuhnya berat dan melangkah mendekati pemilik warung.
"Berapa, Bu," tanyanya. Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dalam tasnya.
"Gak ada uang kecil, Bu? Esnya cuma lima ribu," kata pemilik warung. Ia masih sibuk menuangkan es batu ke dalam tiga gelas kosong di depannya. Siti Nur memeriksa lebih dalam ke dalam tasnya. Beberapa uang logam yang ia temukan di dalam tas mulai dihitungnya.
"Ini, Bu. Maaf, cuma ada uang receh," kata Siti Nur. Dia meletakkan uang logam yang ia susun ke atas di samping gelas. Pemilik warung tersenyum.
"Ya, gak apa-apa, Bu,"
Siti Nur melangkah menuju sepeda motornya. Ia memeriksa sebentar ponselnya. Belum ada panggilan masuk. Biasanya Milna akan menelponnya jika tak menemukannya di rumah sampai sekarang. Sudah jam dua siang. Ini waktu terlama ia meninggalkan rumah. Ia tahu kondisi kesehatannya saat ini tak kuat untuk diajak jalan-jalan jauh di saat terik seperti ini. Tapi dompet yang ia temukan kemarin sudah terlalu lama ia simpan. Pemiliknya mungkin sedang sibuk mencarinya. Terlalu banyak barang penting di dalamnya. Pemiliknya pasti sangat membutuhkannya.
Siti Nur menaiki sepeda motornya. Dengan pelan ia mulai mengarahkan sepeda motornya menuju jalan di simpang kanan lampu merah.
* * *
Siti Nur berhenti di sebuah rumah besar di dekat sebuah gardu listrik. Rumah-rumah yang berjejer di komplek itu begitu besar dan megah-megah. Dia tidak bisa melihat apa-apa dari luar. Tembok pagar rumah yang tinggi dengan gerbang yang keseluruhannya tertutup, membuatnya kesulitan untuk mencari tahu pemilik rumah.
Siti Nur mendesah. Ia memutuskan turun dari sepeda motornya. Ia mulai memperhatikan sekelilingnya. Tak ada seorangpun yang terlihat untuk ditanyainya. Suasana di rumah-rumah itu benar-benar sepi.
__ADS_1
Siti Nur kembali ke sepeda motornya. Ia lalu mendorongnya ke arah pohon mimba besar di depan salah satu rumah dan memarkirnya. Dia belum tahu pasti apakah rumah-rumah yang berjejer di depannya ada salah satunya yang empunya dompet yang ditemukannya. Yang jelas, ia sudah mengikuti arahan dari salah satu pelanggannya. Dia hanya akan menunggu beberapa saat sampai ada orang yang bisa ia tanyai tentang alamat dalam KTP. Ia harus menunggu. Dia sudah terlalu jauh mengendarai sepeda motornya. Akan jadi sia-sia jika harus kembali tanpa berhasil menemukan pemilik dompet itu.
Siti Nur meraih ponsel di dalam tasnya saat terdengar berdering beberapa kali. Siti Nur mengangkat ponselnya.
"Halo, dimana kamu, Nak," kata Siti Nur setelah terdengar suara Milna dari arah seberang.
"Masih di kampus, Bu. Oh ya, Bu. Milna ijin hari ini mungkin Milna pulangnya telat. Mungkin sampai malam, Bu. Soalnya ada tugas dari dosen. Ibu jangan lupa istirahat," kata Milna dari seberang.
"Pulangnya jangan terlalu malam, Nak. Ingat, boncengannya harus sama teman cewek,"
"Siap, Bu,"
Siti Nur mendesah. Akhir-akhir ini ia begitu cepat sekali merasa lelah. Hanya berjalan beberapa meter saja ia sudah sangat lelah. Nafasnya pun naik turun dengan cepat. Memang benar kata Milna. Ia seharusnya memeriksakan diri ke dokter. Tapi dengan kondisi keuangan seperti itu, ia merasa menabung untuk biaya kuliah Milna lebih penting dari kesehatannya.
Siti Nur menoleh. Sebuah mobil sedan warna hitam terlihat berhenti di depan gerbang salah satu rumah dengan gerbang bercat biru. Siti Nur merapikan ujung jilbabnya.Ia masih menunggu pemilik mobil itu keluar. Setidak-tidaknya ia bisa menanyainya alamat pemilik dompet.
Seorang pria bertubuh tinggi terlihat keluar dari dalam mobil. Ia terlihat memencet tombol ke arah gerbang. Tak lama kemudian, pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Siti Nur masih berdiri memperhatikan. Dan ketika pria itu kembali memasuki mobilnya, ia segera berlarian ke arahnya.
"Pak," panggil Siti Nur melambaikan tangan. Laki-laki yang tak lain adalah Nazril itu menoleh. Ia segera berlari ke arah Siti Nur ketika melihat tubuh perempuan itu sempoyongan seperti hendak jatuh. Siti Nur mendorong tangan Nazril ketika tubuhnya bisa ia topang dengan kedua tangannya di atas atap mobil. Nafasnya terengah-engah. Dadanya terasa sesak dan ia benar-benar kesulitan bernafas. Sejenak ia terdiam mengatur nafasnya. Nazril menatapnya penuh selidik. Perempuan yang sepertinya seumuran dengannya itu, nampak kelelahan. Ia ingin membantunya duduk di kursi panjang depan rumahnya, namun sepertinya perempuan itu tak mau dipegang.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Saya mengganggu Bapak. Saya hanya ingin tanya, mungkin Bapak tahu pemilik kartu ini," kata Siti Nur dengan suara masih terengah-engah tanpa menoleh ke arah Nazril. Ia memperlihatkan kartu itu kepada Nazril. Nazril mengambilnya.
Nazril tersenyum. Ia mendesah sambil mengelus dadanya senang.
"Alhamdulillah. Ini punya saya, Bu. Syukurlah," kata Nazril dengan wajah riang. Siti Nur membalikan tubuhnya. Ia mengambil kembali kartu di tangan Nazril dan mulai membandingkan photo di dalam kartu identitas dengan wajah Nazril. Nazril tersenyum.
"Baiklah, aku akan sebutkan satu persatu apa saja yang ada di dalam dompet agar kamu percaya akulah pemilik dompet," kata Nazril sambil mentap ke arah Siti Nur. Siti Nur hanya terdiam.
"Selain kartu itu, ada dua kartu ATM dan kartu pekerja perusahaan mutiara berwarna biru di dalam tas. Ada juga uang 500 ribu. Dompetnya sendiri berwarna hitam," sambung Nazril menjelaskan dengan rinci.
Siti Nur membuka tasnya. Ia lalu memeriksa dompet itu di dalam tasnya. Sesuai dengan yang dijelaskan laki-laki itu. Uang yang sebelumnya tak pernah dihitungnya pun berjumlah lima ratus ribu. Ia yakin, laki-laki di depannya itu memang pemilik dompet itu. Nazril pura-pura tak melihat saat Siti Nur menoleh ke arahnya.
Siti Nur memperhatikan kembali wajah Nazril. Sejenak ia tertegun. Naluri keperempuannya melonjak ketika melihat wajah tampan Nazril. Nazril menyodorkan tangannya meminta dompet di tangan Siti Nur. Siti Nur tersenyum dan segera memberikannya kepada Nazril.
Nazril memeriksa dompetnya. Uang lima ratus ribu di dalam dompet diambilnya. Ia lalu memberikannya kepada Siti Nur.
"Gak usah, Pak, gak usah. Saya harus segera pergi," kata Siti Nur. Ia buru-buru pergi. Nazril segera mengejar.
"Sebentar, saya mohon, terimalah sebagai ucapan terimakasih saya," kata Nazril mendahului langkah Siti Nur. Siti Nur kembali menghalau tangan Nazril.
__ADS_1
"Terimakasih, saya mengembalikan dompet itu bukan karna saya ingin mendapatkan imbalan." Siti Nur buru-buru menghidupkan sepeda motornya. Ia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya kepada Nazril. Setelah itu ia langsung menjalankan sepeda motornya dan berlalu meninggalkan Nazril yang masih berdiri menatapnya.