
Pipit dan Amira baru saja keluar dari perpustakaan kampus. Sejak jam sembilan mereka menunggu Milna di perpustakaan. Tapi hingga keduanya selesai konsultasi dengan dosen pembimbing masing-masing, Milna tak kunjung juga muncul. Beberapa kali Pipit menghubungi nomornya tapi tetap tak aktif. Tak biasanya Milna tak memberikannya kabar jika memang ia ada halangan hari ini.
"Milnanya sakit mungkin Pit. Gak ditelpon?" kata Amira setelah memesan minuman di kantin kampus.
"Gak aktif. Mungkin ya dia lagi sakit. Tapi apapun yang terjadi, biasanya dia pasti kasih kabar," kata Pipit. Ia menoleh dan tersenyum menganggukkan kepalanya ketika pelayan kantin tersenyum sebelum meletakkan minuman di depan mereka.
"Minumannya, Kak," kata pelayan itu ramah. Keduanya tersenyum. Amira menatap Pipit yang sedang mengaduk-aduk minuman di depannya dengan sedotan plastik di tangannya. Tatapan seperti ingin memastikan bahwa Pipit tidak akan apa-apa jika ia mengungkapkan sesuatu yang ingin dikatakannya hari ini.
"Pit, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu sejak kemarin. Tapi aku malu," kata Amira dengan suara semakin menurun. Pipit menoleh sambil mengernyit heran.
"Loh, kok tumben malu. Biasanya gak tahu malu," kata Pipit sambil tersenyum. Amira memperlebar kelopak matanya. Salah satu tangannya meluncur tanpa terduga ke perut Pipit. Pipit menjerit sambil memegang perutnya usai Amira mencubit perutnya.
"Ok, ok, ok. Ayo, ceritakan aku apa yang ingin kamu sampaikan itu," kata Pipit sambil memundurkan kursinya agak menjauh dari Amira. Amira mendesah panjang. Ia menatap Pipit. Ekspresinya berubah serius.
"Ini tentang kak Nazril, Pit," kata Amira dengan suara berat. Pipit mengerutkan keningnya.
"Kak Nazril? Memangnya ada apa dengan Kak Nazril," kata Pipit.
Amira tersenyum. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil melirik ke arah Pipit yang masih menatap ke arahnya.
"Jangan marah ya, Pit." Amira mendesah panjang. Ia belum juga bisa menemukan kata-kata yang pas untuk memulai pembicaraannya. Ia kembali melirik ke arah Pipit. Mata Pipit tertuju ke arah bibirnya. Seperti menunggu apa yang akan dikatakan Amira.
"Kita kan sudah lama berteman, Pit. Itu yang membuat aku tidak pantas mengatakan ini. Tapi mau bagaimana lagi. Aku kepikiran terus dan ini sangat menggangguku," kata Amira tetap dengan wajah tertunduk.
Pipit mendesah. Ekspresi wajah serius Amira membuatnya semakin penasaran.
"Iya, kita sudah lama berteman. Aku, kamu dan Milna sudah seperti saudara. Sebagai saudara apa yang menjadi masalah kalian berdua adalah masalahku juga. Tapi kita akan mencarikannya jalan keluar bersama-sama. Ayo, katakan masalah apa yang membuatmu pikiranmu terbebani," kata Pipit. Ia menatap Amira sambil tersenyum. Ia merasa lucu karna merasa baru kali ini melihat Amira sekaku dan seserius itu.
"Kamu kenapa sih, kok serius amat," kata Pipit. Amira berpaling ke arah lain sambil tersenyum malu.
"Loh, kok jadi diam begitu. Hadap sana lagi," kata Pipit sambil menarik tubuh Amira. Amira menggaruk-garuk pipinya dan menoleh perlahan ke arah Pipit. Setelah menatap Pipit beberapa saat, ia menundukkan kepalanya. Ia mendesah panjang.
"Terus terang..., ak_u menyukai kak Na_zril, Pit," kata Amira dengan suara lirih terbata-bata.
Pipit mengerutkan keningnya. Wajah Amira ditatapnya lekat. Itu membuat wajah Amira memerah.
__ADS_1
"Aku mohon maaf, Pit. Sekali lagi, aku tak pantas mengatakan ini. Tapi aku benar-benar menyukai kak Nazril," kata Amira sambil memegang kedua tangan Pipit.
Pipit masih terlihat memasang wajah kakunya. Itu membuat Amira menjadi serba salah.
"Maafkan, Pit," kata Amira sambil meremas tangan Pipit.
"Ok, Ok. Lupakan saja apa yang aku katakan tadi. Anggap aku ngomongnya ngelantur," lanjut Amira gelisah melihat ekspresi Pipit yang tak juga berubah.
Tapi Pipit yang sedari tadi pura-pura memasang wajah kaku, sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Tawanya pecah ketika melihat Amira terlihat serba salah. Hal itu membuat Amira yang tadinya terlihat serba salah berubah menjadi kesal. Ia memukul-mukul lengan Pipit. Ia terlihat cemberut dan semakin menjadi-jadi memukul tubub Pipit ketika Pipit tak juga berhenti tertawa sambil menutup wajahnya.
"Semua teman-temanku sudah aku perkenalkan kepada kak Nazril. Termasuk kamu. Aku berharap, kak Nazril tertarik kepada salah satu temanku. Tapi sementara ini, kak Nazril belum merespon serius. Kak Nazril selalu mengajak bercanda. Tapi mungkin karna ia beranggapan karna itu hanya kemauanku saja. Mungkin saja kak Nazril akan menanggapinya serius jika kamu ngomong langsung sama dia," kata Pipit. Amira tersenyum dan mendesah lega.
"Terimakasih, Pit."
Amira mengambil gelas minuman di depannya dan meminumnya. Ia merasa lega. Sejenak ia terdiam. Sesekali Ia menghela nafas panjang. Ia menatap melirik ke arah Pipit dengan kening dikerutkan.
"Tapi bagaimana mungkin aku akan memulainya terlebih dahulu. Sempat sih terpikir untuk mengatakannya sendiri sama kak Nazril, tapi aku malu, Pit. Gak elok kayaknya kalau perempuan yang nembak lebih dulu," kata Amira. Pipit terdiam sejenak menatap Amira.
"Emh, bagaimana ya," kata Pipit. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. Tiba-tiba ia tersenyum. Ia sepertinya sudah menemukan ide. Ia menoleh ke arah Amira.
"Sudahlah, Amira. Aku senang kamu suka sama kak Nazril. Gak apa-apa mengungkapkan perasaanmu. Gak perlu memikirkan hasil akhirnya, yang penting kamu sudah mencobanya," kata Pipit menguatkan.
Tak beberapa lama kemudian, Amira menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Kalau begitu, kita langsung pulang. Mumpung kak Nazril masih di rumah. Semasa aku ngomong sama kak Nazril, kamu tunggu saja di kamar sambil berdoa. Bila perlu kamu shalat hajat juga ya," kata Pipit sambil tersenyum bangkit dari duduknya. Amira hanya tersenyum dan mengikuti Pipit dari belakang.
* * * * *
Milna menghela nafas panjang setibanya di depan rumah dosen pembimbingnya. Rumah bercat hijau berlantai dua itu tampak sepi. Sudah jam dua siang. Ini memang waktu istirahat. Selepas shalat Dhuhur tadi, Siti Nur menyuruhnya menemui dosen pembimbingnya. Bahkan Siti Nur menyuruhnya agar tidak pulang sebelum ia memberikan bukti konsultasinya dengan dosen pembimbingnya. Sudah satu jam lebih ia menunggu di halaman rumah. Beberapa kali ia mencoba untuk memencet tombol di depan pintu, tapi mengingat suasana rumah yang begitu sepi, ia takut mengganggu istirahat penghuni rumah.
Milna mendesah pendek dan memilih duduk di taman kecil di halaman rumah. Mau tidak mau ia harus menunggu sampai penghuni rumah menemukannya di luar. Ia harus pulang dengan membawa bukti konsultasinya dan memperlihatkannya kepada Siti Nur. Walau sebenarnya ia sudah tidak punya keinginan lagi untuk melanjutkan skripsinya sejak kejadian tadi pagi itu.
Kedatangan pak Darmanta tadi pagi benar-benar menguras pikirannya. Namun sudahlah, dia segera sadar bahwa inilah ketentuan Allah yang harus ia jalani ketika beberapa pilihan tak mungkin ditempuhnya.
* * * * *
__ADS_1
Nazril baru saja hendak keluar dari rumah ketika sepeda motor yang ditunggangi Pipit dan Amira memasuki rumah. Nazril memilh duduk di teras rumah sambil menunggu keduanya turun dari sepeda motor. Keduanya langsung mendekati Nazril dan menyalaminya.
Senyum manis Nazril tersungging ketika menoleh ke arah Amira. Senyuman yang tiba-tiba saja terasa berbeda Senyuman yang sepertinya memberi isyarat kepadanya bahwa mungkin misinya akan berhasil.
"Amira mau nginap lagi?" tanya Nazril. Wajah Amira yang mulai terlihat merah melirik malu ke arah Pipit. Pipit hanya tersenyum.
"Ya, Kak. Ada tugas yang harus kami kerjakan," sahut Pipit.
"Tapi kok tumben berdua. Biasanya Milna juga ikut," kata Nazril. Pipit memegang tangan Amira dan mengajaknya duduk di kursi.
"Mungkin Milna lagi sakit, Kak," jawab Pipit setelah mantap duduk di kursi.
"Ya di telpon dong temannya. Bila perlu cari ke rumahnya. Sebagai teman kan harus begitu," kata Nazril. Pipit mendesah sambil mengangkat kedua alisnya. Ia melirik ke arah Amira.
"Ya Kak. Ponsel Milna lagi gak aktif. Nanti Pipit telpon lagi," kata Pipit.
"Ya sudah, ajak Amira masuk dan makan sana," kata Nazril sambil memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
"Kakak mau kemana?" tanya Pipit ketika melihat Nazril bangkit dari duduknya.
"Aku mau ke tempat kerja dulu. Ada dokumen pekerjaan yang harus aku ambil," kata Nazril.
"Lama gak, Kak," kata Pipit.
"Kurang tahu juga. Memangnya ada apa?"
"Ada yang ingin Pipit bicarakan," kata Pipit. Amira mencolek pelan paha Pipit. Pipit mengerdipkan matanya memberi isyarat agar Amira diam.
Nazril menghempaskan kembali tubuhnya. Ia melirik ke arah jam tangannya.
"Baik, aku kasih kamu waktu tiga menit. Cukup?" kata Nazril sembari menoleh ke arah Pipit.
Kening Pipit mengeriput.
"Terlalu singkat, Kak. Begini saja. Pipit tunggu Kakak pulang saja biar lebih leluasa," kata Pipit.
__ADS_1
"Ok," kata Nazril sambil bangkit dari duduknya. Pipit dan Amira ikut bangun dan menyalami Nazril. Keduanya ikut berjalan mengantar Nazril hingga ke depan mobilnya. Nazril melambaikan tangannya sembari tersenyum ketika