Pernikahan Haram II

Pernikahan Haram II
#09


__ADS_3

Suara sepeda motor dari arah gerbang memalingkan wajah Milna. Setelah menunggu beberapa lama, Milna merasa lega. Siti Nur muncul dari balik pintu gerbang. Ekspresi Siti Nur seketika berubah ketika melihat pak Darmanta. Ia mulai ngah. Sepertinya ada sesuatu yang dilakukan Pak Darmanta. Posisi Milna yang masih memegang sapu lidi seperti sedang mempertahankan diri membuatnya yakin membuat kesimpulan, Pak Darmanta hendak berbuat yang tidak-tidak kepada Milna.


"Pak Darmanta!" Teriak Siti Nur sambil bergegas naik ke teras rumah. Langkahnya yang cepat membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tampak kelelahan. Dia segera memegang salah satu tiang teras. Salah satu tangannya menunjuk ke arah pak Darmanta. Ia kesulitan mengeluarkan kata-kata sebab belum bisa menstabilkan nafasnya. Ia benar-benar terlihat lelah. Melihat itu, Milna segera melepas sapu lidi yang dipegangnya dan langsung memegang tubuh Siti Nur.


"Apa yang dilakukan tua bangka itu padamu, Nak,"kata Siti Nur dengan suara tersendat-sendat. Milna mengusap-usap punggung Siti Nur sembari melirik ke arah Pak Darmanta dengan tatapan tidak senang. Pak Darmanta hanya tersenyum. Ia kemudian berbalik dan kembali ke tempat duduknya. Sebatang rokok dikeluarkannya dari bungkus di atas meja kemudian menyulutnya. Kaki kirinya dinaikkan di atas kaki kanannya dan menggerak-gerakkannya. Asap rokok mengepul hingga hampir-hampir menutupi wajahnya. Siti Nur menatapnya tajam.


"Aku tidak berbuat apa-apa, Siti Nur. Aku cuma memberitahunya kalau dia itu adalah calon istriku," kata Pak Darmanta. Siti Nur melirik ke arah Milna. Milna menatapnya lekat seperti meminta penjelasan. Siti Nur menundukkan wajahnya dengan ******* nafas panjang. Melihat Siti Nur terdiam menundukkan wajahnya, Pak Darmanta menggeleng-gelengkan kepalanya. Senyumnya semakin melebar. Dia lalu bangkit dan mendekati keduanya.


"Aku kesini untuk memperingatkanmu perjanjian kita bertahun-tahun yang lalu. Sudah saatnya kamu menceritakan semuanya pada anakmu. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan. Sebentar lagi dia akan wisuda dan aku tidak mau menunda pernikahanku." Pak Darmanta menghempaskan asap rokoknya ke arah wajah Siti Nur sehingga menyebabkan Siti Nur terbatuk-batuk. Milna marah. Tubuh pak Darmanta di dorongnya kuat ke belakang. Tapi tubuh pak Darmanta yang terlihat masih kekar tak bergerak sedikiptpun. Ia hanya tersenyum menatap Milna yang tajam menatapnya. Batang rokok yang masih bersisa setengah di jatuhkan di depan ujung sepatunya kemudian menginjaknya. Setelah itu melangkah pelan meninggalkan keduanya.


"Ingat, Siti Nur. Jika kamu masih saja mencari alasan untuk menundanya, aku tidak segan-segan menyita rumah ini. Satu lagi kamu bisa aku jebloskan ke penjara," kata Pak Darmanta dengan suara keras sesampainya di pintu gerbang. Siti Nur hanya menundukkan kepalanya saat Milna menatapnya. Tapi melihat kondisi Siti Nur, Milna mengajaknya masuk ke dalam rumah. Setelah mendudukkan Siti Nur di sisi tempat tidur, Milna bergegas ke dapur mengambilkannya air minum.


Siti Nur mendesah panjang. Ia menatap Milna yang sepertinya masih ingin meminta penjelasan atas kata-kata pak Darmanta tadi. Walaupun Milna masih diam, tapi tatapan matanya mengisyaratkan bahwa ia ingin Siti Nur menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi antara dia dan pak Darmanta.

__ADS_1


"Maafkan ibu, Nak. Ibu belum sempat menjelaskannya. Itulah yang sebenarnya yang ibu takutkan. Pak Darmanta ternyata datang sendiri dan mengungkapkan semuanya kepadamu. Sekali lagi, ibu min_ta ma_af, Nak," kata Siti Nur terbata-bata. Isak tangisnya mulai terdengar. Ia sesenggukan dalam tangisnya. Milna mendesah panjang. ia mengusap-usap punggung Siti Nur. Tubuh Siti Nur lunglai lemah. Kepalanya disandarkan di pundak Milna. Dia masih diam. Melihat Siti Nur yang masih sesenggukan dalam tangisnya, ia tidak tega untuk menanyakannya lebih lanjut. Ia menunggu sampai Siti Nur tenang dan bisa melanjutkan ceritanya.


Siti Nur mengangkat kepalanya. Ia mengusap kedua matanya dengan ujung jilbabnya. Ia mendesah panjang. Berusaha menenangkan dirinya. Ia menoleh ke arah Milna. Milna sudah waktunya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan ini memang waktu yang tepat untuk memberitahukannya. Masalah itu merupakan beban paling besar dalam hidupnya. Beban yang selalu menghantui ketenangannya. Apalagi ketika malam telah tiba. Milna kini sudah dewasa. Sudah seharusnya ia mengurangi sedikit bebannya dengan menceritakannya pada Milna.


"Kejadiannya berawal sejak kematian ayahmu, Nak. Kesulitan ekonomilah yang membuat ibu terpaksa harus melakukannya. Sejak kematian ayahmu, ibu sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Untuk menyambung hidup, ibu terpaksa mengambil pinjaman kepada pak Darmanta. Ibu juga tidak mau melihat kamu putus sekolah. Kamu harus sekolah setinggi-tingginya."


"Tapi pak Darmanta bukanlah orang baik yang ikhlas membantu kesulitan ibu. Dari hari ke hari pinjaman ibu bertambah banyak. Bunganya yang mencekik membuat ibu sudah tidak mungkin lagi bisa mengembalikannya. Hingga terjadilah perjanjian antara ibu dan pak Darmanta. Ibu bersedia menikah dengannya.


"Tapi sekali lagi, Pak Darmanta memang orang yang licik. Dia tiba-tiba membuat keputusan sepihak. Dia membatalkan keinginannya menikahi ibu dan meminta untuk menggantinya denganmu."Siti Nur menggelengkan kepalanya. Ia seperti sedang menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi kini. Milna menundukkan kepalanya. Butir-butir air mata jatuh di pangkuannya.


"Maafkan aku, Nak. Kamu sebut apapun ibu, ibu akan menerimanya," kata Siti Nur.


Milna memejamkan matanya. Mencoba memeras habis air matanya.

__ADS_1


"Berapa hutang kita pada pak Darmanta, Bu," kata Milna setelah beberapa lamanya mereka diam membisu dalam isak tangis masing-masing. Siti Nur mendesah panjang sambil mendongakkan kepalanya. Dia menggeleng lemah.


"Terlalu banyak, Nak. Sejak kamu SD hingga kamu kuliah, biayanya ibu dapatkan dari pak Darmanta. Ibu ikhlas menjadi istri pak Darmanta demi kamu. Tapi ibu tidak ikhlas jika dia memintaku untuk menjadikanmu istri," kata Siti Nur.


"Berapa, Bu," tanya Milna lagi. Kembali Siti Nur mendesah panjang. Tapi kini nafasnya terdengar lebih menderu. Seperti kembali mengungkit kemarahan dalam hatinya.


"Ibu tidak tahu pasti, Nak." Siti Nur menggeleng-gelengkan kepalanya. Ekspresi wajahnya memperlihatkan kekesalannya. "Laki-laki bajingan itu memang laki-laki licik. Tiba-tiba saja dia menyodorkan sebuah catatan yang membuat ibu terkejut. Hutang yang ibu perkirakan berkisar sekitar seratus juta, ternyata menjadi tiga ratus lima puluh juta."


Milna terkejut. Jumlah yang sangat besar. Jumlah yang mustahil bisa dibayar Siti Nur sendiri. Dengan berdua pun, butuh banyak tahun untuk mencari uang sebesar itu. Tidak ada jalan lain.


Milna memegang kedua tangan Siti Nur.


"Biarkan aku menikah dengannya, Bu. Ini memang sudah jalan hidupku. Uang itu terlalu besar. Harga rumah ini pun tak akan mampu membayarnya jika kita menjualnya. Aku ikhlas jika harus menikah dengan pak Darmanta,"

__ADS_1


"Tidak, Nak. Ibu tidak akan pernah rela jika kamu menjadi istri bajingan itu. Ibu tak ingin melihatmu menderita,"


"Tapi kita tidak punya pilihan, Bu. Kemana kita harus mencari uang sebanyak itu." Milna melepaskan pegangan tangannya. Ia memegang kepala Siti Nur pelan dan mendekatkannya ke wajahnya.


__ADS_2