Pernikahan Haram II

Pernikahan Haram II
#07


__ADS_3

Sementara itu.


Nazril masih berbaring santai di dalam kamarnya. Dia belum bisa memejamkan matanya. Entah kenapa tiba-tiba ia teringat dengan perempuan yang tadi siang mengembalikan dompetnya. Jika bukan karna dia seorang yang jujur, tentu dia tidak akan menemukan dompetnya lagi. Sudah beberapa kali ia kehilangan dompet,tapi baru kali ini dompetnya kembali dalam keadaan utuh.


Nazril mendesah dan tersenyum. Ia tiba-tiba memikirkan perempuan itu. Bukan hanya karna kejujurannya mengembalikan dompet serta isinya utuh, tapi ada sesuatu yang berbeda, yang kini berdenyut di jantungnya. Wajah perempuan itu sempurna terangkum dalam ingatannya padahal melihatnya hanya beberapa menit saja. Entah kenapa, hatinya begitu terkesan sedalam itu. Apa kali ini ia benar-benar tertarik dengan seorang perempuan? Tapi dilihat dari wajahnya, ia yakin perempuan itu sudah bersuami. Kalau boleh menebak, usianya mungkin kurang lebih sama dengan usianya kini. Walaupun terlihat pucat, wajah perempuan itu terlihat teduh dan menentramkan orang yang melihatnya.


"Ah!


Nazril mendesah pendek dan memiringkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya, berusaha memaksanya untuk segera terlelap.


Nazril menoleh. Ponsel yang tergeletak di sampingnya terdengar bergetar dua kali. Ia meraihnya dan membuka pesan singkat yang masuk.


"Sudah tidur, Kak,"


Nazril mengernyitkan dahinya. Pesan singkat dari nomor tak dikenal membuatnya tersenyum. Dia sudah terlalu sering menerima pesan singkat sejenis itu. Tapi selama nomornya tak ada dalam daftar kontak diponselnya, ia tidak akan menjawabnya.


Nazril meletakkan kembali ponselnya. Dia kembali menatap ke langit-langit kamar.


Ponsel kembali bergetar. Nazril kembali mendesah. Dia lupa memblokir nomor itu. Jika tidak begitu, orang tak dikenal yang mengiriminya sms itu pasti tak akan bosan-bosan mengganggunya.


Nazril meraih kembali ponselnya. Dia hampir akan menghapus langsung pesan singkat yang muncul jika tidak melihat sebuah nama tertera di sana.


"Maaf, ganggu. Aku Amiro,"


Nazril mengernyitkan dahinya. Bukankah Amiro saat ini sedang berada di kamar adiknya? batin Nazril.

__ADS_1


Ah, mungkin dia sedang butuh sesuatu. Kemungkinan juga Pipit sudah tidur.


Nazril bangkit dan menyandarkan tubuhnya. Ia terlihat mulai menekan lincah tombol ponselnya.


"Saya belum tidur. Ada yang bisa saya bantu?


Nazril menunggu beberapa saat.


"Gak kok, Kak. Saya hanya ingin tahu. Kakak sehat?"


Nazril lagi-lagi mengernyitkan dahinya. Kenapa Amira sampai larut malam begini belum tidur dan mengirimkannya sms hanya untuk menanyakan keadaannya? Batin Nazril. Amiro termasuk teman Pipit yang paling sering diajak Pipit menginap di rumahnya. Mungkin saja Pipit sudah tidur dan Amiro butuh seorang teman untuk diajak mengobrol.


"Saya baik-baik saja. Sudah larut malam. Kamu tidur ya?


Nazril kembali mengirimkan balasan untuk Amiro.Setelah untuk beberapa saat menunggu, sms balasan Amiro datang.


Nazril tersenyum lalu meletakkan ponselnya di atas ranjang. Ia kembali membaringkan tubuhnya, tapi setelah beberapa saat, ia kembali bangun. Kencing yang sudah lama ditahannya mengusik kenyamanannya. Ia pun bangkit dan segera menuju kamar mandi.


"Amiro?" kata Nazril ketika melihat Amiro sedang duduk di kursi ruang tamu. Amiro tersenyum dan menundukkan wajahnya. Karna tidak bisa lagi menahan kencingnya, Nazril langsung saja meninggalkan Amiro menuju kamar mandi.


"Loh, kamu kok belum tidur," kata Nazril sekembalinya dari kamar mandi. Ia duduk di kursi, di depan Amiro.


Amiro tersenyum.


"Ya, Kak. Belum ngantuk. Aku bosan di kamar terus," kata Amiro tersipu menundukkan wajahnya. Diam-diam ia melirik ke arah Nazril. Ia segera menarik kembali wajahnya saat Nazril menyadarinya. Wajah Amiro memerah.

__ADS_1


"Memangnya Pipit sudah tidur?" tanya Nazril. Ia berusaha terlihat seperti tak memperhatikan tingkah Amiro.


"Ya, Kak. Dia langsung tidur setelah pulang mengantar Milna.


Nazril memandang wajah Amiro. Ia menoleh ke sekelilingnya yang sepi. Suara rintik hujan masih terdengar di atas atap rumah. Nazril mulai merasa risih. Ia mendesah.


"Ok, Amiro. Kayaknya aku sudah mulai mengantuk. Aku mau ke kamar dulu. Kamu istirahat juga sana," kata Nazril sembari bangkit dari duduknya. Amiro mengangguk dan tersenyum. Tatapannya tak berpaling dari menatap tubuh Nazril hingga tak terlihat lagi di balik pintu kamarnya.


Amiro membaringkan tubuhnya pelan di samping Pipit tertidur. Dia masih tersenyum sendiri sembari mengarahkan pandangannya ke langit-langit kamar. Jantungnya masih terasa berdegup kencang. Aroma tubuh Nazril masih terasa di hidungnya. Ini adalah langkah pertamanya menarik perhatian Nazril. Ia yakin, ke depannya Nazril pada akhirnya akan mengerti bahwa ia mencintainya. Sudah terlalu lama ia memendam perasaannya kepada Nazril. Sebagai seorang perempuan yang langkahnya terbatas, ia merasa canggung untuk mengungkapkan sendiri perasaannya. Tapi kini ia tak mau ambil pusing. Sah-sah saja jika perempuan mengutarakan terlebih dahulu perasaannya. Lebih-lebih, laki-laki itu adalah lelaki baik dan sempurna untuk dijadikan pendamping hidup. Pandangan orang-orang di sekeliling Nazril nyaris tak memberikan celah untuk kekurangannya. Nazril punya segala-galanya. Tampan, berwibawa, baik dan mapan. Segalanya ada pada diri Nazril. Usianya memang sudah berkepala empat. Tapi aura ketampanannya masih terpancar di wajahnya. Dia menginginkan Nazril. Tentu banyak cara untuk menarik perhatiannya. Termasuk meminta bantuan Pipit.


Amiro mendesah panjang. Ia mencoba memejamkan matanya sambil terus membayangkan wajah Nazril dan angan-angannya jika sudah menjadi pacar Nazril. Dia akan tinggal di rumah besar itu dan menjadi Nyonya Nazril. Ia tak perlu lagi memikirkan pekerjaan selepas wisuda nanti. Jujur saja. Ia ingin selepas wisuda nanti langsung menikah dengan syarat ada calon yang sudah mapan dari segi ekonomi. Dia sudah mengubur dalam-dalam kebenciannya kepada Milna yang telah merebut perhatian Kusuma darinya. Mereka memang belum pacaran, tapi Kusuma lebih menginginkan Milna dari pada dirinya. Dan harapannya pupus untuk mengejar cinta Kusuma karna Kusuma telah terus terang bahwa ia hanya menginginkan Milna. Walaupun Milna sendiri tak merespon cinta Kusuma, tapi ia merasa sudah dilangkahi oleh cewek kampung bercadar seperti Milna. Awalnya ia merasa marah dan benci, terutama kepada Milna. Bahkan sekitar sebulan lamanya, ia menolak untuk bertemu ataupun bersama Milna seperti sebelum-sebelumnya. Tapi ketika ia merasa punya harapan besar bisa memiliki Nazril, ia berusaha untuk berdamai dan kembali akur dengan Milna.


Amiro mendesah sembari tersenyum. Dia setuju dengan kantuk yang tak kunjung juga mengunjungi matanya. Ia lebih menginginkan tetap terjaga, bahkan sampai pagi nanti. Harapannya akan terjalinnya cinta antara dirinya dan Nazril telah menjadi sebuah keyakinan yang kuat. Bahwa suatu hari nanti, Nazril benar-benar akan menjadi miliknya. Itulah yang membuatnya berusaha untuk tidak membenci Milna lagi.


Amiro menoleh ke arah Pipit. Dengkuran Pipit membuatnya tersenyum. Pipit adalah harapan selanjutnya untuk menjalankan misinya mendapatkan Nazril. Pipit sudah memberi signal kepada dirinya agar berusaha mendapatkan Nazril. Dengan bantuan Pipit, ia yakin segalanya akan menjadi lebih mudah. Amiro mendesah panjang sembari menselonjorkan lurus kedua kakinya. Senyum dari bibir tipisnya tak henti-henti tersungging manis. Tatapan penuh harapnya seperti sedang membawanya masuk ke dunia hayalnya.


Malam semakin beranjak larut. Suara gerimis yang masih terdengar, seperti musik pengantar nyenyak tidur penghuni malam.


Milna terbangun dari tidurnya ketika terdengar beberapa kali batuk dari arah samping. Suasana di dalam kamar yang gelap membuat tangannya meraba-raba ke sampingnya. Ibunya tak ada di sampingnya. Ia segera bangkit dan melangkah menuju stop contact dan menyalakan lampu. Suasana di dalam kamar seketika menjadi terang. Ia melihat Siti Nur duduk sembari memegang dadanya di sisi ranjang. Dia terlihat kesulitan bernafas. Milna mendekat. Botol air kemasan di atas meja diambilnya. Batuk Siti Nur kembali pecah. Milna duduk. Setelah membuka tutup botol minuman, ia memberikannya kepada Siti Nur. Punggung Siti Nur di usapnya pelan.


"Kita ke Klinik ya Bu. Ibu harus diperiksa. Jika ibu terus bertahan merasa tidak apa-apa, Milna takut penyakit ibu semakin memburuk," kata Milna. Siti Nur hanya terdiam. Ia kembali menyodorkan minuman ke mulutnya hingga habis. Tangan Milna kemudian dipegangnya.


"Tidak, Nak. Ibu tidak apa-apa. Biasanya kalau sudah minum air putih, batuk ibu langsung reda." Siti Nur memegang pundak Milna dan tersenyum tipis. Raut muka Milna tetap berubah. Rasa khawatir terpancar dari wajahnya. Sudah kesekian kali ini ia berusaha mengajak ibunya untuk pergi berobat. Namun ibunya selalu menolak. Ibunya sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kesehatannya. Kali ini ia harus memaksa ibunya berobat. Dia tidak akan tenang jika belum mengetahui penyakit ibunya.


"Tidak, Bu. Ayo, Milna akan antar ibu ke klinik." Milna bangkit dan melangkah menuju lemari. Ia lalu mengeluarkan sebuah jaket dari dalamnya. Jaket itu kemudian dipasangkannya di tubuh Siti Nur. Wajah Siti Nur terlihat tidak senang. Ia bangkit dan melangkah menuju stop contact. Lampu di dalam kamar kemudian dimatikannya. Suasana di dalam kamar kembali gelap. Milna hanya berdiri mematung di tengah kegelapan. Ia hanya mendengar suara ranjang yang berdret. Rupanya Siti Nur telah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Milna mendesah panjang. Ibunya telah memberinya sinyal ketidak senangannya karna terus dipaksa.

__ADS_1


Milna melangkahkan kakinya pelan menuju tempat tidur. Perlahan ia membaringkan tubuhnya di samping Siti Nur.


__ADS_2