Pernikahan Haram II

Pernikahan Haram II
#08


__ADS_3

Milna membuka matanya perlahan ketika terdengar suara batuk tak henti-henti dari arah dapur. Bersamaan dengan itu, suara adzan subuh terdengar berkumandang. Setelah membaca doa bangun tidur, ia mengangkat tubuhnya perlahan. Ia mengurungkan niatnya ke kamar mandi ketika batuk Siti Nur kembali terdengar. Ia bergegas menuju dapur. Dilihatnya Siti Nur duduk di kursi dapur, di depan kue yang dibuatnya, sembari memegang dadanya. Milna mendekat dan memijit-mijit kedua pundaknya.


"Ibu, ibu istirahat dulu sana. Biar nanti Milna yang lanjutkan buat kuenya," kata Milna. Siti Nur menoleh lemah dan memegang tangan Milna dengan salah satu tangannya.


"Sudah sana. Kamu shalat dulu. Tinggal sebentar, kok,"


"Ya, Milna tahu,Bu. Tapi setahu Milna, kalau batuk seperti ini gak boleh dekat-dekat dengan asap. Nanti batuk ibu semakin parah," kata Milna. Siti Nur tersenyum. Wajahnya tampak pucat dan lemah. Ia menepuk-nepuk tangan Milna yang masih nempel di pundaknya.


"Ayo, kamu duluan shalat sana. Kalau sudah selesai, kamu langsung gantikan ibu," kata Siti Nur. Milna mendesah. Ia tersenyum menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju kamar mandi.


Matahari terlihat keluar dari peraduannya di ufuk timur. Sinarnya yang kekuning-kuningan leluasa menyebar menerangi alam. Angin yang bertiup agak kencang membuat awan-awan dipaksanya berarak meninggalkan langit desa.


Setelah selesai membantu ibunya menyelesaikan kue serabi pesanan pelanggan, Milna langsung bergegas mandi. Sudah jam delapan pagi. Hari ini dia harus cepat-cepat ke rumah salah satu dosen pembimbingnya untuk meminta pengesahan judul skripsi yang telah diajukannya. Padahal, ia ingin sekali membantu Siti Nur untuk mengantarkan kue-kue pesanan pelanggannya. Ada lima tempat yang akan dituju Siti Nur hari ini. Jaraknya pun tidak berdekatan. Walaupun ia senang usaha kue traditional yang ditekuni ibunya semakin terkenal sejak promosi online, tapi dengan kondisinya saat ini yang terlihat sangat tidak sehat, ia mulai berpikir keras mencari cara agar Siti Nur tidak lagi bersusah payah mengantarkan sendiri pesanan kue kepada pelanggan.


Tapi dengan kondisi kemampuannya saat ini, ditambah lagi dengan kesibukannya menyelesaikan skripsinya, dia belum mampu memikirkan cara lain sebagai alternatif. Dia mulai sudah tak nyaman dengan keadaan itu. Di saat ibunya mati-matian berusaha bekerja dalam kondisi sakit seperti itu, ia masih saja memintanya uang untuk keperluannya kuliah. Dia sudah berusaha menyembunyikan dari Siti Nur terkait biaya wisudanya nanti. Ia ingin Siti Nur tak terlalu memikirkannya. Ia akan berusaha mencari sendiri biaya itu, entah bagaimanapun caranya. Yang jelas, ia tak mau lagi menyusahkan Siti Nur. Tapi entah, dari mana ia tahu, tiba-tiba saja Siti Nur membeberkan biaya wisudanya nanti, ketika beberapa hari yang lalu ia menyuruhnya berhenti bekerja. Itu membuatnya menjadi serba salah dan berdosa membiarkan ibunya masih saja terbebani dengan biaya kuliahnya.


Memang, ada banyak pekerjaan di luar sana. Tapi kebanyakan memintanya untuk membuka niqab yang dipakainya sebagai persyaratan. Beberapa temannya juga ada yang menyarankannya untuk mengalah membuka cadarnya. Kata mereka, jika ia tetap seperti itu, sulit sekali menemukan tempat kerja yang mau menerimanya. Jikapun harus membuat usaha sendiri, itu membutuhkan modal sendiri.


"Bu, apa gak bisa kuenya diantar agak siangan. Biar Milna bisa mengantarnya. Ibu istirahat saja di rumah. Paling Milna pulang jam 11," kata Milna sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk sekeluarnya dari kamar mandi. Siti Nur tersenyum.


"Gak bisa, Nak. Ibu harus cepat-cepat mengantarnya. Sudah, kamu konsentrasi sama skripsimu. Tempatnya dekat-dekat kok," kata Siti Nur sambil terus memindahkan kue-kue ke dalam wadah plastik di sampingnya. Milna mendesah. Handuk di tangannya di gantungnya di tempat penggantungan dekat pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Dekat bagaimana maksud ibu. Lima tempat itu, kalau dihitung jaraknya hampir tiga kilo, Bu. Apalagi ibu dalam keadaan sakit seperti ini," kata Milna sambil melangkah mendekati Siti Nur. Dia kemudian duduk di samping Siti Nur dan membantunya memindahkan kue.


Setelah semua kue selesai dikemas, Milna segera masuk ke dalam kamarnya. Setelah mengganti pakaiannya, ia segera mengeluarkan sepeda motornya dan memanaskan mesinnya sejenak. Ia kemudian mendekati Siti Nur yang sedang mengikat barang dagangannya di jok sepeda motornya.


"Bu, Milna duluan ya. Kalau ibu lelah, ibu cari tempat istirahat dulu," kata Milna setelah menyalami Siti Nur. Siti Nur tersenyum.


"Kamu juga hati-hati di jalan. Setelah selesai, langsung pulang," kata Siti Nur sambil mencium pipi Milna. Milna tersenyum. Ia kemudian melangkah turun dari teras rumah. Setelah mengucap salam, ia segera menggeber sepeda motornya.


* * * * *


"Astaghfirullah." Milna memelankan laju sepeda motornya dan mengarahkannya ke pinggir jalan. Ia mulai memeriksa tasnya. Ia mendesah panjang ketika melihat jam tangannya. Sudah jam 9. Sepanjang perjalanannya, ia merasa seperti meninggalkan sesuatu. Benar saja, ponselnya tidak ada di dalam tasnya. Ia baru ingat terakhir kali ia meletakkan ponselnya di atas ranjangnya ketika sedang mengganti pakaiannya. Mau tidak mau ia harus kembali. Ada banyak data yang ia simpan di ponselnya. Siti Nur biasanya selalu menghubunginya ketika ia sudah pulang dari mengantar pesanannya. Ia takut Siti Nur khawatir ketika panggilannya tak diangkat.


* * * * *


Milna mengernyitkan keningnya ketika melihat mobil sedan berwarna hitam terparkir di depan gerbang rumahnya. Bahkan dia terpaksa memarkir sepeda motornya di belakang mobil sebab mobil sedan itu terparkir di tengah-tengah jalan masuk.


Milna semakin penasaran saat melihat pintu gerbang dalam keadaan setengah terbuka. Apakah Siti Nur masih ada di rumah dan pemilik mobil itu adalah tamunya? Batin Milna. Ia mengintip pelan dari balik pintu gerbang. Ia memincingkan matanya ketika melihat seorang laki-laki paruh baya terlihat duduk santai sambil menghisap rokoknya di teras rumah. Ia sepertinya mengenal laki-laki itu. Kalau tidak salah, itu pak Darmanta, pengusaha kaya di desa itu. Tapi apa urusan pak Darmanta seorang diri di dalam rumahnya? Tak terlihat sepeda motor milik Siti Nur. Ia yakin, Siti Nur tak ada di rumah dan sedang mengantar kue pesanan pelanggannya.


Karna merasa sudah terlalu lama mengintip dan akan membuatnya terlambat ke kampusnya, Milna memutuskan untuk memperlihatkan dirinya dan masuk ke dalam.


Begitu melihat Milna, pak Darmanta bangkit. Senyumnya mengembang ceria ketika melihat Milna tersenyum walaupun masih memperlihatkan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Bahagia sekali melihat calon istriku. Alangkah bahagianya aku jika kamu berkenan membuka cadarmu dan memperlihatkan wajah cantikmu," kata pak Darmanta sambil mendekat. Milna yang berniat menyapa pak Darmanta mengurungkan niatnya. Ia bingung kenapa tiba-tiba pak Darmanta berkata seperti itu. Apakah pak Darmanta hanya bercanda? batinya.


"Ibu lagi keluar, Pak. Mungkin siang nanti baru pulang," kata Milna. Pak Darmanta tersenyum. Ia kembali menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


"Aku kesini tidak untuk menemui ibumu. Aku kesini khusus untuk menemui calon istriku," kata pak Darmanta.


"Maaf, Pak. Jangan bercanda," kata Milna. Ia mulai terlihat kesal melihat pak Darmanta yang sudah seperti di rumahnya sendiri. Apalagi ia terus mengulangi kata-kata yang membuatnya bingung. Pak Darmanta tersenyum. Ia menghempaskan asap rokok di mulutnya.


"Aku tidak sedang bercanda, Sayang. Apa ibu mertua tidak pernah bercerita tentang pernikahan kita setelah kamu wisuda?" kata pak Darmanta. Mata Milna kembali memincing. Pak Darmanta membuang puntung rokoknya yang masih menyala di depan kakinya dan mematikannya dengan ujung sepatunya. Ia kemudian bangkit dan mendekati Milna. Milna menundukkan wajahnya ketika pak Darmanta tak henti-henti tersenyum ke arahnya sambil terus menatap wajahnya. Senyum yang membuatnya muak. Senyum laki-laki tua yang seperti sedang dikuasai oleh nafsunya.


"Jangan macam-macam, Pak Darmanta." Milna spontan menangkis tangan pak Darmanta ketika pak Darmanta hendak membuka cadarnya. Ia mundur beberapa langkah dengan tatapan tajamnya. Pak Darmanta terus tersenyum. Ia terus maju mengikuti langkah mundur Milna.


Melihat pak Darmanta terus mendekat, Milna menoleh ke arah belakang. Ia segera menyambar sapu lidi yang bersandar di tembok rumah dan mengarahkannya kepada pak Darmanta. Pak Darmanta mengangkat tangannya.


"Sabar, sayang. Sabar. Ok, ok, saya mundur," kata pak Darmanta. Ia mundur beberapa langkah sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya meminta Milna tenang.


"Cukup! Jangan panggil aku seperti itu lagi. Aku muak," teriak Milna.


"Itu memang kenyataannya, Milna. Kamu tanyakan sendiri pada ibumu nanti. Ada apa sebenarnya antara aku dan kamu," kata pak Darmanta. Milna mengernyitkan dahinya. Ia menatap wajah pak Darmanta lekat. Nafasnya terlihat turun naik.


"

__ADS_1


__ADS_2