
Siti Nur mendesah panjang. Pandangannya lemah diarahkan kesana kemari. Seperti yang dikatakan Milna, tak ada yang bisa mereka perbuat. Hutang yang harus dibayar ke pak Darmanta terlalu besar. Seandainya saja ia masih sehat dan tidak berpenyakitan seperti itu, ia mungkin sudah menjual dirinya. Dia tetap tidak bisa menerima jika nantinya Milna jatuh ke tangan pak Darmanta.
"Bu, menikah dengan pak Darmanta adalah satu-satunya cara. Milna ikhlas." Milna menghentikan kata-katanya. Air mata terlihat menggenangi kedua matanya. Ia memejamkan matanya. Butir air mata jatuh di pangkuannya. Apa yang dikatakan mulutnya tak sesuai dengan hatinya. Hatinya seperti berontak ketika ia mengatakan ikhlas dinikahi pak Darmanta. Hatinya sakit tapi ia berusaha melawannya. Keadaan tidak memberinya pilihan untuk melawan.
"Pak Darmanta mungkin jahat,Bu. Tapi kita juga tidak tahu apa rahasia Allah ke depannya. Mungkin saja nanti Allah memberikan hidayah kepada pak Darmanta untuk bertobat dan menjadikannya lebih baik dari kita. Yang jelas, kita sudah tidak punya cara lain, Bu. Lagi pula, pak Darmanta hanya ingin menikahiku,"lanjut Milna berusaha tegar.
Siti Nur hanya terdiam. Dadanya yang sesak karna mencoba mencari cara lain namun tak juga menemukan jawabannya, membuat air matanya kembali mengalir. Milna menatap lekat wajah Siti Nur. Dia mengerti betul apa yang kini dirasakan Siti Nur. Dia telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk membahagiakannya seorang. Sampai sebesar ini ia belum mampu membalas kebaikannya. Jangankan melunaskan hutangnya. Memberikannya uang belanja pun ia belum mampu. Beberapa saat tadi ia sempat berpikir untuk melepas niqabnya dan menerima apapun pekerjaan yang dulu pernah ditawarkan kepadanya dengan syarat melepas niqabnya. Tapi mengingat jumlah hutang yang terlalu besar, mungkin butuh 50 tahun menabung gajinya untuk melunasinya. Dan ia yakin, pak Darmanta tidak akan memberikannya waktu selama itu. Hingga mau tidak mau ia harus kembali pada pilihan terakhir. Mengikhlaskan diri menjadi istri pak Darmanta. Milna bangkit. Ia melepas jilbab yang dipakainya dan mengusapkannya di wajah Siti Nur. Setelah itu ia bersimpuh di depan Siti Nur. Kedua tangan Siti Nur dipegangnya dan diletakkannya di kedua pipinya.
"Bu, Milna mohon. Milna tidak ingin ibu terbebani terus dengan masalah ini. Biarkan Milna berkorban untuk keluarga kita. Jika ibu takut pak Darmanta menyakitiku setelah menikahiku, kita terlalu dini memvonis orang. Sekeras-kerasnya batu, jika terus ditetesi air, batu itu pasti akan terkikis. Aku mohon, Bu. Biarkan aku menikah dengan pak Darmanta. Mudah-mudahan dengan pertolongan Allah, Milna bisa merubah pak Darmanta," kata Milna memohon. Siti Nur menundukkan kepalanya. Setelah untuk beberapa lamanya ia hanya terdiam, ia mengangkat wajahnya. Rambut Milna dirapikannya dan memasangkannya kembali jilbabnya.
__ADS_1
Ia kemudian bangkit dan melangkah ke luar kamar. Milna segera menyusulnya.
"Mulai besok, Milna gak usah kuliah lagi, Bu. Milna gak mau ibu meminta lagi biaya pada pak Darmanta. Seandainya saja ibu memberitahukan Milna lebih awal masalah ini, tentu kita tidak akan menanggung beban sebanyak ini,"
"Tidak, Nak. Kamu harus menyelesaikan wisudamu. Sejak Pak Darmanta memutuskan untuk merubah keputusannya menikahimu, ibu sudah tidak mau menerima uang lagi darinya. Biaya kuliahmu murni dari uang pensiunan bapakmu, juga hasil jualan ibu." Siti Nur menghentikan kata-katanya. Ia memegang dadanya. Ia merasakan seluruh tubuhnya mulai sakit. Ia melepaskan pegangan tangannya dan membaringkan tubuhnya pelan. Milna segera bangun dan naik ke atas ranjang. Ia lalu membantu Siti Nur mengangkat tubuhnya agar lebih berbaring lebih ke tengah.
"Itu sebabnya ibu tidak pernah mau memeriksa kesehatan ibu. Insya Allah, tabungan ibu cukup untuk membiayaimu wisuda," kata Siti Nur lemah.
"Tidak, Nak. Ini tidak hanya cita-cita kamu. Ini juga harapan dan cita-cita ibu. Ibu ingin melihatmu hidup bermartabat dengan pendidikan yang kamu miliki. Kamu harus menyelesaikan kuliahmu. Kamu harus wisuda," kata Siti Nur. Milna tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mendesah panjang. Ia kemudian berbaring di samping Siti Nur. Siti Nur kemudian dipeluknya. Kepalanya dihunjamkan dalam di lengan tangan Siti Nur. Begitu lama Siti Nur menyembunyikan beban di hatinya. Ia yang begitu tanpa beban menghabiskan hari-harinya dengan pergi kuliah, tak pernah mengetahui bahwa selama ini Siti Nur hari-harinya dalam tekanan pak Darmanta. Ia merasa belum memberikan kebahagiaan kepada Siti Nur. Kalaupun sekarang ia memutuskan ikhlas menikah dengan Pak Darmanta, ia hanya mengurangi bebannya saja. Sudah pasti Siti Nur tak akan pernah bahagia dengan pernikahan itu. Tapi ada yang bisa ia lakukan.
__ADS_1
Milna mengangkat kepalanya pelan saat terdengar dengkuran kecil dari mulut Siti Nur. Milna tersenyum dan menatap lama wajah Siti Nur. Letih tubuhnya telah mengalahkan beban besar di dalam pikirannya. Tapi wajahnya yang terlihat kusam seperti sedang membawa beban pikirannya ke dalam tidurnya.
Milna mendesah pelan. Selimut yang menutupi setengah badan Siti Nur ditariknya pelan ke atas hingga menutupi atas dadanya. Setelah mengecup pelan kening Siti Nur, Milna kembali membaringkan tubuhnya di samping Siti Nur. Tatapannya menerawang penuh arti ke arah langit-langit kamar. Setelah beberapa lama tak berpaling menatap langit-langit kamar, tiba-tiba ia memejamkan matanya. Ia memegang dadanya, mengusapnya sambil tak henti-henti menggeleng.
"Astaghfirullah," desah Siti Nur.
"Maafkan Aku ya, Allah. Aku khilaf, Ya, Allah. Aku khilaf. Astaghfirullahal Adzim..."
Milna bangkit dan menyandarkan punggungnya. Ia masih saja menggeleng. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terbetik di dalam hatinya. Saat pikirannya kosong, setan sepertinya datang membisikinya untuk melakukan hal yang tidak-tidak. Hal yang dilarang agama agar terhindar dari menikahi pak Darmanta. Menjual diri dengan harga yang fantastis. Empat ratus juta rupiah. Beberapa saat tadi ia sempat berpikir bahwa ia layak mendapatkan harga itu untuk keperawanannya, hingga ia tersadar bahwa menikahi pak Darmanta jauh lebih baik dari pada harus menjual diri. Sekalipun ia adalah orang yang paling jahat di dunia ini.
__ADS_1
Suara adzan Dhuhur terdengar berkumandang. Milna mendesah panjang. Ia perlahan turun dari tempat tidur. Ia lalu melangkah menuju pintu dimana ia menggantung tasnya. Dari dalam tas ia mengeluarkan ponselnya. Kejadian hari ini telah melupakannya menemui dosen pembimbingnya hari ini. Motor yang dipakainya dan dipakai Siti Nur pun tidak sempat ia masukkan dan masih terparkir di luar rumah.
Dengan pelan Milna membuka pintu dan melangkah keluar rumah. Setelah memasukkan kedua motor yang terparkir di luar, ia kemudian menelpon dosen pembimbingnya.