
Siti Nur melangkahkan kakinya pelan memasuki rumah. Ia sama sekali tak bernafsu makan walaupun perutnya terasa lapar. Suasana hatinya yang tak menentu membuat langkah kakinya lemah menuju kamarnya. Apalagi sisa rasa kesal dan marah kepada pak Darmanta, membuat jantungnya berdebar dan berdetak lebih kencang.
Siti Nur menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Kehadiran pak Darmanta selalu jadi momok menakutkan. Apalagi waktu yang semakin dekat untuk pemenuhan janji itu. Tinggal satu tahun lagi Milna akan menyelesaikan kuliahnya. Dia harus menyerahkan Milna pada pak Darmanta. Terlepas Milna suka atau tidak.
Siti Nur mendesah. Ia mencoba untuk menyesali apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat Milna duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kebutuhan hidup yang mulai meningkat, begitu juga harga kebutuhan pokok yang semakin melambung tinggi, membuatnya terpaksa harus meminjam uang pada pak Darmanta.
Awalnya ia menyangka pak Darmanta adala lelaki tua baik hati dan dermawan. Saat pertama kali melihatnya, Ia terlihat begitu ramah dan dermawan. Sebagian besar penduduk kampung menggantungkan harapannya kepada bantuan pak Darmanta meminjamkan uangnya. Pak Darmanta yang merupakan saudagar beras dan pengusaha jagung itu memang terbilang salah satu yang paling kaya di kecamatan itu. Ia yang waktu itu sangat membutuhkan uang untuk membiayai kebutuhannya bersama Milna, terpaksa memberanikan diri meminjam uang kepada pak Darmanta. Berita tentang kemurahan hatinya serta ajakan dari para tetangganya, membuatnya ikut terjerat dalam perangkap licik pak Darmanta. Tak ada perjanjian apa-apa ketika ia meminjam uang kepadanya. Ia hanya menyatakan kesiapannya untuk mencicil hutangnya setiap bulan ketika menerima uang pensiunan suaminya. Tapi belakangan sifat asli pak Darmanta kelihatan. Ia tak mau menerima lagi setoran setiap bulannya. Ia berdalih, tak mendapatkan keuntungan sama sekali dari pencicilan itu. Ia mau Siti Nur membayarnya kontan plus bunganya dalam waktu satu tahun. Hal yang sama sekali tak masuk dalam pembicaraan awal mereka. Awalnya Siti Nur protes ketika melihat catatan hutangnya yang jauh dari perkiraannya. Bagaimana bisa hutang yang awalnya hanya 10 juta , berubah naik menjadi 25 juta. Siti Nur jelas tak terima. Ia tak punya uang sebanyak itu untuk membayarnya. Hingga pak Darmanta menawarkannya pemutihan semua hutang-hutangnya dengan syarat, Ia harus mau menjadi istri pak Darmanta. Siti Nur waktu itu tak punya pilihan lain selain menerima persyaratan pak Darmanta. Ia hanya meminta waktu sampai Milna lulus dari sekolah menengahnya. Pak Darmanta menyetujuinya. Tapi lagi-lagi pak Darmanta membatalkan perjanjian secara sepihak. Melihat Milna yang beranjak dewasa dengan wajah cantik dan tubuhnya yang menggoda, membuat pak Darmanta lebih tertarik kepada Milna. Pak Darmanta telah menjebaknya ke dalam pusaran hutang yang semakin bertambah. Ia sudah tidak bisa lagi membayarnya. Menikahkannya dengan Milna adalah salah satu keputusan yang harus ia ambil.
Siti Nur membalikkan tubuhnya dan memeluk erat bantal guling di sampingnya. Tatapan matanya yang nanar membawanya terbang ke masa lalu saat ia pertama kali bertemu dengan almarhum suaminya. Nugi Pratama. Kisah cintanya dulu bersama almarhum suaminya begitu panjang dan penuh pertentangan. Almarhum suaminya, yang merupakan saudara sesusuannya saat masih bayi, meminangnya, membuat pernikahan mereka ditentang mati-matian oleh penduduk kampung. Ia dan almarhum suaminya hampir saja di bakar hidup-hidup oleh masyarakat di kampungnya karna dianggap telah melanggar syariat agama.
Siti Nur mendesah panjang. Perjalanan hidup manusia memang sudah ditentukan oleh Tuhan. Apa dan bagaimana perjalanan hidup ke depannya tak ada satupun yang mengetahuinya. Manusia hanya bisa pasrah menerima apapun keputusan Tuhan. Tapi ia selalu berdoa setiap selesai shalat. Berdoa agar Tuhan memberinya jalan keluar agar Milna tidak akan pernah menikah dengan pak Darmanta. Jika pun Tuhan memang telah mencatat pak Darmanta sebagai pendamping hidup Milna, maka ia berharap Tuhan merubah pak Darmanta menjadi orang yang lebih baik. Menjadi suami yang baik bagi Milna. Jika pun nanti penyakit yang menggerogoti tubuhnya membuatnya mati lebih cepat, ia akan merasa lebih tenang di alam kuburnya.
Adzan Ashar terdengar berkumandang. Siti Nur masih enggan beranjak dari berbaringnya. Ia masih begitu nyaman memeluk bantal gulingnya sembari mengenang masa lalunya.
__ADS_1
* * * * *
Awan hitam terlihat bergelayut di atas langit. Angin sesekali menghempas dan menggugurkan dedaunan kering di tepi jalan. Suasana mendung seketika merubah sinar mentari yang tadinya terik menyengat. Beberapa pejalan kaki dan pengendara motor memilih menepikan diri di warung-warung pinggir jalan ketika rintik-rintik hujan mulai turun. Tak beberapa lama kemudian, hujan turun dengan derasnya.
Nazril masih mondar-mandir di teras rumah. Sudah jam 6 sore. Hampir maghrib. Pipit belum juga pulang. Hujan yang semakin deras mengguyur, membuatnya semakin cemas. Dia sudah terbiasa ketika pulang, Pipit sudah menyambutnya di rumah. Membuatkannya kopi dan menggodanya dengan tema tetap berkutat seputar pernikahan. Walaupun tadi Pipit sudah menghubunginya dan mengabarkan akan pulang terlambat, ia masih saja merasa cemas.
Nazril mendesah. Kepalanya terasa pening. Waktu ngopinya sudah lewat. Membuat kopi sendiri ia masih malas. Rasanya pun tak akan seenak buatan Pipit. Dia sudah terbiasa dengan kopi hitam racikan Pipit.
Nazril membalikkan badannya hendak masuk, tapi suara klakson mobil di depan rumah mengurungkan langkahnya. Ia menoleh. Suara ponselnya berdering. Ia segera mengangkatnya. Suara hujan yang berisik membuatnya kesulitan mendengar suara Pipit dari seberang. Ia membesarkan volume panggilan.
Pintu gerbang perlahan terbuka. Sebuah mobil Avanza merah terlihat di balik gerbang. Pipit dan orang teman perempuannya melambaikan tangan mereka ke arah seorang perempuan yang ada di bagian depan mobil. Setelah mobil tersebut berbelok dan melaju kencang menembus lebatnya hujan, Pipit dan kedua temannya kemudian bergegas masuk rumah.
Nazril memperhatikan salah satu teman Pipit yang menutup wajahnya dengan cadar hitam. Perempuan itu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kak, kenalkan teman Pipit. Ini Amira dan ini Milna," kata Pipit mulai memperkenalkan kedua temannya. Nazril tersenyum. Dia seperti tak asing dengan wajah salah satu perempuan yang bernama Amira. Pipit sering memperlihatkan photonya. Ia salah satu yang sering diperlihatkan sms nya oleh Pipit. Tapi gadis bercadar, yang tak lain adalah Milna itu, ia belum melihatnya sekalipun.
Amira menyodorkan tangannya ke arah Nazril sambil tersenyum. Ia tampak grogi ketika Nazril menyalaminya. Pipit pura-pura tak melihat ketika Nazril melirik ke arahnya. Ketika Nazril hendak menyalami Milna, Milna menyatukan kedua telapak tangannya dan membungkukkan setengah badannya. Nazril tersenyum.
"Ayo Pit, buatkan minuman hangat buat teman-temanmu. Sekalian buatkan kopi ya," kata Nazril. Pipit mengernyitkan keningnya.
"Jam segini mau ngopi. Gak salah, Kak," kata Pipit heran melihat ke arah jam tangannya.
"Aku belum ngopi dari siang tadi. tunggu kamu pulang,"
Pipit menggelengkan kepalanya.
"Makanya cepat nikah, Kak. Biar ada yang ngurus," kata Pipit. Nazril mendesah. Keningnya mengerut. Kali ini ia berusaha menampakkan wajah tidak senang kepada Pipit. Amira dan Milna tersenyum menundukkan kepala.
__ADS_1
"Ya sudah, becanda. Jangan marah," kata Pipit. Ia memegang tangan kanan Nazril lalu menciumnya.
"Ayo, sana. Duduk manis di kursinya. Tunggu kopi pahitnya. Biar gadis-gadis cantik ini yang jadi pemanisnya," kata Pipit. Ia mendorong tubuh Nazril masuk ke dalam rumah. Milna dan Amira hanya tersenyum melihat tingkah manja Pipit. Ia kemudian mengajak kedua temannya masuk ke kamarnya.