Persona

Persona
Chapter I


__ADS_3

Malam ini penuh bintang dan bulanpun tak malu - malu menampakan sinarnya, semua nampak sempurna. Binatang malam seolah bernyanyi menyambut malam yang indah ini. Namun tidak bagi Adhisti Dewi Surya karena malam ini ia mengetahui sebuah kenyataan yang sangat pahit.


Tangisnya pun pecah dan air matanya tak dapat terbendung lagi. Ia berharap bahwa semua ini hanya sebuah mimpi buruk, mimpi buruk yang segera berakhir dan ia akan segera bangun dari mimpi buruk ini.


Mobil biru Adhisti melaju kencang, fikirannya melayang kemana - mana, tergambar senyum hangat ayah dan bunda dan itu membuat tangisannya menjadi jadi, Adhisti semakin mengencangkan laju mobilnya hingga hampir mencapai 90 km/jam. Padahal bukan rahasia lagi kalau Adhisti belum bisa mengendarai mobil dengan benar.


- XXX -


Ia menebar senyum, senyum yang sangan manis, senyum yang memberikan kehangatan bagi yang melihatnya. Senyum ramah yang tiada tara. Mata gadis cantik itupun seperti berbinar penuh kebahagiaan. Tapi dibalik itu semua ia merasakan sakit. Sakit yang teramat perih, sakit yang membuatnya selalu tersenyum dan terlihat bahagia.


"Luna tolong antarkan pesanan iki ke rumah pak Robby," pinta bunda


"Iya bunda" jawab Luna seraya berlari kecil menuju ke arah bunda. Dan langsung manyabet pesanan pak Robby dari tangan bunda. Dengan kerlingan nakal dan senyum bahagia ia berpamitan pada bundanya.


Luna mulai memgayuh sepeda angin miliknya. Semakin lama semakin menjauh dari caffe resto miliknya, ia mengayuh sambil bernyanyi kecil seolah tak ada beban besar yang ia tanggung. Hanya langit dan bunyi sepeda angin yang menemani malam ini.


-XXX-


"Braaaak" suara benturan itu terdengar keras, suara klakson mobil terus berbunyi. Tiba tiba angin berhembus kencang. Terlihat darah tercecer dimana - mana seolah berontak dari dalam tubuh. Matanya hampir tak dapat melihat dengan jelas, Luna seperti tak dapat merasakan tangannya, seperti mati rasa. Di saat yang seperti itu ia masih bisa melihat sebuah mobil biru menabrak pohon besar diseberang jalan. Namun semakin lama pandangan Luna menghilang berlahan dan akhirnya ia tak sadarkan diri.


Adhisti merasa ngilu disekujur tubuhnya, darah mengalir dari keningnya, kaca mobilnya pecah, sehingga dinginnya malam dapat merangseng kedalamnya. Dengan kesadaran yang tak sempurna ia mencoba keluar dari mobi birunya, berkali kali ia mencoba keluar, berkali kali hingga tangannya ngilu, lama ia mencoba dan akhirnya berhasil, sesaat setelah ia berhasil keluar kesadarannya mulai menghilang, sempat ia berjalan beberapa langkah matanya semakin buram, darah semakin mengucur deras dari pelipisnya. Ia terjatuh dan hilang kesadaran.


-XXX-


Petir bergemuruh, kilat penyambar dan hujan semakin deras disertai angin yang berhembus kencang, hingga bintang - bintang tak mau mengerlingkan sinarnya dan bulan seperti bersembunyi di balik awan yang gelap dan pekat.


Disaat yang seperti itu terlihat dari kejahuan sesosok pemuda sedang berjalan menuju tubuh Luna dan Adhisti. Seolah tak terpengaruh oleh hujan dan terganggu sambaran kilat serta kencangnya hembusan angin ia berjalan dengam tenang menuju tubuh kedua gadis tersebut. Seolah melayang ia dengan cepat sudah berada di antara tubuh Luna dan Adhisti. "Bulan dan Matahari takkan pernah bisa bertemu," guman pemuda tersebut lalu diikuti oleh senyum kecil yg tersungging dari bibirnya.


Ia terlihat hanya berdiri tanpa melakukan apapun, namun tiba tiba tangannya bergerak berlahan. Tiba tiba hujan berhenti, angin tak berhembus dan petir tak lagi menyambar. Semuanya sunyi, entah apa yang ia lakukan, karena yang tahu hanya dirinya sendiri. Setelah itu ia menghilang tanpa meninggalkan jejak, apapun kecuali beberapa helai bulu yang mirip bulu burung merpati. Seketika itu hujan kembali mengguyur, angin kembali bertiup dan petir kembali menyambar.


Seorang wanita berteriak "toloooong" sesaat setelah ia melihat tubuh Luna dan Adhisti terkulai lemas di atas genangan air yang bercampur darah. Tak lama orang mulai berdatangan dan sesaat setelah itu ambulanpun datang dan membawa kedua tubuh yang lemas tersebut ke Rumah Sakit terdekat.


-XXX-


Wajah bingung Luna benar benar terlihat, ia bingung siapa orang disekelilingnya saat ini, mereka bukan Bunda yang biasa mengkhatirkannya atau bukan Lexa yang selalu tersenyum padanya. Luna mengedarkan pandangannya, ini bukan warna tembok kamarnya, lalu kemana perginya boneka Hello Kitty yang selalu menemani tidurnya dan juga mana selimut belel yang selalu ia gunakan, semuanya berubah dan yang lebih aneh lagi siapa sosok wanita yang tersenyum manis padanya sekarang. Luna merasakan remuk dan nyeri di sekujur tubuhnya, kepalanya masih pening.


"Adhisti kau sudah siuman nak," tanya wanita setengah baya itu dan diiringi oleh senyum kecil yang tersungging di bibirnya. 


Lama Luna berfikir keras, dalam fikirannya ia berkata "aku adhisti ... ?, aku Luna, bukan adhisti". "Siapa yang ia panggil adhisti" Wajah Luna nampak bingung saat itu, lama ia terdiam dan kembali melihat sekeliling. "Aghhhhhhh..." Luna tiba - tiba berteriak ada nyeri yang meneyerang dasyat dan tak lama ia kembali tak sadarkan diri


.


-XXX-


Aghhh .... Teriakan itu terdengar keras dan lantang. "Ini bukan wajahnya, bukan tubuhnya, bukan suaranya serta ini bukan tempatnya yang sebenarnya. Ia seperti orang gila, tangannya mulai meraba wajah, tangan, tubuh matanya beredar ke segala arah, ia nampak bingung dengan apa yang terjadi padanya sekarang. "Siapa in ... ni, ini bu ... kan aku" pekiknya berlahan. 


Setelah mendengar teriakan dari dalam kamar Luna semua orang langsung berlari menuju kamar tersebut. Pintu masih terkunci, dari seberang pintu "Luna ... Luna ... Luna ... Apa yang terjadi sayang ... Luna buka pintunya sayang... Bunda mohon.” Di dalam kamar gadis itu semakin bingung, "siapa Luna, aku bukan Luna, aku ... aku Adhisti" gumamnya. Tiba tiba "braaak" pintu kamar terbuka.

__ADS_1


Raka mendobrak pintu kamar Luna, Bunda juga berteriak histeris meminta agar Luna membuka pintu. Raka berkali - kali mencoba dan unt kesekian kali akhirnya ia dapat menjebol pintu, disaat pintu terbuka bunda, Raka dan Lexa berhambur masuk ke dalam kamar.


Wajah itu terlihat bingung, "siapa kalian dan dimana aku sekarang?" tanya gadis itu. Semua yang ada di dalam kamar saling berpandangan, "Luna akhirnya kamu siuman sayang, ini bunda nak, dan ini rumahmu sayang.". Mata gadis itu terbelalak mendengar kata kata wanita yang ada didepannya. "Bunda" gumam gadis itu, "Rumah" tambahnya. Tiba-tiba "jleep" gadis itu merasa ada sesuatu yang menusuk punggungnya, nyeri ia rasakan, semakin lama penglihatannya kabur, keseimbangannya berkurang serta kesadarannya mulai hilang. Disaat yang seperti itu ia dapat melihat seorang pemuda nampak sedang memperhatikannya, ia tersenyum padanya lalu semuanya menjadi gelap dan hilang.


Wajah itu terlihat gelisah menunggu diagnosa dari Dr Raffa. Lama dokter tersebut memeriksa kondisi Luna semua alat vital ia periksa mulai dr jantung, paru-paru hingga kepala Luna yang masih diperban karena luka tabrakan kemarin.


"Gimana dok keadaan putri saya," bunda membuka percakapan.


"Tenang saja bunda, Luna baik baik saja, hanya saja mungkin karena efek dari luka yang ada di kepalannya," jelas dr Raffa.


-XXX-


Semua nampak indah, bunga - bunga bermekaran, pohon - pohon rindang memayungi bumi serta suara kicau burung yang merdu membawa suasana makin terasa nyaman, sebuah cermin besar seolah bertengger di tengah - tengah lautan bunga. Terlihat seorang gadis sedang menatap cermin lekat-lekat. "Aku bukan Luna, aku Adhisti Dewi Surya putri dari Ayah Surya dan Mama Raisa, Anak sang Matahari". Suara tersebut terdengar pelan dan menyedihkan. Isak tangisnya pun pecah, air mata menetes berlahan. 


Tiba tiba dari belakang gadis itu muncul seorang pemuda, "Mungkin benar atau malah bukan" kata pemuda itu diiringi dengan senyum simpul di bibirnya.”


"Kau bukan anak sang Matahari, apa kau tidak ingat," tambah pemuda itu. Lama suasana menjadi bisu


"Lalu aku siapa ?" tanya Adhisti memecah keheningan. Lagi lagi pemuda itu hanya tersenyum, senyum itu benar benar manis. Entah datang dari mana pemuda itu. Ia sepertinya tahu semuanya , siapa gadis yang ada di depannya saat ini.


Suasana hening sejanak lalu, "lalu aku ini siapa ?" tanyanya lagi pada pemuda itu. Pemuda itu hanya tersenyum kemudian ia menatap lekat - lekat cermin seketika cermin tersebut memantulkan bayangan siapa sebenarnya gadis yang ada didepannya ini.


Mata gadis itu terbelalak sesaat setelah melihat pantulan bayangannya di cermin. Bukan wajah yang selalu disebutkan orang - orang tadi "Luna" atau juga bukan wajah seorang Adhisti Dewi Surya. Wajah itu memang mirip Adhisti tapi ia lebih kucel, kusam, rambut awut awutan, dan baju lusuh yang ia kenakan, terlihat memperhatinkan. Mata bayangan itu terlihat lelah, air matanya seperti akan tumpah. Bibirnya gemetar "ringkih".


Lama gadis itu memandang, tiba - tiba ia berkata "Apa ini adalah aku ?" tanya gadis itu.


"Oh iya perkenalkan aku Frezz" tambah pemuda itu dan ikuti dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Lama mereka berdua terdiam.


"Luna ... Luna ... Luna ... Kau baik baik saja," terdengar suara yang memanggil - manggil Luna namun entah dari mana suara itu berasal.


"Saatnya kau pergi, selesaikan dan nikmatilah apa yang kau minta," kata Frezz diiringi senyuman dan kerlingan mata nakalnya.


"Apa maksudnya ini" tanya gadis itu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Frezz mendorong tubuh gadis tersebut ke dalam cermin.


Matanya terbuka, ia melihat senyuman semua orang yang ada sekelilingnya. Bingung dengan apa yang harus ia katakan, hanya senyuman kecil yang ia sunggingkan di bibirnya. Bukan, bukan bibirnya tapi bibir gadis bernama Luna bukan Adhisti.


-XXX-


Hampir dua bulan berlalu dari kejadian na'as tersebut, pagi itu nambak baik baik saja, matahari bersinar dengan terang, burung - burung berkicau dengan merdu dan yang pasti pagi ini Adhisti akan memulai hari baru di kampusnya. Ini seperti hal baru baginya dan seperti memulai dari awal lagi. Semuanya nampak asing bagi Adhisti, ia berjalan dengan hati - hati, ia takut jika kakinya melangkah pada kelas yang salah.


Adhisti terlihat acak - acakan, sedikit berandal namun imut pagi itu. Seolah bukan adhisti yang biasanya. Adhisti yang elegan, luxury, cantik, dan sedikit girly. Semua siswa menyapanya saat ia berjalan di koridor karena bukan rahasia lagi kalau adhisti adalah siswa populer di fakultasnya. Adhisti menebar senyum pada mereka. Namun setelah Adhisti berjalan melewati mereka, mereka seperti berbisik - bisik tentangnya terkadang terdengar cekikikan dari bibir mereka.


-XXX-


Universitas Bhineka jurusan sastra, universitas yang memiliki kredibilitas yang tinggi karena mahasiswanya dari kalangan anak pejabat, pengusaha dan juga tak jarang dari para elite politik. 


Adhisti tidak tahu - menahu kenapa semuanya seperti jijik kepadanya. Tiba - tiba dari depan terlihat 5 gadis sedang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Hai gadis buangan," kata Reila, siapa sih yang tidak tahu tentang Reila gadis dari juragan tembakau terbesar sekalimantan. Dengan memainkan rambutnya ia kembali berkata "hei apa kau tidak dengar gadis buangan". Kata - kata Reila tersebut membuat semua orang yang disekitar mereka terperangah dan semakin berkasak kusuk tidak jelas. Samar samar terdengar "jadi benar dia itu", "ohhh benar ternyata... ", "ach masak sih...?" terucap dari bibir mereka. Melihat reaksi tersebut Reila seolah kembali melancarkan serangannya pada Adhisti.


"Iya kamu gadis buangan, jangan diam saja jawab dong," kata Reila lagi.


Adhisti yang tidak tahu menahu hanya diam saja tanpa berkata apapun, namun dalam hatinya ia bertanya "ada apa ini ?, siapa gadis cecunguk ini ?", disaat yang seperti itu rasanya ia ingin berteriak.


“Hallo aku bukan Adhisti tau, aku Luna Aristi Candra.” Hanya beberapa detik Adhisti terpaku melihat tingkah konyol gadis - gadis didepannya, Matanya berputar keatas seolah ia enggan mengambil pusing dengan ocehan gadis itu. Tanpa sepatah kata pun Adhisti lalu meninggalkan gadis - gadis konyol itu.


"Hei Adhisti dewi surya, si anak pungut" teriak Reila dari kejahuan. Adhisti pun menoleh dengan acuh tak acuh ia menunjuk dirinya sendiri lalu berkata "aku, trus kenapa ?, masalah ?" hanya itu yang di ucapkan Adhisti lalu ia kembali berjalan mencari ruang kelasnya. Semua anak dikoridor melihat tingkah aneh Adhisti, yang cuek serta sedikit tak berprasaan membuat mereka terperangah. Karena sudah jadi rahasia umum kalau Adhisti dewi surya adalah gadis penuh sopan santun dan mudah sekali baper. Apalagi sekarang banyak hal sensitif yang berseliweran di kuping dan mata Adhiati.


-XXX-


Semua mata tertuju pada Adhisti, namun dengap percaya diri tinggi ia tetap melangkahkan kakinya, walau banyak cibiran dan makian dari bibir manis para gadis disekitarnya. Berbeda dengan sikap para gadis, sikap para lelaki berbanding terbalik, mereka memuji ketangguhan Adhisti.


Dari jauh terlihat lelaki tampan sedang memperhatikan sosok Adhisti, pemuda bersayab itu tersenyum simpul. Ia melihat sosok Adhisti memasuki kelasnya, sesaat setelah Adhisti memsuki ruang kelas, pemuda itupun menghilang dan berubah menjadi wujud yang lain.


- XXX -


Freezy sedang menikmati indahnya bulan dan bintang, senyumnya sesekali mengembang, entah apa yang dipikirkannya yang pasti sebuah sesuatu yang baik dan menyenangkan. 


"Hai hyung apa kamu baik - baik saja, senyum – senyum tak jelas," suara itu membuyarkan pikirannya.


"Ahhh kenapa lagi kamu ini Deva." gerutu Freezy,


"oh ya, memang sejak kapan aku jadi sodara mu, apa kamu kira ini film atau drama korea" tambah Freezy. 


Dan hanya senyuman polos tersungging di bibir Deva.


- XXX -


Siang itu Freezy sedang menikmati makan siangnya sebagai manusia. Spageti yang nikmat ditemani secangkir expreso serta musik klasik yang mengalun indah. Ditengah ia menikmati spageti tiba - tiba semuanya terhenti, detak jampun ikut berhenti, menyadari akan hal itu Freezy mulai meracau.


"Siapa coba yang bakal muncul kali ini mengganggu makan siangku,". Batin Freezy. Tak lama munculah dua Malaikat bersayap putih di hadapan Freezy. 


"oh jadi ini yang mengganggu makan siangku." Dengusnya melihat dua sosok yang muncul dalam harinya kali ini.


"Maafkan kami, saya Lexuz dan ini Deva malaikat junior" ucap salah satu malaikat bersayap tersebut. 


"Ok, lalu ada urusan apa kalian berdua kesini danengganggu makan siangku" ujar Freezy. Siapa sih yang tak mengenal Freezy salah satu malaikat senior tersukses karena selalu berhasil di setiap misinya.


"Maafkan atas kelancangan saya, saya mengantarkan dia untuk menjadi patner anda dalam misi kali ini" jelas Lexus seraya menoleh kearah Deva. Belum sempat Freezy berkomentar Lexuz kembali berbicara. 


"saya tau pasti anda akan merasa keberatan dengan situasi saat ini, tapi mau bagaimana lagi ini adalah perintah Yang Diatas, jadi anda tidak bisa menolak"


"Baiklah aku mengerti" jawab Freezy singkat


Mereka bertiga sedikit berbincang, tepatnya hanya Lexus dan Freezy berbincang dan Deva hanya melihat obrolan serta lontaran kata dari keduanya. Tak lama setelah itu semua kembali seperti semula detak jam.yg bergerak, celotehan dari beberapa pengunjung resto serta suara music klasik yang terdengar kembali. Namun yang berbeda kali ini adalah ada seorang pemuda yang tak kalah tampan dengan lesung pipi yang sedang duduk dihadapan Freezy dia adalah Deva mode manusia.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\= ❤ \=\=\=\=\=


__ADS_2