
Daun - daun berguguran, semua nampak menguning di hadapan Luna. Senja begitu indah, warnanya yang khas keemasan dengan semburat awan berwarna biru, sangat kontras seperti kehidupan Luna sekarang. Angin sepoi melambaikan rambut panjangnya, mengusap pipi dan wajah bening sang anak rembulan. Ia begitu menikmati apa yang tersaji di depan matanya.
"Adhisti, bangun sayang!" Kata - kata tersebut terus menerus berulang, membuat Luna kembali ke dunia nyata yang membuatnya lelah.
Gadis yang di panggilnya Adhisti tersebut mengerjabkan dan membuka matanya berlahan, wanita paruh baya tersebut terlihat bahagia melihat putri semata wayangnya dapat menikmati waktu tidurnya, senyumnya mengembang dan dibalas senyum oleh Adhisti.
"Bagaimana tidur mu? Sepertinya cukup nyenyak," ucap wanita paruh baya tersebut
"Seperti yang mama lihat." Jawab Adhisti Dewi Surya diiringi dengan senyum kecil yang sangat manis
"Baguslah, oh iya di bawah ada papa, segeralah turun dan sapalah beliau, kamu tahu sendiri kan papa jarang pulang karena tugas luar negeri." Pinta wanita tersebut. Dengan anggukan berlahan Adhisti mengerti permintaan sang mama.
"Ya sudah kalau begitu mama turun dulu, see you there darling."
Luna segera bangkit setelah wanita yang ia panggil mama tersebut keluar dari kamarnya. Ia menuju ke kamar mandi lalu sedikit membasuh wajahnya dengan air hangat yang meluncur dari sebuah wastafel yang berada disalah satu sudut kamar mandi. Sebuah cermin terpampang di atas wastafel marmer tersebut.
"Hah ..." Keluh Luna disertai desahan panjang. Wajah seorang gadis bernama Adhisti terpantul dari cermin tersebut begitu cantik dengan bibir merah, hidung mancung serta mata yang indah seperti berlian. Ia tahu ia bukan Adhisti Dewi Surya. Dan ia harus segera mencari tahu kenapa ini bisa terjadi padanya dan gadis yang memiliki tubuh yang ia tempati sekarang. Setelah berlama - lama di kamar mandi akhirnya Luna keluar dari kamar mandi, ia segara keluar kamar dan menuju ruang keluarga. Berlahan ia berjalan, dan menuju tangga yang tepat mengarah ke ruang keluarga. Tepat sesaat sebelum Luna menuruni anak tangga yang pertama, ia dapat melihat dua sosok manusia yang sedang bercengkrama penuh kebahagiaan, senyum mereka mengembang dengan sesekali diiringi dengan candaan candaan ringan. Ada sedikit rasa iri yang dirasakan Luna pada sosok Adhisti Dewi Surya saat ini. Rasa iri akan keharmonisan sebuah keluarga yang utuh yang tidak dimiliki seorang Luna. Lama ia terpaku namun Luna pun menghilangkan pikiran - pikiran busuknya dan memberanikan untuk menuruni tangga, dan akhirnya Luna tiba di anak tangga terakhir. Melihat kedua orang tersebut penuh dengan kebahagiaan. Ia pun mengambil nafas panjang dan berjalan kearah dua sosok orang tua yang sepertinya telah lama menunggu kedatangannya. Bukan bukan kedatangannya tapi kedatangan pemilik tubuh yang ia tempati sekarang "Adhisti Dewi Surya".
- xxx -
Senyum tipis tersungging dari bibir Freezy melihat sangat menikmati moment kebersamaan tiga sosok yang ada di depannya. Dan seperti biasa Deva sangat penasaran kenapa Freezy bisa tersenyum seperti itu.
"Sudahlah nikmati saja apa yang tersaji di depan mu, next kamu akan tahu kenapa aku tersenyum di hari ini." Ucap Freezy seolah tahu apa yang Deva pikirkan dan akan ia katakan.
"Hmmmm ... Baiklah aku akan menikmati mement ini tanpa bertanya apapun." Balas Deva mencoba mengerti dan ia tahu bahwa nanti akan ada waktunya Freezy menjelaskan semua arti yang tersaji didepannya ini.
- xxx -
Adhisti terpaku pada cermin besar yang ada di depannya ditatapnya lekat - lekat bayangan yang ada di cermin tersebut. Dan bagaimana pun ia melihat cermin tersebut sosok Adhisti Dewi Surya tak nampak sedikitpun yang ada hanya sosok gadis yang bernama Luna Aristi Candra. Lama Adhisti merenungi dirinya dalam diam tiba - tiba suara seorang lelaki memanggil gadis bernama Luna dari balik pintu.
"Lun ... Luna ... Udah belum kamu di kamar mandinya ." Celoteh lelaki tersebut dari balik pintu. Serta merta Adhisti menghapus air matanya "Sudah Raka, sebentar ... " Jawab Adhisti
__ADS_1
"Cepatlah aku sudah tidak tahan lagi." Balas Raka. Pintu kamar mandi pun dibuka oleh Adhisti, betapa kagetnya ia melihat Raka sudah seperti cacing kepanasan yang terus menggeliat, menahan sesuatu yang ia tahan sedari tadi. Tanpa banyak cang cing cong Raka langsung menghambur ke dalam kamar mandi. Terlihat Adhisti sedikit tersenyum melihat tingkah konyol lelaki tersebut.
"Oh iya Luna, bunda mencari mu," ucap Raka dari dalam kamar mandi
"Iya ... " Balas Adhisti meninggikan suaranya dan ia pun berlalu meninggalkan Raka dengan segala kelegaannya.
Adhisti berlari kecil menuju ruang tengah, melewati dapur yang sedang kosong, dan juga kamar Lexa yang tertutup rapat. Tak lama Adhisti tiba di ruang tengah terlihat bunda dan Lexa sedang bercengkrama sembari menikmati cake Oreo yang mereka beli tadi malam. Suana hangat begitu kentara bagi Adhisti. Pikirannya melayang, terbayang dua sosok yang berputar - putar di kepalanya, dua sosok itu tak lain adalah Papa dan Mama Surya, dua sosok yang selalu menemani hari - harinya. Adhisti terpaku dalam pikirannya.
"Luna sedang apa kamu disitu, kemarilah!" Pinta bunda dan seketika lamunan Adhisti pun buyar. Dihampirinya kedua sosok yang melihatnya penuh dengan rasa sayang tersebut. Ia tau bukan rasa sayang untuk dirinya namun rasa sayang kepada "Luna Aristi Candra". Melihat ke dua sosok tersebut tersenyum bibir Adhisti pun juga ikut tersenyum, senyuman yang begitu manis, senyuman tanpa arti namun tidak hambar, ia pun menghampiri keduanya. Sedikit bercengkrama dan tak lama Raka juga ikut dalam perbincangan yang menyenangkan tersebut.
- xxx -
"Damm" mata Reila berapi - api dan wajahnya merah padam sesaat setelah melihat sebuah postingan tentang dirinya. Sebuah postingan tentang siapakah sosok Reila. Pikiran Reila langsung tertuju pada satu nama yakni "Adhisti", tak lama setelah itu Reila menekan beberapa digit pada Hp nya.
"Bagas aku ingin kamu, memberi pelajaran pada seseorang," ucap Reila pada seseorang yang ada di ujung telepon. "Untuk detailnya aku akan kirim segera dan masalah imbalan aku akan membayar mu setimpal dengan pekerjaan kali ini."tambah Reila. Ia pun mematikan teleponnya, sedikit ada senyum yang tersungging di bibir ranumnya.
\=\=\=\=\=
Rinai hujan mulai turun berlahan, rintiknya membuat sang bumi menjadi basah, harum basah bercampur dengan debu membuat aroma yang menyegarkan. Angin seolah enggan tenang menambah semerbak harum tersebut menyebar ke seantero penjuru alam. Dari kejauhan terlihat Luna sendang menikmati sang hujan. Butiran air yang turun sepertinya membuat batin Luna tenang, senyum terulas pada bibir ranumnya. Kenangan yang tertinggal di otaknya kini berseliweran kesan kemari. Ya hujan adalah hal terbaik bagi Luna. Rintiknya seolah potongan masa lalu yang memiliki berjuta rasa.
Namun di tengah tengah asyiknya Luna menikmati hujan, tiba tiba semua seolah berhenti. Rintik hujan yang mengambang di udara, angin yang berhenti bermain main dan juga gemuruh hujan pun berhenti berdendang.
"Sepertinya kamu menikmatinya." Suara lelaki tersebut seolah hinggap di telinga Luna. Luna pun menoleh pada akhirnya menemukan sang sumber suara yang akhir - akhir ini sering berkeliaran di telinganya.
"Hai ... Sang Bulan, bagaimana kabarmu," tanya lelaki tersebut
"Aku, seperti yang kamu lihat Freezy, sangat baik - baik saja." Ucap Luna pada lelaki tersebut. "Dan satu lagi aku bukan Luna aku Adhisti Dewi Surya." Tambahnya.
"Aku tau itu, anak sang Surya." Timpal Freezy dengan mengerlingkan matanya.
"Kamu tau Freezy hujan adalah sahabat terbaik ku," ucap Luna membuka percakapan kembali. "Dia selalu bisa menyembunyikan air mata ku yang kadang meleleh, menemaniku dalam rajutan kesedihan. " Tambah Luna dan Freezy hanya tersenyum mendengar perkataan melankolis dari gadis yang ada di depannya.
__ADS_1
"Ahhh ... Seperti biasa kamu selalu seperti ini." timpal Freezy. Dan ada senyum kecut yang tergores pada bibir Luna.
"Baiklah nikmatilah hari mu, nikmatilah hujan mu."
Sejurus dengan itu semua kembali normal, rintik hujan yang berjatuhan, gemuruh angin berhembus dan waktu pun kembali bergerak.
"Aku rindu" ucap Luna lirih.
- xxx -
Suara tangisan lirih terdengar dari sela - sela rimbun bunga matahari, terlihat seorang gadis kecil berumur 9 tahun dengan baju ala princes sedang mencari datangnya sumber suara tersebut. Pendengarannya ia pertajam, matanya diaktifkan seolah olah menjadi mata burung elang yang siap mencari mangsa. Lama gadis itu mencari dan akhirnya ia menemukan dari mana sumber suara tersebut muncul, gadis tersebut melihat sesosok lelaki kecil yang sedang meringkuk di antara rimbunnya pohon bunga matahari. Gadis tersebut menghampiri lelaki kecil itu.
"Hai apa yang kamu lakukan disini?" Tanya gadis kecil tersebut. Tatkala melihat seseorang melihat tangisannya dengan cepat pemuda tersebut mengusap air matanya dan berkata. "Emmm tidak aku tidak melakukan apa apa."
Gadis kecil itupun tersenyum melihat tingkah konyol pemuda yang di depannya.
"Hai, apa kamu mau bermain dengan ku?" Tanya gadis kecil tersebut.
Dengan anggukan berlahan pemuda kecil tersebut mengiyakan ajakan gadis itu. Pemuda kecil itupun berdiri, membenarkan posisinya dan mengusap usap baju abu - abunya yang kotor terkena goresan tanah dan debu. Betapa Kumal dan lusuhnya pemuda kecil tersebut. Ada beberapa goresan kecil di pipinya. Dan juga warna kelabu di kaki dan lengan pemuda tersebut. Namun seolah tak merasakan rasa sakit ia pun bermain dengan gadis yang ada di hadapannya saat ini.
Hampir satu jam mereka berdua bermain bersama, bermain petak umpet, kejar - kejaran, tebak - tebakan dan juga bermain masak - masakan. Matahari sudah condong ke arah barat, senja pun datang menyelinap.
"Dhisti ... Dhisti dimana kamu sayang." Suara tersebut nyaring di telinga Adhisti.
Mata Adhisti membulat, telinganya kembali ditajamkan. Suara panggilan tersebut berulang kali terdengar.
"Ma aku disini ma." Teriak Adhisti dengan suara melengking khas anak - anak.
Wanita tersebut berlari kecil mencari dimana sumber suara anak semata wayangnya. Tak lama wanita tersebut melihat putri semata wayangnya ada depannya dengan baju yang penuh dengan tanah serta tangan yang tidak lagi berupa selayaknya tangan. Wanita itu menghampiri Adhisti kecil dan mengajaknya kembali pulang ke rumah Oma Laili. Wajah sedih Adhisti sangat kentara, ia seolah tak ingin meninggalkan kawan barunya. Air matanya hampir terjatuh tapi pemuda kecil yang ada di sampingnya mulai menenangkannya.
"Tak apa kita besok bisa bermain lagi." Ujar pemuda kecil tersebut. Dengan sedikit anggukan Adhisti menuruti perkataannya. Digandengnya tangan wanita tersebut oleh Adhisti kecil, berlahan berjalan meninggalkan pemuda kecil tersebut sendirian sesekali Adhisti menoleh dilihatnya kawan barunya masih berada di posisinya, tak bergerak walau seinci pun. Dan Adhisti pun menghilang di antara sela - sela rimbunnya pohon bunga matahari.
__ADS_1