
Angin berhembus pelan, suara ombak bergemuruh serta bau asin yang menusuk hidung, terlihat Adhisti sedang berdiri menikmati senja, senja keemasan yang begitu indah, senja dengan awan awan yang semburat kemerahan, pantulan cahaya matahari tenggelam dalam cakrawala semakin membuat senja menjadi sangat indah. Adhisti berdiri di tepi pantai, kakinya sesekali terkena riak ombak yang datang silih berganti, matanya tertuju pada sang surya yang berlahan mulai menghilang. Tiba - tiba angin berhembus kencang, menerbangkan topi vedora milik Adhisti, topi tersebut melayang - layang di udara lalu terhenti tepat di kaki seorang lelaki, seseorang yang tidak yang tidak memiliki banyangan. Adhisti berlari kecil mengejar topi tersebut dan meraihnya.
Lelaki tersebut memunggungi tubuh Adhisti, jadi Adhisti tidak bisa melihat siapa gerangan lelaki tersebut. Seolah tidak begitu memperhatikan lelaki itu, ia pun pergi meninggalkannya. Beberapa langkah Adhisti menjauh tiba - tiba seseorang memanggilnya.
"Dhisti."
Rasa penasaran kembali memuncak pada diri Adhisti. Ia pun menoleh mencari datangnya sumber suara tersebut dan "Brakkk" ia terjatuh dari ranjangnya, mengaduh berlahan, tak lama ia pun bangkit dan kembali ke atas ranjang dengan pikiran yang membumbung tinggi ke angkasa. Melewati tujuh lapis langit hanya demi memikirkan siapakah lelaki yang ada di mimpinya tersebut.
"Lun ... Luna ... ?" Terdengar suara bunda dari balik pintu kamar.
"Iya bunda."
"Baiklah, segeralah bangun dan cepat ke ruang makan, kemaren Raka membawakan makanan yang enak untuk kita."
"Baik bunda saya segera bangun," jawab Adhisti.
Tak lama Adhisti sudah membenarkan bajunya dan menyisir rambutnya serta memakai sedikit riasan agar wajahnya tidak terlalu buruk. Ia pun segera keluar kamar dan berlari kecil menuju ruang makan. Di ruang makan terlihat bunda, Lexa dan Raka sudah duduk di mejanya masing - masing, menatap makanan yang tersaji di depannya. Adhisti mempercepat langkahnya lalu duduk pada tempatnya.
"Pagi semua." Sapa Adhisti.
"Pagi sayang." Jawab bunda
"Pagi Luna, bagaimana tidur mu?" Tanya Lexa
"Hmmmmm, tidur ku nyenyak sekali."
"Oh syukurlah ... "
Mereka berempat mulai menyantap makanan dan berkutat dengan pikiran mereka masing - masing.
- xxx -
Kamar Tama begitu berantakan, seperti kapal yang tertabrak kapal lainnya. Buku - buku berserakan di lantai, sisa - sisa cemilan masih terpampang di atas meja dan sampah - sampah lainnya berserakan di mana - mana. Tama masih tertidur di atas kasur empuknya. Tubuhnya tengkurap, tidak memakai atasan hanya selembar singlet dan celana pendek bermotif Doraemon yang menutupi sebagian tubuhnya.
Cahaya matahari merangsek masuk ke dalam kamar, nemenbus gorden berwarna toska. Warna kesukaan Tama, sama seperti warna kesukaan seseorang yang menghilang dari hadapan Tama beberapa tahun silam.
"Ceklek" pintu kamar dibuka, terlihat seorang perempuan paruh baya masuk. Ia melihat sekeliling ruangan. Ia berjalan berlahan menuju ranjang tempat dimana Tama yang masih tertidur pulas.
"Ar ... Arka ... Bangun nak, udah siang kamu ndak kuliah?"
__ADS_1
"Ar ... Ar ... Arka."
"Hmmmmmmmm ... " Tama hanya mengehem panjang.
Wanita tersebut hanya menggelengkan kepalanya. Dan beralih pada jendela yang masih tertutup. Ia berjalan menuju jendela tersebut, dibukanya jendela itu dan masuklah udara pagi yang sangat sejuk. Udara tersebut bercampur kehangatan sinar mentari membuat nyaman pagi itu. Wanita tersebut kembali melihat sekeliling, dilihatnya tumpukan buku yang berserakan lalu ia pungut buku tersebut ia rapikan dan diletakkannya ke diatas meja belajar. Dibersihkan nya sisa - sisa cemilan dan dimasukan ke tong sampah. Bukannya jengkel tapi wanita paruh baya tersebut terlihat tersenyum melihat semua yang tersaji di depannya. Wanita tersebut kembali lagi ke sebelah ranjang Tama, ia membalik tubuh Tama dengan kasih sayang, lalu mengecup dahi bocah besar tersebut. Dan meninggalkannya dalam tidur manisnya.
\=\=\=\=\=
Jam dinding berdetak berlahan, setiap detik berganti detik melewati sang waktu dan meninggalkannya dan Tama masih tertidur pulas dengan mimpi indah dipikirannya. Senyumnya tersungging. Pelukan pada bantal panjangnya semakin erat, entah apa yang ia mimpikan hingga ia seperti itu. Tiba - tiba "Bruuuuk" seorang bocah menaiki tubuh kekar Tama.
"Kak Arka ayoo bangun!" Rengek Sandru
Tama seketika membelalakkan mata nya. Seolah ada batu batu yang menindihnya dan membuyarkan seluruh mimpi - mimpi indahnya,
"Hmmmmmm, bagaimana Kaka nggak bangun kalau kamu menindihi ku seperti ini." Keluh Tama
Dengan senyuman yang manis bocah tersebut bangkit dan pindah di sisi Tama yang sudah kembali ke alam nyata. Tama membenarkan posisinya, duduk di tepi ranjang dan mencoba menjahili adik laki - laki kesayangannya, tangan Tama mulai usil, ia menggelitik Sandru hingga tertawa terbahak - bahak. Mereka terlihat sangat akur dan saling merasa nyaman satu sama lain. Dari pintu kamar terlihat wanita paruh baya yang sedang mengawasi kedua bocah kesayangannya. Seorang yang mereka panggil ibu. Seorang yang sangat mereka kasihi dan begitu pula sebaliknya dan selamanya.
- xxx -
Deva sedang menikmati keindahan Nirwanaloka, salah satu taman mimpi yang begitu indah dengan ladang bunga serta bukit hijau bagai permadani, kupu - kupu dan serangga lainnya berterbangan wira - wiri mengitari seantero Nirwanaloka. Sejuk udara yang ia rasakan, angin sepoi sepoi membelai wajah dan tubuh Deva berlahan, nyanyian burung juga menghibur hati Deva yang sekarang tidak karuan. Pikiran Deva melambung mengarungi pintu demi pintu kenangan. Ia memasuki pintu - pintu tersebut satu persatu, menengok keajaiban apa yang tersaji di dalamnya. Dan ia masuk kedalam sebuah pintu untuk kesekian kalinya, pintu yang belum sama sekali pernah ia lihat. Seolah pintu tersebut adalah pintu baru dari sebuah kejadian. Sebuah pintu usang dengan sebuah dekorasi unik berbentuk matahari.
"Dev," panggil Freezy
Deva terlihat kaget dengan kedatangan Freezy yang telah tiba - tiba, gerakan tubuhnya menjadi aneh, senyumnya sedikit dipaksakan dan matanya tidak fokus melihat seseorang yang ada di depannya.
"Kenapa kamu, seolah melihat monster saja," goda Freezy
"Tidak, perasaan kamu aja mungkin." Timpal Deva
"Baiklah," timpal Freezy yang sekarang sudah berada di posisi yang sama dengan Deva.
"Bagaimana luka - luka mu?"
"Kau bisa lihat, aku baik - baik saja, luka ini tidak ada artinya apa - apa dengan luka yang akan terkuak nantinya."
"Maksudmu?" Tanya Deva penasaran
Freezy hanya menjawab dengan senyuman nakal seperti biasa, serta dibumbui dengan kerlingan mata yang seolah olah di buat menjadi imut.
__ADS_1
"Hmmmm dasar gila" gerutu Deva.
Lama mereka menikmati pemandangan Nirwanaloka, menikmati semua yang sang pencipta dan sang kuasa ciptakan. Semua nampak indah, hingga hujan tiba - tiba turun. Dan sayap - sayap Deva dan Freezy muncul begitu saja di tengah hujan dan mereka tersenyum bersamaan menikmati indahnya hujan dan nirwanaloka secara bersamaan.
- xxx -
Pagi itu terlihat Luna sedang mengendarai sepedanya, sepeda dengan boncengan di belakangnya dan keranjang rotan ada di depannya. Ia seolah menikmati keindahan dunia, pohon - pohon hijau berada di kiri kanan jalan dan suara burung pun saling bersautan, matahari bersinar begitu indah, sinarnya indah dan berwarna keemasan merangsek di sela - sela dedaunan yang berwarna hijau. Senyum tersungging di kedua sudut bibir Luna. Memang tidak setiap hari Luna menikmati kegiatan seperti ini, dulu saat ia masih berada dalam tubuhnya yang asli ia akan di temani oleh Lexa dan Raka. Mereka bertiga akan berdampingan dan kadang mengobrol atau saling mengejar satu sama lain. Namun kali ini Luna hanya sendiri, menikmati kegiatan tersebut. Menikmati setiap detik dengan penuh rasa syukur dan hati yang bahagia. Disaat sedang asyik mengayuh sepeda tiba - tiba Luna dikagetkan dengan suara kucing yang mengeong, suara kucing tersebut begitu menyayat. Luna pun berhenti, dan mencari sumber suara tersebut. Dipinggirkannya sepeda tersebut di tepi jalan, ia mulai mencari, lama Luna mencari sumber suara tersebut dan alhasil ia menemukan seekor anak kucing yang tidak bisa turun dari atas pohon. Sang kucing pun terus mengeong, melihat kejadian konyol tersebut Luna menyunggingkan bibirnya ada rasa lucu bercampur dengan kesedihan yang menimpa anak kucing tersebut. Tanpa BA BI BU lagi Luna pun memanjat pohon tersebut. Dengan penuh tenaga Luna memanjat. Tangannya mulai merengkuh satu per satu dahan. Dan tak lama ia sudah berada di posisi kucing tersebut berada. Ditangkapnya kucing tersebut, dengan susah payah, awalnya kucing tersebut memberontak dan mencakar tangan Luna. Namun karena kucing tersebut sepertinya mulai mengerti bahwa gadis yang ada di depannya akan menyelamatkannya akhirnya kucing tersebut menurut juga.
"Sini manis, aku akan menolong mu." Ucap Luna seolah olah kucing tersebut mengerti apa yang Luna ucapkan.
Aksi penyelamatan kucing berhasil 100 persen, walau sedikit ada goresan - goresan akibat ranting yang melukai tubuh dan kulit mulus Luna. Setelah merengkuh kucing tersebut Luna bergegas turun dari pohon tersebut, tak lama setelah itu Luna sudah kembali berpijak pada bumi dan melepaskan kucing kecil tersebut. Dan tanpa basa - basi kucing kecil tersebut berlari meninggalkan Luna.
Dari kejauhan terlihat seorang pria sedang mengawasi gerik Luna, seorang pria yang tinggi dengan kulit sawo matang. Mata nya tajam mengawasi gadis yang seolah polos tersebut. Lama ia mengawasi gerak - gerik Luna dan ia pun memberanikan diri untuk mendekati gadis yang ada di sekitarnya tersebut.
"Hai selamat pagi," sapa pemuda tersebut
"Hai pagi juga," balas Luna
"Hmmmm lagi bersepeda?" Tebak lelaki tersebut asal
"Hmmmm iya, kamu sendiri?"
"Joging santai." Jawab pemuda tersebut
"Hmmmmmm gitu ... Yaudah aku dulu ah ya ... "
"Tunggu Adhisti mau sarapan bareng nggak?" Tanya pemuda tersebut
"Nggak ahh aku sebentar lagi ada kelas pagi Tama,"
"Dan jangan bilang kamu lupa kalau hari ini kita ada kelas jam 9" tambah Luna
Dan Luna pun meninggalkan Tama sendirian. Entah apa yang di rasakan Tama saat itu, wajahnya memerah ada sebuah desiran halus yang menyusup di hatinya. Ia tidak menyangka bahwa gadis judas yang ia panggil Adhisti tersebut mengingat namanya. Suara gadis tersebut terngiang ngiang di telinganya. Sampai dimana terdapat kata - kata "dan jangan bilang kamu lupa kalau hari ini kita ada kelas jam 9" sesaat setelah mengingat kata kata tersebut Tama langsung mengambil langkah seribu. Ia berlari menuju motor miliknya dan wush ia sudah meninggalkan tempat tersebut dan tak membutuhkan waktu yang lama.
- xxx -
Suara lelaki itu kembali terdengar di telinga Adhisti, suara yang sangat familiar namun ia lupa siapa sang empunya pemilik suara. Setiap Adhisti mendengar suara tersebut, selalu membuatnya penasaran.
- xxx -
__ADS_1