Persona

Persona
Chapter X


__ADS_3

Hujan tidak berhenti menghujani bumi dengan tetesan airnya sedari sore sang rinai terus saja mengguyur. Membuat sang bulan dan bintang seolah tidak mau menampakan barang hidung mereka walau sedikit pun. Sama seperti Raka yang bersembunyi di kamar gelapnya. Ia tak keluar kamar seharian bahkan Dar tadi malam sepulang ia bekerja, entah apa yang ia lakukan hanya ia sendiri yang tahu. Bunda berkali kali mengetuk pintu kamar Raka namun nihil yang beliau dapatkan. Ada perasaan tidak enak dan tidak nyaman yang bunda rasakan. Tidak hanya bunda Lexa dan Luna pun merasakan apa yang bunda rasakan.


"Ka ... Raka, apa ayo makan dulu," ajak Lexa dari balik pintu kamar


"Hmmmm nanti saja aku belum lapar Lexa."


"Baiklah kalau begitu." Jawab Lexa


"Nanti kalau kamu lapar langsung ke dapur saja, aja sayur lobak putih sama ayam bumbu merah kesukaan mu." Tambah Lexa


"Iya makasih Lexa." Balas Raka.


Lexa pun meninggalkan kamar Raka dan menuju ruang makan untuk menyantap makan malamnya bersama bunda dan Luna.


\=\=\=\=\=


Jam berdentang sebanyak 11 kali, menunjukan hampir tengah malam dan hujan masih saja mengguyur bumi.


"Ceklek" pintu kamar Raka dibuka dari dalam, dan terlihat Raka keluar dari kamar, ia mengendap - endap seolah maling yang ingin mencuri barang berharga sang empunya rumah. Ia berjalan menuju dapur. Suara perutnya tidak bisa berkompromi lagi, ia merasa sangat lapar karena dari kemarin belum makan sama sekali. Diambilnya peralatan makan dengan berlahan, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara sedikitpun. Lalu ia beranjak ke penanak nasi dan betapa bahagianya Raka melihat kepulan asap penanak nasi saat ia membuka tempat nasi tersebut. Sesudah menyendok beberapa sendok nasi ia beralih menuju tudung saji yang terletak di atas meja makan dan wallaa terdapat dada ayam bumbu merah serta sayur lobak putih yang masih hangat, seolah baru saja dipanasi.


\=\=\=\=\=


Mata Luna tiba - tiba terbuka ada rasa haus yang begitu teramat yang ia rasakan.  Ia pun bangkit dan mencari segelas air di meja yang terletak di samping ranjangnya. Namun aneh tapi nyata gelas yang berisi air tersebut menghilang alias raib tanpa jejak.


"Aneh perasaan tadi sore aku meletakan gelas Doraemon yang berisi air di sini, kenapa sekarang menghilang?" Batin Luna


Dan dengan terpaksa ia pun beranjak dari kamarnya dan menuju dapur untuk mengambil segelas air untuk melepaskan dahaganya. Luna pun berjalan menuju dapur dan sayup - sayup terdengar suara aneh ruang makan. Luna pun memperlambat langkahnya dari posisi on menuju off, ia mengendap - endap berlahan tapi pasti, dan berapa kagetnya, ia melihat sosok Raka yang sedang menyantap makan malam, bukan hanya Raka yang menyantap makan malam yang membuatnya kaget melainkan juga luka memar yang berada di pelipis, mata, pipi dan sudut bibir Raka. Luna yang melihat Raka tersebut lalu berbalik mengurungkan niatnya dan berlari kecil meminimalisir suara yang keluar untuk mengambil kotak obat yang berada di ruang tengah. Luna bergegas kembali ke ruang makan dengan menenteng kotak p3k yang sudah ditangannya.


"Ohh jadi ini alasannya nggak mau keluar untuk makan malam tadi." Ucap Luna sarkastik


Raka yang mendengar kata - kata Luna tersebut seolah tersedak oleh makanannya.


"Sttttt diam kenapa sih Lun!, Jangan keras - keras!" Balas Raka


Keduanya berpandangan ada rasa aneh yang merasuk dalam diri keduanya. Sebuah rasa yang belum sama sekali pernah mereka rasakan.


"Ohhh"


Luna pun berkacak pinggang, seolah memarahi Raka lalu berkata


"Habiskan makanan mu, setelah itu kamu harus ikut dengan ku untuk merawat muka mu yang bonyok itu."


Dan Raka pun hanya mengangguk menuruti permintaan Luna.


Sehabis makan Raka dan Luna menuju kamar Raka. Mereka berjalan beriringan namun tidak ada kata yang terlontar dari kedua bibir mereka, seolah mereka berkutat dengan pikiran mereka sendiri.


\=\=\=\=\=


"Aww." Keluh Raka


"Ups maaf Ka," balas Luna.

__ADS_1


"Masak begini aja sakit sih?" Tambah Luna sarkas


"Terusin aja ya Lun!"


"Ok baik ndoro." Tangan Luna ditekan tekan lebih keras ke luka yang ada pada pelipis Raka.


"Iya ... Iya ... Aku menyerah, sakit tau"


"Emang kenapa sih kok bisa boyok kayak gini Ka?"


"Hehehehe habis berantem sama temen di tempat kerja."


"Looh kok bisa." Tanya Luna lagi 


Raka hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Luna. Ia seolah mematung tapi wajahnya menyiratkan rasa jengkel dan marah. Luna yang mengerti akan situasi tersebut tidak ingin melanjutkan pertanyaannya ia memilih diam dan fokus pada luka - luka yang diderita Raka.


Lama Luna mengobati luka - luka tersebut dan dentang jam sudah menunjukan 1 dini hari. Luka akhirnya selesai mengobati luka yang ada pada wajah Raka bukan hanya pada wajah melainkan dada, perut dan punggung Raka. Hampir sekujur tubuh Raka mengalami lebam - lebam. Luna berpamitan pada Raka.


"Sudah selesai Ka," ucap Luna berlahan melihat mata Raka terpejam 


"Ahhhhh sudah ya?", "Terimakasih ya Lun udah bantu aku"


"Iya santai saja kok Ka" timpal Luna


"Dan masalah ini jangan sampai orang rumah tau ya Lun, plissss" rengek Raka


Luna pun mengangguk, mengiyakan permintaan Raka.


- xxx -


"Hmmmm baguslah, semua berjalan lancar."


"Maksudmu." Suara tersebut mengagetkan Freezy


"What the ... Hufh kamu mengagetkan ku Deva." Gerutu Freezy


"Maksudnyasemua berjalan lancar itu apa?" Tanya Deva penasaran


"Sudahlah nanti kamu juga akan tau dengan sendirinya"


Dan lagi - lagi ucapan Freezy membuat Deva penasaran dan merasa heran apakah Freezy tidak punya rasa takut kepada sang kuasa atau hukuman kemarin kurang membuatnya jera, jadi ia bermain - main dengan misi nya lagi. Pikiran Deva berputar - putar tidak karuan. Rasa penasarannya memuncak.


Melihat wajah Deva yang sangat penasaran membuat Freezy makin bersemangat. Diseruputnya minuman dari gelas bergambar Doraemon seolah olah itu isi dari gelas tersebut adalah wine.


Kedua lelaki tersebut menghilang dan semua lagi - lagi kembali bergerak seolah  tidak pernah terjadi apa - apa.


- xxx -


Pagi - pagi buta Raka sudah berada di taman dekat tempatnya berkerja. Ia keluar rumah pagi - pagi sekali agar orang rumah tidak mengetahui apa yang terjadi padanya. Wajahnya di tutupi dengan masker, dan jaket menyelimuti seluruh tubuhnya. Matahari belum sepenuhnya meninggi jadi dingin masih dapat menyerang kapan saja. Dan Raka terlihat menggigil kedinginan. Namun tiba - tiba sebuah bakpao terlempar kearah Raka dan tepat mengenai kepalanya. Raka pun dengan sigap mencari siapa dan apa yang melempar bakpao kearahnya. Matanya memicing lehernya di putar 90 derajat ke kanan dan ke kiri  dan Raka dapat melihat seorang gadis tersenyum pada nya, gadis dengan sepeda kumbang berwarna pink berada di arah jam 3, gadis tersebut melambaikan tangannya serta tersenyum manis. Dan gadis tersebut adalah Luna.


"Hai ... Kenapa kamu mengikuti ku?" Teriak Raka pada Luna

__ADS_1


"Aku hanya penasaran saja, eh malah benar - benar kamu pergi pagi - pagi buta seperti ini."


"Hmmmm baiklah." Timpal Raka


"Oh iya ini," ucap Adhisti seraya merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan dompet coklat milik Raka.


Raka yang melihat dompetnya berada di tangan Luna. Langsung kaget dan bingung tidak karuan


"Lahhh kenapa dompet ku ada di kamu Lun?" Tanya Raka


"Lah siapa juga yang ninggalin dompet di depan pintu rumah?"


Senyum Raka mengembang melihat wajah Luna dan tingkah bodohnya karena meninggalkan dompet miliknya di depan rumah. Untunglah Luna segera mengetahuinya dan mengamankan dompet tersebut.


"Makasih ya Lun, udah mau repot - repot mengantarkan dompet ini ke sini."


"Halah santai aja." Balas Adhisti


Mereka berdua pun berbicara ngalor - ngidul.


Entah sejak kapan Adhisti mulai merasa nyaman dengan keberadaan Raka di sisinya. Sosok lelaki tangguh dan hebat menjaga sosok Luna, Lexa dan bunda di waktu yang bersamaan. Ada sedikit rasa kagum yang terbersit dalam diri Adhisti.


- xxx -


Suara lelaki itu kembali lagi terdengar di telinga Adhisti, suara yang sangat familiar namun ia lupa siapa sang empunya pemilik suara. Setiap Adhisti mendengar suara tersebut, selalu membuatnya penasaran. Mimpi - mimpi tersebut terus berkeliaran di pikiran Adhisti. Membuat tidurnya sangat tidak nyaman dan tidak tenang, apalagi akhir akhir ini, sering muncul lelaki tanpa bayangan dalam mimpi - mimpinya. Lelaki dengan rambut ikal dan berbadan kekar yang selalu berseliweran di mimpinya. Tidak terkecuali tadi malam. Tadi malam Adhisti bermimpi, ia berada di tengah ladang bunga matahari yang begitu indah dan ditemani oleh cahaya senja yang berwarna semburat merah. Bukan indahnya ladang bunga matahari yang membuatnya tertarik melainkan sesosok lelaki ikal yang berada di tengah - tengah ladang bunga matahari tersebut. Lelaki tersebut membelakangi tubuh Adhisti, dan setiap kali Adhisti ingin melihat wajah lelaki tersebut ia selalu bangun dari tidurnya.


Ada sebuah rasa saat Adhisti berada di sekitar pria berambut ikal tersebut. Sebuah rasa yang sangat membuatnya bahagia dan tenang, seolah ia sudah merasa mengenal lelaki berambut ikal tersebut.


- xxx -


Pagi ini Luna sedang menikmati teh hangat yang disiapkan oleh mbok Sarah


.


"Neng dhisti ini sarapannya,"


"Iya mbok , terima kasih."


"Oh iya neng, tadi kata nyonya, nyonya mau berangkat duluan karena ada pekerjaaan kantor yang mendesak, jadi tidak bisa menemani neng sarapan." Jelas mbok Sarah


"Iya mbok terimakasih, nanti aku akan telepon mama," balas Luna


Luna menghabiskan makanannya dan tak lama ia sudah mencangklong tas kuliahnya yang berisi laptop dan beberapa makalah serta tugas hari ini. Lalu ia menuju garasi dan di sana sudah menunggu Pak Rokim yang siap mengantar Adhisti ke kampusnya.


"Mari neng dhisti kita berangkat," sapa Pak Rokim


Hampir 45 menit perjalanan dari rumah Tuan Surya menuju kampus Adhisti tercinta.


Dan seperti biasa Adhisti Dewi Surya mendapat sapaan dari para pemuda yang terpesona dengan kecantikan gadis tersebut dan tak terkecuali dengan Tama.


- xxx -

__ADS_1


__ADS_2