Persona

Persona
Chapter III


__ADS_3

Mata Reila tidak dapat dibohongi, ia sangat membenci sosok gadis di depannya, gadis dengan segala kelebihannya itu, gadis yang selalu dieluh - eluhkan oleh para pemuda, gadis yang sekarang datang kembali dan merusak hari - hari bahagianya. 


"Halooo anak pungut"


Serta merta mata Luna terbelalak mendengar ocehan Reila. “Baiklah jika aku Adhisti Dewi Surya si anak pungut lalu kau siapa, Riela Kartika si anak selir" timpal Luna


Wajah Reila memanas raut mukanya gelap, ingin rasanya ia menampar, menjambak atau apapun itu yang pasti agar sosok yang ada di depannya saat ini tidak berbicara apapun lagi.


"Minggir aku mau lewat." Tambah Luna


Luna melewati Reila dengan tenangnya, wajahnya yang yang tenang mampu mengintimidasi Reila. Riela yang merasa tertohok tersebut hanya terdiam dan membiarkan Luna  kembali berjalan. Suasana riuh melihat kejadian itu, tak sedikit yang mulai kasak - kusuk, bergunjing mempergunjingkan Reila atau malah Adhisti Dewi Surya. Tidak hanya para gadis yang mulai bergunjing tapi juga para pemuda. Mereka mulai mempertanyakan siapa sosok asli Riela ataupun Adhisti.


XXX


Hari - hari Luna tidak lepas dari Reila dan kawan - kawannya, dan tidak juga lepas dari tugas kuliah yang menggunung, malam ini Luna begitu di buat pusing oleh tugas kuliah nya. Mulai dari sosiolinguistik hingga poetry semuanya harus di kumpulkan ada Jum'at esok. Apalagi tugas - tugas tersebut yang seharusnya menjadi tugas kelompok malah hanya dikerjakan olehnya sendiri. Merasa pening dengan tugas yang menggunung akhirnya mata dan pikiran Luna mulai bertautan alhasil ia merasakan kantuk yang teramat beberapa menit kemudian ia pun sudah telelap dan melayang di alam mimpi.


- xxx -


Angin sepoi - sepoi berhembus lembut dipadu dengan hangatnya sang surya ditambah lagi hamparan taman bunga yang teramat luas semakin menenangkan. Terlihat Luna sedang berdiri di sela - sela hamparan bunga lavender yang luas, wajahnya menyiratkan ia sangat menikmati semua yang tersaji di depannya, senyumnya sesekali merekah, begitu manis. Kupu - kupu dengan anggunnya terbang hilir mudik kesan kemari, menyempurnakan pemandangan yang tersaji.


"Hai Luna." Suara lelaki itu sukses membuat kaget Luna. Sepersekian detik Luna mencari sumber suara tersebut. Dan begitu ia menoleh, ia menemukan sesosok lelaki tampan dengan pakaian serba putih, lelaki tersebut mengulas senyum penuh arti pada Luna. Luna membalas senyuman tersebut walau ada sedikit rasa canggung dan penasaran akan sosok yang ada di hadapannya.


"Sepertinya aku tak perlu kuatir tentang mu." Ucap Freezy kembali. Mendengar kata - kata lelaki tersebut Luna memicingkan matanya, "apa maksudnya coba." Batin Luna.


"Maksudnya adalah aku tidak perlu repot - repot membuat sesuatu lebih jelas, toh kamu sudah merasa nyaman dengan keadaan mu yang sekarang." Jelas Freezy panjang lebar seolah ia mengerti apa yang ada dalam benak Luna.


"Emmmmm ..." Jawab Luna pendek


"Lihatlah di belakang mu, jangan terus - terusan memandangku nanti kamu akan terpesona pada ku looh." Goda Freezy, Luna langsung memutar tubuhnya 180 derajat dan hub ia sudah berada di tepi sebuah danau, danau tersebut memiliki air sejernih kaca, danau tersebut dikelilingi pepohonan yang rindang, warna orange sangat kontras dengan warna langit yang memantul dari danau.


Luna seolah tak.percaya dengan apa yang ia alami saat ini, semua seperti sihir, begitu cepat dan ajaib. Mata Luna kembali terfokus pada air jernih yang ada di danau, seolah ia tersihir. Berlahan tapi pasti ia mulai mendekat ke bibir danau, melihat jernihnya air namun bukannya kejernihan air yang ia dapat melainkan sebuah bayangan dirinya penuh dengan luka, wajahnya kusam, matanya sembab serta baju yang compang camping.

__ADS_1


"Si ... Siapa ini." Batin Luna


"Itu ... Kamu Luna, seorang Luna yang sebenarnya, seorang Luna yang selalu menyembunyikan luka hatinya." Jelas Freezy, sekali lagi lelaki itu seolah tau apa yang ada di benak Luna.


"Aku ... ?" Tanya Luna dengan suara yang begitu ringkih dan seketika mata Luna mulai berair, air matanya sudah tak dapat ia bendung lagi.


Lalu tiba - tiba "byur", tubuh Luna terdorong ke danau, dan entah apa yang terjadi seolah tubuh Luna terseret ke dasar danau. Freezy yang melihat hal tersebut hanya tersenyum simpul. Luna berusaha menggapai permukaan danau namun apa daya tarikan dari dasar danau tersebut sangat lah kuat. Luna mulai kehabisan nafas dan hilang kendali. Tubuhnya melemas dan hampir tak sadarkan diri.


"Dhisti ... Dhisti ... Bangun nak." Suara tersebut berkali kali memanggil namanya. Tak lama mata Luna terbuka, dengan nafas yang masih tersengal - sengal ia langsung memeluk sosok yang ada di depannya. Luna menangis kencang di pelukan Ny Surya yang ia panggil Mama.


"Kamu kenapa sayang." Tanya nya pada gadis yang ia panggil Adhisti tersebut


"Ndak ma, aku Ndak apa apa, hanya sedikit mengalami mimpi buruk." Jawab Luna masih dengan air mata yang merembes di pelupuk matanya.


"Ya sudah kamu tidur lagi gih, besok kuliah pagi kan."


Luna hanya mengangguk berlahan kepada wanita yang ia panggil Mama tersebut. Luna pun kembali berbaring di kasur empuknya, menarik selimut dan terpejam, walau pikirannya masih melayang tentang apa yang terjadi pada mimpinya tadi namun berlahan tapi pasti Luna kembali tertidur.


xxx


"Yang kau lihat bagamana."


"Hmmm ... Aku lihat sih dia baik - baik saja." Jawab Deva dengan melihat wajah gadis manis yang tepat berada di ranjang empuknya tersebut


"Kamu salah kisanak, apa kamu tidak melihat ia tenggelam begitu dalam tadi?"


"Lalu?" Jawab Deva singkat 


"Itu artinya gadis cantik yang ada di depan mu ini, masih sangat - sangat terbebani dan dihantui oleh masa lalunya yang sangat berat." Jelas Freezy


"Ahhh seperti itu." dilanjutkan dengan anggukan yang dapat Deva berikan dari penjelasan yang telah dipaparkan oleh Freezy.

__ADS_1


"Yupz, yasudah ayo kita kembali," Ajak Freezy. "Tugas kita sudah selesai hari ini dan waktunya bersantai." Tambah Freezy.


Freezy dan Deva akhirnya meninggalkan gadis tersebut dalam tidurnya yang tenang, namun sekilas Deva dapat melihat tetesan air mata menetes dari pelupuk mata gadis yang dipanggil Adhisti Puteri Surya tersebut. Seketika suasana kembali seperti sediakala, detak jam kembali bergerak, daun daun yang sempat terhenti kini kembali berguguran  ke tanah, suara burung hantu kembali terdengar dan sepoi angin bertiup berlahan.


xxx


Reila kembali dengan pikiran busuknya tentang rival abadinya, ia mulai mencari celah untuk mengalahkan Adhisti Puteri Surya yang saat ini semakin menjengkelkan dan tidak tahu tata krama.


Pagi itu suasana kelas masih damai dan tenang, tidak ada keriuhan penghuni kelas yang biasanya sangat mengganggu. Terlihat Adhisti sedang menikmati pemandangan di luar ruang kelas, sepoi angin melambaikan korden putih tipis sesekali menyapu wajah Adhisti nan cantik, sinar matahari pun seolah menyoroti wajah bening Adhisti.


Tiba tiba teriakan Reila menggema di seluruh penjuru kelas. Mat Reila berapi api seolah memancarkan kilat kebencian yang amat sangat. Derap langkah Reila begitu cepat mendatangi Adhisti.


"Hei anak pungut apa apa telah kau lakukan padaku." Teriak Reila sekencang - kencangnya


"Apa maks ... " Belum selesai Adhisti menyelesaikan kata - katanya, tangan Reila berhasil menjambak rambut ekor kuda Adhisti. Dan terjadilah adegan pertengkaran antar kedua gadis tersebut.  Saling menjambak, tampar dan juga cakar. Semua adegan tersebut terjadi begitu cepat dan berakhir dengan tamparan keras dari Reila untuk Adhisti.


"Awas ya, sekali lagi kamu usik kehidupan ku, takkan ku beri ampum," ancam Reila pada Adhisti, Adhisti pun hanya terdiam mencoba memahami apa yang dikatakan oleh rivalnya, sejurus kemudian Reila melemparkan secarik kertas pada nya, dan betapa kagetnya saat ia melihat isi dari kertas tersebut.


"What bukan aku yang melakukan ini."


"Lalu siapa, setan, hanya kamu yang tau rahasiaku dungu," cerocos Reila.


"Terserah, kamu yang pasti itu bukan perbuatan ku," balas Adhisti.


Reila sepertinya tidak mau melanjutkan perdebatan dengan rival abadinya nya tersebut, meninggalkan Adhisti sendiri dengan wajah memerah karena tamparannya.


Tangis Adhisti sedikit pecah namun hanya sebentar lalu ia menyeka air matanya berlahan. Dan kehidupan pun kembali berjalan seperti biasa.


Tidak ada kasak - kusuk yang terlontar ataupun rumor rumor yang keluar dari bibir bibir sumbang yang biasanya berceloteh ria menanggapi kejadian heboh seperti ini.


- xxx -

__ADS_1


__ADS_2