
Mata ku tak dapat terpejam, pikiran ku terbang bagai layang - layang tanpa benang. Entah apa yang aku rasa, entah apa yang merasuki ku. Hati ku sangat kacau, jalan pikiranku tak tentu arah. Seolah aku tak dapat menemukan arah kembali. Ku lihat slade demi slade kenangan bermunculan, kenangan yang begitu gelap, kenangan yang membuatku sesak, membuat dada ku sesak dan menyebarkan kegelapan di sepanjang kenangan yang silih berganti.
Aku seperti orang gila, aku sangat berharap angin tak menghampiriku, berharap matahari tak terbit lagi esok. Ingin ku terpejam selamanya. Tak ingin ku melihat esok hari setelah hari itu, hari yang membuat ku hancur, aku hina dan merasa jijik dengan diriku saat itu.
- xxx -
Suara sirine ambulance berseru lantang, suaranya memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Mobil tersebut melaju dengan kencangnya. Menerobos lampu merah hingga hampir menabrak pengendara di sebelahnya. "Rumah sakit Medika Utama" berdiri kokoh di tengah kota, rumah sakit umum yang benar - benar tersohor dan memiliki reputasi terbaik di kota ini. Ambulance tersebut berhenti tepat di depan UGD rumah Sakai Medika Utama, menurunkan pasien, seorang gadis muda berada diatas dipan disampingnya terlihat seorang wanita paruh baya dan seorang gadis yang kemungkinan seumuran dengan gadis yang berada di atas dipan tersebut.
Bau alkohol dan obat obatan benar - benar menusuk hidung, aura dingin memancar dari hampir setiap jengkal dan penjuru ruangan. Terlihat Luna terbaring seolah tak berdaya di atas tempat tidur,.pada tubuhnya juga tertempel beberapa alat bantu kedokteran seperti selang oksigen dan juga jarum infus yang menancap pada pergelangan tangannya. Di damping tempat tidurnya terlihat bunda dan Lexa yang menemani, mereka berdua terlihat sangat khusyuk. Bunda sesekali memegang tangan Luna seolah beliau ingin menstarnsfer kekuatan agar Luna cepat terbangun dari tidurnya, dan tak kalah dari bunda, Lexa sesekali membisikan kalimat semangat dan doa kepada saudaranya agar ia dapat bertahan.
Beberapa jam berlalu, wajah Luna masih saja pucat, pipinya tak semerina biasanya, bibir ranumnya masih keabu abuan dan matanya masih terpejam, belum ada tanda tanda ia akan segera terbangun dari tidur panjangnya.
\=\=\=\=\=
Lampu bergermelap dan suara terompet berbunyi silih berganti, nyanyian - nyanyian anak - anak bergema seantero tempat tersebut, komedi putar yang terus berputar atau juga biang lala yang terus meninggi membawa penumpangnya dapat melihat gemerlapnya dunia pada malam hari. Semua itu tersaji di depan mata Luna atau lebih tepatnya Adhisti Dewi Surya. Ia melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Menikmati segala apa yang ada di depannya, senyumnya merekah, ia tidak pernah sekali pun datang ke tempat yang ada di depannya tersebut. Terlihat seorang gadis kecil sedang bermain main dengan bahagianya, gadis berkepang dua tersebut sangat menawan dengan baju khas anak - anak remaja pada umumnya. Namun semua seketika lenyap, pemandangan epik yang ada di depan Adhisti hilang. Semuanya menjadi gelap dan sunyi, Adhisti pun kaget dengan apa yang tersaji di depannya. Tiba - tiba terdengar suara meminta tolong, Adhisti mulai mencari sumber suara tersebut, tak lama ia mencari akhirnya ia menemukan sosok yang sedang meminta tolong tersebut. Sosok tersebut adalah gadis berkepang dua itu. Tangannya di cengkram oleh lelaki dengan badan begitu besar, suaranya parau seolah dapat menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
- xxx -
Adhisti mengerjapkan matanya, dilihatnya bunda dan Lexa tertidur di sampingnya dengan posisi terduduk. Ingin rasanya ia memanggil wanita paruh baya tersebut dengan kata - kata bunda namun apa daya ia sadar diri bahwa dirinya bukan Luna Arisiti Candra. Adhisti melihat sekeliling, betapa kagetnya ia, ia sudah berada di salah satu kamar rumah sakit.
Pikiran Adhisti kembali melayang, pikirannya terbang bebas dan terjatuh pada sesuatu yang ia rasakan tadi. Entah apa dan siapa yang ada dalam ingatannya tadi. Ingatan yang begitu mengerikan. Ingatan tentang gadis kecil berkepang dua dan kini ia merasakan sesuatu tapi entah apa yang ia rasakan seolah rasa nyeri dan ngeri bercampur menjadi satu.
__ADS_1
"Apakah ini kenangan buruk mu wahai Luna Aristi Candra." Batin Adhisti .
Pikiran Adhisti begitu sibuk sesibuk jalanan ibu kota yang penuh dengan lalu lalang pengendara dan segala hiruk pikuknya sampai - sampai ia tak menyadari bahwa Raka dari tadi melihatnya.
"Hai Luna apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Raka pada Adhisti. Mendengar suara Raka pikirannya pun buyar dan kembali ke kenyataan yang ada di depannya. Adhisti pun menoleh ke sumber suara.
"Ahh tidak ada yang aku pikirkan," jawab Adhisti berlahan.
"Jangan banyak berfikir dan jangan banyak bergerak, lihat selang oksigen mu sudah tidak pada tempatnya." Balas Raka.
"Terimakasih Ka udang ngingetin ini." Balas Adhisti dengan senyum tipis.
"Oh iya Luna, aku bawain coklat kesukaan mu nih, walau kamu nggak bisa makan sekarang nanti waktu kamu sembuh makanlah coklat ini."
Lexa yang setengah sadar dari tidurnya melihat semua kejadian yang terjadi antara Luna dan Raka. Tangannya mengepal dan sorot matanya tajam, entah apa yang ia rasakan kepada dua saudaranya tersebut dan yang pasti sesuatu yang sangat tidak menyenangkan baginya.
- xxx -
Hari demi hari berganti dan berlalu begitu cepat tak terasa Luna sudah berada di rumah sakit "Medika Utama" selama 4 hari, setelah menjalani proses perawatan dan serangkaian test akhirnya sore itu Luna di perbolehkan pulang oleh dokter. Kini tubuh Luna sudah bener - benar lebih baik dari beberapa hari yang lalu, perawatan intensif membuatnya kembali pada performanya yang kuat dan tahan banting.
Namun semua di buat penasaran kenapa waktu itu dada kiri Luna sangat sakit, seolah ditusuk tusuk oleh ribuan bahkan jutaan jarum. Karena dokter pun tidak menemukan sesuatu yang aneh yang terjadi pada jantung milik Luna.
__ADS_1
Bunda dan Lexa hanya mengangguk berlahan tanda mengerti apa yang dokter jelaskan. Dan di luar ruangan terlihat Luna di temani oleh Raka duduk bersama namun bukannya saling berbicara malah mereka berdua sepertinya berkutat dengan pikiran masing - masing.
\=\=\=\=\=
Luna berjalan berlahan menuju kamar mandi yang terletak di salah satu ujung koridor. Bau obat - obatan begitu menyeruak di hidung Luna. Matanya pun juga nakal hilir mudik ke kanan dan ke kiri karena rasa penasaran. Dengan mudah Luna menemukan kamar mandi tersebut. Dipercepat lah langkahnya dan wush tak butuh waktu lama ia sudah kembali meninggalkan kamar mandi tersebut. Luna kembali berjalan menyusuri koridor menuju apotek dimana bunda dan yang lainnya menunggunya. Tiba - tiba mata Luna menangkap sosok yang familiar baginya. Sosok gadis berambut pajang dengan tubuh semampai, Suaranya begitu tak asing di telinganya, walau mereka saling berjauhan. Ingin rasanya mengejar sosok tersebut diantara keramaian orang yang lalu lalang dengan segala pikiran dan kesibukan mereka. Tapi entah kenapa kaki Luna begitu susah digerakan, seolah ada yang memegangi kakinya. Dan apa yang di rasa Luna benar adanya, terlihat Freezy sedang memegangi kaki Luna dan tersenyum riang lalu berkata "Belum, belum saatnya wahai putri sang surya." Lama Luna berusaha melepaskan diri dari cengkraman Freezy. Dan disaat gadis yang sangat familiar baginya itu sudah pergi jauh barulah sang malaikat tampan tersebut melepaskan cengkeramannya.
"Apa kau bodoh itu tadi tubuh ku, tubuh Adhisti Dewi Surya." Ucap Luna dengan nada tinggi. Ia tak sadar bahwa ia sekarang berada di tengah keramaian dan lucunya lagi ia memarahi seorang anak kecil yang berada tepat di samping kaki kirinya. Hampir semua orang melihat kearah Luna. Dan mulai berbisik - bisik membuat rumor tentang gadis aneh yang sedang memarahi seorang anak kecil. Namun tidak bagi Luna, anak kecil yang dilihatnya tersebut adalah Freezy, malaikat bodoh yang membiarkan dia kehilangan sosok.yanv ia yakini adalah tubuhnya yang sesungguhnya.
Bocah kecil tersebut hanya tersenyum pada Luna, ketika Luna mulai hilang kendali tak lama setelah mendengar caci maki dari Lina ia pun pergi meninggalkan Luna sendiri dalam kebodohannya.
"Hai jangan pergi begitu saja." Ucap Luna lantang. Bocah tersebut berbalik dan seperti biasa ia menunjukan kerlingan mata nakalnya.
"Luna apa yang sedang kamu lakukan bunda dan Lexa sudah menunggu." Suara Raka mengagetkannya dan ia pun mengikuti langkah Raka yang menuju di mana bunda dan Lexa berada. Dengan pikiran dan hati yang campur aduk.
- xxx -
Jantung Adhisti berdebar hebat. Entah apa yang terjadi. Rumah sakit "Medika Utama" hari ini Adhisti dibawa ke rumah sakit karena luka - luka yang ia dapatkan empat hari yang lalu, luka - luka yang sudah mulai mengering. Hanya tinggal beberapa luka besar yang harus ditutupi dengan perban seperti di pelipis atau juga di siku tangannya. Awalnya Adhisti tidak mau repot repot ke rumah sakit. Namun My Surya wanita yang ia panggil mama memaksanya. Alhasil selama empat hari ia wira - wiri rumah sakit "Medika Utama". Serangkaian test pun ia lakukan. Ada ketakutan tersendiri yang menyelimuti My Surya. Takut putri semata wayangnya terjadi apa - apa. Dan Adhisti tidak bisa berbuat apa - apa, ia hanya menuruti permintaan wanita yang ia panggil dengan mama tersebut.
Jantung Adhisti kembali berdetak kencang saat ia melewati sebuah kamar mandi yang terletak di ujung koridor. Nyeri yang ia rasakan begitu hebat. Tapi dia tidak tau menau kenapa jantung milik Adhisti ini berdetak begitu kencang .
Ini sesuatu hal yang aneh terjadi, Luna yang berada di tubuh Adhisti tidak pernah sekalipun mengalami hal ini. Pikirannya melambung membayangkan hal yang tidak - tidak. Dan sebuah tepukan berlahan mengagetkannya. Ia pun menoleh dan dilihatnya sesosok wanita paruh baya tersenyum manis di hadapannya. "Ayo sayang kita pulang." Ajak Ny Surya pada putri semata wayangnya tersebut. Adhisti pun tersenyum dan mengangguk berlahan dan mereka berdua akhirnya berjalan saling beriringan meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
- xxx -