Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila

Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila
Menguntit


__ADS_3

Namaku Anela Nirmala Putri, seorang sarjana teknik lulusan universitas ternama. Hal yang dapat kubanggakan adalah frasa ‘universitas ternama’ tanpa orang ketahui aku lulus dengan nilai sangat pas-pasan, bahkan untuk lulus saja aku bisa menangis darah mengingat bagaimana perjuanganku memakai toga di waktu yang tepat.


Mengetahui aku telah lulus dari universitas ternama, tentu saja kedua orang tuaku langsung melepas pekerjaan mereka, dengan harap kini aku yang menjadi pundi-pundi mereka. Tetapi, lihat aku sekarang! Mengenakan jaket hitam yang super besar, masker hitam, celana hitam, sepatu Converse Chuck Taylor hitam, bahkan kalau aku tidak lupa, untuk mendalami peranku, dalamanku juga hitam. Berpakaian seperti ini, aku bersembunyi di semak-semak depan perkantoran elit yang terlihat amat mewah. Aku sedang mengintai dan menunggu seseorang keluar.


Plak


Aku menepuk dahiku saat dirasa nyamuk mencoba mencuri darahku. Aku mencoba menepis nyamuk yang berada di sekitarku. Sial! Kenapa banyak sekali nyamuk? Aku menengadahkan kepalaku. Pantas saja! Tanpa kusadari matahari sudah terbenam. Ini cukup malam dan aku tidak menyadari ini saking fokusnya melakukan pengintaian.


Aku menatap jam tangan pada pergelanganku, terdapat jam murahan yang aku dapatkan di pasar malam. Beruntung dalam 1 tahun jam ini masih awet dan bisa dibilang tahan banting. Untuk harga dua puluh lima ribu, aku akan mengatakan ini worth it.


Lupakan soal jam, kini penglihatanku yang setajam elang mendapati seseorang yang kuincar. Ia keluar dari gedung kantor dengan kaca mata hitam, rambutnya ia sapu ke belakang. Tidak semua, ia masih menyisakan beberapa helai di dahinya.


“Tampan, kan?” Seseorang ikut berjongkok di sebelahku. Ia ikut mengamati.


“AYAM!!” Aku menutup mulutku dengan tangan kanan. Tangan kiri kugunakan untuk memukul orang yang tiba-tiba muncul di sebelahku.


Bugh


Pria itu terjatuh dari posisi jongkoknya, “Astaga Pak! Jangan ngagetin saya!”


Pria itu mendesis kesal, ia berdiri dan menepuk celananya yang sedikit kotor dengan tanah.


“Kamu sudah main-mainnya? Sudah seminggu saya izinkan kamu main intai-mengintai di sini. Belum selesai juga?” Pria berseragam itu memelotot padaku.


“Belum…. Sebentar lagi….” Ucapku ragu.


Pria yang kuketahui kerja sebagai satpam di kantor mewah ini melipat tangannya dan menatapku sinis, “Hari ini terakhir saya izinkan kamu bermain di area kantor! Meski kamu ga melakukan apapun yang membahayakan para karyawan, kamu banyaknya membuat mereka merasa risih.”


Aku menggaruk tengkukku, “Maaf pak.”


Pria itu menghela napas, ia memberikan sekotak dus padaku, “Makan! Kamu mau terus bermain seperti ini tanpa makan?”


Aku menerima kotak itu dengan senang hati, “Terima kasih…. Aku janji kalau nanti sudah kaya. Aku akan mengajak Bapak menjelajah dunia, bill on me!”


Pria itu terkekeh, “Ya terserah padamu. Lihat tuh! Kelinci incaranmu sudah masuk ke mobil.”


Aku menoleh, memelototkan mataku saat seseorang yang kuincar sudah tidak terlihat lagi.


Aku memasukan kotak makanan pada ranselku, “Permisi Pak…!”


Aku berlari menuju skuter listrikku yang terparkir tidak jauh dari tempatku berada. Aku harus mengejar mobil yang membawa orang itu. Ada hal penting yang mesti kulakukan.


“Kali ini, aku pastikan kau akan menandatangani kontraknya!” Ucapku dengan senyum lebar.


Beberapa menit berlalu, aku berhasil mengejar mobil orang itu dengan skuter listrik kesayanganku. Lagi dan lagi pria itu akan berkunjung pada nightclub termewah di kota ini. Aku menjadi sedikit takut, pasalnya orang itu selalu mengunjungi tempat ini sehabis dari kantor. Dan dari hasil pengintaianku, ia akan keluar dari club pukul sebelas malam dan akan menggandeng wanita di sebelahnya. Bukan wanita yang sama, tiap malam wanita itu selalu berbeda.


Otakku tidak bisa berpikir positif tentang apa yang akan pria itu lakukan dengan wanita-wanita penghibur itu. Apa jangan-jangan ia hipers**s, ya? Aku bergidik ngeri jika begini rencana harus aku lakukan dengan hati-hati, kalau tidak bisa-bisa aku yang jadi korban.

__ADS_1


Amit-amit jabang bayi. Jauhkan aku dari lelaki kardus yang hobi jajan sana-sini. Jika bukan karena sesuatu, aku malas membegal dia.


Aku memindai ke sekitar\, mencari tempat strategis untukku kembali mengintai. Aku memarkirkan skuter listrikku di belakang mobil milik orang itu. Ia biasanya akan di-drop oleh sekretarisnya dan di saat bersamaan pria lain datang membawa mobil sport mewah yang kuketahui akan pria hipers**s itu kendarai dengan wanita yang berbeda tiap malamn ya. Aku berlari ke arah semak-semak. Kali ini rencanaku sudah matang dan akan dieksekusi hari ini juga. Memarkirkan skuterku tepat di belakang mobil mewah pria itu adalah salah satu rencana hebat yang dirancang olehku. Hai pria hipers**s! Kali ini kau tak akan lepas dariku!


Tidak ada kata nanti lagi. Mau tak mau aku harus membuatnya setuju pada kontrakku hari ini juga. Aku duduk mengampar di rerumputan. Teropong kukalungkan di leherku, tanganku merogoh ransel dan mengeluarkan dus kotak yang berisi makanan pemberian Bapak tadi. Aku melepas masker hitam yang kugunakan, bersiap untuk makan. Tiap kali aku menyendok makanan ke dalam mulutku tanganku bergetar, sadar kalau aku benar-benar kelaparan saat ini.


Di sela-sela kegiatan makanku, mataku terasa amat perih sampai-sampai air mataku turut keluar. Aku menyapu bersih pipiku tiap kali air mata turun menelurusuri wajahku. Aku mengambil napas, mencoba menahan senggukan yang akan keluar akibat tangisku. Sesekali aku tertawa untuk menghentikan tangis yang datang tiba-tiba ini.


Sebenarnya kenapa aku menangis? Mataku menatap makanan di hadapanku. Ah aku mengerti! Saat ini aku merasa prihatin pada diriku sendiri, di mana aku sendiri sama sekali tidak memperhatikan perutku yang meraung sejak pagi tadi. Aku telah menyiksa diriku sendiri dan parahnya orang lain yang menyadarinya terlebih dahulu bukan diriku. Menyedihkan! Aku membenci diriku yang seperti ini. Diriku yang melakukan segala hal demi uang, aku benar-benar membencinya.


Kruuk


“Aw..” aku terdiam, tangisanku terhenti seketika ketika perutku terasa seperti sedang diremas-remas.


Preet


“Ehh?” aku menatap kesekeliling harap-harap tiada yang mendengar suara buang anginku.


Serius? Di saat begini aku harus buang air besar?


Dengan secepat kilat, aku berdiri. Perutku benar-benar sakit, aku butuh toilet sekarang juga. Terlebih aku bukan tipe manusia yang bisa menahan ini terlalu lama. Mataku lihai mencari toilet terdekat yang bisa kujangkau secepat mungkin. Aku mendesis kesal karena tidak menemukan satu toilet umum pun yang berada di sekitarku.


Tidak ada pilihan lain selain aku masuk ke dalam. Di dalam pasti apa toilet kan?


Pintu utama club itu dijaga dua pria berbadan besar. Aku meringis, apa club ini tidak bisa sembarang dimasuki orang?


Kedua pria itu mengangkat alisnya dan memperhatikanku dari atas sampai bawah.


“Mau apa kamu?” Tanya satu pria botak yang menatapku sinis.


Masa bodoh! Mau kalian menilaiku seperti apapun aku tidak peduli. Yang aku butuhkan saat ini adalah toilet. Dengar! Toilet!


“Tuan apa ada toilet yang bisa kupakai?” Tanyaku sehormat mungkin. Kedua kakiku sudah menyilang di tempat, aku sekuat tenaga menahan hasrat ingin buang air besar saat ini juga.


“Tidak ada.” Ucap si botak yang masih terus sinis padaku.


Satu pria lainnya menggaruk tengkuknya, “Kami tak bisa membiarkanmu masuk ke ruangan staf dan juga tak bisa membiarkanmu masuk ke club. Tidak sembarang orang bisa masuk keluar club ini. Kau setidaknya harus menjadi member vip. Jika kau mau mendaftar member-“


“Tuan! Apa saat ini aku terlihat akan memilih melakukan pendaftaran menjadi member, dibandingkan menuntaskan panggilan alam ini?” Wajahku sudah memerah, aku mengepalkan tanganku dengan harap tubuhku mau berkoordinasi untuk menunda peluncuran kotoran ini.


“Jangan bercanda! Kumohon biarkan aku menggunakan toilet!” Aku mencoba memaksa masuk.


Kedua pria itu menghalangiku, “Kau ini bodoh ya? Sudah dia katakan, tidak sembarang orang diperbolehkan masuk club ini!” Si botak mencoba mendorongku.


Selain menahan hasrat ingin buang air besar, aku juga harus menahan emosi karena si botak ini.


Aku menarik napas, mencoba sebaik mungkin menahan emosiku, “Tuan aku benar-benar membutuhkan toilet sekarang!”

__ADS_1


Aku nekat menerobos dua orang itu.


Greep


“Sudah kami katakan, Kau tak boleh masuk! Kalau kau memaksa masuk kami terpaksa melakukan kekerasan padamu!”


Peluh sudah bercucuran di dahiku, kedua tanganku sudah berada dalam kendali dua orang itu. Mereka mengunci kedua tanganku agar tidak bisa melawan.


“Tuan kau akan menyesal melakukan ini!”


“Oh iya? Begitu rupanya?” Si botak mengejekku.


“Nona jangan membuat kekacauan!”


“Tuan aku bersumpah tak akan mengacau, kau boleh menungguku di luar toilet!”


“Tidak bisa! Aku tahu maksud dari orang sepertimu! Kau mencoba mengelabui kami! Memang wanita murahan!”


Aku memelototkan mataku, “APA KAU BILANG? MURAHAN? HEI DASAR KAU BOTAK!” Aku memberontak, mencoba melepaskan tanganku dari kendali dua orang ini.


“B-Botak? Kau bilang apa tadi?”


Aku menatapnya dengan pandangan mengejek, “APA? KAU MEMANG BOTAK! TERLEBIH DIBANDINGKAN KAU YANG MENYEBUTKU MURAH, SEBUTAN BOTAK JELEK LEBIH COCOK UNTUKMU!”


Persetan dengan rasa mulasku, pria botak ini telah menyebutku murahan yang sama sekali tidak bisa kumaafkan.


“Kau benar-benar menguji kesabaranku! Aku biasanya tidak memukul wanita.”


“Hei hentikan jangan berlebihan!” Pria berambut mencoba mengehentikan pria botak ini.


“Masa bodoh! Biar j*l*ng ini tahu rasa.”


“APA? KAU MAU MELAKUKAN APA?!” Aku menantangnya dan tentu saja membuat emosi pria botak itu tersulut.


Pria botak itu menggertakkan giginya, ia mengepalkan tangannya.


“Kau mati hari ini!”


Aku yang tak mau kalah memajukan wajahku semakin menantang pria botak ini, “Lakukan dasar kau botak!”


Pria itu sungguh akan memukul wajahku, ia sudah melayangkan kepalan tangannya dan bergerak untuk memukul wajahku.


Grep


Seorang pria menahan tangan si botak yang akan memukulku, “Kenapa kau melarang kekasihku masuk?”


Deg

__ADS_1


__ADS_2